
Setelah semua orang sudah mengetahui kehamilan Irene dan bahkan jenis kelamin bayi yang di kandungnya, semuanya membrikan selamat kepada Irene.
Semua orang masuk ke dalam kamar tidur masing-masing karena hari sudah semakin malam, dan para bodyguard juga sudah di perbolehkan pulang oleh Gilang.
Sedangkan Abizar masih saja dengan lamunannya tentang bayi yang di kandung Irene, dia masih tidak percaya jika Daniyal akan menebar benih di rahim orang yang harusnya menjadi musuhnya.
“Sial! Dia memang tidak bisa di percaya! Aku tau dia pasti akan melakukan hal bodoh!” gumam Abizar sambil memukul setir mobilnya dengan kencang.
“Mulai sekarang aku akan mengurus hal ini dengan caraku sendiri!” gumam Abizar lalu dia menaikkan kecepatan mobilnya sampai kecepatan maximum.
Sesampainya di rumah, Abizar langsung membuka pintu rumah dengan keras hingga membuat Adyatma yang ada di belakangnya terkejut, dan juga Bramantio yang sedang membaja koran di ruang tamu ikut terkejut.
“Abizar! Kamu ini mau buat papi mati ya hah!?” ketus Bramantio yang kesal dengan anak keduanya itu.
Namun Abizar sama sekali tidak memperdulikan ucapan papinya, dia hanya terus berjalan dengan tatapan kesal dan membuat Bramantio mengerutkan keningnya.
“Hei, Abizar!” teriak Bramantio untuk kedua kalinya.
“Sudahlah pi biarkan kak Abizar istirahat, tadi juga dia nyetir kenceng banget untung aja aku ga satu mobil sama kak Abizar.” Jelas Adyatma.
“Apa terjadi sesuatu yang membuatnya kesal?” tanya Bramantio kepada Adyatma.
Adyatma menghela nafas kasar mendengar pertanyaan dari papinya, dia merasa sedikit khawatir dengan apa yang akan dia beritahu kepada sang papi.
“Kenapa kamu diam? Ada apa sebenarnya? Kenapa kamu tidak memberitahu papi?” tanya Bramantio saat melihat anak terakhirnya hanya diam dengan ekspresi wajah kebingungan.
Akhirnya dengan berani Adyatma menjelaskan semua yang terjadi tadi dan hal itu tentu saja membuat Gilang sangat terkejut, karena Daniyal bisa menyembunyikan hal sepenting ini dari dirinya.
“Apa!? Berani sekali dia menyembunyikan hal sebesar ini padaku!” ketus Bramantio.
“Sabar pi, ingatlah itu adalah cucu papi, dia keturunan keluarga Bramantio pi…” ucap Adyatma mencoba untuk menenangkan papinya.
“Tidak bisa begitu adyatma! Dia sudah membuatku kecewa! Tau gitu aku tidak mengijinkannya menikah dengan wanita itu!” ketus Bramantio.
“Papi, tolonglah jangan seperti ini papi harus tenang dalam mengambil keputusan, papi harus ingat kalau anak itu adalah cucu papi, dia adalah penerus keluarga ini nantinya pi.” Ucap Adyatma.
“Tidak bisa! Aku tidak akan pernah mengakuinya sampai kapanpun!” ketus Bramantio dengan wajah kesalnya.
Adyatma terus meyakinkan sang papi, dia tidak ingin kalau sampai anak yang tidak tau apa-apa ikut kena imbas dari balas dendam ini.
Sampai akhirnya Adyatma sudah mulai lelah meyakinkan sang papi lalu dia memutuskan untuk pergi ke kamarnya karena sudah lelah dengan keegoisan papinya.
Setelah Adyatma meninggalkannya, Bramantio segera mengambil ponselnya dan segera menghubungi putra sulungnya itu.
Di kediaman Herlambang, Daniyal sudah berbaring sambil memeluk tubuh Irene dan mengelus perutnya dengan lembut agar Irene bisa tertidur.
Drrtt,, drrtt.. suara ponsel berdering dan Daniyal melihat nama papinya di layar ponselnya dan membuatnya terkejut.
Dengan perlahan Daniyal melepaskan pelukannya dari Irene agar tidak membuat Irene terbangun, lalu dia mengambil ponselnya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk mengangkat telfonnya.
“Halo pi.” Ucap Daniyal setelah mengangat telfonnya.
“Halo Daniyal! Apa benar yang papi dengar?!” tanya Bramantio dengan nada yang sudah terdengar emosi.
Mendengar pertanyaan dari papinya yang to the point membuat Daniyal terkejut dan mematung. Dia bahkan tidak berniat untuk membalas ucapan papinya.
“Maaf papi kita bicarakan besok, aku akan mampir ke perusahaan papi besok.” Ucap Daniyal yang langsung mematikan telfonnya sepihak.
Daniyal benar-benar frustasi, tentu saja adik-adiknya akan membertahu papinya tentang hal ini dan dia harus segera mengatasinya agar tidak membahayakan Irene dan calon anaknya nanti.
“Bagaimana ini? Aku belum siap menghadapi papi, dia pasti sangat kecewa kepadaku!” gumam Daniyal sambil menjambak rambutnya sendiri.
“Aaarrgghh!!!” teriak Daniyal namun tertahan karena dia mengingat sang istri yang sedang tertidur.
“Emmmhhh,, sayang…” ucap Irene yang memanggil Daniyal.
Begitulah Irene, dia selalu tau kalau Daniyal tidak mengelus perutnya dan dia terbangun jika tidak ada pergerakan dalam waktu yang lama.
Daniyal yang mendengar ucapan istrinya segera berjalan keluar kamar mandi dan dia kembali berbaring di sebelah istrinya dan mengelus perutnya dengan lembut agar Irene kembali tertidur.
“Kamu dari mana aja sih?” ucap Irene dengan mata yang masih tertutup.
“Aku ke kamar mandi sayang, kamu di tinggal sebentar aja sudah kangen ya.” Ucap Daniyal sambil menciumi rambut Irene berkali-kali.
“Anak kamu yang kangen bukan aku, jangan kepedean deh.” Balas Irene.
Namun Daniyal tidak tersinggung dengan ucapan Irene, dia tau kalau istrinya itu sedang bercanda dan Daniyal semakin mengencangkan pelukannya di perut Irene.
“Sayang, aku mau nasi goreng.” Ucap Irene tiba-tiba yang saat ini sudah membuka kedua matanya.
“Kamu laper sayang? Baiklah aku akan membelikanmu nasi goreng yang ada di sekitar sini ya.” Ucap Daniyal.
“Engga mau! Aku maunya nasi goreng masakan kamu sayang.” Ucap Irene.
“Apa? Tapi aku ga pernah masak sayang.” Ucap Daniyal yang terkejut dengan permintaan sang istri.
“Kan sekarang ini ada youtube dan mbah google, jadi kamu bisa melihat cara dan bahannya di sana sayang…” ucap Irene.
“Ayolah aku ingin makan nasi goreng buatanmu..” rengek Irene kembali.
“Baiklah kamu tunggu sini aja ya biar aku buatkan dulu.” Ucap Daniyal.
“Engga! Aku mau ikut menemanimu, pasti nanti kamu meminta tolong pelayan untuk membantumu memasak kan?” ucap Irene seperti sudah tau kalau suaminya akan curang nantinya.
Daniyal yang memang awalnya ingin meminta bantuan pelayan di sana hanya bisa menghela nafas panjang dan pasrah jika istrinya akan mengikutinya memasak nasi goreng.
“Baiklah ayo kita ke dapur dan menyiapkan semuanya.” Ucap Daniyal sambil menggandeng Irene berjalan keluar dari kamar dan menuruni tangga.
Irene senang sekali karena Daniyal akan memasak makanan untuknya, dia sudah berkhayal akan memakan nasi goreng special yang di buat langsung oleh suaminya.
Daniyal menyuruh Irene duduk di kursi yang ada di dapur, sedangkan Daniyal mulai membuka ponselnya untuk mencari resep yang dia kira paling gampang untuk pemula sepertinya.
“Sayang, kalo nanti ga enak jangan di makan ya, aku ga mau kamu sakit perut makan nasi goreng buatanku.” Ucap Daniyal yang sudah was-was dengan hasil masakannya.
“Kenapa kamu udah bilang begitu? Jangan pesimis, siapa tau ternyata rasa masakanmu lebih enak dari chef terkenal dan chef yang ada di rumah kamu hehe..” ucap Irene sambil memamerkan gigi putihnya.
Daniyal hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala mendengar ucapan istrinya itu, lalu dia kembali fokus menyiapkan bahan dan alat yang akan dia butuhkan nanti agar tidak sibuk mencarinya di tengah kegiatan
memasaknya.