
Abizar terus mencoba untuk menenangkan Aleena karena dia tau kalau Aleena sangat menghormati Irene dan saat ini dia sudah membuat Irene sakit hati.
“Sudahlah lebih baik kamu istirahat dulu, besok baru kamu bicara dengan Irene.” Ucap Abizar.
“Apa kak Iren masih mau mendengarkan aku? Dia pasti kecewa banget sama aku kak…” ucap Aleena.
“Jangan berpikiran seperti itu, dia pasti bias mengerti.. Sekarang dia lebih sensitif karena hamil saja kok.” Ucap Abizar.
“Sudahlah kak, lebih baik kamu pulang dan beristirahat, besok kan papi mau ketemu lagi.” Ucap Aleena.
“Aku akan pergi setelah melihatmu masuk ke dalam kamarmu.” Balas Abizar.
Akhirnya Aleena mengangguk dan berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Abizar terus memantau Aleena sampai Aleena masuk ke dalam kamar barulah Abizar memutuskan untuk pulang.
***
“Sayang, kamu jangan lari gitu dong kasihan anak kita.” Teriak Daniyal yang masih mengejar Irene.
Sampai akhirnya Irene berhenti karena melihat gerbang rumahnya tertutup dengan rapat.
“Nona Iren? Nona mau kemana?” Tanya satpam yang bertugas.
“Pak bukain gerbangnya, aku mau keluar!” tegas Irene.
“Maaf nona tapi kenapa nona berlari? Apa nona sedang kabur?” Tanya satpam tersebut.
“Jangan banyak tanya! Aku mau bapak buka gerbangnya sekarang juga!” tegas Irene.
Tentu saja satpam tersebut terkejut mendengar Irene menyuruh dengan nada tegas, karena Irene yang dia kenal tidak seperti ini.
“Yaampun non, ini bukan non Iren ya? Kenapa non Iren jadi marah-marah?” tanya satpam tersebut.
“Apa?! Maksud bapak saya kesurupan gitu?” tanya Irene sambil menatap satpam tersebut dengan tatapan tajam.
“Lah b-bukan begitu non.” Ucap satpam tersebut yang seketika menjadi takut.
“Pak jangan di bukain puntunya!!” teriak Daniyal yang akhirnya berhasil menyusul Irene.
Irene yang kesal karena Daniyal bisa mengejarnya langsung memberikan tatapan tajam ke arah satpam tersebut.
“Lah buju buneng! Tatapannya tajam sekali setajam silet..” gumam satpam tersebut.
“Hah,, hah,, hah, maaf pak makasih ya udah ga bukain gerbangnya.” Ucap Daniyal sambil mengatur nafasnya.
“Kamu ngapain ngejar aku sih!” ketus Irene.
“Jangan marah gitu dong sayang, Aleena juga kebawa emosi makanya dia ngomong kayak gitu.” Ucap Daniyal.
“Kamu kalo cuma mau belain Aleena ya sana pergi aja!” ketus Irene.
“Eh, iya iya maaf sayang aku ga belain Aleena kok.” Ucap Daniyal.
Irene yang kesal hanya menghela nafas kasar lalu dia kembali berjalan menuju rumah papinya membuat Daniyal dan satpam bernafas lega.
“Tuan, nona Iren kenapa marah-marah begitu sih? Saya sampe kaget soalnya beda banget sama nona Iren yang saya kenal.” Bisik satpam tersebut.
“Ga tau, semenjak kehamilannya semakin membesar dia jadi suka marah-marah.” Balas Daniyal.
“Waduh, bahaya tuan, bisa-bisa anaknya nanti jadi kardiman.” Ucap satpam tersebut.
“Kardiman itu apa pak?” tanya Daniyal.
“Kardiman itu seperti mau menang sendiri.” Balas satpam tersebut.
“Entahlah pak, saya juga ga bisa ngatur Irene kalo lagi marah-marah begitu.” Balas Daniyal lagi.
Lalu dia segera berpamitan kepada satapam untuk menyusul Irene kembali.
Daniyal terus memperhatikan istrinya yang masih berjalan dengan kesal, lalu bukannya masuk ke dalam rumah Irene justru masuk ke dalam mobil dan segera di susul oleh Daniyal.
“Kamu ga jadi ambil barang di dalam?” tanya Daniyal.
“Sabar sayang sabar, kamu ga biasanya marah-marah gini loh.” Ucap Daniyal.
“Haah,, aku capek aku mau pulang aja.” Ucap Irene.
“Baik istriku, ayo kita pulang ke rumah kita dan beristirahat.” Ucap Daniyal dengan sigap.
Irene hanya diam tidak menanggapi ucapan suaminya, dia hanya melihat ke arah luar jendela dan masih memikirkan ucapan Aleena yang membuatnya tersinggung.
“Kamu masih memikirkan ucapan Aleena?” tanya Daniyal.
“Apa aku benar-benar seperti barang kak?” tanya Irene tiba-tiba.
“Tidak sama sekali sayang, kamu bukan barang! Kamu adalah Irene istriku yang sangat aku cintai dan lebih berharga dari barang apapun.” Ucap Daniyal.
“Apa Aleena merasa seperti dia barang yang di tukar oleh sesuatu?” tanya Irene.
“Engga sayang, Aleena hanya sedang sensitif sama sepertimu… Dia tidak pernah melawan papi kan? Mungkin kali ini menurut dia papi sudah keterlaluan dan akhirnya emosinya meluap.” Jelas Daniyal.
“Benarkah kak? Aku kasihan dengan adik-adikku, padahal papi bilang kalau aku sudah menikah dengan seorang pengusaha dia tidak akan mengurus hubungan adik-adikku lagi.” Ucap Irene.
“Kalo aku jadi papi juga pasti aku akan seperti itu dengan anak perempuanku sayang, apa kamu mau anakmu hidup dengan laki-laki yang tidak bisa bertanggung jawab? Yang papi cari bukan hanya orang yang memiliki perusahaan tapi dia butuh orang yang bertanggung jawab.” Jelas Daniyal.
“Ada banyak orang yang lahir dengan kekayaan, tapi tidak semua orang itu bisa bertanggung jawab atas hal itu.” Lanjutnya.
“Iya kamu benar, aku juga ga mau kalo anak perempuanku nanti memiliki laki-lai yang tidak bertanggung jawab.” Ucap Irene.
“Makanya jangan terlalu kasar sama papi, dia pasti sangat sedih karena anak-anaknya menyalah artikan kasih sayangnya.” Ucap Daniyal.
“Terimakasih…” ucap Irene.
“Untuk apa?” tanya Daniyal yang saat ini sudah menatap wajah Irene.
“Karena kamu dengan sabar menasehati aku.” Ucap Irene.
“Sudah kewajibanku sebagai suami untuk menasehati kamu sayang, selama kamu salah aku akan berusaha untuk mengingatkanmu sebisa mungkin.” Ucap Daniyal.
Irene hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala, sedangkan Daniyal langsung kembali fokus untuk menyetir.
“Jadi, mau kembali ke rumah papi?” tanya Daniyal.
“Engga deh, besok aja aku ke sana setelah pulang kerja.” Ucap Irene.
“Ga nunggu aku pulang aja?” tanya Daniyal.
“Engga ah, kalo kamu mau mampir ke sana ntar nyusul aja, kalo nunggu kamu pulang kerja kelamaan.” Ucap Irene.
“Baiklah, tapi kamu harus menjaga diri!” tegas Daniyal.
“Siap bos!” tegas Irene yang di balas senyuman oleh Daniyal.
***
Aleena sedang berada di dalam kamarnya, dia sedang merenungkan kesalahannya saat bicara tadi, Aleena merasa tidak enak kepada Irene dan juga Daniyal.
“Pasti papi dan kak Irene kecewa banget sama aku…” gumam Aleena.
Aleena sama sekali tidak bisa tidur malam itu, pikirannya tidak tenang sebelum dia meminta maaf kepada dua orang yang sangat dia sayangi itu.
“Ga bisa gini terus! Aku harus minta maaf sama papi, besok baru bicara sama kak Irene, iya aku harus meminta maaf kepada mereka.” Guma Aleena yang akhirnya memantapkan diri untuk pergi ke kamar papinya.
Sampai di depan kamar, Aleena kembali ragu untuk mengetuk pintu kamar papinya, dia takut melihat wajah kecewa papinya.
“Bagaimana ini kenapa aku jadi deg-degan begini?” gumam Aleena sabil mengigit kuku ibu jarinya.
“Ada apa Aleena?” tanya seseorang yang tiba-tiba berada di belakang Aleena.
Dengan segera Aleena menoleh ke belakang dan terkejut saat melihat papinya sudah ada di hadapannya.
“P-papi?!” ucap Aleena yang saat ini masih mematung karena terkejut.