MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 134 (BUMIL)



“P-papi?! Papi ada di sini?” tanya Aleena yang masih terkejut melihat sang papi berada di hadapannya.


“Emang papi ga boleh ada di sini? Bukannya ini kamar papi? Dan seharusnya papi yang nanya sama kamu kenapa kamu ada di sini?” tanya Gilang.


“Hehehe, aku lagi nyari papi.” Ucap Aleena.


“Ada apa nyari papi?” tanya Gilang.


Seketika Aleena memasang wajah sedihnya dan menundukkan kepala dengan telunjuk tangan kanan dan kiri yang menyatu seperti anak kecil.


“Papi, maafkan Aleena karena sudah berbicara yang tidak-tidak sama papi…” ucap Aleena dengan lemah.


“Kenapa kamu memasang wajah seperti itu? Papi ga mempan sama yang seperti itu.” Ucap Gilang.


“Ih papi biasanya kan mempan.” Ucap Aleena.


“Papi tau kamu dan Abizar adalah dua sejoli yang saat ini sedang di mabuk cinta, hanya saja papi tetaplah papi, kalau sesuatu terjadi kepada papi hanya saudara dan pasangan kalian yang bisa menjadi sandaran dan tentu saja papi ingin yang terbak untuk kalian semua.” Jelas Gilang.


“Kamu tau? Untuk merawat seorang putri itu bener-bener harus ekstra hati-hati, apa lagi semenjak kepergian mami kalian, jujur sebenarnya papi pernah merasa ga kuat merawat kalian ber-lima sendirian, papi takut kalau papi ga bisa jadi papi yang baik untuk kalian semua.” Ucap Gilang.


“Untuk menjaga kehormatan kalian semua papi rela melakukan apapun, menjaga kalian dari pergaulan yang bebas, hanya Nancy yang sulit papi bilangi, tapi papi tidak pernah putus mengatakan kepada Nancy kalau papi hanya minta untuk menjaga kehormatannya sebagai seorang wanita.” Lanjutnya.


“Apa papi salah kalau papi memilih laki-laki yang mau di nikahkan dengan kalian?” tanya Gilang.


Tentu saja semua ucapan Gilang adalah tamparan hebat untuk Aleena, karena selama ini dia tau betul bagaimana sang papi dengan susah payah membagi waktunya untuk bekerja dan juga memperhatikan mereka semua.


Rasa bersalah Aleena semakin besar setelah mendengar isi hati sang papi, dia tau kalau apapun yang di lakukan papinya adalah untuk kebahagiaan mereka sendiri.


“Maaf papi, hikss hikss maafkan Aleena…” tangis Aleena pecah, dia segera memeluk erat tubuh papinya dan terus menangis sambil sesekali meminta maaf dengan nafas yang sesegukan.


“Sudahlah jangan menangis lagi, papi ga bisa melihat salah satu putri papi menangis tau kamu?” ucap Gilang sambil mengelus rabut panjang sang putri.


“Aku sangat sangat sangat menyayangi papi, papi adalah laki-laki pertama yang akan selalu aku hormati dan sayangi sebelum suamiku!” seru Aleena yang masih memeluk tubuh papinya.


“Tidak boleh bilang begitu, setelah menikah nanti kamu harus mengutamakan suamimu karena setelah menikahkan kamu itu artinya papi sudah menyerahkan kamu dan kamu bukan lagi milik papi sayang.” Jelas Gilang yang saat ini sudah melepaskan pelukan putrinya dan dia memegang kedua lengan Aleena.


“Kenapa begitu? Kalau begitu aku tidak akan menikah saja!” seru Aleena.


“Kenapa kamu mengatakan hal itu! Jangan bilang gitu pamali tau! Harusnya kamu berdoa yang baik-baik saja dan berdoa untuk mendapatkan laki-laki yang baik.” Ucap Gilang.


“Tapi nanti prioritas Aleen bukan papi lagi kalau menikah.” Ucap Aleena.


“Hahaha, makanya papi nyari pasangan yang pantas untuk kamu biar papi ga merasa kecewa sudah di kalahkan dengan laki-laki yang tidak bertanggung jawab.” Sahut Gilang sambil tertawa.


“Cih! Papi selalu saja tidak mau mengalah! Tapi papi ijinkan aku menikah dengan kak Abizar kan?” tanya Aleena.


“Kamu ini ujung-ujungnya Abizar lagi yang di tanyain! Lihat besok lah, papi kan masih belum menyeleksi dia.” Ucap Gilang.


“Haah, iya baiklah baik terserah papi saja.” Ucap Aleena dengan pasrah.


“Udah sana istirahat udah malem banget ini.” Perintah Gilang.


Aleena hanya menganggukkan kepala dan segera berpamitan untuk kembali ke kamarnya dan beristirahat.


***


Di dalam kamarnya, Irene sedang berbaring di atas tempat tidurnya namun kedua matanya tidak bisa tertutup sama sekali karena saat itu tidak ada Daniyal yang berbaring di sebelahnya.


Irene menghela nafas kasar, dia kesal karena saat ini suaminya tidak ada di sampingnya untuk menemaninya.


Malam itu Daniyal memang tidak berada di atas tempat tidurnya karena harus menyelesaikan pekerjaan yang harus di selesaikan besok pagi.


Irene yang kesal segera beranjak dari tempat tidurnya dan langsung berjalan menghampiri Daniyal yang sedang


berada di ruang kerjanya.


Daniyal yang merasa ada seseorang yang membuka pintu ruang kerjanya segera menghentikan aktifitasnya dan langsung menoleh ke arah pintu.


Daniyal tidak melakukan apapun saat itu, dia hanya tersenyum melihat tingkah istrinya yang sedang mengintipnya


dari pintu dengan wajah sedihnya.


“Ada apa sayang?” tanya Daniyal yang masih tersenyum di tempatnya.


“Kamu masih lama?” tanya Irene memelas.


“Kenapa? Kamu sudah merindukan aku?” tanya Daniyal.


“Hem sangat, sangat, sangaaat… Rindu!” tegas Irene.


Daniyal kembali melebarkan senyumnya lalu dia segera menyuruh Irene masuk ke dalam ruangannya.


“Emang ga apa-apa aku masuk?” tanya Irene.


“Tentu saja! Ini juga ruanganmu jadi kamu boleh masuk kapan saja kamu mau.” Jawab Daniyal.


“Kemarilah sayang…” panggil Daniyal untuk kedua kalinya.


Akhirnya Irene membuka lebar pintu ruangan kerja Daniyal dan masuk ke dalam berjalan mendekati meja kerja


Daniyal.


Daniyal segera mengisyaratkan kepada Irene agar duduk di pangkuannya, dan tentu saja dengan segera Irene


menurutinya.


“Hahaha perut kamu lucu sekali, sepertinya anak kita mau membuktikan kalau dia akan menjadi penghalang kita


bermesraan nantinya.” Ucap Daniyal.


“Hahaha iya kamu benar juga, lihatlah bahkan dia sudah menjadi penghalang saat berada di dalam perut.” Balas


Irene.


Daniyal hanya tersenyum sambil mengelus perut besar Irene, namun tiba-tiba saja Irene mencium pipi Daniyal secara tiba-tiba hingga membuat Daniyal terkejut.


“Kamu ini sedang menggodaku ya?” tanya Daniyal.


“Aku ga suka tidur sendirian, aku cuma mau tidur di temani kamu.” Rengek Irene.


“Tapi aku masih harus menyelesaikan pekerjaan sayang.” Ucap Daniyal.


“Haaaa, ga mau tau pokoknya aku mau tidur sama kamu…” rengek Irene lagi.


“Hahaha, iya iya sayang aku akan temani kamu sampai kamu tidur habis itu aku kembali bekerja oke?” ucap Daniyal yang di balas anggukan dan senyuman oleh Irene.


Dengan semangat Irene segera beranjak dari pangkuan Daniyal dan segera berlari menuju kamar tidur mereka.


Daniyal tertawa melihat tingkah lucu ibu hamil yang ada di hadapannya itu, Daniyal melihat saat ini Irene sudah berbaring dan menyelimuti dirinya sendiri sabil tersenyum menatap Daniyal.


“Apa kamu bisa jangan tersenyum manis begitu? Aku bisa khilaf kalau kamu tersenyum seperti itu.” Ucap Daniyal.


“Kenapa? Bukannya kamu menyukainya?” tanya Irene.


Daniyal hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala, lalu dia berbaring di sebelah Irene dan masuk ke dalam


selimut dan memeluk tubuh Irene sambil mengusap punggungnya.