
“Kak, kak kamu mau kemana?” tanya Aleena saat melihat Abizar keluar dari mobil.
Dengan segera Aleena ikut keluar dari mobil menyusul Abizar yang sudah berada di luar.
“Kak, kamu mau kemana kak?” tanya Aleena sambil menggenggam lengan Abizar.
“Aku? Aku mau pergi Aleena! Kamu bisa jalan-jalan dengan orang suruhan papi kamu!” ketus Abizar sambil menepis tangan Aleena dengan kasar.
Aleena terkejut dengan perlakuan Abizar, selama ini dia tidak pernah di perlakukan seperti itu, Abizar selalu bersikap lembut kepadanya dan sekarang dia menepis lengan Aleena dengan kasar.
“Kak? Kenapa kamu kasar sama aku?” tanya Aleena.
“Diam Aleena! Biarkan aku sendiri dulu!” tegas Abizar yang akhirnya berjalan meninggalkan Aleena ke arah pantai yang memang kebetulan sedang mereka lewati.
Aleena hanya diam menatap punggung suaminya yang sudah mulai menjauh dengan tatapan sedih, dia tidak percaya kalau suaminya akan semarah itu karena orang-orang suruhan papinya.
Aleena menatap tajam ke arah orang-orang berpakaian serba hitam yang ikut berhenti tidak jauh dari mobilnya, Aleena segera berjalan menghampiri mereka hingga membuat orang-orang tersebut gugup bahkan tidak tau harus melakukan apa.
“Stop!! Kalian semua diam di tempat kalian!” teriak Aleena yang membuat semuanya mematung tanpa mereka sadari.
“Kalian ini orang suruhan papi kan?!” tanya Aleena sambil menyilangkan kedua tangannya di depan.
Orang-orang tersebut hanya saling menatap satu sama lain tanpa mengatakan apapun, mereka juga takut salah jika memberitahu identitas mereka kepada Aleena.
“Kalian diem aja? Gara-gara kalian semua suamiku jadi marah tau! Kalian mau laporan sama papi juga kan tentang hal ini? Iya kan?” ucap Aleena dengan kesal.
“Kalian semua tolonglah pergi dari sini, aku bukan anak kecil lagi yang harus di jaga kalian, aku sudah punya suami sekarang dan dia yang akan menjagaku.” Lanjut Aleena.
“Tapi nona, kami tidak bisa meninggalkan nona begitu saja.”
“Tidak ada penolakan, kalian cepat pergi, aku yang akan menjelaskan semuanya kepada papi.” ucap Aleena.
“B-baiklah nona, kalau begitu kami pamit undur diri.”
Setelah memastikan kalau orang suruhan papinya benar-benar pergi, Aleena segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Gilang.
“Halo sayang…” ucap Gilang saat mengangkat telfon dari putri kesayangannya.
“Papi! Apa aku ini masih anak kecil bagi papi? Kenapa papi menyuruh orang suruhan papi mengikutiku dan kak Abizar?” tanya Aleena.
“Sayang, kamu akan tetap sebagai anak kecil papi sampai kapanpun, papi hanya memastikan kalian berdua berbulan madu dengan nyaman sayang.” Ucap Gilang.
“Mungkin aku tidak masalah karena aku sudah terbiasa dengan hal itu, tapi kak Abizar engga pi, dia merasa kalau papi meragukan kemampuannya, kak Abizar tersinggung dengan hal ini.” Jelas Aleena.
“Kenapa Abizar harus tersinggung sayang?” tanya Gilang.
“Karena papi tidak seperti ini kepada kak Irene dan kak Daniyal, itu membuat kak Abizar merasa kalau papi meragukannya karena kak Abizar tidak memiliki apa-apa.” Ucap Aleena.
“Sayang, bukan begitu papi melakukan ini karena menyayangi kamu, kamu memiliki banyak penggemar dan papi takut kalau Abizar tidak bisa mengatasi mereka.” Ucap Gilang.
“Tapi pi, setidaknya papi tuh harusnya rundingan dulu sama kita masalah ini, sekarang kak Abizar adalah orang yang bertanggung awab atas aku, bukankah papi juga bilang gitu sama Aleena?”
“Iya papi tau sayang, maaf papi salah karena bertindak tanpa mengatakan dulu kepadamu.” Ucap Gilang.
“Papi harusnya minta maaf sama kak Abizar, karena dia yang merasa tersinggung karena papi.” Ucap Aleena.
“Iya papi akan segera minta maaf kepada Abizar sayang, sudah ya jangan marah lagi sama papi, papi juga akan menyuruh orang-orang papi pergi.” Ucap Gilang.
“Baiklah kalau begitu.” Balas Aleena yang langsung mematikan telfon sang papi.
Aleena masih menatap Abizar yang sedang duduk di tepi pantai sambil memainkan pasir pantai yang ada di sekitarnya, dia merasa bersalah dengan suaminya karena sampai sudah menikah pun sang papi masih saja
overprotective.