MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 93 (KABAR DIA)



Setelah sampai di lantai khusus pemotretan, Irene dan Elif berjalan keluar dan melihat Aleena sedang melakukan pose sendirian, sedangkan model laki-laki yang di maksud Irene sedang bersiap sambil melihat ke arah Aleena.


“Hai kak Iren!” sapa model laki-laki tersebut saat melihat Irene datang.


“Hai Delon!” balas Irene.


Delon Mahardika, seorang model dan juga merangkap menjadi artis setelah foto pra debutnya yang sangat tampan dan membuat semua orang terpukau sampai menjadi trending dan itulah yang membuat banyak sekali sutradara yang ingin menggaetnya.


“Kak Iren selalu terlihat cantik setiap hari kak!” goda Delon.


“Dan kamu selalu pintar gombal seperti biasanya Delon.” Balas Irene.


Delon hanya tertawa memamerkan gigi putihnya yang rapih. Ya memang seperti itulah Delon, karena merasa dia adalah model laki-laki nomer satu setelah Aleena membuatnya merasa special.


“Kak Iren ngapain di sini kak?” tanya Aleena yang sudah menyelesaikan pemotretannya.


“Aku cuma mau liat aja soalnya Elif bilang Abizar ga sama kamu.” ucap Irene.


“Kak Abizar lagi ada urusan kak, dia bilang udah jalan balik ke sini kok.” Balas Aleena.


“Yaudah kalo gitu, aku takut aja soalnya kamu lagi pemotretan sama buaya!” ucap Irene sengaja menaikkan volume suaranya agar Delon yang masih bersiap mendengarnya.


“Come on kak Iren! Aku bukan buaya tau.” Rengek Delon.


“Iya bukan buaya tapi pakboy!” sahut Irene kembali.


“Ah sudahlah kak Iren selalu meledekku.” Protes Delon.


Irene hanya tersenyum mendengar protes dari Delon lalu dia segera pergi dari sana bersama dengan Elif.


“Kakak udah mau pergi?” tanya Aleena yang melihat Elif menekan tombol lift agar terbuka.


“Iya aku ada rapat, semangat pemotretannya semua, aku akan pesan antar pizza untuk kalian dan aku akan menyuruh orangnya mengantar langsung ke sini.” Ucap Irene.


Semua orang berterimakasih kepada Irene, Irene memang selalu membei makanan untuk para karyawannya saat sedang bekerja di perusahaan, bukan karena ada sang adik di sana, tapi Irene selalu melakukan hal yang sama kepada modelnya yang lain.


“Elif, karena masalah Siska waktu itu kita jadi kekurangan orang berbakat lainnya, aku mau kamu mulai mencari bibit baru untuk menjadi model di perusahaan ini.” Ucap Irene.


“Baiklah kak, tapi kalo boleh jujur, tiga adik kak Iren adalah bibit terbaik kak, wajah mereka tidak perlu di ragukan lagi, dan sepertinya mereka juga mengerti tentang permodelan karena sering melihat kak Iren dan kak Aleena bekerja.” Jelas Elif.


Mendengar ucapan Elif membuat Irene berpikir sejenak, karena jujur saja apa yang di katakan Elif memang benar, Irene sudah sering berfikir seperti itu tapi Irene tidak ingin kalau dia terlalu memaksakan keingnannya kepada adik-adiknya.


“Aku takut kalo mereka merasa tertekan terus terpaksa menerimanya, kamu tau kan kalau mereka selalu menuruti keinginanku.” Ucap Irene.


“Tapi kak Iren belum pernah mencoba kan?” tanya Elif.


“Belum sih.” Jawab Irene.


“Ga ada salahnya mencoba kak, siapa tau mereka mau dan aku yakin perusahaan model kak Iren akan semakin maju, apa lagi kalo Nancy yang ikut pemotretan beuh!” ucap Elif dengan semangat.


“Iya nanti akan aku pikirkan lagi.” Ucap Irene.


Ting!! Pintu lift terbuka di lantai ruangan rapat, Irene dan Elif segera keluar dari lift dan berjalan masuk ke dalam ruang rapat.


Setelah rapat selesai, Irene menyuruh Elif untuk menolak orang yang ingin bertemu dengannya.


“Tolong ya Elif, aku pergi dulu.” Ucap Irene.


“Siap kak, hati-hati di jalan ya… Beneran ga perlu aku anter?” tanya Elif.


“Bener Elif, aku baik-baik saja kok.” Ucap Irene.


Setelah berpamitan kepada Elif, Irene segera berangat ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan rutinnya.


Irene sudah biasa keluar masuk rumah sakit itu selama tiga bulan sekali, dia adalah pelanggan VVIP tetap di rumah sakit itu.


“Selamat pagi dok.” Sapa Irene.


Irene hanya mengangguk sambil menuruti ucapan dokter tersebut, tanpa di beritahu dokter tersebut langsung tau apa yang Irene inginkan.


Akhirnya Irene di ambil darahnya dan juga di suruh buang air kecil di sebuah gelas kecil karena Irene ingin memeriksa apakah dia hamil atau tidak.


“Tunggu sebentar nona Iren, aku akan segera membawa hasilnya setengah jam lagi.” Ucap dokter tersebut.


Irene hanya menganggukkan kepala setuju dengan ucapan dokter itu, dan dia segera menunggu di ruang tunggu sambil memainkan hpnya.


Irene melihat ada seorang anak kecil yang sedang berjalan sambil di gandeng ibunya, melihat hal itu membuat hati Irene terenyuh, rasanya ingin sekali memiliki anak yang menggemaskan seperti anak kecil yang dia lihat itu.


“Kalau kami punya anak, apa kak Daniyal akan senang?” gumam Irene sambil tersenyum.


Ibu itu menyuruh anaknya untuk duduk di sebelah Irene menunggu dirinya yang akan mengambil resep obat.


“Hai adik kecil, nama kamu siapa?” tanya Irene sambil tersenyum menyapa anak tersebut.


“Coco, namacu Coco ante..” ucap anak kecil tersebut yang membuat Irene semakin gemas.


“Coco ya? Coco lagi apa di rumah sakit?” tanya Irene kembali.


“Coco peliksa, Coco akit.” Ucap Coco.


“Sakit? Coco sakit apa sayang? Coco sering ke rumah sakit?” tanya Irene.


“Hem, Coco seling dateng umah akit, dada Coco di peliksa doktel.”


“Dada Coco yang sakit?” tanya Irene kembali yang di balas anggukan oleh Coco.


Irene langsung berpikir kalau Coco memiliki penyakit jantung dan mengharuskannya untuk periksa rutin ke rumah sakit.


“Coco ayo kita pulang.” Ucap ibunya yang sudah selesai mengambil obat.


“Dah ante..” ucap Coco sambil tersenyum dan melambaikan tangannya kepada Irene.


“Coco jangan bicara dengan orang asing!” tegas ibunya.


“Dia ante aik bu..” balas Coco.


Irene hanya tersenyum melihat kepergian Coco dan ibunya, mau bagaimanapun juga ibu Coco hanya khawatir karena anaknya bicara dengan orang asing dan itu adalah hal yang wajar bagi seorang ibu mana saja.


Tidak lama kemudian, dokter memanggil nama Irene dan Irene segera masuk kembali ke dalam ruang pemeriksaan.


“Bagaimana dok?” tanya Irene.


“Semuanya baik-baik saja nona Irene, normal seperti biasanya, tapi ada yang tidak biasa.” Ucap dokter tersebut dengan senyum di wajahnya.


“Apa yang ga normal?”


“Anda hamil nona Irene, usianya sudah 8 minggu selamat..” ucap dokter tersebut.


Mendengar ucapan dokter tentu saja membuat Irene seketika mematung karena terkejut, rasanya dia kurang jelas mendengar ucapan dokter tersebut.


“Benarkah itu dok? A-aku hamil?” tanya Irene tidak percaya.


“Benar nona Irene, usianya sudah 8 minggu apa anda tidak merasakan apapun?” tanya dokter tersebut.


“Engga sama sekali dok, hanya saja aku merasa berat badanku bertambah.” Jawab Irene.


“Aku akan memberikan vitamin dan obat penguat kandungan untuk nona Irene,  karena nona Irene adalah orang yang sangat sibuk, jadi aku yakin kalau nona Irene akan melupakan makan atau hal lainnya.” Ucap dokter tersebut.


Irene hanya menganggukkan kepala mengiyakan ucapan dokternya, dia segera menebus obat yang sudah di resepkan setelah itu dia memutuskan untuk segera pulang ke rumah.


“Pasti kak Daniyal sangat senang mendengar kabar bahagia ini.” Gumam Irene yang tidak berhenti tersenyum.