
Nancy dan Aiden melakukan perjalanan yang cukup panjang karena Nancy terus saja meminta beristirahat di setiap supermarket yang ada di pinggir jalan untuk sekedar membeli minuman atau jajanan.
“Non, kalau begini terus kita ga akan sampai-sampai.” Ucap Aiden.
“Aku emang sengaja ngulur waktu karena aku takut bertemu dengan kak Irene.” Ucap Nancy.
“Apa aku harus menginap di hotel saja malam ini?” tanya Nancy kepada Aiden.
“Tidak nona! Jangan sampai membuat nona Irene semakin khawatir.” Tegas Aiden.
Nancy hanya menggangguk-anggukkan kepalanya mendengar ucapan Aiden, dia memang ada benarnya semakin Nancy tidak pulang semakin Irene akan mengkhawatirkannya.
“Kalau begitu turuti ucapanku dan berhenti di setiap supermarket yang ada di sepanjang jalan!” tegas Nancy.
Aiden hanya bisa menghela nafas panjang dan pasrah dengan keinginan majikannya itu.
“Apa kak Iren masih ada di rumah sakit? Apa kita langsung kembali ke rumah saja?” tanya Nancy.
“Tidak bisa nona, nona Irene sudah berpesan kepadaku kalau kita harus ke rumah sakit dulu.” Jawab Aiden.
“Yah baiklah kalau begitu aku tidak bisa menentang ucapan kak Irene.” Ucap Nancy dengan pasrah.
***
Hari sudah menjelang malam, sejak mendapatkan pesan dari Aiden, perasaan Irene benar-benar tidak karuan.
Irene sama sekali tidak bisa makan dengan tenang, bahkan sampai semua adiknya pulang bersama para bodyguardnya dan yang tersisa hanyalah Irene dan Daniyal di sana.
Semua adik Irene sudah mengetahui tingkah Irene yang aneh pasti karena ada sesuatu yang sedang di pikirkan, namun Irene terus saja menolak untuk memberitahu adik-adiknya karena tidak ingin semuanya khawatir dengan keadaan Nancy.
“Apa ada yang sedang kamu pikirkan? Aku sudah penasaran dari tadi tapi ga berani tanya.” Ucap Daniyal.
Irene menoleh ke arah Daniyal dengan tatapan kebingungan, dia bingung apakah harus mengatakan kepada Daniyal tentang adiknya atau tidak.
“Bukan urusanmu!” ketus Irene.
“Tentu saja ini urusanku juga karena aku harus menjagamu nona Irene, aku harus tau apa yang sedang membuatmu gelisah dari tadi agar bisa mengatasinya.” Ucap Daniyal.
Irene berfikir sejenak untuk memikirkan ucapan Daniyal, lalu akhirnya Irene menceritakan semua yang di beritahu Aiden lewat sambungan telfon.
“Apa?! Bukankah kita harus segera menyusul mereka?” tanya Daniyal yang terkejut dengan apa yang di ceritakan oleh Irene.
“Awalnya aku bermaksud begitu, tapi Aiden bilang aku tidak perlu ke sana karena dia sudah mengatasinya dan juga sudah membawa Nancy pulang.” Jelas Irene.
Daniyal benar-benar terkejut mendengar tentang apa yang terjadi kepada Nancy, dia tidak menyangka jika keluarga Herlambang akan mengalami kejadian seperti itu.
“Apa kalian sering mengalami hal yang tak terduga seperti ini?” tanya Daniyal.
“Yah, aku yakin kalau adik-adikku pasti pernah mengalami hal seperti ini walaupun dengan cara yang berbeda, tapi mereka tidak pernah mau membagi masalah mereka kepadaku atau kepada papi.” Jelas Irene.
“Mungkin itu juga yang membuat papi mempekerjakan bodyguard walaupun kami sering menentangnya.” Lanjutnya.
Irene mencoba menghubungi Aiden kembali dan akhirnya mereka menjawab telfon dari Irene.
“Halo, Aiden! Kenapa kamu lama sekali? Apa kalian mengalami masalah di perjalanan?” tanya Irene dengan khawatir.
“Maaf nona, tapi nona Irene selalu menyuruhku berhenti di setiap supermarket untuk menghambat dia sampai karena takut bertemu dengan nona Irene.” Jelas Aiden.
“Hey! Kenapa kamu mengatakan hal itu kepada kakakku!” ucap Nancy yang masih bisa di dengar oleh Irene dari sebrang telfon.
“Bawa dia pulang secepatnya! Bilang padanya aku akan membunuhnya jika dia tetap menghidariku!” ketus Irene.
“Siap nona!” tegas Aiden yang langsung mematikan telfon dari Irene.
Irene akhirnya bisa bernafas lega karena bisa menghubungi Aiden dan mengetahui tentang kabar dari sang adik yang dari tadi mematikan hpnya.
Irene menoleh ke arah Daniyal dan menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Daniyal, lalu Irene memutuskan untuk duduk kembali di sofa yang ada di ruangan tersebut.
“Kamu sudah bilang tuan Gilang tentang masalah ini?” tanya Daniyal.
“Aku ga mau sampai papi tau tentang hal ini! Papi punya darah tinggi dan aku ga mau sampai papi kumat dan drop.” Tegas Irene.
Tidak lama kemudian, seseorang mengetuk pintu ruangan Daniyal hingga membuat keduanya menoleh ke arah pintu.
“Nancy?” tanya Irene sambil berjalan dan membuka pintu ruangannya.
Benar saja, Aiden dan Nancy sedang berdiri di depan pintu menunggu seseorang membukakan pintu tersebut, sedangkan Irene langsung menatap tajam ke arah Nancy yang sedang menundukkan kepalanya.
Irene melihat penampilan adiknya yang sudah kacau karena di permalukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
“Apa kamu bodoh!? Kenapa kamu tidak bisa melawan mereka hah?! Apa kamu hanya bisa melawan papi dan melawanku saja!?” ketus Irene sambil memukuli pundak Nancy.
Nancy hanya diam di pukuli oleh kakaknya, dia masih menundukkan kepala karena merasa bersalah sudah membuat kakaknya khawatir.
Sedangkan Aiden dan Daniyal yang melihat adegan tersebut ingin melerai mereka, tetapi sebelum keduanya di lerai ternyata kedua kakak beradik itu sudah saling memeluk satu sama lain.
“Hikss,, hikss maafkan Nancy kak..” ucap Nancy sambil menangis sesegukan.
“Maaf? Apa salahmu sampai kamu menangis dan meminta maaf kepadaku hah?!” ketus Irene.
“Aku tidak pernah mengatakan masalahku dengan kekasihku hikss, bahkan aku berkencan dengannya secara diam-diam..”
“Bukankah aku pernah bilang kepadamu kalau aku dan papi tidak akan melarangmu untuk berpacaran dengan siapapun yang penting kita tau orangnya, tapi kenapa kamu tidak mendengarkan ucapan papi?”
“Maaf kak, tapi dia masih belum siap berkenalan dengan kalian hiksss.. Sekarang aku menyesal karena tidak menuruti kalian..”
“Sudahlah jangan menangis lagi, kamu tidak apa-apa? Apa yang sudah mereka semua lakukan kepadamu? Aku tidak akan tinggal diam!” ucap Irene sambil memeriksa kondisi tubuh adiknya.
Nancy hanya bisa menangis saat itu, jadi Irene memutuskan untuk menyuruh Nancy mandi dan mengganti pakaian dengan pakaian miliknya, sedangkan Irene menyuruh Aiden keluar untuk berbicara empat mata.
“Jadi, ceritakan detail kejadian yang di alami adikku.” Ucap Irene kepada Aiden.
“Mereka semua merekam seluruh kejadian saat nona Nancy di telanja…” ucapan Aiden terputus karena merasa tidak pantas mengucapkan hal yang terlalu terbuka.
“Tidak apa, tidak usah di lanjutkan karena aku sudah tau apa yang mau kamu ucapkan.” Ucap Irene.
“Lalu apa yang harus aku lakukan nona?” tanya Aiden.
“Laki-laki itu berada di kampus yang sama dengan Nancy bukan?” tanya Irene.
“Hm, dia berkuliah di kampus yang sama dengan nona Nancy tapi dengan fakultas yang berbeda.” Jawab Aiden.
“Siapa namanya? Beritahu aku semua data diri tentang laki-laki br*ngsek itu!”
“Namanya Joey, dia adalah kekasih nona Nancy sejak SMA sampai saat ini, nona Nancy mengatakan kalau saat SMA laki-laki itu sangat baik dan perhatian kepadanya, namun semenjak berkuliah dia berubah nona, bahkan seringkali laki-laki itu memukul nona Nancy hanya karena masalah sepele.” Jelas Aiden.
Mendengar jika sang adik juga mendapatkan kekerasan fisik membuat Irene sangat marah sampai Irene mengepalkan kedua tangannya untuk meredam amarahnya.
“Sialan! Kami menjaganya seperti berlian agar tidak ada lecet sedikitpun tapi dia beran-beraninya menyentuh berlian yang sudah kami jaga!” ucap Irene.
“Aku akan selalu membantu nona untuk menghukum laki-laki itu nona..” ucap Aiden.
“Tidak! Tugasmu hanya menjaga Nancy lebih ketat dari biasanya, jangan sampai ada orang yang berniat jahat mendekatinya.” Ucap Irene.
“Lalu bagaimana dengan laki-laki itu nona?”
“Aku yang akan mengurusnya, kamu hanya fokus kepada Nancy.” Ucap Irene sambil melirik Aiden, dan langsung di balas anggukan oleh Aiden.