
Acara pernikahan Abizar dan Aleena pun berjalan dengan lancar, dan saat ini semua tamu undangan sudah mulai pulang satu per satu, beberapa tamu dari luar kota dan luar negeri memutuskan untuk menginap di hotel tersebut karena Gilang sudah mengosongkan hotel miliknya itu semenjak tiga hari sebelum acara pernikahan putrinya.
Gilang sangat antusias dengan acara pernikahan Aleena karena ini pertama kalinya Gilang menyiapkan acara pernikahan dengan megah, berbeda dengan Irene dan Daniyal yang menikah secara sederhana dan tidak membutuhkan banyak persiapan.
“Selamat atas pernikahanmu Aleena, aku tidak percaya sekarang kamu sudah menjadi milik orang lain, jadi jangan manja lagi apa lagi sama papi.” Ucap Irene sambil memeluk tubuh sang adik dengan air mata yang menetes di pipi.
“Iya kak aku juga tau, tapi sekali-kali ga apa-apa kan manja sama papi.” Balas Aleena.
“Sudahlah sekarang lebih baik kamu istirahat sana, ajak Abizar ke kamar paling atas di lantai 10, di kamar 1002, itu dalah kamar kamu yang sudah aku renovasi agar lebih terlihat sexy.” Ucap Irene.
Mendengar ucapan kakaknya membuat Aleena tersipu malu, dia melirik Abizar yang sedang mengobrol dengan Daniyal dan Gilang.
“Jangan malu-malu, aku akan menyuruh papi dan kak Daniyal untuk berhenti mengajak Abizar mengobrol.” Ucap Irene yang langsung berjalan menghampiri Daniyal dan yang lainnya.
Irene mendengar samar-samar obrolan ketiga pria itu sangat asik, namun dia tetap pada tujuannya untuk mengganggu pembicaraan asik ketiganya dan meminta mereka untuk membiarkan Abizar beristirahat.
“Hayo hayo, udahan ngobrolnya udah malem loh biarin pengantin baru kita beristirahat dan membuat keponakan untukku.” Ucap Irene yang langsung menggandeng lengan Gilang dan Daniyal secara bersamaan.
Mendengar ucapan Irene membuat ketiga laki-laki itu menoleh ke arahnya.
“Sayang, papi tadi lagi cerita tentang masa mudanya loh kamu ini ganggu aja deh.” Ucap Daniyal.
“Yah kamu sama papi habisnya ga peka sama sekali deh, tau sendiri kalo kalian lagi ngajak ngobrol pengantin baru.” Ucap Irene sambil melirik ke arah Abizar.
Gilang dan Daniyal pun ikut menoleh ke arah Abizar, lalu keduanya menoleh ke arah Aleena yang berada tak jauh di belakang Aleena.
“Oh iya ya kamu ini gimana sih Dani, masa ga peka padahal kan kamu baru saja menikah.” Ucap Gilang menyalahkan Daniyal.
“Lah papi kok malah nyalahin Dani? Papi justru yang lebih banyak pengalamannya malah ga peka.” Balas Daniyal tidak mau mengalah.
“Ih kamu ini kok malah balik nyalahin papi sih?” ucap Gilang.
“Sudah sudah jangan berdebat lagi, ayo lebih baik papi istirahat pasti papi sudah lelah menyambut para tamu undangan, dan kak Abi silahkan istirahat di kamar yang sudah aku siapkan special untuk kamu dan
Aleena.” Ucap Irene.
Mendengar kata ‘kak’ keluar dari mulut Irene membuat Abizar
mengerutkan keningnya begitu juga dengan Gilang dan Daniyal.
“Kak?” tanya Abizar.
“Yah walaupun sebenernya kamu ini adik iparku tapi usiamu tetap lebih tua dariku jadi tidak masalah bukan kalau aku memanggil kamu kakak?” tanya Irene.
“Kalo gitu panggilan dia sama kayak aku yang suami kamu dong? Kamu juga panggil aku kak.” Protes Daniyal membuat Abizar semakin mengerutkan keningnya karena sang kakak yang tiba-tiba menjadi manja.
“Lah malah kalian mesra-mesraan, sudahlah sana kamu pergi ke kamar sama Aleena Abizar, jangan lupa segera buatkan papi cucu yang banyak biar ananya Irene nantinya punya temen juga.” Ucap Gilang yang membuat Abizar tergagap.
Akhirnya Abizar dan Aleena berpamitan untuk pergi ke atas lebih dulu, namun sebelum itu keduanya memutuskan untuk mengganti pakaian di kamar tempat mereka berias tadi, setelah selesai berganti pakaian dan membuka
semua accessories di tubuh Aleena akhirnya mereka segera masuk ke dalam lift untuk pergi ke kamar mereka berdua.
Di dalam lift tidak ada yang berbicara sedikit pun karena keduanya sama-sama sedang di landa kegugupan, padahal mereka selalu banyak membicarakan hal-hal kecil meskipun tidak penting, namun entah kenapa saat itu keduanya hanya diam tidap mengatakan sepatah katapun.
“Kenapa kamu diem aja?” tanya Abizar yang tiba-tiba memecah keheningan di antara mereka.
“Ga tau nih aku juga bingung ini mulut tumben amat ga mau ngomong apa-apa.” Balas Aleena.
“Iya biasanya nyerocos mulu kayak kereta api, kalo kamu kayak ini malah kesannya kayak awal-awal kita kenal loh, kamu sangat pendiam dulu tapi seiring berjalannya waktu ternyata kamu adalah orang yang sangat banyak bicara.” Jelas Abizar.
“Mohon maap nih kak, biasanya orang baru nikah tuh saling memuji pasangannya, lah ini kenapa kamu malah mengeluarkan semua kejelekan istrinya?” ucap Aleena dengan kesal.
Abizar tertawa melihat ekspresi wajah Aleena yang saat ini sedang merasa kesal dengannya, namun Aleena semakin kesal di buatnya karena melihat suaminya malah menertawakannya.
“Sudah jangan berdebat lagi aku capek sayang.” Ucap Abizar.
“Kamu panggil aku sayang bisa di hitung pake jari loh kak, luar biasa langka sekali kalo kamu panggil aku sayang.” Ucap Aleena.
“Karena sekarang kita sudah menikah, jadi aku akan selalu memanggilmu sayang.” Ucap Abizar.
“Kalau begitu aku juga akan memanggil kamu mas Abi sama seperti kak Iren panggil kak Daniyal.” Balas Aleena.
Abizar hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Aleena namun dia tetap setuju dengan apapun nama panggilan yang di berikan Aleena kepadanya.
Sampai akhirnya lift terbuka dan keduanya sudah berada di lantai paling atas di hotel itu dan hanya ada 5 kamar yang ada di lantai itu dengan jarak pintu yang sangat jauh sehingga bisa di pastikan kamar itu sangat besar.
“Ini kamar yang biasa kita pakai kalau ke sini kak, semua hotel papi pasti di lantai paling atas hanya ada 5 kamar untuk anak-anaknya kalau mau menginap, hanya ada beberapa orang saja yang di ijinkan ke sini.” Jelas Aleena.
“Wah, keren idenya papi, suatu hari nanti aku juga akan membuat hotel seperti ini dan membuat kamar khusus untuk anak-anakku nantinya.” Ucap Abizar.
“Anak-anakmu? Bukankah anak-anak kita?” tanya Aleena.
“Hah? Eh iya anak-anak kita maksudnya, maaf aku sudah terbiasa mengakatan aku aku dan aku.” Ucap Abizar yang di balas anggukan oleh Aleena.
Aleena membuka kamar 1002, sesuai dengan urutannya dia anak kedua dan memakai kamar nomer 2.
“Ini adalah kamarku, pokoknya aku selalu memakai kamar nomer 2 di manapun aku berada, ayo masuk anggap saja kamar sendiri.” Ucap Aleena mempersilahkan Abizar untuk masuk ke dalam kamarnya.