
“What!? Bisa kakak ulang tadi kakak ngomong apa?!” tanya Nancy terkejut bahkan sampai berdiri dari tempat duduknya.
Saat ini Irene sedang berada di dalam kamar adiknya, dia ingin memberitahu tentang idenya untuk menjadikannya model sementara.
Irene sengaja memberitahu mereka satu per satu karena Irene tidak mau kalau sampai dia di keroyok oleh adik-adiknya kalau mereka tidak setuju dengan idenya.
“Aku bilang, aku ingin kalian menjadi modelku untuk sementara sampe perusahaanku menemukan model yang baru untuk menggantikan Siska.” Ucap Irene.
“Ya ampun kak, ada banyak wanita cantik yang dengan senang hati mau masuk ke perusahaan kakak! Siapa sih yang ga mau bekerja di perusahaan kakak?” tanya Nancy.
“Aku tau itu, tentu saja ada banyak orang yang mau menjadi model di perusahaanku, tapi aku juga tidak boleh asal memilih model untuk perusahaanku karena aku tidak ingin kejadian Siska terulang kembali, aku tidak ingin memiliki model yang hanya berpenampilan menarik saja!” jelas Irene.
“Tapi kakak tau sendiri kalau aku tidak bisa bergaya di depan kamera.” Ucap Nancy.
“Kamu ga perlu bergaya, aku akan memberimu tema yang garang jadi kamu tidak perlu tersenyum.” Ucap Irene.
“Haah, baiklah tapi hanya sementara! Dan aku mau kita coba dulu sebelum deal karena aku juga ga tau aku beneran bisa apa engga.” Ucap Nancy.
“Baiklah, terimakasih adikku yang cantik! Aku akan memberimu gaji yang lumayan kok jadi kamu jangan khawatir.” Ucap Irene yang sudah bersemangat karena Nancy sudah menyetujui permintaannya.
Setelah mendapat persetujuan dari adiknya, Irene segera keluar dari kamar Nancy dan menatap wajah Daniyal yang memang sedari tadi menunggu Irene membujuk adiknya di dalam kamar.
“Jadi, bagaimana?” tanya Daniyal saat melihat istrinya sudah keluar dari kamar adiknya.
Bukannya menjawab pertanyaan Daniyal, Irene malah tersenyum lalu memeluk tubuh Daniyal dengan sangat erat.
“Kamu kenapa memelukku sayang? Apa Nancy menolak?” tanya Daniyal.
“Apa kalau aku di tolak aku akan tersenyum?” tanya Irene yang sudah melepaskan pelukannya dan menatap wajah suaminya.
“Ah benar juga sih, jadi pasti di terima kan?” tanya Daniyal dengan senyumannya.
“Emang kalo aku tersenyum berarti di terima?” tanya Irene.
“Terus kalo bukan di terima atau di tolak apa lagi sayang? Kenapa kamu jadi membuatku bingung?” tanya Daniyal yang merasa serba salah.
“Kamu gemes banget sih kalo lagi penasaran begini..” puji Irene sambil menoel dagu suaminya.
“Sayang, kamu ini emang cari gara-gara ya menggoda aku duluan.” Ucap Daniyal dengan tatapan mesumnya.
Melihat tatapan suaminya membuat Irene bergidik ngeri lalu dia segera berlari menjauhi Daniyal sambil menjulurkan lidahnya.
“Hei, Iren! Irene Herlambang! Jangan lari, kamu akan terjatuh!” teriak Daniyal yang ikut berlari mengejar Irene karena dia takut kalau Irene akan tersandung.
Tidak jauh di dekat tangga, Abizar sedang berdiri sembari menunggu Aleena keluar dari kamarnya. Saat mendengar teriakan kakaknya membuat abizar menoleh ke asal suara dan melihat Irene yang sedang berlari ke arahnya.
Irene lurus terus dan mau menuruni tangga, namun Abizar dengan sengaja dan tersenyum sinis menjulurkan kakinya dan membuat Irene tersandung.
Irene dan juga Daniyal terkejut karena saat itu Irene sudah hampir tersungkur ke tangga, di pikirannya Irene hanya ingin melindungi anak yang ada di kandungannya karena kalau dia jatuh dari tangga pasti anaknya tidak bisa di selamatkan.
Namun saat Irene benar-benar hampir jatuh, Abizar dengan sigap menarik tangan Irene dan membuat Irene tidak jadi jatuh dari tangga.
“Irene!!” teriak Daniyal yang langsung menghampiri istrinya.
Saat itu Daniyal tidak bisa menggerakkan badannya dan tidak bisa dengan sigap menolong istrinya, Daniyal benar-benar merasa bersalah akan hal itu.
“Yaampun Iren, harusnya kamu lebih hati-hati karena saat ini kamu sedang hamil, kalau sampai ada apa-apa dengan kandunganmu bagaimana?” ucap Abizar berpura-pura memperhatikan Irene padahal dialah yang sudah membuat Irene tersandung.
Sedangkan Daniyal yang sebenarnya tau kalau adiknya itulah yang sudah membuat Irene tersandung hanya bisa menatapnya dengan tajam, namun mulutnya tidak bisa mengatakan apa-apa.
“Ada apa kak Daniyal? Kenapa kamu menatapku seperti itu?” tanya Abizar seperti sengaja memberi Daniyal peringatan.
Mendengar ucapan Abizar membuat Irene menoleh ke arah suaminya, yang dia yakini sedang cemburu karena Abizar tadi sudah memegang tangannya.
“Sayang, kenapa kamu menatap Abizar seperti itu? Dia yang sudah menolongku tau.” Ucap Irene.
“Hah? I-iya sayang dia yang sudah menolongmu, kamu ga apa-apa kan?” tanya Daniyal yang kembali tersadar dan segera meneliti tubuh Irene.
“Aku ga apa-apa sayang, aku kan tadi ga jadi jatoh, kamu mendingan bilang terimakasih sama Abizar soalnya dia yang sudah menolongku.” Ucap Irene.
Daniyal terkejut dengan permintaan Irene, berterimakasih? Berterimakasih dengan orang yang hampir menyelakai istri dan calon anaknya? Tentu saja Daniyal tidak mau! Justru Daniyal sangan ingin menghajar Abizar saat itu.
“Sayang? Kamu kok malah melamun? Ayo bilang makasih.” Ucap Irene kembali.
Akhirnya mau tidak mau Daniyal menatap Abizar dan mengucapkan terimakasih dengan singkat.
“Kenapa singkat sekali? Kamu ini jutek banget sih sayang.” Ucap Irene.
“Yang penting aku sudah bilang makasih kan sayang? Udah ayo kita berdiri lagi, kamu kan mau ke kamar Ratu sama Queen.” Ucap Daniyal mengingatkan.
Akhirnya Irene segera berbalik dan berjalan menuju kamar Ratu lebih dulu. Awalnya memang Irene ingin ke kamar adiknya yang lain, hanya saja karena dia merasa Daniyal mengejarnya jadi dia memutuskan untuk berlari ke arah tangga.
Daniyal memang sengaja tidak menyusul Irene karena dia ingin menghampiri Abizar lebih dulu.
Daniyal mendekati Abizar dengan tatapan tajamnya, sedangkan Abizar hanya tersenyum sinis melihat Daniyal yang menatapnya dengan tajam.
“Hai kakakku tersayang.” Bisik Abizar seperti tidak takut lagi jika seseorang mendengar ucapannya.
“Gila ya?! Beraninya kamu menyapaku seperti itu!” ketus Daniyal.
“Waah, kenapa kamu malah marah begitu?” tanya Abizar sambil tersenyum.
“Kalau bukan di rumah ini, aku sudah menghajarmu karena kamu hampir mencelakai istriku!” ketus Daniyal.
Abizar hanya tersenyum mendengar ucapan kakaknya, dia senang bisa membuat kakaknya merasa terancam dengan kata-katanya.
“Kenapa? Apa kamu mau mengadukanku kepada papi? Tapi maaf sepertinya papi juga akan mendukungku jika menyangkut masalah ini.” Balas Abizar seperti sudah tau kalau papinya akan mendukungnya untuk menyakiti Irene.
“Setelah ini aku ingin bicara denganmu Abizar!” ketus Daniyal.
“Tentang apa? Aku sibuk dan tidak bisa mendengarkan ucapanmu lagi.” Ucap Abizar.
Daniyal yang awalnya ingin membalas ucapan Abizar seketika berhenti saat melihat Aleena sudah keluar dari kamarnya dan memanggil Abizar.
“Kak Daniyal? Kakak ngapain di depan kamarku?” tanya Aleena.
“Ah engga, tadi aku cuma nyapa Abizar aja kok, kamu mau kerja lagi?” tanya Daniyal basa-basi.
“Engga lah kak, sekarang udah malem masa aku mau kerja terus sih? Aku ada acara ulang tahun temanku jadi aku keluar deh.” Jelas Aleena.
“Ah gitu, yaudah kalian hati-hati ya.” Ucap Daniyal yang di balas anggukan oleh Aleena.
Abizar hanya tersenyum melihat kakaknya mati kutu seperti itu, lalu dia segera menuruni tangga mengikuti Aleena yang sudah lebih dulu menuruni tangga.