
Saat semua orang sedang sibuk duduk di meja makan dan mengambil makanan masing-masing, Abizar yang berada di sebelah Aleena langsung berbisik tepat di telinganya.
“Kenapa kakakmu ga mau makan?” tanya Abizar yang membuat Aleena merinding karena nafas Abizar yang sepertinya masuk ke telinganya.
“Yaampun aku kaget tau,, kakak itu bersihan banget kalo soal meja makan, dia jarang mau di ajak makan bersama orang yang tidak dia kenal atau baru dia kenal.” Jelas Aleena.
“Ah begitu,, semacam OCD?” tanya Abizar.
“Ya begitulah, bahkan pelayan di rumah ini ga ada yang berani ngatur meja makan, cuma kak Iren yang boleh ngatur meja makan.” Balas Aleena.
“Terus sekarang bukannya kamu yang ngatur meja makan? Kok dia biasa aja?” tanya Abizar kembali.
“Dia biasa aja, tapi dia ga mau makan di sini kan? Ya begitulah..” ucap Aleena.
Abizar hanya menganggukkan kepala mendengar ucapan Aleena, lalu segera bergabung dengan yang lainnya di meja makan.
Semenjak kejadian romantis yang terjadi di antara Aleena dan Abizar saat berada di ruangan Irene, keduanya menjadi semakin dekat satu sama lain dan hal itu tercium oleh Queen yang selama ini selalu memantau semua
kakaknya dan juga saudaranya.
“Sepertinya ada yang mencurigakan di antara mereka, tapi apa ya?” gumam Queen sambil melihat ke arah Aleena dan Abizar.
Aleena yang tidak sengaja bertatapan dengan Queen hanya bisa menelan salvilanya dan duduk di hadapan Queen.
“Kenapa melihatku seperti itu?” tanya Aleena.
“Apa kamu sedang kencan romantis dengan bodyguarmu sendiri?” tanya Queen dengan nada yang tinggi hingga membuat semua orang yang ada di meja makan mendengarnya dan menoleh ke arahnya secara bersamaan.
“Uhukk,, uhukk..” Aleena tersedak mendengar pertanyaan dari adiknya itu begitu juga dengan Abizar yang duduk di sebelah Aleena.
“Apa yang kamu katakan barusan? Apa kamu sudah gila Queen?” ucap Aleena.
“Kenapa? Apa aku salah? Kalian berdua seperti pasangan yang sedang bersembunyi di dalam hubungan bodyguard dan nona mudanya.” Ucap Queen.
“Hey sudahlah Queen, kamu selalu saja mencurigai semua orang!” ketus Nancy yang melihat ketidaknyamanan di wajah kakaknya.
“Tau sih Queen, kalo emang kak Aleena dan kak Abizar ada sesuatu emangnya kenapa? Toh papi juga ga pernah melarang kita pacaran sama siapapun.” Ucap Ratu.
Queen hanya menganggukkan kepala mendengar ucapan saudara kembarnya itu lalu segera kembali menyantap makanannya.
Sedangkan Aleena dan Abizar hanya bisa saling menatap satu sama lain lalu kembali menyantap makanannya seolah tidak ada yang terjadi.
***
“Terimakasih atas tumpangannya om, hati-hati di jalan.” Ucap Daniyal yang sudah menutup pintu mobil dengan rapat.
“Hm, jalanlah Dani jangan menungguku pergi.” Ucap Gilang.
Daniyal hanya menganggukkan kepala dan berpura-pura berjalan masuk ke dalam gang kecil itu, setelah beberapa menit berjalan Daniyal kembali untuk melihat apakan Gilang sudah pergi atau belum.
Setelah memastikan mobil Gilang sudah tidak terlihat lagi, Daniyal segera menghubungi asisten pribadinya untuk menjemput dirinya di sana.
“Halo Tiko, jemput aku.” Ucap Daniyal.
“Jemput? Di rumah sakit tuan? Apa anda sudah keluar dari rumah sakit?” tanya Tiko dari sebrang telfon.
“Aku sudah keluar dari rumah sakit, dan kamu tidak perlu menjemputku di rumah sakit lagi.” Ucap Daniyal.
“Lalu, aku harus menjemput anda di mana tuan?” tanya Tiko.
“Aku di,,, ah aku akan mengirim lokasiku di lewat aplikasi.” Ucap Daniyal yang langsung mematikan telfonnya.
Setelah mengirimkan lokasinya kepada asisten pribadinya, Daniyal duduk di bangku kayu yang berada di pinggir gang dengan santainya.
Daniyal merasa dirinya bisa saja langsung membunuh atau menculik anak-anak Gilang, tapi entah kenapa papinya sangat ingin membalas dengan cara yang ribet seperti ini.
Tidak lama menunggu, mobil sport yang biasa di gunakan oleh Daniyal berhenti tepat di depannya, seseorang keluar dari mobil dan menghampiri Daniyal.
“Tuan, bagaimana bisa anda berada di sini?” tanya Tiko yang melihat sekeliling tempat yang kecil itu.
“Ga usah banyak tanya, pokoknya ya begitulah ceritanya sangat panjang… Ayo kita pulang aku lelah sekali.” Ucap Daniyal yang langsung masuk ke dalam mobil.
Tiko hanya menatap atasannya itu dengan rasa penasaran, dan segera masuk ke dalam mobil lalu menyetir mobil atasannya dengan kecepatan sedang.
Tiko yang masih penasaran sesekali melihat ke arah Daniyal yang menaruh lengannya di keningnya lalu kembali fokus menyetir mobil.
“Aku tau kamu memiliki banyak sekali pertanyaan untukku, kenapa? Ada apa?” tanya Daniyal yang langsung menyingkirkan tangannya dan membuka kedua matanya.
“Sebenarnya kenapa tuan berada di tempat seperti ini?” tanya Tiko.
“Ceritanya panjang, intinya semua ini perintah papi padahal aku bisa membuatnya bertekuk lutut dengan caraku sendiri.” Ucap Daniyal.
“Apa aku boleh bertanya kepadamu? Tapi jangan menertawakan aku!” ucap Daniyal kepada Tiko.
“Silahkan tuan..” ucap Tiko.
“Bagaimana cara membuat wanita menyukai kita?” tanya Daniyal.
“Ppfftt..” Tiko mau tertawa namun seketika merapatkan bibirnya saat mengingat kalau Daniyal tidak mengijinkannya untuk tertawa.
“Maaf tuan..” sambung Tiko.
“Haah,, tidak apa.. Bagaimana lagi, aku saja tertawa kalo mikir masalah ini.” Ucap Daniyal.
“Jika tuan ingin membuat seorang wanita menyukai anda, anda harus tau gimana karakter wanita tersebut.” Ucap Tiko.
“Dia angkuh, jutek, dingin, aku juga ga tau gimana cara menghadapi sikapnya itu.” Ucap Daniyal.
“Kalau begitu anda harus menjadi pahlawan untuk wanita itu.” Ucap Tiko.
“Pahlawan? Aku sudah menjadi pahlawannya sampai harus masuk ke rumah sakit.” Ucap Daniyal.
“Hmm,, kalo gitu anda harus mencoba untuk mengejarnya dengan sabar, dan lembut.. Dia harus merasa kalo anda adalah laki-laki yang bisa menerimanya dengan apa adanya.” Jelas Tiko.
“Maksudnya aku harus sabar dengan semua sikap jutek dan dinginnya?” tanya Daniyal yang di balas anggukan oleh Tiko.
“Haah,, entahlah aku bisa apa engga.. Tiap hari aku geregetan sendiri menghadapi sikapnya dan ingin memakannya hidup-hidup.” Ucap Daniyal.
“Sudahlah jangan di bahas lagi! Bagaimana perusahaan? Aku sudah lama tidak mengetahui kabar perusahaan karena kamu dan papi menutupinya.” Lanjut Daniyal.
“Masih tetap begitu tuan, semuanya baik-baik saja dan tidak ada masalah yang perlu campur tangan anda.” Jelas Tiko.
“Ada yang harus kamu lakukan untukku.” Ucap Daniyal.
“Hm, ada apa tuan?” tanya Tiko.
“Carikan informasi tentang Bian, aku ga tau siapa nama panjangnya tapi semua orang memanggilnya Bian.” Ucap Daniyal.
“Maaf tuan, tapi ada banyak sekali nama Bian di dunia ini… Apa pekerjaannya tuan?” tanya Tiko.
“Dia adalah asisten pribadi tuan Gilang, dan sepertinya dia sangat dekat dengan semua anak-anak tuan Gilang, aku ingin tau bagaimana mereka bisa sedekat itu seperti saudara sendiri.” Ucap Daniyal.
“Baiklah tuan, aku akan mencoba untuk mencari informasi orang itu sebanyak-banyaknya.” Ucap Tiko.
Mendengar ucapan asisten pribadinya membuat Daniyal menganggukkan kepala dan bisa kembali menyandarkan kepalanya.