
Abizar yang sedang asik bermain dengan para anak panti asuhan langsung teringat dengan Aleena yang sejak tadi berada di belakangnya.
Abiar segera menoleh ke belakang dan melihat Aleena sedang memotret dirinya sambil tersenyum ke arahnya.
“Apa kamu sedang memotretku?” tanya Abizar.
“Hah? Yaampun kamu ini terlalu percaya diri deh! Aku ini sedang memotret anak-anak yang sedang bermain tau.” Ucap Aleena yang kembali memasukkan ponselnya ke dalam kantung celananya.
Aleena segera berjalan mendekati Abizar dan anak-anak panti yang sedang bermain, semua anak-anak panti sangat antusias melihat kedatangan Aleena, bahkan mereka segera berlarian memeluk tubuh Aleena walaupun mereka semua baru saja bertemu dengan Aleena.
“Wah sepertinya kamu lebih popular di bandingkan denganku.” Ucap Abizar.
“Tentu saja, mereka semua tau kalau aku adalah orang yang sangat baik.” Ucap Aleena.
“Kakak cantik yang pernah muncul di tv kan?” tanya salah satu anak perempuan yang berusia sekitar 7 tahun.
“Kamu mengenalku?” tanya Aleena yang saat ini sudah berjongkok untuk membuat dirinya sejajar dengan anak kecil tersebut.
“Tentu saja! Kakak sangat cantik dan aku sangat suka melihat kakak di tv.” Serunya lagi.
“Siapa namamu?” tanya Aleena.
“Eliah kak, aku Eliah.” Jawab Eliah.
“Nama yang sangat cantik, aku Aleena dan semoga kedepannya kita bisa terus berteman ya Eliah.” Ucap Aleena dengan senyuman manisnya.
Eliah tersenyum lebar sambil menganggukkan kepalanya, dia sangat senang karena bisa berteman dengan seorang artis terkenal.
“Bisakah kita berfoto kak? Aku ingin memamerkan foto itu kepada teman-temanku.” Pinta Eliah.
Abizar yang mendengar permintaan Eliah langsung menoleh ke arah Aleena untuk melihat ekspresi wajahnya karena Abizar tau betul Aleena tidak merasa nyaman jika di ajak foto dengan orang yang baru dia kenal.
“Eliah, nanti saja minta fotonya ya lain kali, sekarang biarkan kak Aleena berkenalan dengan teman-teman yang lain.” Ucap Abizar.
“Tidak apa-apa kak, Eliah ayo kita berfoto.” Ajak Aleena yang langsung mengambil ponsel yang ada di tangan Eliah dan membuka kamera untuk berfoto dengan Eliah.
“Biar aku yang fotokan, semua anak-anak biar ikut foto bersama kalian agar mereka juga bisa pamer kalau mereka pernah bertemu dengan artis terkenal.” Ucap Abizar.
Semua anak panti segera berbaris dengan rapih di sebelah kanan dan kiri Aleena, bahkan ada yang duduk di atas rumput agar gambar mereka tidak terpotong.
Aleena benar-benar bahagia hari itu, dia tidak pernah bermain bersama anak-anak yang sangat menggemaskan karena jadwalnya yang selalu sibuk.
“Terimakasih kak, kamu memang sangat mirip dengan tante itu.” Gumam Aleena yang masih bisa di dengar oleh Abizar.
“Hah? Tante itu? Tante itu siapa maksudnya Aleena?” tanya Abizar sambil mengerutkan keningnya.
Mendengar pertanyaan dari Abizar membuat Aleena terkejut karena dia sudah keceplosan mengatakan tentang tante cantik yang sudah menolongnya.
“Eh, emang aku nyebut tante ya kak? Engga deh kayaknya.” Ucap Aleena berbohong.
“Aku denger jelas kok kalo kamu ngomong aku mirip dengan tante, tante siapa?” tanya Abizar.
“Engga kak, kak Abizar salah denger tuh, udah ah ayo kita main lagi sama anak-anak.” Ajak Aleena mencoba untuk mengalihkan perhatian Abizar.
Aleena segera berlari mengejar salah satu anak yang ada di sana meninggalkan Abizar yang masih mematung di tempatnya.
“Aku jelas sekali dia bilang kalau aku mirip sekali dengan tante cantik, apa mungkin Aleena sudah mengetahui tentang mami?” gumam Abizar sambil terus menatap Aleena yang sedang bermain dengan anak-anak panti.
FLASHBACK END
“Jadi begitu…” ucap Abizar setelah menjelaskan kepada sang adik.
“Yah kamu benar, mungkin dia terlalu berfikiran positif.” Balas Abizar.
“Ayo kak, ini sudah waktunya kamu harus turun.” Ucap Adyatma.
“Iya tunggu sebentar aku harus menenangkan diri.” Ucap Abizar.
Drrtt,, drrtt.. tiba-tiba saja ponsel Adyatma berdering dan terlihat nama Ratu di layar ponselnya.
“Lihat kan kak? Kita sudah mendapat panggilan.” Ucap Adyatma sambil menunjukkan layar ponselnya ke arah Abizar.
“Angkatlah.” Ucap Abizar.
Akhirnya Adyatma mengangkat telfon dari Ratu sesuai dengan yang di katakan kakaknya.
“Halo ada apa Ratu?” Ucap Adyatma setelah mengangkat telfon dari Ratu.
“Halo kak, apa kamu sedang bersama kak Abizar?” tanya Ratu.
“Iya, aku sedang berada di kamar kak Abizar, apa acara akan di mulai?” tanya Adyatma.
“Iya kak, MC sudah memanggil kak Abizar, apa ada masalah sampai dia belum turun?” tanya Ratu.
“Iya ada sedikit masalah, kak Abizar perutnya mulas karena grogi, dia akan segera turun setelah perutnya terasa mendingan.” Ucap Adyatma yang membuat kedua mata Abizar membulat sempurna.
“Gila lu!” ucap Abizar dengan berbisik.
Adyatma hanya tersenyum mengejek sambil menjulurkan lidahnya, lalu dia segera berpamitan kepada Ratu untuk mematikan telfonnya dan langsung mengajak Abizar turun.
“Adek ga tau diri lu! Bisa-bisanya mempermalukan gue di depan calon adik ipar!” ketus Abizar saat melihat Adyatma sudah mematikan telfonnya.
“Hahaha lagian aku bingung kak mau ngomong apa ke Ratu, udah ah yuk nama kakak udah di panggilin.” Ajak Adyatma.
“Yah baiklah, ayo kita turun.” Balas Abizar.
Akhirnya setelah mengobrol cukup lama Abizar dan Adyatma segera keluar dari kamar dan segera menaiki lift untuk turun menghadiri acara pernikahan.
Ting!! Setelah pintu lift terbuka, Abizar dan Adyatma berjalan beriringan menuju red carpet yang menuju pelaminan, semua orang berseru dan bertepuk tangan saat melihat ketampanan Abizar yang tiada tanding itu.
Semua tamu undangan akhirnya bisa melihat bagaimana ajah calon suami sang model papan atas.
“Ga kebayang bagaimana cantik dan tampannya anak-anak mereka nantinya.” Bisik salah satu tamu undangan.
“Iya, aku benar-benar tidak sabar melihat visual anak-anak mereka, tapi saat ini aku sangat menantikan kelahiran cucu pertama keluarga Herlambang.” Balas yang lain.
“Yah benar, anak kak Irene pasti sangat rupawan.”
Akhirnya acara pernikahan pun di mulai, Abizar sudah duduk di sebelah Aleena dan sudah menetralkan nafasnya.
Penghulu sudah memulai ijab qobul dan segera di balas oleh Abizar dengan lancer dalam satu tarikan nafas membuat orang-orang bersorak.
Namun mendengar sorakan para tamu undangan malah membuat Abizar malu dan pipinya memerah.
“Selamat kalian berdua sudah sah menjadi suami dan istri, silahkan saling bertukar cincin dan mempelai laki-laki mencium kening mempelai perempuan.” Ucap penghulu.
Irene berjalan menghampiri meja ijab dan berdiri di sebelah Aleena sambil membawa kotak cincin untuk di pasangkan di tangan Abizar.
Sedangkan Daniyal berdiri di sebelah Abizar sambil membawa kotak cincin yang akan di pakaikan kepada Aleena.