
Jika kamu menginginkan bulan, jangan bersembunyi dari malam. Jika kamu menginginkan setangkai mawar, jangan takut durinya. Jika kamu menginginkan cinta, jangan bersembunyi dari dirimu sendiri.
...****************...
Setelah beberapa menit melakukan perjalanan, Daniyal, Irene dan Gilang tiba di sebuah perusahaan yang lumayan besar bahkan lebih besar jika di bandingkan dengan milik orang tua Tommy.
“Perusahaan ini benar milikmu Dani?” tanya Gilang yang sudah keluar dari mobilnya dan menatap gedung pencakar langit yang ada di hadapannya dengan takjub.
“Iya om, aku membangun perusahaan ini benar-benar sendiri tentu saja di bantu oleh seseorang yang selalu berada di sebelahku dan sekarang sudah menjadi kaki tanganku.” Jelas Daniyal.
“Benarkah? Apa kita berkesempatan untuk berkenalan dengan orang yang di percaya sebagai tangan kananmu?” tanya Gilang.
“Tentu saja, dia yang mengurus semuanya di sini, tapi maaf karena hari ini kalian tidak bisa melihat omku karena dia sedang sibuk.” Jelas Daniyal.
“Tidak masalah, kami bisa mengerti akan kesibukannya.” Ucap Gilang.
“Bahkan perusahaan ini jauh lebih besar di bandingkan dengan milik orang tua Tommy, apa dia benar-benar yang membangun perusahaan ini?” batin Irene yang berdiri di sebelah papinya.
“Silahkan masuk om, tidak perlu terganggu dengan karyawan kami yang sedang bekerja.” Ucap Daniyal.
Akhirnya Gilang dan Irene mengikuti Daniyal yang lebih dulu masuk ke dalam perusahaan. Semua karyawan yang ada di sana langsung menundukkan kepala 90 derajat saat melihat Daniyal yang sudah lama tidak pernah datang ke perusahaan.
“Selamat pagi tuan Daniyal, sudah lama sekali anda tidak mengunjungi perusahaan.” Ucap salah satu karyawan pria yang ada di sana.
“Selamat pagi, selama ini aku sibuk dengan urusan lain dan baru sempat kemari lagi.” Jawab Daniyal dengan ramah.
Daniyal menoleh ke belakang dan menunggu Gilang dan Irene agar jalan berdampingan dengannya.
“Saya ada tamu penting jadi jangan ke ruangan saya, kalau ada apa-apa kamu bisa ke Tiko seperti biasanya.” Ucap Daniyal yang di balas anggukan oleh karyawannya.
Gilang dan Irene hanya memperhatikan bagaimana sikap Daniyal menyapa semua karyawannya dan kelihatan kalau Daniyal memiliki sisi yang tegas dan bijaksana yang membuat karyawan di sana segan terhadapnya.
“Silahkan om,Iren.” Ajak Daniyal mempersilahkan keduanya masuk ke dalam lift khusus yang hanya akan mengantar mereka ke lantai paling atas.
“Kamu memiliki lift khusus untuk ke ruanganmu?” tanya Gilang.
“Iya om, berbeda dengan perusahaan Irene yang bebas, aku hanya memiliki satu lift yang hanya berhenti di lantai 30, lantai paling atas.” Jelas Daniyal.
“Lihat bukan? Papi sudah bilang kalau kamu juga harus memiliki lift sendiri.” Ucap Gilang kepada Irene yang berdiri di belakangnya.
“Papi selalu saja seperti ini,, aku ini ingin menjadi pemimpin yang baik hati dan bersosialisasi dengan karyawanku, dengan cara begitu aku juga bisa tau siapa yang membicarakanku diam-diam kalau mereka tidak menyadari kehadiranku.” Ucap Irene.
“Sudahlah Iren kamu ini selalu membuat om Gilang kesal, lebih baik kamu ikuti saja ucapan om Gilang untuk membuat lift khusus pimpinan.” Ucap Daniyal.
“Apa sekarang kamu berada di pihak papiku kak?” tanya Irene kesal.
Gilang dan Daniyal hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Irene yang terkadang tidak mau mengalah seperti anak kecil.
Dan akhirnya sampailah mereka bertiga di lantai paling atas di gedung itu, mereka bisa melihat interior yang sangat mewah dan benar-benar berbeda dari lantai yang lainnya, siapapun tau kalau lantai itu adalah lantai pemilik perusahaan.
“Tuan Daniyal? Anda kemari? Kenapa tidak memberitahuku?” tanya seseorang yang dengan sigap menghampiri atasannya itu.
“Salam kenal, saya Tiko… Anda pasti tuan Gilang dan nona Irene, tuan Daniyal sering sekali menceritakan tentang kalian berdua dan dia memuji kecantikan dan kebaikan nona Irene selama ini.” Ucap Tiko yang membuat Daniyal membuka kedua matanya dengan lebar berniat untuk memarahi asisten pribadinya itu.
Sedangkan Gilang dan Irene hanya tersenyum mendengar ucapan Tiko tentang Daniyal.
“Kamu ini apa harus membuatku malu di depan tamu pentingku?” ucap Daniyal dengan ketus.
Tiko yang melihat atasannya sedang berakting hanya bisa menahan senyumnya sambil menggelengkan kepala.
“Tuan memang benar-benar pandai sekali berakting!” batin Tiko sambil menggelengkan kepala.
“Tiko, kenapa kamu menggelengkan kepala? Apa kamu sedang pusing!?” tanya Daniyal dengan nada yang menyeramkan.
“Tidak tuan, silahkan masuk karena ruangan anda selalu di rapihkan takut anda tiba-tiba mengunjungi perusahaan.” Ucap Tiko mempersilahkan masuk.
“Permisi tuan Tiko..” ucap Gilang dengan ramah.
“Silahkan tuan Gilang, semoga anda dan nona Iren nyaman berada di perusahaan ini, kalau begitu saya permisi.” Ucap Tiko yang segera melangkah menuju ruangannya yang berada tidak jauh dari ruangan Daniyal.
“Maaf ya om, asistenku memang seperti itu, dia sepertinya salah minum obat tadi pagi jadi ngomongnya ngelantur.” Ucap Daniyal mencoba untuk memberitahu Gilang dan Irene kalau ucapan Tiko barusan hanya kesalahan.
“Sudahlah jangan di bahas lagi, kami juga tidak menganggap serius ucapannya kok.” Ucap Gilang.
Daniyal mempersilahkan Gilang dan Irene untuk duduk di sofa yang ada di ruangannya, dia juga menghubungi bagian OB untuk menyiapkan minuman.
Gilang menoleh ke segala arah dengan takjub karena ada banyak sekali barang-barang antik, Gilang juga menemukan foto perusahaan Daniyal yang belum jadi sampai sekarang ini.
Sedangkan, Irene hanya duduk sambil menatap ke arah Daniyal yang sedang diam melihat papinya dengan wajah tersenyum.
“Kamu hebat sekali Dani, kamu bisa membangun perusahaan yang benar-benar dari nol itu jarang sekali bisa di lakukan oleh anak muda seperti kamu waktu seumur di foto ini.” Ucap Gilang sambil menunjukkan foto Daniyal yang sedang memakai toga berfoto di sebelah plang kecil bertuliskan nama perusahaannya.
"Ini semua adalah hasil dari keterpaksaan om, kalau bukan di paksa dengan keadaan aku juga tidak akan sampai seperti ini." ucap Daniyal.
"Aku ingin bertanya sesuatu kepadamu untuk yang terakhir kalinya." ucap Gilang.
"Silahkan om, apapun silahkan tanyakanlah." ucap Daniyal.
"Kenapa kamu tiba-tiba memilih untuk membongkar semuanya dan melamar anakku? Apa kamu memiliki rencana tersembunyi?" tanya Gilang.
"Tentu saja tidak om! Bagaimana bisa aku memiliki rencana tersembunyi, aku tidak ingin Irene di rebut orang lain dan akhirnya aku menyesal, itulah kenapa aku melakukan semua ini." jelas Daniyal dengan tegas.
"Irene, bagaimana denganmu? Bukankah kamu tidak menyukai Tommy? Lalu bagaimana dengan Dani? Papi ga bisa memutuskan karena selama ini kamu yang selalu bersama Dani dan kamu juga yang tau sikap Dani selama menjagamu."
Gilang memberikan kesempatan untuk putrinya memutuskan tentang pernikahannya karena dia tidak ingin salah pilih dan membuat putrinya tidak bahagia.
Mendengar pertanyaan papinya membuat Irene terkejut karena dia tidak menyangka kalau dia harus memilih saat itu juga, bahkan papinya tidak memberinya waktu untuk berfikir.
"Bagaimana ini? Aku tidak tau apa pilihanku nanti adalah pilihan yang tepat atau tidak." batin Irene sambil menoleh ke arah Gilang dan Daniyal secara bergantian.