
Irene yang sudah berada di dalam mobil hanya menatap ke luar jendela sambil tersenyum hingga tanpa sadar kalau sejak tadi Elif memperhatikannya dan sudah mengajaknya bicara namun Irene tidak menggubrisnya sama sekali.
“Kak Iren! Kakak!” teriak Elif yang membuat Irene tersadar.
“Eh, apa sih Lif jangan teriak-teriak dong sakit tau kuping aku!” ucap Irene.
“Lagian kak Irene dari tadi di panggilin malah diem aja, senyum-senyum sendiri lagi, lagi kasmaran ya?” tanya Elif.
“Apa?! Ih engga lah apaan sih!” ketus Irene.
“Lagian kak Iren kenapa nyuruh aku jemput di perusahaan itu? Itu perusahaannya siapa?” tanya Elif.
“Itu, itu perusahaan Daniyal.” Ucap Irene.
“Siapa? Daniyal? Daniyal siapa kak? Aku taunya kak Dani bodyguard kakak.” Ucap Elif.
“Iya, dia Daniyal, nama panjangnya Daniyal.” Ucap Irene.
“Hah? Maksudnya bodyguard kak Iren punya perusahaan sebesar itu? Bahkan perusahaannya lebih besar dari perusahaan kakak!” ucap Elif yang terkejut dengan ucapan Irene.
“Iya aku juga tau, aku merasa tertipu, tapi aku masih bisa mengerti tentang alasannya melakukan hal itu.” Ucap Irene.
“Terus kak Iren ngapain di sana?” tanya Elif.
“Aku dan dia akan menikah.”
“What!? Seriusan kak? Kakak mau menikah? Sama dia? Jadi cinta datang saat sering bersama itu beneran ya?” tanya Ellif.
“Iya aku mau menikah, tapi kamu jangan bilang sama siapapun karena kami akan mengadakan pernikahan yang sederhana.” Jelas Irene.
“Pernikahan yang sederhana? Kenapa kak? Kalian berdua sama-sama pengusaha sukses, jadi untuk apa menikah dengan sederhana?” tanya Elif.
“Karena dia memiliki banyak musuh dan dia tidak ingin musuhnya melukaiku.” Jawab Irene.
“Wah ciye… So sweet banget sih kak Dani..” ucap Elif yang membuat Irene menggelengkan kepala melihat tingkah Elif.
“Bagaimana jadwal Aleena? Kamu ga ninggalin Aleena gara-gara aku telfon kan?” tanya Irene.
“Engga kak, kak Aleena sudah menyelesaikan fotonya dengan sempurna dan aku menjemputmu setelah aku mengantarnya pulang.” Jelas Elif.
“Baguslah kalau begitu, bagaimana dengan Aleena hari ini? Baik-baik saja bukan?” tanya Irene.
“Sangat baik, kak Iren sendiri tau kan kalau kak Aleena tidak perlu melakukan pemotretan berkali-kali karena dia sangat smpurna.” Ucap Elif.
Keduanya berbincang terus menerus sampai tibalah mereka di perusahaan Irene, dan Irene segera keluar dari mobilnya.
Di dalam ruangan Irene, Aleena sudah menunggu kedatangan kakaknya karena dia sudah mendengar cerita tentang
“Kakak!” teriak Aleena saat melihat pintu ruangan kakaknya terbuka.
“Yaampun Aleena! Kamu mau buat kakak jantungan ya?!” ketus Irene.
“Kak, kamu..” ucapan Aleena terhenti saat dirinya melihat Elif yang ikut masuk ke dalam ruangan.
“Bicaralah tidak apa-apa, Elif sudah mengetahui semuanya.” Ucap Irene sambil duduk di kursi kejayaannya.
“Kakak serius mau menikah dengan kak Dani? Kak Dani benar-benar memiliki perusahaan? Dia CEO kak? Kata papi juga perusahaannya lebih besar dari pada perusahaan milikmu dan kak Tommy, beneran kak?” tanya Aleena dengan penuh ketidak sabaran.
“Kenapa kamu ini bawel sekali! Kalau papi bilang seperti itu maka seperti itulah adanya jadi ga perlu bertanya padaku lagi… Oh iya, di mana Abizar? Kenapa dia tidak ada di sisimu?” tanya Irene sambil mencari keberadaan Abizar.
“Kak Abizar memang aku suruh menunggu di ruanganku, kakak jangan mengalihkan pembicaraan deh, kakak beneran mau nikah sama kak Dani? Emang kalian saling menyukai?” tanya Aleena.
“Cinta akan datang seiring berjalannya waktu Aleena, toh selama ini kakak nyaman sama kak Dani jadi sepertinya tidak aka nada masalah bukan?” ucap Irene dengan santai.
“Kak, tapi kakak berjanji akan menikah sekali seumur hidup, kakak jangan asal milih kalo belum yakin.” Ucap Aleena.
“Aku tau, emang siapa yang mau bercerai? Aku menikah saja belum masa mau mikir perceraian? Aleena, kamu juga nyaman berada di sebelah Abizar bukan?” ucap Irene yang membuat Aleena terkejut.
Elif akan melaporkannya kepada sang papi.
“Tenang saja kak, aku juga punya mata dan tanpa di beritahu aku tau kalau gerak-gerik kalian berdua ada sesuatu
yang istimewa.” Ucap Elif yang sudah mengerti kekhawatiran Aleena.
“Elif adalah tangan kananku, dia juga adalah tangan kananmu, jangan terlalu khawatir tentang dia karena dia tidak pernah sama sekali memberitahu masalah kita kepada papi.” Jelas Irene.
“Maaf Elif, bukannya aku tidak percaya, hanya saja aku merasa kalau hubunganku dan kak Abizar benar-benar tidak di untungkan jika papi mengtahuinya.” Ucap Aleena.
“Ga apa-apa kak, aku mengerti kok, apalagi kalau sampai penggemar kak Aleena mengetahuinya mungkin mereka akan murka.” Ucap Elif yang di balas anggukan oleh Aleena.
“Iya itu adalah salah satu alasan terbsar aku menyembunyikan hubunganku.” Ucap Aleena.
“Bagaimana pemotretanmu?” tanya Irene.
“Begitulah, tidak ada yang spesial, aku hanya mengikuti arahan photographer dan selesai.” Ucap Aleena.
“Apa kamu mulai bosan melakukan pemotretan? Apa kamu ingin aku carikan beberapa film?” tanya Irene.
“Duh kak, pemotretanku masih banyak yang menumpuk jadi jangan mencari masalah baru!” ketus Aleena.
“Tapi kak, kenapa kita jadi bahas pekerjaanku? Aku di sini ingin membahas tentang pernikahanmu! Apa kamu hamil
duluan kak?” tanya Aleena yang membuat Irene dan Elif terkejut.
“Apa!? Gila kamu Leen! Bisa di gantung hidup-hidup sama papi kalo sampe aku hamil duluan!” ucap Irene dengan
kesal.
“Hehe maaf kak, habisnya kakak biasanya selalu banyak pertimbangan kalau memilih sesuatu, apa lagi ini kakak
sedang memilih pasangan hidup.. Jangan-jangan kakak emang udah suka sama kak Dani ya?” tanya Aleena.
“Ya, aku sudah menyukainya, puas kan kamu? Sekarang kamu cepat keluar.” Ucap Irene.
“Apa aku boleh ikut campur tangan mengadakan pertunangan dan pernikahanmu kak?” tanya Aleena dengan antusias.
“Terserah kamu saja, pokoknya aku ingin kamu kluar sekarang karena masih ada pekerjaan yang harus aku lakukan!” ucap Irene dengan tegas.
Mendengar nada suara kakaknya yang sudah berubah membuat Aleena diam dan segera keluar dari ruangan kakaknya.
Aleena senang karena akhirnya sang kakak bisa menikah dengan orang yang dia sukai walaupun dia baru saja menyukai Daniyal tapi perasaannya akan semakin tumbuh.
“Semoga kak Daniyal juga memiliki perasaan yang sama dengan kak Iren dan dia akan membuat kakak bahagia.” Gumam Aleena yang langsung masuk ke dalam ruangannya.
Di dalam ruangan, Aleena tersenyum melihat Abizar yang sedang duduk di sofa sambil tertidur seperti orang yang
sangat kelelahan.
“Aku harap kita juga akan segera mendapat restu dari papi.” Gumam Aleena yang masih menatap Abizar.
Setelah beberapa menit menatap wajah kekasihnya, Aleena tersadar saat melihat Abizar membuka kedua matanya dan melihat ke arahnya.
“Hai..” sapa Aleena dengan lembut sambil berjalan menghampiri Abizar.
“Hai Aleena, kenapa kamu ga bangunin aku kalo tau aku tidur?” tanya Abizar.
“Engga, kamu keliatan capek banget jadi aku biarin kamu tidur sampe bangun sendiri.” Jelas Aleena yang sekarang
sudah duduk di sebelah Abizar.
Abizar merangkul Aleena dan mencium pucuk rambutnya dengan lembut hingga membuat Aleena merasa sangat di
sayangi olehnya.