MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 43 (KEBAHAGIAAN IRENE)



Hai semuanya kakak-kakak tersayang yang selalu setia menunggu novel author update walaupun lama sekali huhuhu...


Pertama author mau mengucapkan minal Aidzin Wal Faidzin mohon maaf lahir dan batin semuanya🙏


Alhamdulillah di bulan ramadhan tahun ini author banjir orderan, jadi author cuma bisa nyuri-nyuri waktu buat ngetik bab baru huhuhu🥺


Terimakasih karena sudah mau mengerti, dan maaf untuk yang merasa ga sabar karena updatenya kelamaan...


Author akan berusaha semaksimal mungkin update di waktu senggang 💪🏻


I Love You All, saranghae đź’™


Selamat lebaran semuanya, semoga puasa tahun ini menjadi berkah buat semuanya... Aamiin🤲🏻


***


Irene terus saja memperhatikan Daniyal yang sedang berbicara dengan Abizar di kejauhan, Irene seketika tersadar kalau Daniyal sedang sakit dan harusnya dia masih beristirahat di rumahnya.


Irene memiliki rasa empati kepada bodyguardnya itu dan ingin menghampirinya untuk menyuruhnya beristirahat, namun saat Irene baru saja melangkah beberapa langkah, dia di kagetkan dengan suara Aleena yang mengatakan


kalau rekan bisnis mereka sudah datang.


“Kakak!! Ayo kita siap-siap, tamunya udah dateng..” teriak Aleena.


“Iya iya aku tau ga usah teriak-teriak bisa ga sih?!” ketus Irene yang akhirnya berbalik arah dan berjalan ke arah pintu masuk untuk menyambut para rekan bisnisnya.


Irene berdiri dengan berwibawa sambil tersenyum dengan cantik menyambut para rekan bisnisnya, sedangkan Aleena berdiri di sebelah kakaknya dengan anggun.


Tidak lama kemudian, seorang laki-laki yang sudah separuh baya namun masih terlihat gagah dengan stelan jasnya.


“Selamat datang tuan Barron, terimakasih karena sudah bersedia meluangkan waktunya dan bersedia untuk mengubah tempat pertemuan.” Ucap Irene dengan sopan.


“Tidak masalah nona Irene, aku rasa kita perlu sesekali mengubah suasana rapat.” Ucap Barron.


“Silahkan tuan..” Irene mempersilahkan rekan bisnisnya masuk ke dalam café.


Barron dan asisten pribadinya segera masuk dan duduk di meja yang sudah sangat rapih karena adanya campur


tangan Irene.


“Maaf karena sudah meminta perpindahan tempat secara mendadak.” Ucap Irene.


“Jangan meminta maaf seperti itu nona Irene, sepertinya ini bukan ide yang buruk untuk pindah ke tempat seperti ini.” Balas Barron.


“Benarkah?” tanya Irene.


“Iya, aku sangat menyukainya, tempatnya sejuk dan indah di pandang membuat pikiran kembali segar.” Jawab


Barron.


Akhirnya rapat pun di mulai, Irene menjelaskan keunggulan modelnya untuk barang-barang produksi perusahaan


Barron dengan sangat baik, Irene mengunggulkan modelnya sehingga terasa sangat cocok dengan produk Barron.


“Bagus! Aku sangat menyukai mereka semua dan aku juga sangat menyukai caramu menjelaskan para modelmu.”


Puji Barron.


“Terimakasih tuan Barron.” Ucap Irene.


Akhirnya Irene dan Barron menandatangani kontrak kerja sama selama 2 tahun kedepan, lalu mereka berdua berjabat tangan sebagai tanda kesepakatan keduanya.


“Baiklah, karena kita sudah memiliki perjanjian kerja sama, bolehkah aku bertanya padamu nona Irene?” tanya


Barron.


“Tentu saja tuan Barron, apa yang ingin anda tanyakan?” tanya Irene.


“Apa kamu sudah memiliki kekasih? Atau calon suami?” tanya Barron.


Mendengar pertanyaan Barron membuat Irene terkejut dan bingung mau bicara apa.


“Kenapa tuan Barron tiba-tiba bertanya seperti itu?” tanya Irene.


“Sebenarnya aku sangat menyukaimu, dan anak bungsuku masih belum memiliki kekasih, aku ingin menjodohkan kamu dan anak bungsuku.” Jelas Barron.


Irene hanya tersenyum mendengar penjelasan Barron, sedangkan Daniyal yang mendengarnya hanya bisa mengepalkan kedua tangannya namun tetap menjaga mimik wajahnya agar tetap biasa saja.


Sebenarnya Daniyal tidak suka jika ada laki-laki lain yang mau mendekati Irene karena dia merasa kalau Irene adalah wanita incarannya yang akan dia dapatkan dan dia jatuhkan begitu saja.


“Apa saya tidak salah dengar tuan Barron?” tanya Irene sambil menahan senyum sopannya.


“Tentu saja kamu tidak salah dengar! Emang siapa yang bisa menolak menantu perempuan sepertimu? Kamu adalah anak orang terkenal, berpendidikan, pekerja keras, dan sopan, itu adalah point yang sangat penting karena walaupun kamu bergelimangan harta dan kekuasaan, kamu tidak pernah sombong atau bersikap angkuh.” Jelas Barron.


“Tapi aku hanya menginginkan menantu perempuan sepertimu, semoga kapan-kapan kalian berdua bisa bertemu.”


Ucap Barron.


Irene hanya tersenyum tanpa menjawab ucapan Barron, karena Irene juga bingung harusbereaksi seperti apa.


“Kalau begitu aku pamit untuk kembali ke perusahaan, seminggu lagi aku akan menghubungimu untuk membicarakan pertemuanmu dengan anakku.” Pamit Barron.


“Akan saya usahakan tuan..” balas Irene berbohong.


Karena Irene juga tidak akan pernah tau bagaimana jadwalnya beberapa hari kedepan, Irene juga tidak bisa dengan mudah membuka hati untuk orang yang sama sekali tidak dia kenal.


Setelah melihat mobil rekannya sudah tidak terlihat lagi, Irene mengajak semua orang untuk berkumpul dan


membicarakan rencana kencan butanya yang tidak pernah habis.


“Haah, aku lelah sekali..”ucap Irene sambil merentangkan kedua tangannya.


“Capek ya kak? Maaf ya aku ga bisa temenin kakak soalnya aku masih ada jadwal pemotretan.” Ucap Aleena.


“Hm, tidak masalah kok silahkan saja pergilah dan berhati-hatilah.” Ucap Irene.


Aleena tiba-tiba saja memeluk tubuh kakaknya itu dengan erat membuat Irene terkejut dan merasa aneh.


“Kamu meluk aku pasti ada sesuatu kan? Ada apa?” tanya Irene to the point.


“Dih apaan sih kak, orang adeknya mau meluk malah di curigain!” ketus Aleena.


“Terus kenapa kamu memelukku?” tanya Irene.


“Karena aku ingin memberikan dukungan untuk kakakku, aku ingin berterimakasih karena sudah menjadi kakak


yang baik untukku dan adik-adik yang lain.” Ucap Aleena.


“Aku berharap kak Iren akan mendapatkan laki-laki yang sangat mencintai kak Iren dan bisa memberikan kebahagiaan untuk kakak.” Lanjutnya.


“Kebahagiaan kalian adalah kebahagiaanku, jadi bahagialah agar aku bisa tenang dan berbahagia.” Ucap Irene


sambil tersenyum ke arah adiknya.


“Cih! Kakak selau saja seperti itu!” ketus Aleena yang langsung pergi meninggalkan Irene.


Irene hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat adiknya yang sudah berjalan keluar dari café dan


masuk ke dalam mobilnya.


“Kak Iren, aku pamit mengantar Aleena dulu.” Pamit Abizar yang sudah berada di sebelah Irene.


“Ah Abizar, baiklah aku titip adikku, jaga dia baik-baik jangan sampai dia tergores sedikitpun!” ucap Irene.


“Baiklah kak.” Ucap Abizar yang langsung berjalan menuju mobil.


Sedangkan Irene hanya melihat mobil yang di gunakan adiknya pergi sampai tidak terlihat lagi, setelah itu dia kembali untuk merapihkan berkas-berkasnya yang masih ada di meja.


“Jadi, kamu adalah menantu idaman?” tanya Daniyal yang tiba-tiba berada tepat di sebelah Irene.


“Apaan sih! Aku lagi ga mikirin masalah pernikahan tau.” Ucap Irene.


“Ga mikirin pernikahan tapi pergi ke kencan buta besok?” goda Daniyal.


“Kenapa? Aku ga memikirkan pernikahan bukan berarti tidak berkencan bukan? Aku pasti akan menikah suatu saat


nanti.” Ucap Irene yang langsung berjalan meninggalkan Daniyal begitu saja.


Daniyal hanya bisa diam sambil berjalan mengikuti Irene yang sudah berada jauh di depannya.


Irene duduk di kursi belakang sambil memainkan hpnya sedangkan Daniyal menyetir di depan. Irene terus saja


memperhatikan Daniyal, ingin rasanya bertanya tentang keadaannya namun dia terlalu gengsi untuk melakukan hal itu.


Sedangkan Daniyal dari tadi juga menoleh ke kaca spion dan melihat Irene yang dari tadi memperhatikannya.


“Iya tau aku ganteng, ga usah sampe gitu ngeiatin aku.” Ucap Daniyal tiba-tiba.


Irene yang mendengar ucapan Daniyal langsung terkejut dan memalingkan wajahnya dengan cepat karena merasa malu sudah ketahuan.


“Bodoh banget Iren! Bisa-bisanya ketahuan lagi liatin bodyguard sendiri!” gumam Irene mengutuk kecerobohannya


sendiri.