
Sesampainya di rumah sakit, Daniyal menggandeng tangan Irene dengan erat dan berjalan menuju ruangan Sherly dan Brams.
“Mereka ada di ruangan ini.” Ucap Daniyal.
“Mereka? Maksudnya ruangan mereka jadi satu?” tanya Irene.
“Yap, Roy yang membuat mereka berada di satu ruangan agar mereka berdebat terus.” Jawab Daniyal.
Irene hanya menggelengkan kepala mendengar jawaban suaminya, lalu mereka akhirnya masuk ke dalam ruangan.
Dan benar saja, saat Daniyal dan Irene masuk ke dalam, keduanya sedang berbebat akan hal yang tidak penting.
“Lihat bukan sayang, mereka sedang berbebat saat ini.” Ucap Daniyal.
Irene hanya tersenyum mendengar ucapan Daniyal, sedangkan Brams dan Sherly langsung berhenti saat Daniyal dan Irene datang.
“Daniyal!” sapa Sherly dengan semangat.
“Irene!” sapa Brams dengan semangat.
Daniyal dan Irene saling menatap satu sama lain lalu tersenyum melihat keduanya menyapa dengan semangat.
“Karena kalian baik-baik saja dan aku juga sudah membuktikan kepada Irene kalau semalam aku ke sini karena kalian jadi aku dan Irene langsung pergi bye.” Ucap Daniyal.
“Sayang, kita kan baru sampe.” Ucap Irene.
“Mereka baik-baik saja kok sayang jadi ga perlu di jenguk, buktinya mereka punya tenaga buat berdebat.” Ucap Daniyal.
“Ih aku masih belum puas melihat Irene.” Protes Brams.
“Sama!!” seru Sherly.
“Sama? Kamu juga belum puas liat Irene?” tanya Brams.
“Bukan lah! Maksudnya sama aku juga belum puas liat Daniyal.” Jawab Sherly.
“Kalian berdua udah deh jangan buat aku sama Iren berantem deh!” ketus Daniyal.
“Kak Brams, kak Sherly kalian berdua cepat sembuh ya.. Ini ada buah buat kalian jangan berebut soalnya aku beliinnya dua.” Ucap Irene sambil meberikan buah yang tadi dia beli di meja Brams dan Sherly.
“Terimakasih Irene.” Ucap Brams dan Sherly secara bersamaan.
“Bagaimana bisa kalian berdua menabrak pembatas jalan?” tanya Irene.
“Ini semua karena Brams, dia nyetir tapi matanya jelalatan ngeliatin cewe sexy!” ketus Sherly.
“Dih! Itu karena kamu berisik sekali dan mengganggu konsentrasiku!” ketus Brams tidak mau kalah.
“Aku mengganggumu? Aku sama sekali tidak mengganggumu! Kenapa kamu jadi menyalahkanku padahal kamu yang salah!” ketus Sherly.
“Stop! Sudah stop!” teriak Daniyal.
“Lihat kan sayang? Mereka terus saja berdebat dan itu tidak baik untuk kandunganmu, ayo kita segera pergi dari sini, aku ga mau sampai anak kita nular seperti mereka.” Ucap Daniyal yang langsung menarik tangan Irene keluar dari ruangan kedua sahabatnya itu.
“Woy enak aja! Di kira kita virus bisa nular ke anak kamu hah!?” ketus Sherly sambil berteriak.
Sedangkan Daniyal terus saja berjalan tanpa memperdulikan teriakan dari Sherly.
“Sayang, ga sopan loh kita pergi gitu aja.” Ucap Irene.
“Biarin aja sayang, mereka bakalan terus berdebat gitu sampai besok.” Ucap Daniyal.
“Hah? Benarkah sayang? Bagaimana bisa mereka kuat begitu terus.”
“Kuat sayang, dari dulu juga begitu kok udah ga usah di bahas lagi ya, mungkin di dalam sana mereka masih saling menyalahkan karena kita pergi.” Ucap Daniyal yang langsung membukakan pintu mobil untuk istrinya.
Setelah dari rumah sakit, seperti rencana sebelumnya Daniyal dan Irene segera menuju ke rumah sakit jiwa untuk menjenguk Rinda.
Irene merasa aneh karena seingatnya dia belum mengatakan di rumah sakit mana tantenya di rawat, namun Daniyal sudah mengetahuinya dan menuju ke rumah sakit tersebut.
Tentu saja ucapan Irene membuat Daniyal terpaku, lalu dia menghela nafas panjang dan tersenyum sambil menoleh ke arah Irene.
“Aku akan memberitahumu nanti setelah perjalanan kita hari ini selesai ya sayang…” ucap Daniyal.
Irene yang sebenarnya masih penasaran hanya diam dan menganggukkan kepala mencoba untuk bersabar menunggu suaminya memberitahunya.
Karena memang terakhir kali yang di lihat Daniyal di foto yang ada di ruangan Irene adalah nama rumah sakit jiwa yang lama, sedangkan Irene belum memberitahu di mana rumah sakit yang baru tempat tantenya di rawat.
Sesampainya di rumah sakit jiwa, keduanya segera keluar dari mobil dan bergandengan masuk ke dalam rumah sakit.
“Jangan bilang kamu juga tau tentang ruangan tanteku di rawat?” tanya Irene dengan mengerutkan kening.
Daniyal tidak mengatakan apapun, dia hanya tersenyum lalu terus menaiki lift ke lantai di mana lantai tersebut adalah ruangan tante Rinda di rawat.
“Kamu ini sebenarnya siapa kak?! Bagaimana bisa kamu mengetahui semuanya?” tanya Irene yang saat itu sudah melepaskan genggaman Daniyal.
“Kamu jangan berekspresi seperti itu sayang, kenapa kamu seperti takut kepadaku?” tanya Daniyal.
“Karena memang aku seharusnya berekspresi seperti ini kak! Kamu memang menakutkan, bagaimana bisa kamu mengetahui semuanya!” ucap Irene.
Tingg!! Pintu lift terbuka namun Irene masih mematung di tempatnya berdiri menatap ke arah Daniyal dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
“Sayang ayo, aku akan menjelaskan semuanya aku janji.” Ucap Daniyal.
Akhirnya Irene segera keluar dari lift tanpa menggubris tangan Daniyal yang sudah terulur ingin membantu Irene keluar dari lift.
Daniyal hanya bisa menghela nafas panjang sambil mengikuti sang istri dari belakang, lalu keduanya sampai di ruangan Rinda.
Namun saat itu Rinda sedang mengamuk dan semua perawat berdatangan ke ruangan Rinda.
“Ada apa ini?” tanya Irene sambil melihat ke arah perawat yang berlari masuk ke dalam ruangan.
Namun tidak ada orang yang menggubris ucapan Irene, semuanya hanya sibuk berlarian membuat Irene menjadi khawatir akan tantenya.
Daniyal juga dari tadi melihat gerak-gerik perawat dan saat Daniyal melihat salah satu perawat hampir menabrak Irene, dengan sigap Daniyal menari Irene dan memeluknya, lalu dia menghentikan salah satu perawat.
“Maaf ada apa ya sus?” tanya Daniyal.
“Ini tuan pasien Rinda kumat lagi, dia mulai marah-marah dan memanggil-manggil nama Rindi.” Jawab perawat tersebut.
“Apa separah itu sampai banyak perawat yang datang?” tanya Daniyal.
“Papi menaruh tante di ruang VVIP dan tentu saja mereka akan bersikap seperti ini jika ada yang terjadi kepada pasien VVIP mereka.” Sahut Irene yang berusaha untuk melepaskan pelukan Daniyal.
“Kamu mau kemana sayang? Mereka sedang mengatasinya.” Ucap Daniyal.
“Aku mau masuk ke dalam.”
“Tapi kamu sedang hamil, kalau dia mendorongmu atau apa bagaimana?” tanya Daniyal.
“Dia tanteku, tidak mungkin dia melakukan hal itu kepadaku.” Ucap Irene yang langsung masuk ke dalam ruangan.
“Tante…” panggil Irene dengan suara yang lembut.
Suara Irene sangat mirip dengan maminya, dan itu membuat Rinda berhenti dan menoleh ke arah Irene yang sedang berjalan mendekatinya.
“Siapa kamu? di mana Rindi?” tanya Rinda.
“Tante, aku ini Irene anaknya Rindi, keponakan tante Rinda.” Ucap Irene.
“Irene? Kamu Irene? Tapi Ireneku masih kecil.” Ucap Rinda.
Irene meneteskan air mata mendengar ucapan tantenya, saat kejadian itu terjadi memang Irene masih kecil, sedangkan Daniyal hanya bisa diam melihat kedua tante dan keponakan itu sedang saling menatap dengan tatapan
sendu.