
Setelah di tenangkan oleh Daniyal, Irene sudah lebih tenang dan sudah berhenti menangis sekarang. Daniyal mengajaknya untuk makan siang di luar sambil mencari udara segar karena dia tau kalau istrinya membutuhkan udara segar.
“Kita makan di sini ya, kamu bisa melihat banyak ikan dan di sana ada hutan yang membuat pikiran jadi lebih tenang.” Ucap Daniyal.
Siang itu Daniyal mengajak Irene untuk makan siang di restaurant yang sedikit jauh dari kota, tempat yang sangat sejuk karena berdekatan dengan hutan dan ada sungai alami yang memiliki banyak ikan di dalamnya membuat banyak orang yang menyukai tempat itu walaupun berada jauh dari pusat kota.
“Wah, kenapa kamu bisa menemukan tempat seperti ini sayang?” tanya Irene.
“Apa sih yang ga aku tau sayang? Aku ini mengetahui semua tempat yang bagus, apa lagi untuk membahagiakanmu pasti aku akan menemukan tempat dan barang apapun untukmu.” Ucap Daniyal menggombal.
“Heleh gombal!” ketus Irene.
Daniyal hanya tertawa memamerkan gigi putihnya ke arah Irene, lalu dia membantu Irene untuk duduk di kursi dan mulai memesan makanan.
Setelah memesan makanan, Daniyal mengobrol dengan Irene sambil menunggu makanannya selesai dan di antar ke meja mereka.
“Sayang, bolehkah aku bertemu dengan tante Rinda?” tanya Daniyal di tengah-tengah pembicaraan mereka.
“Hah? Tante Rinda? Tentu saja, minggu ini aku dan yang lain ingin mengunjungi tante Rinda, kita akan berangkat bersama ya.” Ucap Irene.
Daniyal tersenyum senang dan segera menganggukkan kepalanya karena Irene mengijikannya menemui salah satu anggota keluarganya yang selama ini di sembunyikan.
“Apa kamu dan keluargamu sengaja menyembunyikan keberadaan tante Rinda?” tanya Daniyal.
“Hem, karena papi takut kalau ada yang melihatnya dan mengira kalau mami masih hidup dan malah melukai tante Rinda yang tidak tau apa-apa.” Jelas Irene.
“Selama ini karena tidak tau di mana makan tante yang sudah menyelamatkan aku dan Aleena, papi sengaja membuatkan makam kosong di sebelah mami dengan wajah tante itu dan tertulis pahlawan di batu nisannya.” Ucap Irene.
“Jadi kami selalu ke sana dan mendoakannya, kami juga selalu memperingati hari kematian mereka di acara ulang tahun perusahaan papi seperti waktu itu.” Lanjutnya.
Daniyal hanya menganggukkan kepala mengerti dengan ucapan Irene dan tidak lama kemudian makanan yang mereka pesan pun datang.
“Ayo makan dulu, kamu butuh banyak nutrisi untuk anak kita.” Ucap Daniyal.
Irene hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Daniyal, lalu dia mulai melahap satu per satu hidangan yang ada di hadapannya dengan lahap karena Irene memang sudah sangat lapar.
“Setelah ini mau pulag ke rumah papi dulu apa langsung ke rumah kita aja?” tanya Daniyal.
“Pulang ke rumah papi dulu ya sayang, aku masih mau nawarin kerjaan ke Nancy, Ratu dan Queen.” Ucap Irene.
“Kerjaan? Kerjaan apa?” tanya Daniyal.
“Jadi perusahaanku membutuhkan model lagi, tapi standar kami benar-benar terlalu tinggi dan elif mengusulkan untuk menjadikan adik-adikku model juga walaupun sementara.” Jelas Irene.
“Anggap saja itu sebagai uang jajan lebih mereka di sela kesibukan mereka kan? Toh jadwal yang perusahaanku buat di atur sesuai jadwal modelnya.” Lanjutnya.
“Oh, jadi kamu mau menjadikan Nancy, Ratu dan Queen sebagai model sambil mencari model yang tepat?” tanya Daniyal yang di balas anggukan oleh Irene membenarkan ucapan Daniyal.
“Yah, itu bagus juga sih, terutama sepertinya adik-adikmu memiliki aura modeling dan sepertinya mereka akan sangat sukses kedepannya.” Ucap Daniyal.
“Benarkah? Menurutmu begitu?” tanya Irene yang di balas anggukan oleh Daniyal.
“Tapi aku takut kalau mereka ga akan mau kak, mereka tidak semuanya ingin seperti Aleena, Nancy walaupun aktif seperti itu tapi dia tidak suka berhadapan dengan kamera, yah begitulah mereka berbeda-beda.” Jelas Irene.
Irene hanya tersenyum menanggapi ucapan Daniyal, lalu dia segera kembali menyantap makan siangnya sampai habis.
“Sudah kenyang? Mau makan apa lagi?” tanya Daniyal.
“Engga deh aku udah kenyang banget, ayo kita langsung pulang aja, aku udah ga ada jadwal lagi kok.” Ajak Irene.
Akhirnya Irene dan Daniyal segera pergi dari tempat makan itu dan segera menuju ke rumah Gilang.
Daniyal dan Irene berpapasan dengan Gilang yang juga baru masuk ke halaman rumahnya yang megah itu.
“Papi Gilang habis dari mana?” tanya Daniyal.
“Entahlah, mungkin dari perusahaan dan mengumumkan tentang kehadiranmu untuk menggantikan papi sementara sayang.” Jawab Irene.
“Iya, aku hampir lupa kalau aku di berikan tanggung jawab besar oleh papi Gilang.” Ucap Daniyal.
“Apa segitu beratnya tanggung jawab yang papi berikan sayang? Apa perlu aku bantu?” tanya Irene.
“Kamu tidak perlu membantuku sayang, kalau memang papi mau kamu turun tangan, dia pasti sudah memintamu langsung untu mengurus perusahaan, tapi karena dia tidak mau kamu turun tangan makanya papi menyuruhku.” Ucap Daniyal.
“Kenapa begitu? Apa papi tidak mempercayaiku? Aku kan bisa mengurus perusahaan dengan baik.” Ucap Irene dengan nada sedih.
“Bukan begitu sayang, papi pasti tau betul kalau kamu sangat bisa di andalkan untuk memegang perusahaan, hanya saja papi tidak ingin kamu kelelahan, apalagi saat dia tau kamu hamil pasti papi semakin yakin dengan keputusannya.” Jelas Daniyal.
“Jadi kamu jangan berfikir yang tidak-tidak lagi ya! Aku akan melakukan yang terbaik agar tidak mengecewakanmu dan papi.” Lanjut Daniyal yang sudah memarkirkan mobilnya di depan pintu rumah Gilang.
Gilang yang masuk ke dalam halaman lebih dulu sedang menunggu Irene dan Daniyal karena dia sudah melihat mobil anak dan menantunya itu berada di belakangnya.
“Papi, kok papi ga langsung masuk?” tanya Daniyal yang segera menyalami Gilang setelah membantu Irene turun dari mobil.
“Papi mau nunggu kalian berdua, ayo masuk ke dalam.” Ajak Gilang.
Irene segera merangkul lengan papinya, sedangkan Daniyal hanya tersenyum melihat keduanya dan berjalan mengikuti mereka berdua dari belakang.
“Kamu hari ini masih nginep di sini kan?” tanya Gilang.
“Hah? Engga pi, malam ini aku dan kak Daniyal pulang ke rumah, aku masih ada urusan yang harus di omongin sama papi dan adik-adik jadi kami mampir ke sini dulu.” Jelas Irene.
“Urusan? Urusan apa?” tanya Gilang.
“Nanti aja ya pi tunggu semuanya datang dan berkumpul baru Irene akan memberitahu kalian.” Ucap Irene.
“Haah, kamu ini selalu saja membuat papi penasaran!” ketus Gilang samba menoel hidung mancung Irene.
“Hehehe sabar ya pi sabar.” Ucap Irene sambil memamerkan gigi putihnya.
Irene menyuruh Gilang untuk membersihkan dirinya dan beristirahat karena hari masih setengah sore dan di rumah juga tidak ada siapapun karena semuanya sedang pergi.
Jadi setelah Irene menyuruh Gilang beristirahat, dia dan Daniyal segera menuju kamar Irene untuk membersihkan diri dan beristirahat juga.