
Hampir setengah jam Daniyal berkutat dengan peralatan dapurnya sampai membuat Irene kesal sendiri melihatnya karena Daniyal terlalu lama membuat nasi gorengnya.
“Sayang, masih lama ya?” tanya Irene dengan malas.
“Sabar ya sayang, kamu kan tau sendiri aku ga pernah masak, jadi aku ga pernah tuh motong bawang dan teman-temannya.” Jawab Daniyal yang masih fokus dengan nasi gorengnya.
Ya memang sebelum mulai memasak, Daniyal mendapatkan drama dulu karena untuk pertama kalinya dia memotong bawang merah, bawang putih, cabai rawit, dan lainnya membuat kedua matanya perih dan dia pun menangis seperti anak kecil yang kehilangan balon kotaknya.
Sebenarnya Irene tertawa senang melihat suaminya menangis untuk pertama kalinya dan menurut Irene wajah suaminya itu sangat menggemaskan.
Namun, lama kelamaan rasa gemasnya menghilang setelah Daniyal mulai memasukkan satu per satu bahan yang di butuhkan ke wajan yang sudah mulai panas.
Daniyal benar-benar lama sekali membuatnya karena dia melihat video tutorial satu persatu, padahal hanya tinggal memasukkan bahakn-bahan yang dia potong tadi tapi rasanya lama sekali karena Daniyal terus saja mem-pause dan mengulang video tersebut.
“Sudah setengah jam kamu memasak tapi ga selesai-selesai, lama-lama gasnya habis karena dari tadi kamu nyalain dan matiin terus.” Ucap Irene.
“Aku tau tapi gimana lagi sayang, kalo mau enak kan harus pelan-pelan begini.” Ucap Daniyal.
“Haah, aku sampe ga laper lagi tau..” ucap Irene.
Mendengar ucapan Irene membuat Daniyal terkejut, dia takut kalau ujung-ujungnya dia yang di suruh memakan nasi goreng itu dan tubuh sixpacknya akan menjadi one box karena makan malam.
Akhirnya dengan segera Daniyal menyelesaikan masakannya dan menyajikannya untuk istri tercinta.
“Sudah selesai sayang, ini nasi goreng special yang kamu mau, aku juga sudah memberikan telur mata sapi setengah matang untukmu.” Ucap Daniyal dengan senyum manisnya sambil menaruh piring yang berisi nasi goreng tersebut.
Sebenarnya saat melihat tampilan nasi goreng yang di masak Daniyal, Irene tersenyum senang karena Daniyal memberikan hiasan lucu menggunakan wortel dan tomat, dan kelihatannya sangat enak sekali.
Akhirnya dengan semangat Irene menyuapkan nasi goreng yang di masak suaminya dengan percaya diri dan mulai mengunyahnya.
Namun setelah beberapa kunyahan, Irene langsung mengambil tisu dan memuntahkan makanan yang dia makan.
“Kenapa sayang?” tanya Daniyal yang khawatir karena Irene memuntahkan makanan yang dia buat.
“Sebenarnya ini enak sayang, tapi kenapa telurnya asin sekali…” ucap Irene sambil mengerutkan keningnya dan menyipitkan kedua matanya.
“Benarkah? Maaf sayang aku masukin setengah sendok the kayaknya.” Ucap Daniyal.
“Apa!? Yaampun sayang kamu mau buat aku mabok garem ya? Haduh rasanya asin sekali.” Protes Irene.
“Kalau asin buang saja sayang, aku akan membuatkannya lagi untukmu.” Ucap Daniyal.
“Engga! Kelamaan kalo harus bikin lagi sayang, aku makan yang ini aja deh nanggung tau.” Ucap Irene yang akhirnya mulai memakan nasi gorengnya kembali.
Daniyal hanya diam melihat istrinya yang sedang menikmati nasi goreng buatannya, sebenarnya ada rasa bersalah di dalam dirinya karena istrinya harus memakan telur yang asin.
Daniyal segera mengambilkan air putih untuk istrinya dan menyuruhnya untuk minum terlebih dahulu.
“Minum dulu biar asinnya ilang.” Ucap Daniyal.
“Nanti aku kembung sama air kalo di suruh minum terus sayang.” Ucap Irene.
“Aku ga mau sampe kamu dan anak kita kenapa-kenapa sayang.” Ucap Daniyal.
Akhirnya Irene hanya bisa pasrah karena suaminya sudah memasang wajah galaknya dan segera meminum air putih yang di berikan suaminya kepadanya.
Di sisi lain, Aleena yang terbangun segera keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur karena perutnya terasa lapar.
Sebenarnya walaupun bekerja sebagai model, Aleena tidak pernah diet atau membatasi makanan yang dia makan, kalau memang lapar ya dia akan makan, hanya saja memang tubuh Aleena tidak mudah gemuk dan Aleena juga rajin olahraga untuk membakar lemak yang ada di tubuhnya.
“Oh my eyes!!” ucap Aleena dengan kencang membuat Daniyal dan Irene menloleh ke asal suara secara bersamaan.
“Yaampun Aleena kamu ini ngagetin orang aja sih!” ketus Irene.
“Yaampun kak kalian berdua ini sengaja ya mesra-mesraan di sini membuat aku yang jomblo ini iri?” ucap Aleena dengan wajah memelas.
Melihat wajah sang adik membuat Irene mual dan menatap Aleena dengan tajam.
“Kamu ini bilng jomblo terus Abizar itu apa?” tanya Irene.
“Hah? Kak Abizar kan ga pernah nyatain cinta ke aku, dia juga ga pernah ngajak aku pacaran, kita hanya berkomitmen tanpa status aja.” Jelas Aleena.
“Haah, hati-hati jangan sampai dia menyakiti hatimu.” Ucap Irene.
Daniyal yang mendengar percakapan kakak beradik itu hanya bisa diam, dia tau betul kalau adiknya memang tidak berniat untuk serius dengan Aleena, dia hanya ingin membuat Aleena jatuh cinta padanya saja.
“Udahlah jangan bahas aku! Aku laper nih, kakak makan apa?” tanya Aleena sambil berjalan mendekati sang kakak.
“Nasi goreng buatan kak Daniyal, enak loh.” Ucap Irene dengan semangat.
“Benarkah? Apa ga ada sisanya kak Daniyal? Aku laper nih.” Ucap Aleena.
“Masih ada sedikit kok, duduklah aku akan mengambilkannya.” Ucap Daniyal yang langsung beranjak dari tempat duduknya dan mengambilkan nasi goreng untuk Aleena.
Daniyal memang sengaja membuat nasi goreng sedikit lebih banyak karena selama ini Irene selalu menambah apapun yang dia makan.
“Ini, makanlah.” Ucap Daniyal yang sudah menaruh piring di hadapan Aleena.
“Wah sepertinya enak sekali, enak ya kalo hamil bisa makan apa aja.” Ucap aleena.
“Kenapa? Kamu mau hamil juga? Nikah dulu saja! Awas aja kalo kamu hamil sebelum menikah, aku akan menggantungmu hidup-hidup!” ketus Irene.
“Gila apa kak! Siapa juga yang mau hamil duluan!” balas Aleena.
Irene hanya diam mendengar ucapan adiknya, lalu dia memberikan telur mata sapi miliknya yang sudah tinggal setengah kepada Aleena.
“Makanlah, aku tidak terlalu suka telur.” Ucap Irene.
“Wah baiknya, terimakasih kak Iren..” ucap Aleena dengan bahagia.
Melihat kebahagiaan adiknya membuat Irene tersenyum puas karena sebentar lagi adiknya akan merasakan apa yang dia rasakan tadi.
Sedangkan Daniyal yang melihat kejahilan istrinya itu hanya bisa menggelengkan kepala dan tersenyum tipis melihat tawa Irene yang sedang tersenyum licik.
“Oh my mouth!! Kakak ini asin banget!!” teriak Aleena yang sudah melepehkan makanannya.
“Hahahaha…” Irene tertawa dengan puasnya melihat keberhasilannya mengerjai sang adik yang polos itu.
“Kakak ngerjain aku ya?! Kakak bukan ga suka telor tapi ini gara-gara keasinan kan!?” ketus Aleena.
Namun lagi-lagi Irene hanya tertawa tidak mengatakan apapun, bahkan dia sampai meneteskan air mata sangking puasnya tertawa.
Melihat hal itu membuat Daniyal semakin tidak bisa menahan tawanya melihat Irene yang sudah tertawa bahagia melihat orang lain tersiksa.
“Sudah sayang jangan tertawa terus! Aleena kamu minumlah, aku memang salah takaran waktu masak telurnya jadi keasinan.” Ucap Daniyal sambil memberikan segelas air kepada Aleena.
Mendengar ucapan Daniyal membuat Aleena menatap tajam ke arah Daniyal dan juga ke arah Irene secara bergantian.