
Pagi yang cerah di kediaman Herlambang, Nancy yang kesiangan segera beranjak dari tempat tidurnya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri karena hari ini dia ada jadwal kuliah pagi.
“Aish, kenapa aku ga denger alarm bunyi sih! Padahal hari ini ada ujian dasar Nancy bodoh!” gumam Nancy menyalahkan dirinya sendiri.
Setelah selesai mandi, Nancy memakai pakaian seadanya, kaos putih celana jeans dan tidak lupa balutan blazer berwarna hitam membuat penampilannya sangat modis walaupun hanya seperti itu.
Setelah siap, Nancy segera berlari menuruni tangga dan melihat Irene yang sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk semuanya.
“Nancy, kamu kenapa lari-lari sih?” tanya Irene yang melihat adiknya berlari menuruni tangga.
“Duh kak kayaknya ga sempet deh, aku terlambat banget ini.. Bye kak..” ucap Nancy yang langsung mencium pipi kakaknya dan kembali berlari menuju pintu rumahnya.
“Kamu ga pamit papi?” tanya Irene dengan tegas.
Nancy yang sudah hampir sampai di pintu depan langsung menghentikan langkahnya dan berbalik menoleh ke belakang dengan memamerkan gigi putihnya.
“Hehe,, lupa kak maap… Papi di mana?” tanya Nancy.
“Di kamarnya, sekalian suruh papi turun untuk sarapan.” Ucap Irene yang di balas anggukan oleh Nancy.
Nancy segera berjalan menaiki tangga menuju kamar papinya, sedangkan Irene segera menghubungi Aiden untuk segera bersiap dan menemani Nancy.
Tok,,tok,,tok..
Nancy yang sudah berada di depan kamar papinya segera mengetuk pintu dan menempelkan telinganya di pintu untuk mendengar suara papinya.
“Masuklah..” ucap Gilang dari dalam yang membuat Nancy tersenyum dan segera membuka pintu kamar papinya.
“Morning papi..” sapa Nancy dengan lembut.
Tentu saja lembut karena kemarin Nancy habis di ceramahi habis-habisan oleh papinya, bahkan kartu kreditnya terancam di blokir jika dirinya keluar malam lagi.
Nancy berjalan mendekati papinya yang sedang duduk di sofa sambil menikmati kopi, lalu Nancy segera mencium pipi sang papi seperti biasanya.
Kelima putri Gilang memang memiliki kebiasaan yang tidak bisa hilang walaupun mereka beranjak dewasa, mereka memiliki kebiasaan untuk mencium pipi sang papi sebelum keluar dari rumah, menurut mereka itu adalah hal yang membuat mereka sukses dan selamat.
Namun jika keluar malam, Nancy tidak pernah berpamitan kepada sang papi dan mencium pipinya karena beralasan kalau sang papi sudah tertidur.
“Manis sekali kamu setelah papi ceramahi? Padahal kalo keluar malem juga ya keluar aja.” Ketus Gilang.
“Yaampun kenapa papi suudzon begitu sama Nancy? Padahal Nancy cuma beberapa kali aja kok keluar malemnya.” Ucap Nancy dengan nada manja.
“Ga usah bohong, papi sudah tau semuanya, walaupun kakakmu sangat menyayangimu tapi dia tetap menceritakan semuanya.” Jelas Gilang.
“Papi kenapa sih ngajak ribut mulu nih,, padahal Nancy udah baik-baik nih pamitan sama papi.”
“Iya soalnya ada maunya, papi tau kok kamu takut kalo papi mengambil kartu kreditmu kan?” tanya Gilang.
“Ih tau ah, Nancy mau kerja aja biar papi ga ngancem pake kartu kredit terus! Awas aja kalo Nancy kerja dan punya banyak duit nanti!” ketus Nancy yang langsung pergi meninggalkan Gilang begitu saja.
Sedangkan Gilang hanya menggelengkan kepala sambil menghela nafas panjang melihat tingkah putri ketiganya itu.
“Memang itu yang papi inginkan..” gumam Gilang yang kembali meneguk kopi miliknya.
Sedangkan Nancy hanya menuruni tangga dengan wajah yang cemberut membuat Aiden yang sudah menunggu di bawah tangga mengerutkan keningnya.
“Ada apa Nancy? Apa ada yang membuatmu kesal?” tanya Aiden.
Nancy yang awalnya melihat ke bawah seketika menoleh ke depannya dan terkejut saat bodyguardnya sudah berada di hadapannya.
“Oh my God! Kak! Kamu ini jalangkung ya? Tiba-tiba dateng gitu aja!” ketus Nancy.
“Aku sudah di sini dari tadi Nancy, kak Iren yang menghubungiku.” Ucap Aiden.
“Kenapa kamu harus ikut aku ke kampus sih?!” ketus Nancy.
“Karena memang sudah tugasku seperti itu Nancy, mengikutimu ke manapun.” Balas Aiden.
“Ya harusnya kamu nunggu di depan kampus aja ga usah ikutan masuk ke dalam kelasku! Tidak ada laki-laki yang mau mendekatiku karena mengira kamu adalah kekasihku tau! Aku juga ga suka karena semua wanita di kampus
melihatmu dengan tatapan seperti sedang menemukan mangsanya!” jelas Nancy.
“Maaf Nancy, apa aku harus menyamar? Memakai kumis palsu misalnya?” tanya Aiden dengan polosnya.
“What?! No! Apaan sih kak, nanti orang-orang mengira aku sama om-om lagi!” jawab Nancy dengan kening yang berkerut.
“Ah kalau begitu aku pakai rambut palsu aja!” ucap Aiden kembali.
“Kamu ini sudah gila ya kak!? Ga usah! Ga usah macem-macem yang ada nanti kamu malah membuat kita semakin menjadi pusat perhatian!” ketus Nancy.
Aiden baru saja mau berbicara kembali, namun sebelum itu Nancy segera berjalan menuju mobil agar tidak mendengar ide konyol bodyguardnya lagi.
Sedangkan Aiden hanya diam saat melihat Nancy sudah meninggalkannya dan berjalan mengikuti Nancy ke mobil.
Selama ini Nancy tidak suka dengan omongan para mahasiswi yang mengatakan kalau Aiden sangat tampan dan ada banyak sekali wanita yang menitipkan nomer hp mereka kepada Nancy untuk di berikan kepada Aiden, karena
semua orang yang ada di kampus hanya mengetahui kalau Aiden adalah kakak sepupu Nancy.
“Jangan tersenyum pada wanita yang ada di kampus nanti! Kalau kamu tersenyum kepada mereka, mereka akan menganggapmu memberi mereka kesempatan untuk mendekatimu!” ucap Nancy.
“Kenapa memangnya?”
“Kalau mereka mendekatimu aku yang pusing soalnya mereka menitipkan nomer telfon mereka kepadaku!” ketus Nancy.
Tanpa berbicara apapun lagi, Nancy segera mengeluarkan kotak yang berisi banyak sekali robekan kertas dan menunjukkannya kepada Aiden.
“Wah, apa kamu punya hobi baru sekarang? Mengumpulkan sampah robekan kertas?” tanya Aiden yang membuat nancy semakin kesal.
“Arrgghh!!” Nancy segera membuka kotak tersebut semakin lebar dan menumpahkan kertas yang ada di dalamnya.
“Lihat ini, ini adalah nomer-nomer wanita yang menyukaimu!” ucap Nancy dengan kesal.
“Wah, banyak sekali…”
“Yah sangat banyak sampai lantai mobilku penuh dengan kertas! Jadi sekarang aku akan masuk ke kampus, sedangkan kamu harus membersihkan mobil ini, jangan sampai kamu menyisakan satu pun kertas di dalam mobil ini.” Ucap Nancy yang langsung keluar dari mobilnya.
Sedangkan Aiden hanya bisa menganga melihat banyaknya kertas berisi nomer hp dan nama para wanita.
“Yaampun, ternyata aku setampan itu sampai membuat hampir setengah wanita yang ada di kampus ini tertarik padaku!” gumam Aiden membanggakan dirinya sendiri.
“Wah, aku harus cepat membersihkan semuanya agar bisa memantau Nancy di kelasnya!” ucap Aiden.
Akhirnya tidak kehabisan akal, Aiden mengambil vacuum cleaner yang memang di sediakan untuk menyedot debu di dalam mobil, dia dengan santainya menyedot semua kertas yang berserakan.
“Untung saja kertasnya kecil-kecil jadi aku bisa memakai mesin hahaha..” ucap Aiden dengan puas.
Sedangkan Nancy berjalan sambil bersenandung karena sudah berhasil membuat Aiden tertahan di dalam mobil dengan kertas yang berserakan.
“Rasakan itu! Akhirnya aku bisa terbebas darinya!” ucap Nancy dengan senyum lebar di wajahnya.
Namun baru saja Nancy menginjakkan kaki di dalam lobby kampusnya, dia di kejutkan dengan kehadiran Aiden yang sudah berada di sebelahnya dengan nafas yang tidak beraturan seperti habis berlari.
“Kamu! Kenapa kamu udah di sini kak!?” tanya Nancy dengan wajah terkejutnya.
Sedangkan Aiden hanya bisa tersenyum sambil menaikkan kedua bahunya ke arah Nancy.