MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 72 (HUKUMAN)



Daniyal tiba di rumahnya, di sana dia melihat Abizar dan Adyatma yang masih duduk di ruang tamu sambil berbicara.


“Kak Daniyal!” panggil Adyatma saat melihat Daniyal melangkah masuk ke dalam rumah.


“Kalian belum tidur?” tanya Daniyal.


“Belum kak, aku sudah tau semuanya dari kak Abizar, lalu apa yang terjadi dengan laki-laki itu? Apa kakak memberinya pelajaran?” tanya Adyatma dengan brsemangat.


“Kenapa kamu bersemangat sekali?” tanya Daniyal.


“Karena aku tidak suka jika ada yang mempermalukan keluarga Herlambang selain kita! Harusnya kita yang membuat mereka malu dan sakit hati bukannya hama kecil seperti itu!” ketus Adyatma.


“Kamu lah hama kecilnya! Tidur sana anak kecil!” ketus Daniyal.


“Aku bukan anak kecil lagi kak! Aku sudah mimpi basah bahkan hampir setiap hari!” seru Adyatma.


Brughh!! Tiba-tiba saja Abizar melemparnya memakai bantal kursi yang ada di ruang tamu dengan keras.


“Aw! Kak Abizar kok mukul aku sih?” ketus Adyatma.


“Lu ngeres sih jadi orang!” ketus Abizar.


“Habisnya kak Daniyal bilang aku anak kecil.” Ucap Adyatma.


“Emang anak kecil! Udah sana tidur!” ketus Abizar.


“Stop!!” teriak Daniyal.


Baru saja Adyatma ingin membalas kembali ucapan kakaknya, namun dia terdiam seketika setelah mendengar teriakan Daniyal.


“Aku ini lelah kenapa kalian malah bertengkar sih? Abizar, papi akan segera tau karena aku sudah membuat Ronald bangkrut.” Ucap Daniyal.


“Apa?!” tanya Abizar dan Adyatma secara bersamaan.


“Aku sudah membuatnya bangkrut dan sekarang dia sedang menjadi gila.” Ucap Daniyal.


“Wah hebat! Kak Daniyal memang terbaik!” seru Adyatma.


“Apa perlu sampai seperti itu kak?” tanya Abizar.


“Lagi pula perusahaannya memang tidak ada kemajuan kok, jadi untuk apa di pertahankan, benar bukan?” tanya Daniyal.


“Yah kakak memang ada benarnya sih, kalo begitu kakak tidurlah.” Ucap Abizar.


“Bukankah yang seharusnya tidur itu kamu ya? Besok akan jadi berat untukmu karena Irene akan memberikan hukuman padamu.” Balas Daniyal dengan senyum sinisnya.


“Hahaha, sabar ya kak, kak Iren kalo lagi marah galak banget loh..” ejek Adyatma.


“Kamu mau aku hukum juga Adyatma?” tanya Daniyal.


“Ah engga kak terimakasih bye kakak-kakakku!” teriak Adyatma yang langsung berlari menaiki tangga.


Daniyal hanya menggelengkan kepala sambil menghela nafas panjang melihat tingkah adik bungsunya itu, walaupun sudah dewasa namun sikap Adyatma terkadang masih seperti anak kecil.


“Apa Irene sangat marah?” tanya Abizar.


“Yah, setidaknya aku baru sekali melihatnya marah sampai seperti itu.” Jawab Daniyal.


“Sudahlah jangan di pikirkan, itu bukan salahmu, lagi pula kenapa kamu merasa sangat bersalah seperti itu, padahal memang tujuan kita membuat mereka hancur.” Lanjut Daniyal.


“Hah? K-karena seperti apa yang di katakan Adyatma tadi, aku tidak sudi jika bukan kita yang membuat mereka menderita!” ucap Abizar dengan terbata.


Walaupun sebenarnya Abizar juga bingung kenapa dirinya sampai merasa bersalah seperti itu, apa lagi saat melihat Aleena yang menangis di dalam mobil, ada rasa kasihan yang harusnya tidak dia miliki karena tujuannya adalah menghancurkan keluarga Herlambang.


“Kalau begitu ayo kita istirahat, besok kita harus bekerja bukan?” tanya Daniyal.


“Hemm kamu benar kak.” Jawab Abizar yang langsung beranjak dari tempat duduknya dan mengikuti Daniyal berjalan menaiki tangga.


***


Sedangkan Abizar, Irene memberinya hukuman untuk bekerja lembur menjaga Gilang selama Aleena beristirahat di rumah, bahkan Abizar pulang hingga larut malam karena Irene menyuruhnya untuk ini dan itu.


“Kak, apa kamu tidak terlalu berlebihan kepada kak Abizar?” tanya Aleena.


“Berlebihan katamu? Kenapa kamu bilang begitu? Apa karena kamu menyukainya?” tanya Irene.


“Kak, tapi kan buang air kecil itu ga salah, kalo di tahan malah sakit perut gimana coba?” tanya Aleena.


“Ya harusnya kan dia bisa nyamperin kamu dulu ke toilet terus bilang kalo dia juga mau ke toilet baru pergi, kalo dia nyamperin kamu dulu kan dia pasti lihat laki-laki kurang ajar itu!” ketus Irene.


“Kakak ayolah jangan marah-marah terus nanti cepet tua loh, inget bentar lagi nikah nanti keriput pas nikahan.” Goda Aleena.


“Jangan ngajak ribut deh! Udah ah kamu kalo mau kerja ayo bareng aku aja.” Ajak Irene.


“Kak, kan ada kak Abizar, aku sama kak Abizar aja.” Balas Aleena.


“Aleena, dia masih ada tugas buat ngikutin papi sampe bulan depan, jadi selama itu kamu harus berangkat dan pulang bareng sama aku.” Jelas Irene.


Aleena hanya diam mendengar ucapan kakaknya karena dia tau kalau dia tidak akan bisa menang melawan kakaknya.


Padahal sebenarnya Aleena sudah jarang sekali melihat Abizar semenjak kejadian itu, karena dia harus selalu berada di dalam kamar, bahkan makanan pun di antar di kamarnya, jadi dia tidak pernah bertemu dengan Abizar dan saat ini dia sangat merindukannya.


“Kak Iren ga pernah kangen sama kak Daniyal ya?” tanya Aleena tiba-tiba yang membuat Irene terkejut.


Irene yang sedang berjalan menuruni tangga langsung menghentikan langkahnya dan membuat Aleena tanpa sengaja menabrak punggung Irene.


“Aw! Kak Iren kenapa berhenti tiba-tiba sih!?” ketus Aleena.


“Kamu nanya yang aneh-aneh ya gimana ga kaget coba!” ketus Irene.


“Lah apanya yang aneh dari pertanyaan aku kak? Kakak sama kak Daniyal kan udah tunangan, berarti kan harusnya kalian lebih saling merindukan satu sama lain melebihi orang yang berpacaran.” Ucap Aleena dengan senyum menggoda.


“Bilang aja kamu yang merindukan Abizar, kamu ini memang selalu membuat orang lain terkejut! Bilang aja kalo kamu merindukannya!” ucap Irene.


“Cih! Menyebalkan!” ketus Aleena.


Akhirnya Irene terus berjalan sampai ke pintu depan, begitu juga dengan Aleena yang berjalan sambil memanyunkan bibirnya di belakang Aleena.


Sampai saat Aleena mau keluar dari rumah, dia berpapasan dengan Abizar yang baru saja datang setelah mengantar pelayan rumahnya berbelanja bulanan.


“Yaampun, kakak juga menyuruhnya untuk menjadi supir?” tanya Aleena.


“Kenapa? Aku bilang lakukan apapun yang kamu bisa! Dan sepertinya dia bisa menyetir dan kebetulah supir kita sedang libur jadi dia mengantar bibi, ga salah kan?” tanya Irene.


“Yaampun kakak! Pasti kakak kan yang nyuruh supir kita libur karena tau kalau hari ini waktunya belanja bulanan? Kakak jahat banget sih!” ketus Aleena.


“Kamu ini kenapa rewel banget sih Aleena! Cepet masuk mobil nanti kita terlambat!” ketus Irene.


“Biarin aja biar terlambat!” ketus Aleena.


“Yaudah aku tinggalin!”


“Tinggalin aja biarin aku ga kerja!”


“Oke kamu ga kerja, gaji aku potong 50% dan aku akan mengambil semua job kamu!” ancam Irene.


“Apa!? Kakak! Aku bilang papi kalo kakak memanfaatkan senioritas!” ucap Aleena.


“Bodo amat!” ketus Irene yang sudah masuk ke dalam mobilnya.


Irene segera mengklakson mobilnya dengan kencang hingga membuat Aleena terkejut.


“Pergilah, jangan buat kakakmu marah..” bisik Abrizal.


Mendengar ucapan Abrizal membuat Aleena menghela nafas panjang dan akhirnya dia segera masuk ke dalam mobil sang kakak.