
Di kediaman Bramantio, Bram sedang menyirami tanaman kesayangannya sambil bersenandung dengan bahagia. Abizar dan Adyatma yang melihat kelakuan papinya hanya bisa saling menatap dan mengerutkan kening mereka.
“Aku kadang ga habis pikir sama papi loh kak.” Ucap Adyatma.
“Kenapa? Karena papi senang di saat kak Daniyal sedang di rawat di rumah sakit?” tanya Abizar.
“Wah, hebat sekali kamu kak, kamu bisa mendengar isi pikiranku.” Ucap Adyatma.
“Bukankah sudah jelas? Lihatlah tingkah papi yang seperti itu, semua orang juga akan tau.” Ucap Abizar.
Adyatma hanya mengangguk-anggukan kepalanya menyetujui ucapan sang kakak.
“Tapi kak, sebenernya apa sih yang di pikirin sama papi dan kak Daniyal? Kakak ga liat akting mereka berdua, terutama papi.” Ucap Adyatma.
“Mungkin mereka sebenarnya bercita-cita menjadi artis tapi ga kesampean.” Ucap Abizar.
Di saat Abizar dan Adyatma sedang asik berbicara, tiba-tiba saja Bram menoleh ke arah keduanya dan memanggil mereka hingga membuat keduanya terkejut.
“Kenapa kalian kaget begitu? Papi ini manggil kalian, tapi kalian kaget kayak habis liat hantu!” ucap Bramantio.
“Lagian papi bikin kita kaget aja, udah tau kita lagi serius ngobrol.” Ucap Adyatma.
“Ada apa sih? Kalian berdua lagi ngomongin apa sih sampe serius banget gitu.”
“Eh, e-engga kita ga ngomong apa-apa kok,, papi ga kerja? Kenapa masih di rumah?” tanya Adyatma.
“Papi lagi ga ada meeting atau apapun jadi papi memutuskan untuk istirahat dan menyerahkan semua pekerjaan kepada asisten papi.” Ucap Bramantio.
“Kalian ngapain di sini? Bukannya seharusnya sekarang kalian sudah mulai kembali menjadi bodyguard?” tanya Bramantio.
“Sekarang masih pagi, kita juga udah tinggal berangkat aja kok jadi papi ga perlu khawatir.” Ucap Adyatma.
“Lagian sampai kapan sih kita kayak gini pi? Abizar capek kayak gini terus, Abizar mau bekerja di perusahaan seperti biasanya.” Ucap Abizar.
“Diam! Kalian berdua harus membalas kematian mami kalian!” ketus Bramantio.
“Apa yang harus kami balas pi? Bahkan mereka masih memperingati kematian mami di pesta perusahaannya, itu menandakan kalau mereka ga ada niat sama sekali untuk membuat mami meninggal dan itu semua hanya ketidaksengajaan.” Ucap Abizar.
“Bodoh! Apa kalian tertipu hanya karena mereka menaruh foto mami kalian di sana?! Mereka hanya melakukan pencitraan saja..” ucap Bramantio dengan tegas.
“Pencitraan? Apa maksud papi?” tanya Adyatma.
“Mereka hanya ingin di kenal sebagai orang yang baik di mata semua orang yang menonton mereka lewat layar televisi!” tegas Bramantio.
Mendengar ucapan papinya membuat Abizar dan Adyatma terdiam, keduanya tidak ingin memperpanjang masalah kepada sang papi yang sedang emosi.
“Lalu sampai kapan kami akan seperti ini?” tanya Abizar kembali.
“Kakak, diamlah!” bisik Adyatma.
“Sampai kalian berhasil membuat anak-anak perempuan itu tergila-gila oleh kalian, dan di saat itu kalian bisa menjatuhkan mereka sampai ke dasar.” Ucap Bramantio.
“Tapi itu butuh waktu yang cukup lama pi..” ucap Adyatma.
“Apa kalian tidak mampu membuat para wanita itu jatuh cinta?” tanya Bramantio.
“Apa? Apakah papi meragukan kemampuan anak-anak papi? Tidak ada wanita yang tidak menyukai kita.” Ucap Abizar.
“Baguslah kalau begitu, papi tidak akan meragukan kemampuan kalian.” Ucap Bagas sambil menepuk bahu kedua putranya lalu segera berjalan masuk ke dalam rumah.
Keduanya hanya mematung di tempatnya mendengar ucapan Bramantio yang sudahberlalu ke dalam rumah.
“Bagaimana ini kak? Apa kamu mampu membuat mereka jatuh cinta?” tanya Adyatma.
“Apa kamu meragukan kemampuan buaya di dalam diriku?” tanya Abizar yang langsung berjalan masuk ke dalam rumah.
Mendengar ucapan Abizar membuat Adyatma tidak menyangka dengan ucapan kakaknya yang terkesan terlalu kepedean itu.
“Wah gila sih kakak gue keren begete..” ucap Adyatma sambil tersenyum lebar.
Irene yang sudah sampai di rumahnya segera masuk ke dalam dan langsung masuk ke dalam kamar papinya tanpa mencari kedua adiknya.
“Papi!” teriak Irene yang langsung membuka pintu kamar papinya tanpa mengetuk pintu.
“Yaampun Irene kamu udah buat darah tinggi papi naik, sekarang mau buat papi jantungan?” tanya Gilang kepada Irene.
“Maaf pi, aku khawatir pas denger papi drop, tapi beneran aku ga pernah ngirim pesan itu ke papi.” Ucap Irene.
“Hah? Tapi papi jelas-jelas dapet pesan itu dari kamu Irene, lihatlah.” Ucap Gilang sampai memberitahu pesan dari Irene.
Irene benar-benar merasa jika dirinya tidak pernah mengirim pesan kepada papinya.
Sedangkan tanpa mereka ketahui, di luar sudah ada Queen yang sedang menguping di balik pintu.
“Benarkan? Pasti ada seseorang yang sengaja mengirim pesan kepada papi lewat hp kak Iren.” Gumam Queen sambil berfikir.
Aleena yang baru keluar dari kamarnya melihat Queen yang sedang menempelkan telinganya di pintu kamar papinya, Aleena segera mendekati Queen dan ikut menempelkan telinganya di pintu di sebelah Queen.
“Waaa!!!” teriak Queen saat melihat kakaknya yang sudah berada di hadapannya.
“Yaampun kak Aleen ngagetin aja sih!” ketus Queen.
“Lagian kamu ngapain sih nempel-nempel pintu? Emang pintunya lagi ngomong sama kamu?” tanya Aleena.
“Stt,, aku lagi nguping kak Irene sama papi ngomong.” Bisik Queen.
“Kak Iren di sini?” tanya Aleena yang di balas anggukan oleh Queen.
Namun saat keduanya masih saling berbisik, tiba-tiba saja pintu kamar terbuka dan Irene sudah menatap keduanya dengan tatapan tajam.
“Kalian sedang apa di sini?” tanya Irene.
“Eh kak Iren hehehe,, kapan dateng kak?” tanya Queen seolah tidak terjadi apa-apa.
“Apa kalian sedang menguping?” tanya Irene.
“Hah? Engga kok, lagian pintu papi tebel banget kak ga mungkin kedengeran kok.” Ucap Queen.
“Jangan suka nguping nanti telinganya copot!” ketus Irene yang kembali masuk ke dalam kamar.
Aleena yang melihat Irene masuk segera mengikuti kakaknya masuk ke dalam meninggalkan Queen sendiri di luar.
Sedangkan Queen masih terngiang-ngiang dengan ucapan Irene yang mengatakan kalau orang yang suka menguping telinganya akan copot.
“Bahaya! Kalo sampe aku ga punya telinga.. Gimana ini?” gumam Queen sambil memegangi telinganya.
“Queen, kamu ngapain di luar? Ayo masuk.” Ucap Aleena.
“Ah, i-iya kak..” ucap Queen yang langsung masuk ke dalam kamar tanpa basa-basi.
“Bagaimana? Apa Nancy sudah baik-baik saja?” tanya Gilang.
“Aiden sedang bersamanya pi, dia bilang Nancy sedang menyendiri sambil menangis, mungkin itu pengalaman yang paling tidak menyenangkan menurutnya.” Jelas Irene.
“Kalian! Jangan sampai mengungkit masalah ini di hadapan Nancy! Karena saat ini Nancy sedang tidak stabil.” Tegas Irene kepada kedua adiknya.
“Hm kakak tenang saja, kami tidak akan mengatakan apapun tentang masalah ini di hadapan kak Nancy.” Ucap Queen.
“Apa kamu sudah mencari orang-orang itu? Papi ingin menghukum mereka dengan tangan papi sendiri!” tegas Gilang.
“Papi, jangan melakukan apapun dan serahkan kepadaku.” Ucap Irene.
“Engga bisa! Papi yang harus menghukum mereka sendiri! Papi tidak akan pernah memaafkan mereka!” ketua Gilang.
Irene hanya bisa menghela nafas panjang dan menggigit bibir bawahnya karena khawatir jika papinya akan menghukum mereka dengan cara mafia.