MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 108 (KAMU BAU)



Aleena dan Abizar sudah sampai di rumah tepat sebelum waktunya makan malam, Aleena sudah menghubungi Nancy kalau dia membeli makanan untuk makan malam, jadi pelayan di rumah mereka tidak ada yang memasak.


“Hai semuanya..” sapa Aleena dengan semangat.


“Aleena, kamu sudah datang?” tanya Irene.


“Kakak! Aku sangat merindukanmu…” ucap Aleena yang langsung berlari memeluk tubuh kakaknya.


“Ga usah lebay deh, kita biasa ketemu di perusahaan tau!” ucap Irene yang langsung mendorong Aleena.


“Ih kakak jahat banget sih masa aku di dorong begitu!” ketus Aleena.


“Bau kamu ga enak! Jauh-jauh gih!” ketus Irene.


“Kakak? Aku ga pernah bau walaupun sudah berkeringat banyak tau…” ucap Aleena memelas.


“Tapi aku merasa kamu bau Aleena..” ucap Irene.


Abizar mengerutkan keningnya melihat sikap Irene yang mengatakan kalau Aleena bau, sedangkan sejak tadi dia yang berada di sebelah Aleena tidak mencium bau apapun.


“Apa dia sengaja mengatakan hal itu karena bercanda? Tapi sepertinya wajahnya tidak seperti orang yang sedang bercanda.” Batin Abizar.


Sedangkan Daniyal yang mendengar juga langsung sadar jika kemungkinan itu adalah bawaan dari anak mereka.


“Aleena, maafkan Iren dia memang suka bercanda seperti itu..” sahut Daniyal agar tidak ada orang yang sadar kalau Aleena sedang mengandung.


“Benarkah? Tapi sepertinya kak Iren beneran deh..” ucap Aleena dengan raut wajah sedih.


“Tapi memang dia bau sayang..” ucap Irene sambil menoleh ke arah Daniyal.


Daniyal yang melihat istrinya hanya bisa membuka kedua matanya dengan lebar memberi tanda agar Irene berhenti bicara.


Irene hanya bisa mengerutkan keningnya karena tidak tau kenapa suaminya menyuruhnya berhenti bicara, sedangkan Abizar yang melihat ekspresi wajah kakaknya langsung mengetahui kalau ada sesuatu yang sedang terjadi.


“Pasti ada sesuatu yang terjadi Iren.” Gumam Abizar.


“Aku mau mandi aja deh!” ucap Aleena.


“Kak kelamaan! Kak Aleena ga bau kok udah ayo kita siap-siap makan malam, bibi udah nyiapin semuanya di meja makan.” Ucap Nancy.


“Bibi yang menyiapkannya? Kak Iren sudah ga OCD lagi ya?” tanya Aleena.


“Engga, mungkin karena setelah menikah jadi dia bisa mengatasi OCD nya.” Ucap Nancy.


“Wah, sepertinya kamu harus segera menikah agar bisa menghilangkan kelakuanmu yang suka keluar malam Nancy, hahaha…” ejek Aleena.


“Dih, kenapa ga kak Aleen aja dulu sana menikah biar sifat kolotnya ilang!” ketus Nancy.


“Sudah, kalian berdua ini kenapa sih selalu berdebat seperti itu? Malu ada Daniyal!” tegas Gilang.


“Yaampun pi, kak Daniyal udah biasa juga liat kita tiap hari gimana di rumah.” Sahut Queen.


“Iya juga sih, tapi waktu dia jadi mantu papi rasanya ada yang beda tau!” ketus Gilang.


“Udah ayo makanannya sudah siap semua.” Ucap Ratu.


Akhirnya semua orang termasuk Abizar segera duduk di kursi makan masing-masing dan segera bersiap untuk mulai menyantap sarapan mereka.


Semua orang makan dengan tenang, namun tidak dengan Irene yang sejak tadi gelisah seperti sedang menahan sesuatu.


“Kamu baik-baik saja sayang?” tanya Daniyal yang duduk di sebelah Irene.


“Aku pusing banget sayang, perutku ga enak.” Bisik Irene.


“Aku antar ke atas ya? Kita duluan aja ke atasnya.” Balas Daniyal.


“Engga ah, ga enak juga kalo duluan ke atas.”


Daniyal dan Irene hanya berbicara berdua seolah-olah yang lain tidak terlihat oleh mereka berdua.


“Ehem! Iya deh yang dunia milik berdua, apa lah kita ini cuma numpang aja.” Ejek Nancy.


“Apaan sih kamu Nancy! Makanya cari cowok yang bener, kakak ga akan ngelarang kamu nikah muda kalo udah nemuin cowok yang bener!” ketus Irene.


“Ih kak Iren apaan sih, aku masih mau senang-senang tau!” ketus Nancy.


“Sama Roy aja, dia orang yang baik kok, dan sepertinya dia tertarik denganmu.” Sahut Daniyal.


“Nah tuh dengerin! Temen kak Daniyal ada yang tertarik denganmu.” Sambung Irene.


“Benarkah? Roy siapa Daniyal? Apa dia orang yang baik?” tanya Gilang dengan semangat.


“Apa!? Laki-laki buaya itu? Dih ogah! Aku ga mau pi, baru kenal aja udah ngasih rayuan gombal, pasti ke cewek lain juga begitu!” ketus Nancy.


“Mungkin dia begitu cuma sama kamu aja Nancy, ga ada salahnya kan di coba jalanin dulu?” ucap Gilang.


“Papi!!!” seru Nancy dengan kesal.


Sedangkan Irene dan Daniyal sedang tersenyum puas karena sudah berhasil menyerang Nancy bersamaan.


“Kak Daniyal sama kak Iren mainnya keroyokan ya? Tunggu pembalasanku kak!” ketus Nancy.


Untuk kedua kalinya Irene dan Daniyal kembali tertawa dan semakin keras, di ikuti dengan yang lainnya.


Sejak dulu semua orang yang ada di rumah itu memang senang sekali jika melihat Nancy kesal, karena selama ini dia yang selalu mengejek orang lain.


“Itu karma kak, semenjak ga ada kak Iren kakak kan selalu mengejek aku dan Queen, sekarang ada kak Iren yang mengejekmu lagi haha..” ucap Ratu.


“Cih! Sebentar lagi juga kalian tidak akan ada yang menolong karena kak Irene dan kak Daniyal akan pulang!” ejek Nancy.


“Sudah, sudah! Kalian berdua ini benar-benar ya.” Tegas Gilang.


Setelah peringatan dari Gilang, semua orang tidak ada yang berani membuka suara karena takut dengan kemarahan Gilang.


“Yaudah kalo gitu aku sama kak Daniyal langsung pamit aja ya pi..” ucap Irene di tengah-tengah keheningan.


“Loh udah mau pulang?” tanya Gilang.


“Tau nih kak Irene SMP! Sudah Makan Pulang!” sahut Queen dengan sedih.


“Kakak ga mau nginep aja semalam?” tanya Aleena.


“Engga bisa soalnya aku sama kak Daniyal besok sama-sama ada meeting.” Ucap Irene.


“Tapi kan kalian bisa berangkat dari sini kak, ayolah…” rengek Ratu.


“Ratu? Kenapa kamu jadi suka merengek seperti ini?” tanya Irene yang terkejut melihat perubahan sang adik yang selama ini sangat cuek dan dingin.


“Itu karena dia ketularan sama Adyatma kak! Awalnya aku kasihan Adyatma selalu di ketusin sama nih anak, tapi lama-lama malah dia ikutan manja loh!” jelas Nancy.


“Benarkah? Bagus dong, seharusnya di umur kamu sekarang kamu masih bertingkah manja kepada keluargamu, aku sedih loh selama ini karena kamu bersikap seperti orang dewasa.” Ucap Irene.


“Aku dan papi awalnya juga sangat khawatir karena kamu tidak mau mengatakan apa masalah yang terjadi kepadamu.” Lanjut Irene.


"Sekarang dia sudah tidak seperti dulu kak, dia sudah mulai terbuka sekarang." ucap Nancy.


"Baguslah kalau begitu, aku bisa tenang sekarang." ucap Irene.


"Sudahlah aku mau pulang dulu capek banget nih." lanjut Irene.


"Yah kakak beneran pulang nih?" rengek Queen.


"Iya lah, kapan-kapan aja kita nginep deh kalo libur lagi, iya kan sayang?" tanya Irene pada Daniyal.


"Iya, nanti kalo kita kosong pasti nginep kok di sini " sahut Daniyal.


"Queen jangan kayak anak kecil, kakak kamu punya kerjaan sendiri." tegas Gilang.


"Iya papi..." ucap Queen pasrah.


Irene dan Daniyal hanya bisa menatap kasihan kepada Queen, namun mau bagaimana lagi mereka masih ada meeting pagi besok dan semua data yang harus di bawa ada di rumahnya.