
Setelah menyiapkan semuanya, Irene segera memanggil suaminya yang masih berada di dalam kamar.
“Loh kemana kak Daniyal?” gumam Irene saat tidak melihat Daniyal di kamarnya.
Namun perhatiannya tertuju pada air kamar mandi yang sedang mengalir dan dapat di pastikan kalau Daniyal sedang berada di dalam kamar mandi.
“Hai, kamu pasti sedang mencariku bukan?” tanya Daniyal yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang terlilit di pinggulnya.
“Selamat pagi suamiku…” sapa Irene dengan manis.
Benar-benar hal yang tidak pernah di lihat oleh siapapun bahkan keluarganya dan Daniyal yang selama ini selalu berada di dekatnya.
“Kamu ternyata bisa melakukan hal manis juga ya, hal yang benar-benar harus di dokumentasikan.” Ucap Daniyal.
“Apaan sih, kamu ini selalu saja mengejekku.” Protes Irene.
“Kamu benar-benar menggemaskan, aku tidak menyangka kalau aku memiliki kesempatan untuk melihat sikapmu yang lainnya.” Ucap Daniyal sambil mencium kening Irene.
Daniyal segera memakai pakaian yang sudah di siapkan oleh Irene di atas tempat tidur, Daniyal juga tidak menyangka kalau ternyata Irene memiliki selera yang sesuai dengan seleranya.
“Ayo sarapan dulu, bukankah hari ini kita akan berangkat? Aku sudah menyiapkan semuanya.” ucap Irene.
“Wah kamu memang benar-benar yang terbaik Irene, kamu selalu bisa membuatku menggelengkan kepala.” Ucap Daniyal memuji semua yang di lakukan Irene.
“Jangan memujiku terus, ayo segera sarapan.” Ajak Irene.
“Baiklah ayo..” balas Daniyal yang langsung menggenggam tangan Irene dan mengajaknya untuk pergi ke ruang makan bersama-sama.
Di ruang makan, bi Sumi sudah menyambut mereka dengan senyuman yang lebar terlebih saat melihat kemesraan antara keduanya.
“Bibi tau kalau tuan menikah hanya karena membalas dendam, tapi bibi juga berharap kalau suatu saat nanti tuan Daniyal akan benar-benar membuka hatinya untuk nyonya Irene.” Gumam bi Sumi di tengah senyumannya.
“Selamat pagi tuan Daniyal.” Sapa bi Sumi.
“Selamat pagi bi Sumi, bibi semakin hari semakin cantik saja ya..” puji Daniyal.
“Lihat bukan nyonya? Tuan Daniyal benar-benar sangat suka menggoda.” Adu bi Sumi kepada Irene.
Irene hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat interaksi antara Daniyal dan bi Sumi, mungkin Daniyal menjadi sangat dekat dengan bi Sumi karena tidak ada kasih sayang seorang ibu.
“Aku akan pastikan kamu tidak akan kekurangan kasih sayang dan perhatian kak Daniyal…” batin Irene sambil menatap ke arah Daniyal yang ada di sebelahnya.
“Wah banyak sekali makanannya, apa ini makanan untuk sekampung?” tanya Daniyal saat melihat semua makanan yang ada di atas meja makan dalam porsi yang besar.
“Karena aku memang membuatnya untuk semua orang yang ada di sini, ini belum di bagi, nanti aku akan membaginya dan menyuruh bi Sumi untuk memberikan makanan ini ke pavilion sebelah.” Jelas Irene.
“Jangan bilang, kamu yang memasak semua ini Iren?” tanya Daniyal.
“Iya semuanya nyonya Irene yang memasak tuan, masakannya sangat enak dan sepertinya setelah ini anda tidak akan mau makan masakan orang lain.” Jawab bi Sumi.
“Benarkah? Kalau bi Sumi sudah memuji suatu masakan berarti masakan ini benar-benas sangat enak.” Ucap Daniyal yang langsung menarik kursi meja makan dan segera duduk di tempatnya.
“Sini biarkan aku yang mengambilnya.” Ucap Irene yang langsung mengambil piring dan menaruh nasi di piring tersebut.
“Apa terlalu banyak?” tanya Irene meminta pendapat.
Irene juga mengambilkan beberapa lauk yang ada di meja makan dan segera memberikannya untuk Daniyal agar dia segera bisa mencicipi makanan yang dia masak sendiri.
Irene benar-benar penasaran apakah rasa masakan yang dia masak sesuai dengan selera Daniyal atau tidak.
Daniyal menyuapkan makanan yang di masak sang istri untuk pertama kalinya, karena selama ini walaupun makan di rumah Irene, dia tidak pernah merasakan masakan yang seenak ini.
“Apa kamu tidak pernah memasak sebelumnya?” tanya Daniyal.
“aku pernah beberapa kali memasak sebelum ada kak Daniyal dan yang lain, tapi karena sudah terlalu sibuk dan juga aku harus membersihkan meja makan aku jadi tidak sempat memasak.” Jelas Irene.
“Ini benar-benar enak Irene, aku ingin kamu memasak untukku terus menerus.” Ucap Daniyal.
“Tentu saja, aku akan memasak setiap hari untukmu.” Jawab Irene.
Bi Sumi yang melihat keduanya sangat bahagia hanya tersenyum lalu berjalan pergi secara diam-diam, namun Irene sudah mengetahui kalau bi Sumi akan pergi dari ruang makan.
“Bi, kenapa bibi pergi? Jangan pergi bi kemarilah makan bersama kami.” Ajak Irene.
Bi Sumi tidak percaya kalau Irene akan menyuruhnya makan di meja yang sama dengannya, bi Sumi pikir kalau Irene adalah wanita yang sering di bawa Daniyal ke rumah yang lama, mereka semua tidak pernah menawarkan
makanan atau bahkan berdekatan dengan bi Sumi.
Tapi ternyata Irene berbeda, dia benar-benar berbeda dari wanita yang di bawa tuannya, Irene adalah wanita yang baik dan sopan santun.
“Bi Sumi, kenapa bibi diem aja? Ayo sini makan.” Ucap Irene kembali.
Bi Sumi yang mendengar ucapan Irene langsung tersadar dari lamunannya lalu melihat ke arah Irene.
“Tidak nyonya, saya hanyalah seorang pelayan yang tidak pantas untuk duduk di meja yang sama dengan anda.” Ucap bi Sumi.
“Kenapa bibi bilang seperti itu? Kita sama-sama manusia, status tidak menjamin derajat seseorang, jadi jangan terlalu sungkan denganku bi.” Ucap Irene.
Kali ini Irene sudah beranjak dari kursi makannya dan menghampiri bi Sumi, Irene tersenyum sambil menggandeng tangan bi Sumi dan mengajaknya duduk di hadapannya.
“Bi, seperti kata bibi, hanya orang yang kak Daniyal cintai yang di ijinkan masuk ke dalam sini termasuk bibi, kalau kak Daniyal mencintai bi Sumi seperti ibu kandungnya, maka aku akan melakukan hal yang sama tidak perduli akan status atau apapun.” Jelas Irene.
Lagi-lagi ucapan Irene membuat Daniyal terkejut, entah berapa kali Irene sudah mengatakan hal yang membuatnya terkejut, tapi dia sudah terlalu terpukau dengan kebijakan Irene.
“Dia benar-benar berbeda, bahkan rasanya aku hampir tidak bisa membencinya, dia benar-benar sempurna dan bisa melakukan apapun.” Gumam Daniyal yang hanya melihat interaksi antara bi Sumi dan Irene.
Akhirnya mereka bertiga menikmati sarapan yang tenang layaknya keluarga yang bahagia, bahkan sesekali mereka berbincang dan bercanda hanya karena hal-hal kecil.
“Senangnya, akhirnya tuan Daniyal bisa tertawa lagi seperti dulu.” Ucap bi Sumi tiba-tiba membuat Daniyal dan Irene menoleh ke arah bi Sumi secara bersamaan.
“Apa bi? Maksud bibi gimana?” tanya Irene.
“Terimakasih nyonya Irene, karena anda hadir di kehidupan tuan Daniyal, bibi harap kalian berdua akan terus bahagia seperti ini.” Ucap bi Sumi.
“Bibi…” ucap Daniyal.
“Tuan sudahlah, lepaskan semua yang ada di diri tuan, hapus semua perasaan ragu dan anda akan bahagia.” Ucap bi Sumi dengan lembut membuat kedua mata Daniyal berkaca-kaca.