
“Sudahlah Daniyal, ini bukan sepenuhnya salah Abizar karena Iren juga salah kenapa dia harus berlari saat itu?” ucap Bramantio.
Daniyal benar-benar tidak habis fikir dengan sikap Bramantio setelah mengetahui semua ceritanya dan tetap membela Abizar yang jelas-jelas sangat salah.
“Bukan sepenuhnya salah Abizar kata papi? Papi ga tau kalau dia hampir mencelakai menantu dan cucu papi! Keturunan Bramantio!” ketus Daiyal.
“Keturunan Bramantio harus dari seorang wanita yang aku setujui, jadi anak itu bukanlah keturunan Bramantio yang sah!” ketus Bramantio dengan acuh tak acuh.
Daniyal tidak tau lagi harus mengatakan apa, karena papinya saat ini benar-benar tidak bisa di goyahkan dengan pendiriannya.
“Jadi papi tetap akan membenci Iren? Baiklah, karena Iren adalah istriku sekarang maka jika papi membencinya sama saja papi juga membenciku dan aku tidak akan pernah ada di hadapan papi lagi.” Ucap Daniyal yang langsung membalikkan tubuhnya dan memutuskan untuk kembali ke rumah keluarga Herlambang.
Di sepanjang jalan Daniyal terus saja mengumpat sambil memukul setir mobil dengan kencang.
“Sial, sial!! Aku harus menjauhkan Irene dari mereka! Mereka akan melakukan apapun untuk membuat Irene terluka!” gumam Daniyal.
Sesampainya di rumah mertuanya, Daniyal berusaha untuk mengatur nafasnya agar istrinya tidak mengetahui kalau dia sedang emosi.
Setelah tenang barulah Daniyal memutuskan untuk masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju kamar istrinya.
Daniyal yang awalnya emosi langsung tersenyum saat melihat sang istri yang sedang terlelap dengan tenangnya, bahkan ada senyuman di wajahnya saat tertidur.
Daniyal berjalan ke kamar mandi lebih dulu untuk membersihkan tubuhnya yang baru saja dari luar, lalu setelah memakai piyama tidurnya Daniyal segera membaringkan tubuhnya di sebelah istrinya yang lagi memunggunginya.
Daniyal memeluk pinggang istrinya dari belakang dengan erat sambil menciumi leher sang istri, wangi di tubuh Irene selalu berhasil membuat Daniyal relax dan bisa melepas semua bebannya.
Irene yang merasa ada lengan kekar melingkar di tubuhnya langsung membuka kedua matanya dan menoleh ke arah belakang.
“Sayang, kamu sudah datang?” tanya Irene yang langsung berbalik arah.
“Apa aku membangunkanmu? Maafkan aku sayang.” Ucap Daniyal dengan lembut.
Irene memeluk tubuh sang suami dari depan dan kepalanya masuk ke dalam dada bidang Daniyal yang kekar.
“Apa ada masalah sayang? Sepertinya kamu lelah sekali.” Ucap Irene.
“Hem, tidak ada sayang.” Ucap Daniyal.
“Sayang…” panggil Daniyal.
“Hem?” balas Irene.
“Apa aku boleh melakukannya?” tanya Daniyal dengan nada rendah.
“Hah? Melakukan apa sayang?” tanya Irene yang tidak mengerti.
“Melakukan itu..” ucap Daniyal sambil menunjuk ke arah adik kecilnya.
Melihat suaminya membuat Irene terkekeh karena selama ini Daniyal selalu bertindak sesukanya, sedangkan malam itu dia meminta ijin lebih dulu.
“Semua ini milikmu sayang, lakukanlah apa yang kamu ingin lakukan.” Ucap Irene berbisik di telinga sang suami membuat Daniyal semakin bergairah.
Daniyal memulai semuanya dengan perlahan, dia mencoba untuk perlahan mengingat sang istri sedang hamil saat itu, sampai pada akhirnya dering ponsel Daniyal mengganggu permainan panas mereka.
“Sayangghh,, telfon, mmhh..” ucap Irene sambil terengah karena aktifitas panas yang sedang mereka lakukan.
“Biarkan saja sayang, tidak penting!” ucap Daniyal yang terus melakukan aktifitasnya tanpa memperdulikan ponselnya terus menerus berdering.
Setelah hampir 2 jam akhirnya kegiatan panas mereka selesai, Daniyal mencium kening istrinya dengan lembut lalu merebahkan tubuhnya di sebelah Irene.
“Terimakasih sayang, kamu yang terbaik!” puji Daniyal yang terus saja memeluk tubuh sang istri.
Dering telfon dari ponsel Daniyal terus saja berdering sampai membuat Daniyal kesal dan akhirnya mengangka telfon tersebut dengan malas.
“….”
“Sherly dan?” ucap Daniyal yang langsung turun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi dan keluar dengan pakaian yang rapih.
“Sayang, kamu mau kemana?” tanya Irene namun tidak di gubris oleh Daniyal.
Irene jelas sekali mendengar nama Sherly keluar dari mulut suaminya dan itu yang membuatnya langsung pergi meninggalkan Irene sendirian.
“Apa segitu pentingnya Sherly untukmu kak?” gumam Irene sambil meneteskan air matanya.
Irene memutuskan untuk menghubungi ponsel suaminya tapi tidak di angkat, Irene benar-benar merasa sakit hati akan hal itu, dia bahkan ingin sekali mengejar Daniyal tapi dia urungkan karena saat ini ada bayi di dalam kandungannya yang harus dia jaga.
Irene terus menangis sampai akhirnya dia lelah dan tertidur dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya yang tidak memakai sehelai benangpun.
Di sisi lain, Daniyal sedang terburu-buru karena mendengar kabar kalau Sherly dan Bram mengalami kecelakaan saat keduanya baru pulang dari bar.
“Di mana Sherly dan Brams?” tanya Daniyal kepada Roy yang tadi menghubunginya.
“Lihatlah, mereka baik-baik saja, hanya kecelakaan tunggal yang sangat ringan karena Brams menabrak penghalang jalan.” Jelas Roy.
Daniyal berjalan masuk ke dalam ruang perawatan dan terlihat jelas dua temannya sedang berbaring sambil bercanda satu sama lain.
“Sial kalian berdua! Sudah membuatku khawatir tapi ternyata kalian tidak perlu di khawatirkan!” ketus Daniyal sambil berjalan mendekati keduanya.
“Daniyal! Kamu datang untuk menikahiku?” tanya Sherly dengan semangat.
“Apa kamu mabuk?! Aku tidak akan menikahimu!” ketus Daniyal.
“Di mana istri cantikmu? Aku sudah merindukannya.” Sahut Brams.
“Apa kamu cari mati?! Beraninya memuji istri orang di depan suaminya dan mengatakan kalau kamu merindukannya!” ketus Daniyal.
Mendengar ucapan Daniyal membuat Brams dan Sherly saling menatap satu sama lain dan tertawa.
“Kalian sedang menggodaku?” tanya Daniyal dengan kesal.
“Emangnya di mana Irene?” tanya Sherly.
“Dia di rumah, ah yaampun! Aku lupa memberitahunya kemana aku pergi!” ucap Daniyal sambil memukul keningnya sendiri.
Daniyal segera mengambil ponsel di sakunya dan melihat beberapa panggilan tak terjawab dari Irene, Daniyal merasa bersalah melihat hal itu dan dia langsung menelfon balik istrinya namun tidak di angkat.
“Kenapa? Ga di angkat?” tanya Brams.
Daniyal tidak menjawab, tapi siapapun juga tau dari ekspresi yang di tunjukkan oleh Daniyal jika telfonnya tidak di angkat oleh sang istri.
Lalu brams dengan santainya mengambil ponsel miliknya dan menghubungi Irene dan menyalakan loadspeaker di ponselnya.
“Ga di angkat juga.” Ucap Brams dengan santai.
Mendengar hal itu membuat Daniyal menatap tajam ke arah Brams.
“Kamu memiliki nomer Irene? Bataimana bisa?” tanya Daniyal.
“Bisa saja karena aku dan dia sudah berteman.” Ucap Brams.
“Sudahlah kalian jangan berdebat terus, Daniyal sebaiknya kamu pulang dan susul istrimu, dia pasti khawatir karena kamu pergi begitu saja.” Ucap Sherly.
“Baiklah kalau begitu, aku pulang dulu karena kalian terlihat sangat baik-baik saja!” ucap Daniyal yang langsung keluar dari ruang perawatan.
Daniyal tiba-tiba teringat kalau dia tadi menyebut nama Sherly lalu segera berlari keluar dari kamar tanpa memperdulikan Irene, Daniyal sudah yakin kalau istrinya pasti sedang marah padanya saat ini.