MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 42 (BODOH)



Aleena terus menatap wajah kakaknya untuk meminta kepastian kakaknya tentang pertanyaannya barusan.


“Kakak,, jawablah pertanyaanku!” ucap Aleena dengan nada kesal karena tidak mendapatkan jawaban dari sang kakak.


“Diamlah Aleena, kita harus bersiap menyambut tamu penting kita…” ucap Irene.


“Kakak! Aku serius! Jawab dulu pertanyaanku!” ketus Aleena.


“Apa sih Leen, aku memang ada jadwal makan malam bersama anak teman papi besok, tapi kalau aku merasa tidak cocok aku tidak akan memilihnya kok..” ucap Irene.


“Kakak,, ini bukan masalah sepele! Kamu akan hidup bersama laki-laki yang akan menikah denganmu, kalian akan tidur di satu kamar dan satu tempat tidur, kalian akan berbagi cerita saat menjelang tidur, ini bukan hal yang mudah di pilih hanya karena perjodohan..” jelas Aleena.


“Pfftt,, kamu ini tau apa Aleena? Bahkan kamu baru merasakan menyukai seseorang sekali bukan? Jadi kamu dapet pengetahuan dari mana bisa ngomong kayak gitu?” ucap Irene yang menganggap adiknya itu lucu.


Irene terus berjalan meninggalkan Aleena yang masih berdiri di tempatnya dengan kepala yang masih penuh dengan pertanyaan untuk kakaknya.


“Kakak,, jangan pergi gitu aja dong.. Oke baiklah aku tidak akan membahas hal itu lagi.” Ucap Aleena sambil berjalan mengikuti kakaknya.


“Yaampun Aleen kamu kenapa ngikutin aku terus sih? Udah kayak buntut aja deh!” ketus Irene.


“Kak, aku masih punya pertanyaan nih… Kenapa kak Dani sudah masuk? Bukannya seharusnya dia masih istirahat di rumahnya ya?” tanya Aleena.


Mendengar tentang Daniyal membuat Irene seketika mengalihkan pandangannya ke arah Daniyal untuk mengecek keadaannya.


“Tapi sepertinya dia bak-baik saja selama datang ke perusahaan.” Ucap Irene.


“Namanya juga cowok kak, mereka pasti menahan rasa sakit mereka lah.. Apa lagi ini menyangkut pekerjaan.” Jelas Aleena.


Irene mengerutkan keningnya lalu menatap ke arah adiknya dengan tatapan penuh dengan pertanyaan. Sedangkan Aleena yang merasa kalau dirinya sedang di perhatikan segera melangkah mundur secara perlahan.


“Ehem,, K-kak.. Kenapa kakak menatapku seperti itu?” tanya Aleena dengan gugup.


“Apa kamu tau Leen? Sepertinya akhir-akhir ini kamu lebih sering bicara di bandingkan dengan sebelumnya..” ucap Irene.


“Apa Abizar membuatmu berubah sepesat ini Aleena? Bukankah kalian baru mengenal beberapa minggu saja?” tanya Irene kembali.


Seketika tubuh Aleena hanya bisa mematung dan tidak bisa melakukan apapun setelah mendengar ucapan kakaknya.


“Kenapa? Kenapa diem aja? Kamu pasti sedang berfikir kalau aku mengetahui semuanya bukan?” tanya Irene.


“Kamu tenang saja, selama ini aku masih sering memantau adik-adikku dengan teliti walaupun aku sedang sangat sibuk karena pekerjaan.” Jelas Irene.


“Tapi sekali-kali kakak harus memikirkan diri kakak sendiri sebelum mementingkan kebahagiaan yang lainnya.” Ucap Aleena.


“Udah ah diam! Kamu sebaiknya duduk bersama mereka karena aku tidak mau di ganggu sebelum mereka mau berkenalan denganmu.” Ucap Irene.


Aleena yang kesal hanya bisa menghela nafas panjang lalu berjalan dengan lemas menghampiri Daniyal dan Abizar yang berada sedikit jauh dari tempatnya berdiri.


“Kenapa kamu lemas begitu?” tanya Abizar saat melihat Aleena menghampiri meja mereka.


“Aku males aja sama kak Iren, dia tidak pernah mempercayaiku sedikitpun!” ketus Aleena.


“Maksudnya tidak percaya bagaimana?” tanya Abizar kembali.


“Yah mungkin karena usiamu yang masih muda makanya dia merasa kalau kamu belum bisa menangani sesuatu sendirian.” Jelas Abizar.


“Ah itu, kak Iren bilang kalo dia akan menikah dengan laki-laki yang sudah di jodohkan sama papi agar adik-adiknya bisa memilih laki-laki yang mereka sukai dan hidup bahagia.” Jelas Aleena.


“Maksudnya gimana? Kakak kamu mau berkorban untuk kalian? Mungkin dia hanya ingin memegang semua perusahaan milik papimu.” Sahut Daniyal mencoba untuk memancing Aleena.


“Apa? Tidak mungkin! Sebenarnya kak Iren itu punya cita-cita menjadi designer, tapi karena papi menyuruhnya untuk menjalankan perusahaannya sendiri akhirnya dia mencoba membangun perusahaannya yang saat ini sudah semakin maju.” Jelas Aleena.


“Papi bilang, salah satu anak-anaknya harus ada yang memiliki ilmu di bidang management dan bisa menghandle perusahaan dengan baik, tentu saja semuanya tidak menyukai hal itu karena mereka memiliki cita-citanya sendiri termasuk aku."


"Dan karena hal itu kak Irene beralih mempelajari tentang management dan perusahaan agar adik-adiknya bisa menggapai cita-cita mereka."


Aleena menjelaskan semua tentang kakaknya kepada Daniyal dan Abizar yang saat itu sedang mendengarkan dengan seksama.


"Jadi kakakmu mau di jodohkan dengan pilihan papi kalian?" tanya Abizar.


"Iya, dan sepertinya besok mereka akan bertemu dan makan malam untuk pertama kalinya." ucap Aleena.


"Ah iya, kak Dani bisakah aku meminta bantuanmu?" tanya Aleena.


"Ada apa?" tanya Daniyal.


"Kenapa kamu meminta bantuan kak Dani? Kenapa tidak meminta bantuanku?" sahut Abizar.


Aleena hanya menatap Abizar dengan kening yang di kerutkan, lalu kembali menoleh ke arah Daniyal.


"Aku mau minta bantuan untuk menjaga kakakku dengan baik, kak Dani harus menilai bagaimana orang yang sedang di jodohkan oleh kakakku, aku ga mau sampe kakakku di manfaatkan oleh laki-laki." jelas Aleena.


Mendengar ucapan 'di manfaatkan' membuat Daniyal dan Abizar yang merasa segera menoleh satu sama lain dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


"Hello... Kak Dani denger ga sih? Kok malah liat-liatan sama aku Abizar sih?" tanya Aleena.


"Eh iya sorry, gimana tadi? Memperhatikan orang yang di jodohkan oleh om Gilang? Baiklah itu bukannya memang tugasku?" ucap Daniyal yang kembali fokus kepada Aleena.


"Iya aku tau, tapi bukan masalah kak Iren sedang berada dalam bahaya atau tidak, tapi aku ingin kak Dani melihat apakah laki-laki itu pantas untuk kak Iren atau tidak." jelas Aleena


"Ah begitu, aku akan menilai dengan baik-baik dan akan memberikan semua informasi kepadamu nona Aleena.." ucap Daniyal.


"Jangan memanggilku nona! Kak Dani sengaja menggodaku ya!?" ketus Aleena.


"Sudahlah Leen, kak Dani juga ga mungkin menggoda kamu, aku yakin seleranya pasti seperti tante-tante di usianya yang sekarang hahaha.." ejek Abizar.


Aleena langsung menatap tajam ke arah Abizar yang malah mengejek selera Daniyal.


"Kalau kamu? Wanita apa yang menjadi seleramu? Bukankah jarak usia di antara kalian berdua tidak jauh berbeda? Berarti seleramu juga hampir sama dengannya." ucap Aleena yang langsung berjalan meninggalkan Abizar dan Daniyal di sana.


Abizar menelaah ucapan Aleena lebih dulu sebelum akhirnya Daniyal menyadarkan adiknya itu.


"Kenapa dia ngomong begitu kak?" tanya Abizar tanpa mengetahui apapun.


"Bodoh! Itu artinya dia ingin kamu mengatakan kalau seleranya adalah wanita yang sepertinya!" tegas Daniyal.


Mendengar ucapan kakaknya membuat Abizar tersadar lalu berlari menyusul Aleena yang sudah berada jauh darinya.


Sedangkan Daniyal hanya menggelengkan kepala melihat adiknya yang katanya playboy tetapi tidak tau tentang hal sepele seperti itu.