MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 25 (DROP)



Setelah Ratu di pindahkan ke ruangannya, Irene menyuruh semua orang untuk pulang ke rumah untuk beristirahat.


“Apa kamu tidak apa-apa sendirian?” tanya Gilang kepada Irene.


“Aku baik-baik saja papi, jangan mengkhawatirkan aku.” Ucap Irene.


“Kak Nancy, ayo ikut pulang dengan kami.” Ajak Queen kepada Nancy.


Namun Nancy hanya diam bahkan mundur beberapa langkah dan membuat semua orang yang ada di sana merasa aneh.


“Kenapa kamu kayak orang ketakutan gitu Nancy?” tanya Gilang.


“Hah? Engga kok pi..” ucap Nancy dengan ragu.


“Tadi juga yang lain pulang dari rumah sakit tapi kamu engga ikut pulang sama saudaramu, mereka bilang kamu pergi di tengah-tengah makan siang bersama mereka, ada apa sebenarnya Nancy?” tanya Gilang yang membuat


Nancy merasa terintimidasi.


Irene melihat ekspresi wajah Nancy yang ketakutan, Irene tau kalau adiknya ini akan terlihat kalau sedang gugup karena sifatnya yang biasanya ceria.


“Nancy akan menemani Iren di sini malam ini ya pi, biar Iren bisa gantian sama Nancy.” Sahut Irene.


“Baiklah kalau begitu, kalian berdua hati-hati di sini.. Aiden tolong jaga ketiga putriku sendirian malam ini karena hanya kamu yang berada di rumah sakit.” Ucap Gilang.


Aiden dengan tegas menganggukkan kepalanya, sedangkan Irene dan Nancy bisa bernafas lega karena lolos dari pertanyaan papinya.


Setelah semuanya berpamitan dan pulang ke rumah, Irene segera menyuruh Nancy untuk beristirahat di kamar Ratu.


“Nona, anda bisa beristirahat di sini bersama nona Nancy, biar aku yang menjaga kak Dani malam ini.” Ucap Aiden.


“Hm baiklah kalau begitu terimakasih karena sudah menjaga adikku dan juga mau menemani kami di hari liburmu.” Ucap Irene.


“Bukan masalah nona.” Ucap Aiden.


“Ayo aku akan ikut denganmu ke sana karena aku juga mau mengambil beberapa barang yang tertinggal di ruangan Dani.” Ucap Irene yang di balas anggukan oleh Aiden.


Irene meninggalkan Nancy dan Ratu di ruangannya, dan pergi ke ruangan Daniyal yang ada di sebelah untuk mengambil barangnya.


Di dalam ruangan, Ratu dan Nancy yang memang jarang sekali mengobrol merasa canggung satu sama lain, mereka berdua hanya saling menundukkan kepala dan sesekali melirik satu sama lain.


“Em,, kak, apa kamu benar-benar baik-baik saja?” tanya Ratu dengan ragu.


“Hem? Kenapa kamu bertanya seperti itu? Aku baik-baik saja kok.” Ucap Nancy.


“Kalau ada sesuatu cerita sama aku ya kak, jangan di pendem sendiri nanti kayak aku loh sakit.” Ucap Ratu.


“Kamu ini anak kecil udah bisa ceramah ya?” goda Nancy yang di balas tawa oleh Ratu.


“Kamu, bagaimana keadaanmu? Apa kamu baik-baik saja?” lanjut Nancy bertanya tentang keadaan saudaranya.


“Baik kok kak, aku sudah baik-baik saja sekarang.” Jawab Ratu.


“Lain kali kamu jangan menutupi sesuatu dari keluargamu, aku tau kita tidak begitu dekat namun aku ini masih kakakmu dan aku akan mendengarkan semua ceritamu.” Ucap Nancy.


“Hmm, terimakasih banyak kak..” ucap Ratu yang di balas anggukan oleh Nancy.


Di sisi lain, Irene yang baru masuk ke dalam kamar Daniyal segera mengambil laptop, selimut, tas dan hp miliknya.


“Dani, malam ini Aiden yang akan menjagamu karena aku harus menjaga adikku di kamar sebelah.” Ucap Irene.


“Iya tidak masalah, sebaiknya nona memang menjaga adik nona lebih dulu, Aiden sudah cukup untuk menjagaku.” Balas Daniyal.


Irene segera pergi dari kamar Daniyal setelah berpamitan dan mengambil barang-barangnya dan masuk ke dalam kamar adiknya.


“Kalian berdua kenapa sepertinya terlihat berbeda.” Ucap Irene dengan wajah penasaran.


“Berbeda apanya sih kak, biasa aja kali.” Balas Nancy.


“Sepertinya kalian berdua memiliki kemajuan berada di rumah sakit, masa harus ada yang di rawat di rumah sakit dulu baru kalian berbicara seperti ini?” ucap Irene menggoda kedua adiknya.


Karena candaan Irene tersebut membuat Nancy dan Ratu tertawa begitu juga dengan Irene dan suasana di dalam kamar Ratu terasa hangat karena candaan tersebut.


***


Di sisi lain, Gilang yang sudah sampai di rumahnya segera turun dari mobil begitu juga dengan kedua anaknya.


“Papi, jangan lupa hp papi ada di mobil loh.” Ucap Aleena mengingatkan.


Gilang yang sudah berjalan beberapa langkah menjauhi mobil langsung teringat saat sang putri mengingatkannya tentang hpnya.


“Kenapa kamu ga dari tadi sih ngomongnya Aleen.” Ucap Gilang yang langsung berbalik untuk mengambil hpnya kembali.


Setelah mengambil hp miliknya, Gilang segera membuka pesan masuk yang di kirim oleh putri sulungnya.


“Papi, kenapa papi ga masuk?’ tanya Queen yang menoleh ke belakang melihat sang papi yang masih di tempatnya.


“Nanti dulu, Irene mengirim pesan kepada papi cuma papi baru buka.” Ucap Gilang.


“Hmm,, baiklah kalau begitu papi cepet masuk di luar dingin.” Ucap queen yang langsung berjalan masuk ke dalam rumahnya.


Sedangkan Gilang yang sudah membuka pintu pesan di hpnya langsung terkejut dan menjatuhkan hpnya hingga membuat Aleena dan Queen yang masih belum menaiki tangga mendengar suara hp papinya yang terjatuh.


“Kak, papi!” ucap Queen yang langsug berlari keluar untuk melihat sang papi.


“Papi! Ada apa?” tanya Aleena sambil memeriksa tubuh Gilang.


Queen yang melihat papinya hanya diam sambil melihat hpnya yang terjatuh segera mengambilnya dan melihat apa yang membuat sang papi terkejut seperti itu.


“Oh my god! Kakak, liat ini!” ucap Queen sambil menunjukkan layar hp Gilang yang berisi rekaman Nancy di bully oleh teman-temannya.


“Nancy! Ga, ga mungkin ini pasti udah rencana mereka pi, papi tau kalo Nancy anak yang kuat dia ga mungkin diem aja di gituin.” Ucap Aleena mencoba untuk menenangkan sang papi.


Gilang yang tidak mengatakan apapun hanya bisa memegangi kepalanya yang terasa pusing dan tiba-tiba Gilang kehilangan keseimbangannya hingga membuat Aleena dan Queen segera memegangi tubuh sang papi.


“Papi!” teriak Aleena dan Queen secara bersamaan.


Aleena dan Queen segera meminta tolong kepada satpam rumahnya dan juga supir pribadi mereka untuk menggendong Gilang dan membawanya ke kamarnya.


“Yaampun kak, udah tau papi darah tinggi kenapa kak Iren kirim video itu sih?” tanya Queen kepada Aleena.


“Aku juga ga tau, kak Iren ga mungkin asal kirim tanpa mikir kesehatan papi, tapi aku lebih khawatir sama Nancy.” Ucap Aleena.


Queen hanya diam mendengar ucapan Aleena, Queen segera menarik tangan kakaknya untuk masuk ke dalam melihat keadaan papinya.


“Sekarang jangan mikirin itu dulu kak, kita harus membuat papi tenang dulu baru ngoong masalah itu lagi.” Ucap Queen.


“Iya kamu benar Queen, saat ini kita harus memprioritaskan papi karena sudah ada kak Iren di samping Nancy.” Ucap Aleena mengiyakan ucapan Queen.


Akhirnya keduanya segera menyusul sang papi yang sudah berada di kamarnya.


“Terimakasih karena sudah membantu menggendong papi pak.” Ucap Aleena kepada kedua orang yang setia menemani papinya sejak dulu.


Aleena melihat Gilang yang masih memejamkan kedua matanya dengan tatapan sendu, selama ini Irene selalu menjaga kesehatan papinya, Irene selalu menyuruh adik-adiknya menceritakan semua masalah mereka kepada Irene karena dia tidak ingin membuat papinya drop seperti saat ini.


“Kenapa kak Iren tumben banget sih ngomong ke papi, apa lagi ini masalah berat banget.” Gumam Aleena yang masih berdiri sambil menatap papinya yang lemah.