
Daniyal membuka kedua matanya secara perlahan, tidak terasa dia yang awalnya hanya ingin menemani Irene justru ikut tertidur pulas sambil memeluk tubuh istrinya dengan erat.
“Yaampun kenapa aku jadi ikutan tidur? Jam berapa ini, aku dan Irene harus segera bangun dan bersiap untuk ke rumah papi Gilang.” Gumam Daniyal sambil melihat jam yang ada di dinding kamarnya.
Daniyal menatap wajah Irene dengan lembut, dia tidak menyangka kalau hatinya ternyata lebih lemah dari yang dia kira.
Buktinya saat ini dia tidak menyangka bisa tergila-gila dengan Irene, tujuannya sekarang bukanlah membalas dendam melainkan melindungi Irene dari bahaya yang berasal dari mana saja dan siapa saja termasuk keluarganya sendiri.
“Sayang, ayo bangun karena kita harus ke rumah papi hari ini.” Ucap Daniyal membangunkan Irene dengan perlahan.
Namun Irene tidak berkutik sama sekali, kedua matanya masih terpejam rapat dan napasnya masih beraturan.
Melihat hal itu membuat Daniyal kembali membangunkan sang istri yang masih tertidur.
“Sayang ayo…” ucap Daniyal kembali.
Namun kali ini Irene hanya meregangkan kedua tangannya dan kembali tidur membelakangi Daniyal.
“Sayang…” ucap Daniyal kembali dengan nada yang sedikit meninggi.
“Hemm..” ucap Irene dengan malas.
“Ayo bangun, kita harus segera mandi dan bersiap.” Ucap Daniyal.
“Tapi aku masih mengantuk sayang..” rengek Irene.
“Tapi kita ga bisa batalin janji kita gitu aja sayang, setiap kita mau ke sana pasti papi Gilang akan menyiapkan berbagai macam hal dan sekarang pun pasti begitu.” Ucap Daniyal.
“Biarkan aku tidur 5 menit lagi sayang pliss…” rengek Irene.
“Baiklah-baiklah, kalau begitu aku akan kasih kamu kesempatan untuk tidur sampai aku selesai mandi ya.” Ucap Daniyal.
“Hem, terimakasih sayangku…” ucap Irene yang langsung kembali tertidur.
Sedangkan Daniyal hanya bisa menggelengkan kepala lalu dia segera berjalan menuju kamar mandi untuk mandi dan bersiap.
Setelah mandi dan bersiap, Daniyal segera kembali membangunkan Irene dan menyuruhnya untuk bersiap juga.
“Sayang, aku mandi lebih dari 15 menit loh, udah aku kasih keringanan loh tapi kenapa kamu tetep ga bangun juga?” ucap Daniyal.
“Iya sayang iya aku bangun, tapi mata aku ga mau melek nih…” ucap Irene.
“Baiklah berarti tidak ada cara lain.” Ucap Daniyal.
Mendengar ucapan Daniyal membuat Irene membuka kedua matanya karena penasaran dengan cara yang akan di gunakan suaminya.
Dan benar saja, cara yang di maksud Daniyal adalah menggendong Irene dan membawanya ke dalam kamar mandi.
“Aaa turunkan aku sayang…” rengek Irene.
“Tidak akan sampai kamu bangun dan mandi sayang.” Ucap Daniyal.
“Aku udah bangun sayang aku bangun jadi turunkan aku ya..” ucap Irene memohon.
Akhirnya Daniyal menurunkan tubuh Irene setelah melihat wajah memelas Irene yang memohon kepadanya.
“Kalau begitu aku tunggu di luar, jangan sampai tidur di bak mandi kalau kamu tidak mau aku melakukan sesuatu yang menyenangkan.” Ucap Daniyal dengan tatapan menggoda.
“Ihhh sana keluar dasar suami mesum!” teriak Irene sambil menyipratkan air ke arah pakaian yang baru Daniyal ganti.
“Hey ini baru ganti jangan membuatnya basah lagi!” ucap Daniyal yang langsung berlari keluar kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi dengan rapat.
Sedangkan Irene yang sebenarnya masih mengantuk hanya bisa menguap beberapa kali sebelum air membasahi seluruh tubuhnya.
“Jangan-jangan! Jangan sampai tertidur atau kak Daniyal akan melakukan hal yang tidak-tidak!” gumam Irene kembali yang langsung menepuk pipinya sendiri sampai merah.
Setelah beberapa menit akhirnya Irene keluar dari kamar mandi dan segera memakai pakaian santai untuk pergi ke rumah papinya.
Tidak lupa Irene juga membawakan pakaian ganti untuk suaminya karena mereka akan menginap di sana dan Irene sudah memiliki pakaian di kamarnya, jadi Irene hanya menyiapkan beberapa pakaian untuk persiapan Daniyal berganti pakaian di sana.
“Sayang aku sudah siap.” Ucap Irene yang baru keluar dari walk in closet.
“Cantiknya istriku, kamu pakai baju itu jadi kelihatan menggemaskan!” seru Daniyal memuji Irene.
Saat itu Irene memakai baju rajut yang ketat dan celana legging membuat perutnya terlihat dan itu justru membuat Irene sangat menggemaskan.
“Kamu mengejekku ya?” tanya Irene dengan wajah kesal.
“Engga dong, aku ga ngeledek loh, aku ini lagi muji kamu sayang, kamu sangat cantik.” Ucap Daniyal.
“Benarkah? Tentu saja aku ini cantik sekali tau kamu ga tau ya kalau istrimu ini banyak banget fansnya.” Ucap Irene.
“Hahaha tentu saja aku sangat tau, istriku ini adalah wanita yang paling cantik di dunia ini!” puji Daniyal.
Irene tersenyum senang mendengar pujian dari sang suami, dia segera berjalan mendekati suaminya dan memeluk tubuhnya dengan erat.
“Aku sangat mencintaimu sayang…” ucap Irene yang membuat Daniyal terpaku seketika.
Tentu saja dia terpaku, bagaimana tidak? Ini adalah kali pertama Irene mengatakan cinta kepada Daniyal, selama ini Irene bahkan tidak pernah mengutarakan perasaannya.
Daniyal yang merasa sangat senang segera menciumi wajah istrinya bertubi-tubi tanpa celah membuat Irene sampai memejamkan kedua matanya dan berusaha untuk mencuri udara.
“Sudah sayang aku ga bisa nafas tau!” ketus Irene.
“Aku bisa memberimu nafas buatan kok sayang tenang saja.” Balas Daniyal.
“Ih menyebalkan! kamu ini pikirannya harus di cuci deh sayang!” seru Irene.
“Kamu ini bagaimana sih, mana bisa pikiran di cuci, emangnya baju?” balas Daniyal.
“Sayang, apa kamu akan terus mengejekku?” tanya Irene dengan kesal.
“Hehe iya maaf ya sayangku, sudah ayo kita bersiap, biar aku saja yang bawa tasnya.” Ucap Daniyal sambil mengambil alih tas yang ada di tangan Irene.
Daniyal segera menggenggam tangan Irene dengan erat lalu mengajaknya turun dengan hati-hati.
“Apa kamu baik-baik saja? Apa terasa sakit? Kalo tau begini aku akan membuat lift untukmu.” Ucap Daniyal.
“Apa?! Kamu ini sudah gila ya? Untuk apa lift?” tanya Irene.
“Untuk kamu, jadi kamu tidak perlu berjalan menuruni tangga satu per satu.” Jawab Daniyal.
“Yaampun aku ini baik-baik saja, apa lagi usianya sudah trisemester kedua dan kandungannya juga sudah kuat.” Jelas Irene.
“Tapi tetap saja aku khawatir tau!” ketus Daniyal.
Mendengar ucapan Daniyal membuat Irene kesal dan memutuskan untuk tidak melanjutkan perdebatannya.
Sebenarnya Daniyal masih memiliki rasa khawatir dengan kehamilan Irene, namun mau bagaimanapun juga dia tidak bisa terus menyembunyikannya terutama di saat Irene masih sering bertemu dengan Aleena di perusahaan.
Selama ini Daniyal menyuruh Irene untuk memakai pakaianyang longgar untuk menutupi kehamilannya, walaupun awalnya banyak orang yang merasa aneh dengan penampilan baru Irene termasuk Aleena.
Namun karena Irene bisa memberikan alasan yang tepat jadi dia bisa meyakinkan semua orang dan tidak ada yang mencurigai dirinya hamil.