MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 147



Hari itu sudah hari ke tiga Aleena dan Abizar berada di Korea untuk berbulan madu, semua sudah di siapkan oleh Irene dan juga Daniyal, jadi mereka berdua hanya tinggal menikmati fasilitas yang sudah di siapkan.


“Apa kamu sudah selesai kak? Masih banyak tempat yang harus kita kunjungi.” Ucap Aleena saat dia baru saja selesai bersiap.


“Apa kamu tidak merasa lelah sayang?” tanya Abizar.


“Engga, kenapa aku harus merasa lelah kak? Aku bersenang-senang loh.” Ucap Aleena.


“Kamu ga istirahat sama sekali loh sayang…” ucap Abizar.


“Mumpung kita ada di sini kita harus menikmatinya suamiku sayang, ayo kamu juga harus bersiap.” Ajak Aleena.


“Aku maunya kita bulan madu tuh bikin anak yang banyak sayang, bukannya jalan-jalan ke mana-mana.” Ucap Abizar dengan wajah kesalnya.


Aleena hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan suaminya, padahal mereka selalu bertarung dengan panas setiap malam bahkan sampai begadang, tetapi Abizar sama sekali tidak kenal lelah dan selalu menginginkannya lagi dan lagi.


“Kamu ini pikirannya selalu saja ke arah sana!” ketus Aleena.


“Kenapa sayang? Apa kamu tidak mau segera memiliki anak? Papi pasti akan sangat bahagia kalau ada banyak cucu.” Ucap Abizar.


“Tapi aku sekarang mau liburan kak, ayolah ayo sayang…” rengek Aleena.


“Iya baiklah aku akan ganti pakaian dulu setelah itu kita akan segera pergi.” Ucap Abizar yang membuat Aleena tersenyum lebar.


Setelah selesai bersiap Abizar segera mengajak Aleena untuk berangkat, namun sepanjang perjalanan Abizar merasa ada seseorang yang selalu mengikuti mereka.


“Kamu ngerasa ga sih kalo dari kemarin ada orang yang mengikuti kita terus.” Bisik Abizar kepada Aleena.


“Aku ga ngerasa tuh kak, mungkin perasaan kakak aja kali.” Balas Aleena.


“Lihat ke belakang, apa kamu mengenal orang-orang itu?” tanya Abizar.


Akhirnya Aleena yang merasa penasaran segera menoleh ke belakang dan benar saja ada beberapa orang menggunakan motor dengan pakaian serba hitam.


Namun Aleena hanya mengerutkan keningnya, dia merasa pernah melihat orang-orang itu entah di mana.


“Benarkah? Di mana? Coba kamu ingat-ingat lagi.” Ucap Abizar.


Aleena mencoba untuk mengingat kembali di mana dia bertemu dengan laki-laki yang mengikutinya sejak kemarin itu, sampai akhirnya dia sudah mengingatnya dan langsung membulatkan kedua matanya.


“Yaampun kak!” seru Aleena sambil memegang lengan Abizar yang sedang memegang stir mobil.


“Ada apa? Apa kamu sudah mengingat siapa mereka?” tanya Abizar.


“Sepertinya mereka adalah orang suruhannya papi.” Ucap Aleena.


Mendengar ucapan Aleena membuat Abizar terkejut dan langsung menghentikan mobilnya di pinggir jalan hingga membuat Aleena hamper terpental.


“Yaampun kak! Kak Abizar kenapa berhenti mendadak sih?” tanya Aleena yang terkejut karena hampir saja dia terpental dari kursinya.


“Kamu bilang mereka adalah orang suruhan papi kamu? Untuk apa papi kamu mengutus orang mengikuti kita?” tanya Abizar yang mulai kesal.


“Ya mana aku tau, dari dulu papi memang seperti itu diam-diam menyuruh orang untuk mengikuti putri-putrinya.” Jelas Aleena dengan santainya.


“Tapi sekarang kamu sudah bersuami Aleena, apa papi kamu meremehkan aku? Apa papi kamu mengira aku tidak bisa menjagamu?” tanya Abizar dengan kesal.


“Kak kenapa kamu bicara seperti itu? Papi tidak meremehkanmu, hanya saja papi mengkhawatirkan kita.” Ucap Aleena.


“Kamu terus membela papi kamu, tapi kamu tidak pernah berfikir kalau dengan cara seperti ini aku merasa kalau papi kamu tidak percaya kepadaku Aleena! Kak Daniyal dan Irene sepertinya tidak pernah di ikuti seperti ini!” ketus Abizar.


“Itu,,, mungkin saja papi merasa kakak lebih bisa di andalkan dari pada aku.” Ucap Aleena.


“Bukan! Itu karena kak Daniyal lebih bisa di andalkan karena dia memiliki perusahaan sendiri dan bisa sukses dengan sendirinya, sedangkan aku tidak memiliki apapun dan papi kamu takut kalau aku tidak bisa menjagamu karena aku tidak memiliki kekuasaan!” ketus Abizar.


Mendengar ucapan Abizar membuat Aleena terkejut, dia tidak menyangka kalau Abizar akan berfikiran seperti itu, padahal selama ini yang di lakukan papinya hanya karena rasa sayangnya.


“Kak, kenapa kamu berfikiran seperti itu?” tanya Aleena yang mulai sedikit takut karena Abizar sudah mulai menggunakan nada tingginya.


Sedangkan Abizar masih menatap ke arah Aleena dengan tajam karena kekesalannya masih belum reda.