MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 76 (ACARA PERNIKAHAN 2)



Gilang mengantarkan putri sulungnya ke lobby hotel di mana acara pernikahan di adakan, walaupun tidak begitu megah, tapi pernikahan ini termasuk pernikahan yang sempurna.


“Apa papi gugup?” tanya Irene yang melihat ekspresi wajah papinya yang terihat gugup.


“Yah papi sedikit gugup, apa kamu gugup?” tanya Gilang.


“Iya Iren juga sedikit gugup pi, ini berbeda saat pertunangan waktu itu.” Jawab Irene.


“Setelah ini kamu akan menjadi milik orang lain, kamu bukan lagi milik papi nak, papi harap kamu bisa menghormati suami kamu karena surgamu ada pada dirinya setelah kamu menjadi miliknya.” Ucap Gilang.


“Papi, jangan bilang begitu..” bisik Irene.


Gilang dan Irene berada di ujung pelaminan, mereka berdua di persilahkan untuk berjalan melintasi red karpet menuju pelaminan.


Diatas pelaminan, Daniyal sudah menunggu kedatangan Irene, dia tersenyum melihat Irene berjalan di antar oleh Gilang, Daniyal juga tersenyum karena melihat kecantikan Irene dengan balutan kebaya berwana putih.


Acara pun di mulai secara sakral, sampai Daniyal dan Irene akhirnya sudah SAH menjadi suami istri dan semua orang memberikan selamat kepada keduanya.


Tiba-tiba saja MC acara pernikahan mereka menyuruh Gilang untuk naik ke atas pelaminan membuat Irene dan juga Daniyal kebingungan karena itu tidak ada di daftar acara.


“Ada apa ini? Kenapa papi ke atas pelaminan?” bisik Irene kepada Daniyal.


Sedangkan Daniyal yang juga tidak tau apa-apa hanya bisa menaikkan kedua bahunya sambil mengerutkan keningnya.


“Tuan Gilang ingin menyampaikan pesan kepada putri dan menantunya, itulah alasan saya memanggil tuan Gilang ke atas pelaminan.” Jelas MC tersebut.


MC tersebut memberikan mic kepada Gilang dan mempersilahkannya untuk berbicara di depan putri dan menantunya.


“Terimakasih untuk MC yang memersilahkan saya berbicara di depan sini.” Ucap Gilang dengan hormat.


Gilang menatap wajah Daniyal dan Irene secara bergantian lalu tersenyum sebelum akhirnya mulai membuka suara.


“Untuk putriku tercinta, selamat atas pernikahanmu, papi harap kamu akan bahagia bersama suamimu, mulai saat ini kamu bukanlah tanggung jawab papi lagi, kamu adalah tanggung jawab suamimu sekarang dan papi harap kamu bisa menghormatinya dan melayani semua kebutuhannya dengan baik, kamu harus berbakti kepadanya sekarang sayang.” Ucap Gilang.


“Papi tidak menyangka, putri papi yang dulunya masih sangat kecil dan sering menangis sekarang sudah besar dan sudah menikah, papi yakin mami kamu akan sangat bahagia di atas sana, dia akan selalu mendoakanmu.” Lanjutnya.


Daniyal yang awalnya tersenyum mendengar pesan Gilang seketika diam setelah Gilang menyebutkan tentang mami Irene.


Begitu juga dengan Abizar yang mendengarnya hanya bisa mengepalkan kedua tangannya menahan rasa kesalnya.


“Bagaimana bisa dia mengatakan hal itu padahal istrinya masih hidup!” ketus Abizar.


“Dan untuk nak Gilang, mulai hari ini papi titipkan putri sulung papi kepadamu, papi harap kamu bisa membimbingnya menjadi lebih baik lagi, beritahu dia kalau dia memiliki kesalahan, jika kamu tidak sanggup menghadapi sikapnya segera beritahu papi dan papi akan menasehatinya.” Ucap Gilang.


Daniyal hanya mencoba untuk tersenyum sambil menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Gilang.


“Semoga kalian berdua selalu bahagia dan segera mendapatkan keturunan.” Lanjut Gilang yang membuat semua orang bersorak.


Namun Irene dan Daniyal sama-sama terkejut mendengar kata keturunan karena mereka berdua tidak pernah membahas tentang anak sama sekali.


Setelah selesai memberikan pesan kepada putri dan menantunya, Gilang menyuruh semua tamu undangan untuk menikmati pestanya dan Gilang segera turun dari pelaminan untuk bergabung dengan para tamu.


“Kak, kamu mau menyambut teman-temanmu yang datang kemari?” tanya Irene.


“Iya nanti, kamu juga?” tanya Daniyal.


“Mungkin aku akan bersama adik-adikku karena aku hanya memiliki beberapa teman.” Balas Irene.


“Apa kamu mau aku kenalkan dengan teman-temanku? Ayo ikut aku dulu, setelah itu kamu bisa bersama adik-adikmu.” Ajak Daniyal.


“Apa tidak apa-apa aku ikut bersamamu kak?”


“Tentu saja tidak apa-apa, kamu juga harus mengenal mereka.” Ucap Daniyal.


“Ga apa-apa, kamu emang mau ngeliatin orang-orang? Pasti bosan kan di atas terus.” Ucap Daniyal.


Akhirnya Irene menganggukkan kepalanya dan Daniyal segera menggandeng Irene untuk menemui teman-temannya.


Daniyal mengajak Irene menghampiri teman-temannya dan juga rekan bisnisnya satu per satu, dan mengenalkan Irene kepada mereka, mereka semua mengucapkan selamat kepada keduanya dan juga memuji kecantikan Irene.


Saat itu untuk pertama kalinya semua orang melihat Irene tersenyum manis kepada para tamu dan itu yang membuat Irene semakin menarik.


Sedangkan di sisi lain, Nancy sedang mengbrol bersama Clara dan tiba-tiba saja Roy dan Tommy menghampiri keduanya.


“Hai cantik…” sapa Roy dengan genit kepada Nancy.


Clara yang awalnya berbicara dengan Nancy seketika menoleh ke arah Roy dan terkejut melihatnya.


“Kakak!” teriak Clara yang terkejut melihat Roy di sana.


“Clara?!” ucap Roy yang juga ikut terkejut melihat Clara di sana.


Sedangkan Nancy hanya menoleh ke arah Roy dan Clara secara bergantian karena dia tidak tau apa yang sedang terjadi di sana.


“Kamu mengenal laki-laki ini Clar?” tanya Nancy.


“Tentu saja kenal! Dia kakak laki-lakiku Nancy, bukankah aku pernah cerita padamu kalau aku memiliki kakak laki-laki?” tanya Clara.


“Benarkah? Aku lupa soalnya emang kita jarang berbicara tentang keluarga masing-masing.” Ucap Nancy.


“Kakak kenapa ada di sini?” tanya Clara karena saat itu Roy datang terlambat dan dia juga tidak mengatakan kepada Clara kalau dia akan datang ke acara pernikahan Irene dan Daniyal.


“Daniyal itu sahabatku, tentu saja aku ada di sini.” Jawab Roy.


“Sahabat apanya yang terlambat datang ke acara pernikahannya!” ketus Clara.


“Diamlah jangan berisik! Jadi wanita cantik ini temanmu Clara?” tanya Roy.


“Kenapa emang? Kenapa mata kakak begitu?” tanya Clara.


“Kenapa kamu ga bilang kalo kamu punya teman secantik itu?” tanya Roy.


“Apaan sih kak! Aku ga akan mengijinkan kakak mendekati sahabatku!” ketus Clara.


“Kenapa? Aku emangnya kurang apa buat temanmu?” tanya Roy.


“Banyak kak! Kamu saja kurang ganteng gimana bisa mendekati sahabatku!?” ketus Clara.


“Ayo Nancy, kita pergi aja dari sini dan kamu jangan pernah mau di dekati oleh laki-laki ini mengerti?” ucap Clara yang di balas anggukan oleh Nancy.


Clara segera menarik tangan Nancy menjauh dari Roy dan Tommy, Roy benar-benar kesal karena kelakuan adiknya, sedangkan Tommy tertawa melihat Roy di perlakukan seperti itu.


“Hahaha, buaya cap tai lu Roy! Aku ga tau ternyata kamu memiliki adik yang asik juga.” Ucap Tommy yang masih tertawa.


“Berisik lu! Dia itu sejak lulus SMA langsung memutuskan untuk keluar dari rumah dan tinggal sendiri, dia hanya mengirimkan pesan sesekali kepada orang tuaku, sedangkan dia tidak pernah mengirimi aku pesan sama sekali!” jelas Roy.


“Pantas saja kamu tidak pernah mengenalkannya padaku.” Balas Tommy yang masih melihat punggung Clara yang sudah berjalan menjauh.


Roy melihat sahabatnya sedang menatap adiknya dengan senyum di wajahnya membuat Roy mengerutkan keningnya.


“Lu kenapa ngeliatin adek gue terus? Suka ya lu!?” ketus Roy.


“Engga! Lagian kenapa kalo gue suka?” tanya Tommy menantang.


“Gue colok mata lu!” ketus Roy yang membuat Tommy menganga tidak percaya dengan ucapan sahabatnya itu.