
"Aku ada ide!! "
Taehyung mengangkat wajahnya sumringah, jari telunjuk kanannya mengacung tinggi dan di kepalanya terdapat lampu bohlam kuning begitu cerah.. Secerah ide yang di dapatnya --oke, lupakan.
"Tiba-tiba kau ada ide? Ide apa? "
Tanya Jimin khawatir, ia khawatir akan ide gila sahabat absurd nya.
Taehyung mengajak kedua sahabatnya mendekat, berkumpul membuat lingkaran kecil. Lalu membisikkan ide yang baru saja terlintas dikepalanya.
"Kau gila tae! "
Sarkas Jimin mendengar penuturan 'gila' sahabatnya itu.
Dahi Taehyung mengerut tak suka, "Kenapa?"
"Itu akan menyakiti hatinya tae, bagaimana jika ia menyimpan perasaan padamu.. Kau tak boleh melakukan ide gila mu"
"Oh ayolah, jangan berlebihan jim.. Aku yakin semua akan baik-baik saja. Ini ide ku, percaya padaku"
Taehyung begitu yakin pada ucapanya.
"Tapi tae.."
"Sudahlah jim, kalau kau tak setuju tak apa.. Lagipula ini masalah ku kau tak perlu ikut campur, aku akan bekerja sendiri "
Taehyung berlalu pergi dari hadapan kedua sahabatnya.
Dan Jimin, makin geram dibuat nya.
"Kenapa dengan tae? "
itu Hoseok si kuda yang sedari tadi masih memproses kerja otaknya.
'Awas kau tae, sampai menyakiti hatinya, tak akan ku biarkan' benak Jimin kesal.
"Hei jim kau juga kenapa? "
Teriak Hoseok yang melihat Jimin juga meninggalkan nya dikelas sendiri.
"Aish.. Ada apa dengan orang-orang itu"
Tapi Hoseok tak ingin ambil pusing, dia kembali menyamankan duduknya di kursi kelas.
•
•
•
Taehyung berlari kecil mencari seseorang, ia bertekad untuk menjalankan 'misi-nya'.
Ya, rencana yang tadi sempat di protes oleh sahabatnya Park Jimin.
'Apa-apaan si park itu, dia terlalu mengurus urusan ku! Lagipula aku yakin rencana ku akan berhasil tanpa menyakiti siapa pun'
"Taehyung? "
seseorang menghampiri Taehyung yang terlihat sedang celingukan.
Yasha, perempuan itu tepat berada di hadapan nya sekarang.
"Kau kenapa tae terlihat kebingungan? Sedang mencari seseorang kah? "
"Ya, aku mencarimu..
Ternyata kita bertemu disini, Jodoh memang tidak kemana ya"
Blushh
Seketika wajah Yasha berubah memerah, semerah tomat yang siap panen.
'Apa aku tak salah dengar? Apa maksudnya itu? Mencari ku? Jodoh?'
"Wajah mu merah sekali, apa tiba-tiba kau sakit? "
Tanyanya polos.
"Eh? Maaf tae kurasa aku harus ketoilet sekarang .."
Yasha berlalu dari hadapan Taehyung sebelum tangannya di cekat oleh lelaki bersurai abu tersebut.
"Kau? Baik-baik saja kan? "
Taehyung menatapnya lekat, memastikan bahwa perempuan itu memang baik-baik saja.
"Ya tae, dan aku harus pergi sekarang.. "
Yasha menarik lengan nya pelan dari pegangan lelaki dihadapannya itu dan langsung berlari kecil meninggalkan Taehyung yang sedikit bingung dengan perubahan sikap seorang Yasha.
•
•
•
"Bodoh! Apa maksudnya itu"
Yasha tengah berdiri dihadapan cermin besar toilet kampus, memegangi dadanya yang berdegup kencang.
"Ada apa dengan jantung ku ini" monolog nya pelan.
"Yasha? "
sang empu yang dipanggil terlonjak setengah mati, terkejut melihat sahabatnya kini sudah berada di sampingnya dengan muka penuh tanya.
Rachel memperhatikan sikap sahabatnya yang aneh. "Kau kenapa Yasha? "
Bagaimana seorang Rachel tidak merasa aneh.
Melihat sahabat yang mukanya semerah tomat, Kedua tangan memegangi dada dan mata kecilnya yang membulat sempurna.
--habis baper dengan gebetan, deg-degan.. nah sekarang sudah jelas siapa yang suka cemburu saat melihat kedekatan Kim Taehyung dan Rachel.
sahabatnya sendiri.
Yasha, mengagumi prince sekolah itu sejak lama. Semenjak mereka masih bersekolah dibangku SMA, keduanya memang bersekolah di SMA yang sama namun tak ada kedekatan yang berarti, saling sapa pun jarang..
Kadang Yasha merasa iri pada Rachel yang begitu mudah akrab dengan Taehyung apalagi saat mengetahui Taehyung menyukai sahabatnya, seakan hancur sudah rasa yang di pendamnya bertahun-tahun ini.
"Hei.. "
lagi, Yasha yang masih blank sekali lagi terlonjak kaget karna sapaan dibahunya.
"Yak!! Tak usah mengagetkan ku terus! " cebiknya kesal.
"Bodoh, bahkan aku hanya menepuk bahumu pelan"
Yasha mengerjapkan matanya polos, membuat Rachel makin bingung.
'Apakah dia kesetanan? '
"Kau itu kenapa sih? "
Kini Rachel bertanya selembut mungkin.
'Kenapa jadi gugup begini sih' Rutuknya dalam hati.
"Apa kau baru saja di bully seseorang? Atau di tembak seseorang? "
Yasha menggeleng, tentu saja bukan keduanya.
"Ohh.. Taehyung, apa kau bertemu tae? "
Mata kecil Yasha kini sukses melebar 2x dari biasanya.
Rachel mencoba menahan tawanya 'ternyata benar dugaan ku'
"Apakah seorang kim taehyung menyatakan cintanya padamu? "
Rachel menyenggol bahu sahabat berusaha menggodanya.
"... Aku tau kok selama ini kau naksir padanya, tak usah mengelak. Aku tau sahabatku "
Telak, ucapan Rachel membuat Yasha memerah. Kali ini wajahnya mirip sekali dengan kepiting rebus.
"A-Apa kau M-Marah? "
Rachel bingung, kenapa harus? Dirinya marah?
"Kenapa aku marah? Tentu saja tidak, kau kan tau aku tak menyukai nya. Yaa.. Meskipun kami dekat, tapi tae bukan tipe ku,
Dan kau tenang saja, dengan senang hati aku akan membantu mu dekat dengan nya"
Haruskah sekarang seorang Yasha merasa senang mendengar penuturan sang sahabat?
•
•
•
Tingg..
Lonceng di pintu cafe bergaya klasik itu berbunyi, menandakan seseorang baru saja datang berkunjung untuk memesan coffe dan bersantai ataupun hanya untuk sekedar menumpang wifi gratis di cafe itu.
Tapi tidak bagi Park Jimin, tentu saja dirinya rajin datang kesini untuk menyesap americano coffe favorit nya, bukan hanya sekedar duduk di pojokan dan menyalakan wifi laptop.
Park Jimin duduk seorang diri, tak jauh dari pintu masuk cafe yang bergaya klasik vintage.
Perlahan mengecap rasa pahit dari coffe nya itu. Sampai satu dentingan lonceng kembali berbunyi dan menampakan sesosok yang tengah ia rindukan.
Perempuan berambut sebahu itu melirik ke setiap penjuru cafe, berniat mencari seseorang yang menjanjikan nya bertemu di cafe itu.
Sejauh mata menelusuri, namun lelaki yang dimaksud tak ada sampai akhirnya mata perempuan itu bertemu dengan mata seorang Park Jimin.
"Mencari seseorang?" tanya Park Jimin yang hanya dibalas anggukan.
Perempuan itu berjalan menuju meja-nya dan duduk bersebrangan dengan Park Jimin.
"Janjian dengan seseorang? " Lagi. Terlampau penasaran siapa seseorang yang sedang dia tunggu.
"Hum.. Taehyung "
Mendengar nama lelaki itu seketika Park Jimin menyesal sudah bertanya.
"Apa taehyung juga mengajak mu bertemu disini? " kini Yasha yang bertanya.
Jimin menggeleng.
"Ini memang cafe favorit ku, aku sering datang kesini hampir tiap minggu"
"Kau, baru pertama kali? "
"Iya, tadi juga sempat tersesat.. Aku baru pertama kali lewat daerah sini"
Keduanya terdiam. Tak ada lagi yang saling melontarkan pertanyaan. Terasa begitu canggung, dan Jimin benci suasana seperti ini.
Jimin Berdehem sebelum mengajukan pertanyaan.
"Sering keluar bersama taehyung? " .
"Hmm.. Baru beberapa kali, semenjak dia mengantarkan ku pulang saat itu kami jadi dekat"
Telihat binar dimata seorang Yasha, menandakan bahwa dia sangat senang mengingat kejadian dimana dirinya bisa sedekat ini dengan Taehyung.
"Jimin, boleh aku bertanya? "
"Tentu saja.. "
"Tentang taehyung, jeda sejenak
Taehyung itu orangnya, hmm.. Bagaimana? "
Oke --Jimin merasa mulai kesal sekarang, bagaimana bisa Taehyung lagi dan lagi.
"Bukankah seharusnya kau lebih mengenalnya? Kalian kan sudah kenal semenjak masa sma"
"Ya kau benar jim, tapi sejak dulu kita memang tak dekat"
Yasha berucap lesu. Mengingat dirinya dulu yang hanya mampu mendamba seorang Kim Taehyung dari jauh.
Jimin meminum americano nya perlahan, terasa pahit namun tak sepahit kenyataan di hadapan nya.
Dimana perempuan yang ia sukai telak lebih menyukai sahabatnya sendiri.
"Taehyung itu orangnya baik, dia tampan dan populer pantas kau dan banyak perempuan lain menyukainya-"
Samar-samar terlihat rona merah di pipi putih milik lawan bicaranya.
"walaupun terkadang sifatnya aneh dan egois, namun taehyung seorang teman yang baik dia akan melakukan cara apapun untuk selalu membuat sahabatnya senang"
Jimin tersenyum disela-sela perkataan nya, mengingat bagaimana abstraknya seorang Kim Taehyung sahabat kecilnya itu.
"Namun, terkadang aku tak mengerti dengan jalan pikirnya taehyung yang terkesan terburu-buru tanpa memikirkan nya dua kali, dia akan melakukan cara apapun untuk mencapai semua keinginan nya, tak perduli perasaan orang lain, suka atau tidak dia akan terus melakukannya.. "
Yasha memperhatikan Park Jimin dengan seksama mendengarkan setiap perkataan Jimin tentang sahabatnya.
"Kim taehyung itu, orang ceroboh yang sialnya sempurna" final Jimin.
Yasha kembali mengembangkan senyumnya mendengar penuturan Jimin.
"Sekarang boleh aku yang bertanya? "
Yasha mengganguk sebagai jawaban.
"Kau benar benar menyukai taehyung? "
Dan pertanyaan Jimin sukses membuat wajah seorang Yasha memerah semerah tomat.
"Humm.. Aku menyukainya dari awal masa orientasi sekolah sma"
•
•
•
•