MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 39 (PENJELASAN)



Di dalam kamar Nancy masih di penuhi dengan hawa dingin dan rasa canggung setelah ucapan Gilang.


“Udah ya pi, lain kali Iren akan ceritakan semua yang adik-adik lakukan, sekarang papi berangkat kerja dulu ya.” Ucap Irene mencoba untuk menenangkan papinya.


“Engga! Papi mau sekarang kamu ikut papi ke ruang kerja papi dan ceritakan semuanya kejadian apa yang terjadi selama ini kepada adik-adikmu dan juga dirimu!” tegas Gilang yang langsung berjalan keluar dari kamar Nancy.


Di sisi lain, Abizar yang sudah berdiri di depan kamar Nancy mengetahui apa yang terjadi, dia segera menghubungi kakaknya untuk masuk kerja hari itu karena menurutnya ini adalah kesempatan yang bagus untuk mendekati


Irene.


Setelah Gilang keluar dari kamar Nancy, Irene melihat satu per satu wajah adiknya yang terlihat khawatir, entah apa mereka mengkhawatirkan dirinya atau khawatir jika semua yang mereka alami akan di ketahui sang papi.


“Kak, kakak baik-baik aja? Apa perlu kita yang cerita sendiri ke papi tentang semua masalah kita?” tanya Ratu sambil menggenggam tangan kakaknya.


“Engga Ratu, ini adalah tanggung jawab kakak untuk memberitahu papi semuanya, kalian siapkan mental saja untuk mendengarkan semua ceramah papi.” Ucap Irene sambil tersenyum ke arah adik-adiknya.


Irene segera keluar dari kamar Nancy dan berjalan mengikuti papinya ke ruangan kerjanya yang selama ini hanya dia masuki jika ada pekerjaan atau hal yang penting saja.


Sedangkan di dalam kamar, semuanya hanya bisa diam sambil merenungkan semua masalah yang mereka perbuat dan mereka dapatkan.


Selama ini Irene selalu mengurusnya untuk mereka lalu Irene hanya menasehati mereka saja, setelah itu mereka pasti mengulangi hal itu kembali, mereka tidak pernah membayangkan kalau papi mereka mengetahui semuanya.


Nancy yang takut jika papinya mengetahui semua pergaulan malamnya, Aleena yang takut jika papinya mengetahui tentang hubungannya dengan Abizar, Ratu takut kalau papinya mengetahui tentang orang-orang yang tidak menyukainya dan selalu menghinanya, sedangkan Queen adalah orang yang paling santai di bandingkan yang lain karena dia tidak merasa memiliki masalah yang akan membuat papinya marah.


Di dalam ruang kerja Gilang, Irene berdiri di depan meja berhadapan dengan Gilang yang sedang duduk di kursi kejayaannya.


“Papi…” ucap Irene dengan gugup.


“Kenapa kamu gugup begitu? Apa kamu melakukan kesalahan?!” tanya Gilang.


“Engga kok pi..” jawab Irene.


“Terus kenapa kamu gugup?” tanya Gilang.


“Karena aku takut kalau darah papi naik saat aku ceritakan semuanya.” Jawab Irene.


“Apa adik-adikmu sangat sulit di atur?” tanya Gilang.


“Mereka masih muda pi, mereka pasti punya masalah di masa mudanya bukan? Aku dan Aleena juga begitu dulu.” Ucap Irene.


“Jadi? Ceritakan semuanya satu per satu di mulai dari dirimu.” Ucap Gilang.


“Hah? Iren? Apa yang mau Iren certakan pi, Iren baik-baik saja selama ini.” Ucap Irene.


“Baiklah, kita mulai dari Aleena saja.” Ucap Gilang.


“Aleena? Aleena tidak memiliki masalah apapun saat ini pi,dia sdah bisa berpikir dewasa sekarang..Tapi, sepertinya dia dan Abizar saling menyukai pi..” ucap Irene dengan ragu.


“Apa!? Aleena menyukai bodyguardnya sendiri?” tanya Gilang tidak percaya.


“Belum pasti papi, Irene hanya melihat gerak-gerik mereka yang sepertinya sedikit mencurigakan.” Ucap Irene.


“Apa selama ini Aleena tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun? Apa harus menyukai bodyguardnya sendiri?” tanya Gilang.


“Kenapa papi ngomong kayak gitu? Bukannya papi bilang sama kita kalo papi ga pernah menuntut kita menyukai seiapapun?” tanya Irene.


“Tapi pi, Aleena ga pernah menyukai seseorang selama ini, apa papi tega menghancurkan hubungan anak papi?” tanya Irene.


“Papi sudah memiliki calon untuk kalian semua dan akan ada waktunya untuk kalian semua bertemu dengan calon kalian masing-masing.” Jelas Gilang.


“Papi…” ucap Irene.


“Jangan membela adikmu Iren! Papi hanya mau yang terbaik untuk kalian, kalian hanya terbiasa dengan bodyguard kalian makanya kalian merasa nyaman.” Ucap Gilang.


Irene hanya bisa menghela nafas panjang tanpa mengatakan apapun, karena menurutnya papinya tidak akan mau mengalah masalah hal ini.


“Lanjutkan, bagaimana dengan Nancy? Apa dia selalu seperti ini?” tanya Gilang.


“Nancy memang sering bermain sampai malam, tapi aku selalu memantau gerak-geriknya, hanya saja hari ini Irene membiarkannya karena dia sedang stress.” Jelas Irene.


“Kalau seperti itu, kenapa kamu sampai marah kepadanya?” tanya Gilang.


“Karena dia tidak mengangkat telfonku pi, dan ternyata hpnya ketinggalan di club.” Jawab Irene.


“Lain kali ubah sikapnya, jangan terlalu membebeaskannya! Tidak ada mahasiswa hukum yang pergi ke club malam, pengacara dan hakim seperti apa kalau dia terus pergi ke tempat seperti itu.” Ucap Gilang.


“Baik pi..” jawab Irene.


“Lalu bagaimana dengan si kembar?” tanya Gilang kembali.


“Ratu,, dia tidak di sukai beberapa wanita yang ada di sana, papi tau sendiri kalau Ratu anak yang pendiam dan tidak suka bergaul, jadi banyak orang yang tidak menyukainya.” Jelas Irene.


“Apa pernah sampai melukainya?” tanya Gilang.


“Selama ini tidak pernah pi.”


Baiklah kalau begitu, sebentar lagi dia akan kuliah jadi pastikan kalau Ratu bisa berubah dalam waktu dekat ini, sering-seringlah ajak dia berbicara agar dia tidak menutup dirinya.” Ucap Gilang.


“Baik papi..”


“Lalu Queen?”


“Queen sangat baik-baik saja, dia di sukai banyak orang karena sikapnya yang mudah bergaul dan selalu aktif dalam kegiatan apapun.” Jelas Irene.


“Apa mereka tidak saling membantu?” tanya Gilang.


“Ratu yang tidak pernah mau di bantu Queen pi, entahlah tapi Ratu benar-benar menutup dirinya.”


Gilang hanya menganggukkan kepala mendengar penjelasan dari anak pertamanya, dia sudah mengerti tentang masalah anak-anaknya dan mulai saat ini dia akan ikut turun tangan mengatasi semua masalah anak-anaknya.


“Lalu bagaimana denganmu? Kapan kamu akan menikah? Lusa kamu akan bertemu dengan laki-laki pilihan papi, kalau kamu tidak menyukainya maka papi akan mencarikan laki-laki lain.” Ucap Gilang.


“Apaan sih pi, mending papi nikahin Aleena sama Abizar aja, inget kalo papi tidak pernah memandang orang dari pekerjaan atau statusnya.” Jelas Irene yang langsung keluar dari ruang kerja papinya.


Mendengar ucapan Irene membuat Gilang terpaku dan memikirkan semuanya, dia memang tidak melihat status seseorang, tapi dia mengutus bodyguard untuk menjaga bukan menjadi pasangan anak-anaknya.


Gilang hanya diam melihat anak sulungnya berjalan meninggalkan ruangannya, dia tau kalau Irene samngat menyayangi adik-adiknya dan dia ingin kalau adik-adiknya memilih jalannya masing-masing.


“Hah, kenapa begini? Bagaimana bisa Irene dengan santai mengatasi semua masalah adik-adiknya? Lihat kan sayang? Apa kamu selalu membantu anak sulung kita di atas sana, sampai dia memiliki kesabaran dan kedewasaan yang luar biasa?” gumam Gilang sambil menatap bingkai foto yang berisi foto mendiang istrinya.