MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 63 (PERTUNANGAN 2)



Pagi itu, kursi untuk tamu undangan sudah terisi semua, Bram bahkan ikut hadir dengan samarannya hanya saja saat ini dia berdandan lebih rapih dari biasanya.


“Tuan Bram, terimakasih karena anda sudah menyempatkan untuk hadir di sini.” Ucap Gilang dengan ramah.


“Tentu saja aku akan datang tuan Gilang, karena ini adalah acara pertunangan keponakanku satu-satunya.” Ucap Bramantio.


Gilang dan Bramantio berbincang dengan santai saat itu, sedangkan dari kejauhan Tommy dan Roy sedang duduk dan menatap Daniyal yang berdiri sendirian di depan para tamu.


“Lihatlah Daniyal berdiri sendirian di depan para tamu, sudah hampir lima belas menit dia menunggu Irene, atau ternyata Irene kabur karena mengetahui kalau Daniyal adalah orang yang kejam.” Bisik Tommy kepada Roy.


Roy menoleh ke arah Tommy yang sedang tersenyum sinis setelah mengatakan hal itu, Roy tidak menyangka kalau Tommy senang sekali melihat sahabatnya malu di depan orang banyak.


“Jangan bicara seperti itu, wanita kalo berdandan memang lama apalagi ini adalah Irene Herlambang! Sang dewi tercantik!” seru Roy.


Dan benar saja, beberapa menit kemudian semua orang bersorak kagum saat Irene di damping oleh ke empat adiknya keluar dari rumah dengan gaun putih bertali satu membuat Irene terlihat sangat anggun dan sempurna.


Saat itu Irene dan adik-adiknya sudah sampai di depan, Aleena menggandeng tangan kakaknya agar berdiri di sebelah Daniyal, sedangkan yang lainnya menunggu di tengah-tengah para tamu.


“Wah!! Dia beneran Irene Herlambang? Gila Tom pantesan lu sampe mukul si Daniyal, kalo cantik banget gini sih gue juga mau rebutan sama kalian!” seru Roy yang matanya tidak berkedip sama sekali.


“Kedip woy! Mata lu mau keluar tuh!” ketus Tom sambil menyenggol tubuh sahabatnya dengan keras hingga wajahnya hampir mencium bagian perut Nancy yang saat itu berada di sebelahnya.


Roy melihat tubuh Nancy yang ada di hadapannya dengan rakus seperti ingin memangsanya, lalu dia mengangkat kepalanya agar bisa melihat wajah dari orang yang dia lihat.


Namun Roy terkejut saat melihat Nancy sedang menatapnya dengan tatapan mematikan.


“Waw!” ucap Roy tanpa sadar saat melihat kecantikan Nancy yang tidak kalah cantiknya dengan Irene.


Nancy hanya menatap Roy dengan tajam, namun Tommy sadar kalau ternyata Nancy merasa tidak nyaman dengan tatapan Roy.


Akhirnya dengan segera Tommy menarik kerah kemeja Roy dan membuatnya tercekik.


“Akk!!” teriak Roy yang akhirnya kembali duduk dan menoleh ke arah Tommy.


“Tom, lu ngapain narik kerah gue mau bunuh gue ya!?” ketus Roy.


“Lah lu ngapain matanya jelalatan! Ga liat lu kalo tuh cewek ga suka di liat sama lu!?” ketus Tommy.


Mendengar ucapan Tommy membuat Roy kembali menoleh ke arah Nancy yang masih menatapnya dengan tajam.


“Eh, s-sorry nona, habisnya nona cantik banget sih jadi saya khilaf.” Ucap Roy sambil cengengesan.


Nancy hanya diam tidak menggubris ucapan Roy, setelah di rasa cukup menatap Roy Nancy kembali memalingkan wajahnya dan menatap ke depan.


“Waduh, cantik-cantik judes ternyata Tom..” bisik Roy.


“Diem lu! Jangan bikin anak orang kesel sama lu Roy!” ketus Tommy.


Dan akhirnya Roy diam setelah mendapat teguran dari Tommy, namun tatapan matanya hanya tertuju kepada Nancy yang saat ini sudah duduk di kursi yang di khususkan untuk keluarga Herlambang.


“Dia salah satu putri keluarga Herlambang? Tapi aku tidak pernah mengetahuinya.” Ucap Roy.


“Kamu masih menatapnya Roy? Apa kamu tidak takut kalau bodyguarnya akan mencungkil kedua matamu?” tanya Tommy.


“Aku kan hanya bertanya padamu Roy.”


“Setauku hanya anak pertama dan anak kedua keluarga Herlambang saja yang sering tersorot media, Irene si pengusaha hebat, dan Aleena si artis tercantik dan terpopuler.” Jelas Tommy.


“Ya berarti mereka tiga putri keluarga Herlambang yang tidak pernah ter ekspose, mungkin karena mereka belum memiliki prestasi apapun makanya mereka belum di ekspose.” Jelas Tommy.


“Kalian salah! Beberapa bulan yang lalu tuan Herlambang sudah mengenalkan ketiga anaknya tepat di acara ulang tahun perusahaannya, hanya saja saat itu ada musibah perusahaannya terbakar untung saja belum sempat


merambat ke kantor, dan mungkin karena itulah media malah mengabarkan berita kebakaran perusahaan tuan Herlambang dan bukan berita tentang ketiga anaknya.” Jelas salah seorang yang ada di sebelah Tommy membuat Tommy dan Roy sedikit terkejut.


“Ah begitu ya, terimakasih tuan.” Ucap Tommy dengan sopan.


“Dengar bukan? Sudah ada yang menjelaskan dengan rinci, jadi kalau kamu memang menyukainya kamu harus berusaha untuk mengajaknya berkenalan.” Ucap Tommy kepada sahabatnya itu.


“Ah lu liat kan pertemuan kita memalukan sekali, gimana mau kenalan gue!” ketus Roy.


“Makanya berusaha, usaha tidak akan mengkhianati hasil kok jadi kalo emang mau sama dia ya berusaha lah.” Ucap Tommy.


“Oke! Jangan bilang gue Roy kalo gue ga bisa mendapatkan putri keluarga Herlambang.” Ucap Roy dengan yakin.


Mendengar ucapan Roy membuat Tommy tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, lalu dia kembali menatap ke arah Daniyal dan Irene yang sudah mulai bertukar cincin.


Sedangkan di depan, Ratu sejak tadi melihat Roy yang terus saja menatap ke arah Nancy sambil tersenyum seperti orang gila.


“Kak, dari tadi dia ngeliatin kak Nancy loh.” Bisik Ratu.


“Biarin aja, tadi dia juga main nyosor aja ke perut aku, gila tuh cowok emang!” ketus Nancy.


“Hahaha, buaya darat dia kak.” Balas Ratu.


“Bukan buaya darat lagi Ratu, tapi buaya bunting!” ketus Nancy.


“What!? Hahaha kakak apaan sih mana ada buaya cowok bunting?” tanya Ratu.


“Yah pokoknya ada lah! Udah jangan bikin mood aku buruk di hari bahagia ini!” ketus Nancy yang akhirnya membuat Ratu terdiam.


Acara terlaksana dengan lancar, semua orang bertepuk tangan setelah Daniyal dan Irene saling bertukar cincin pertunangan, begitu juga dengan Daniyal dan Irene yang saat itu merasa bahagia.


“Terimakasih Irene..” ucap Daniyal dengan berbisik.


“Terimakasih untuk apa?” tanya Irene.


“Terimakasih karena kamu sudah mau menjadi pasanganku, kamu bahkan lebih memilihku di bandingkan Tommy.” Ucap Daniyal.


“Kenapa harus berterimakasih? Itu karena memang aku lebih nyaman berada di sebelah kak Dani di bandingkan dengan Tommy.” Ucap Irene.


“Jangan memberi alasan, bilang saja kalau kamu memang menyukaiku sejak dulu.” Balas Daniyal.


“Apa!? Kamu terlalu percaya diri sekali kak!” ucap Irene yang tidak menyangka jika Daniyal akan mengatakan hal seperti itu.


“Hahaha..” akhirnya tawa Daniyal pecah, begitu juga dengan tawa Irene yang membuat para tamu undangan melihat kalau Daniyal dan Irene saling mencintai satu sama lain.


Begitu juga dengan Tommy yang merasa tertusuk saat melihat senyum Irene yang tidak pernah dia lihat sebelumnya, karena selama ini Tommy mengingat kalau Irene tidak pernah tertawa lepas, dan dirinya yang lebih banyak bercerita di bandingkan dengan Irene.


“Apa karena aku terlalu banyak bicara jadi membuat Irene tidak nyaman berada di dekatku?” tanya Tommy kepada Roy.


“Mungkin saja, aku juga tidak tau karena yang aku tau adalah putri-putri tuan Herlambang sangat cantik!!” seru Roy.


“Gila!” ketus Tommy sambil menggelengkan kepalanya karena sahabatnya ini hanya memikirkan tentang wanita.