
Pagi-pagi sekali Abizar sudah bersiap untuk segera pergi ke kediaman Herlambang untuk membuntuti mereka semua seperti rencananya kemarin.
Daniyal yang juga sudah terbangun segera keluar dari kamar dan melakukan kegiatan olahraga paginya seperti yang biasa dia lakukan sebelum menjadi seorang bodyguard.
“Haah, akhirnya aku bisa kembali olahraga pagi seperti biasanya..” gumam Daniyal.
Dan pagi itu Daniyal yang sedang membuka pintu berpapasan dengan sang adik yang juga keluar dari kamarnya yang berada tepat di sebelahnya.
“Abizar, kamu pagi-pagi sekali sudah rapih mau kemana?” tanya Daniyal.
“Kakak lupa? Aku kan bilang ada acara hari ini.” Jawab Abizar.
“Ah iya sih, tapi aku ga tau kalo ternyata acaranya sepagi ini.” Ucap Daniyal.
“Aku ada misi rahasia jadi kakak jangan terlalu kepo oke? Bye kak selamat menikmati hari bebasmu.” Ucap Abizar yang langsung meninggalkan sang kakak menuruni tangga lebih dulu.
Sedangkan Daniyal benar-benar penasaran dengan apa yang akan di lakukan adiknya hari itu, namun rasa rindunya dengan perusahaan lebih besar di bandingkan dengan rasa penasarannya.
Abizar segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kediaman Herlambang, dia tidak tau kapan mereka akan keluar dari rumah itu, namun untuk berjaga-jaga Abizar datang lebih pagi agar bisa mengikuti mereka jam berapa saja mereka pergi.
“Sebenarnya kemana mereka akan pergi tanpa bodyguard? Bukankah seharusnya dia masih membutuhkan bodyguard kapanpun?” gumam Abizar yang sudah menunggu di dekat rumah keluarga Herlambang.
Sedangkan di rumah keluarga Herlambang, semua orang sudah bersiap untuk pergi ke suatu tempat yang sangat rahasia bagi mereka, karena mereka tidak ingin ada yang mengetahui hal ini.
“Kak, sebenernya kita mau kemana sih? Kenapa dari kemarin kakak ga ngomong apa-apa?” tanya Queen yang masih saja merasa penasaran.
“Udah kamu diem aja deh, nanti juga kamu bakalan tau dan terkejut juga.” Ucap Nancy.
Queen hanya menghela nafas panjang mendengar jawaban dari kakaknya, rasa penasarannya benar-benar sudah berada di ujung tanduk, namun dia hanya bisa menahannya sampai mereka tiba di tempat.
“Ayo kita berangkat.” Ajak Gilang yang di balas anggukan oleh semuanya.
Mereka membawa mobil masing-masing kecuali Queen dan Ratu yang naik mobil bersama sang papi karena keduanya tidak tau jalan.
Sedangkan di luar, Abizar yang sudah menunggu hampir satu jam segera bersemangat saat melihat satu per satu mobil mereka keluar dari gerbang rumahnya.
“Wah mereka sampai bawa mobil satu-satu gitu buat apa?” gumam Abizar dengan seringai di wajahnya.
Dengan segera Abizar menancap pedal gas mobilnya dengan kecepatan sedang menyesuaikan jarak antara mobil mereka karena tidak ingin ketauan oleh salah satu dari mereka.
Setelah hampir satu setengah jam melakukan perjalanan, akhirnya Abizar menghentikan mobilnya di rumah sakit jiwa yang terletak di tempat yang sangat terpencil.
“Bagaimana bisa ada rumah sakit jiwa di tempat terpencil seperti ini? Aku sendiri bahkan tidak tau kalau ada daerah seperti ini di sekitar sini.” Ucap Abizar yang terus memperhatikan mobil-mobil Gilang dan kelima anaknya dari jauh.
“Untuk apa mereka ke tempat seperti ini? Apa mereka memiliki saudara yang berada di rumah sakit ini?” gumam Abizar bertanya-tanya.
Setelah melihat semuanya sudah turun dan mulai memasuki rumah sakit, Abizar pun ikut turun dari mobilnya dan memakai kacamata hitamnya agar tidak ada yang mengenalinya.
“Papi, kenapa kita ada di rumah sakit jiwa? Apa seseorang yang kita kenal ada di rumah sakit jiwa?” tanya Queen.
“Queen bisakah kamu diam? Di sepanjang jalan kamu terus saja bertanya seperti itu! Aku juga penasaran tapi aku berusaha diam.” Ucap Ratu yang kesal karena saudara kembarnya terus bertanya.
“Cih! Kita berbeda, aku tidak bisa menunggu sedangkan kamu selalu memilih untuk menunggu.” Balas Queen.
“Sudah diam! Kalian akan membuat papi pusing tau! Ayo kita masuk, kita sudah sampai di ruangannya, kalian akan terkejut melihatnya.” Ucap Irene.
Akhirnya mereka semua segera masuk ke dalam ruangan yang sudah di buka oleh Irene, di dalam ruangan tersebut mereka melihat ada seorang wanita paruh baya yang sedang duduk membelakangi mereka dan melihat ke arah luar jendela.
Saat mendengar suara langkah kaki berjalan mendekatinya, wanita tersebut menoleh dan membuat Ratu dan Queen terkejut bukan main.
“Mami!!” teriak keduanya yang bisa di dengar oleh Abizar yang berada di luar ruangan.
Abizar segera mendekati ruangan tersebut dan mengintip ke dalam, betapa terkejutnya dia saat melihat wanita yang selau dia lihat di salam bingkai foto yang ada di seluruh ruangan kediaman Herlambang.
“A-apa? Apa-apaan ini? Jadi mami mereka masih hidup dan bersembunyi di tepat terpencil ini? Sial!” gumam Abizar yang sudah mengepalkan kedua tangannya.
Setelah mengetahui kebenarannya, Abizar segera pergi meninggalkan rumah sakit jiwa tersebut dengan perasaan kesal dan penuh dengan amarah.
“Mami mereka masih hidup sedangkan kami sudah kehilangan mami kami!” gumam Abizar yang sudah ada di dalam mobilnya dan langsung membanting pintu mobil dengan keras dan segera pergi meninggalkan rumah sakit
jiwa tersebut.
Abizar mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi bahkan beberapa kali dia hampir membahayakan pengemudi lain, namun dia tidak memperdulikan hal itu dan tetap menyetir dengan kecepatan yang tinggi.
Sampai akhirnya Abizar hampir sampai di depan gerbang rumahnya, satpam yang ada di sana terkejut mendengar klakson mobil yang berasal dari kejauhan, dengan segera satpam tersebut membukakan gerbang dan Abizar terus menancap gas dengan kencang sampai di depan pintu rumahnya.
“Yaampun tuan Abizar kenapa sepertinya marah sekali sampai menyetir mobil sekencang itu?” gumam satpam tersebut.
Abizar keluar dengan wajah yang benar-benar di penuhi dengan amarah, dia segera masuk ke dalam rumah begitu saja dan membuat semua pelayan yang ada di sana terkejut.
“T-tuan Abizar, ada apa? Kenapa tuan marah-marah?” tanya salah satu pelayan yang sudah lama bekerja dengan keluarga Bramantio.
Namun Abizar tidak menggubris ucapan pelayannya itu, dia hanya berjalan menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya dengan membanting pintu dengan keras membuat semua pelayan yang ada di sana terkejut.
“Ada apa ini bi? Kenapa tuan Abizar sepertinya sangat marah.” ucap salah satu pelayan yang lebih muda.
“Entahlah, tuan Abizar jarang sekali marah, bibi juga jarang melihatnya seperti itu.” Jawabnya.
“Lalu apa yang harus kita lakukan bi?”
“Biarkan saja, nanti bibi akan laporkan kejadian ini kepada tuan Bram dan tuan Daniyal.” Ucap pelayan tersbeut yang di balas anggukan oleh yang lain.