MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 132 (SENSITIF)



Queen berlari dengan kecepatan maksimal menaiki tangga menuju ke kamar papinya, tanpa pikir panjang Queen segera mengetuk pintu kamar papinya tanpa celah sedikitpun membuat sang pemilik kamar terkejut.


“Queen? Ada apa?!” tanya Gilang yang khawatir karena melihat anak bungsunya sedang terengah-engah.


“Anu, anu di bawah pi..” ucap Queen yang masih berusaha untuk mengatur nafasnya.


“Di bawah kenapa? Kamu kalo ngomong yang jelas jangan bikin papi khawatir!” ketus Gilang.


“Kak Aleena pi..”


“Aleena? Kenapa Aleena?!” tanya Gilang yang semakin khawatir karena mendengar nama salah satu anaknya.


“Kak Aleena menyuruh papi untuk ke ruang tamu pi.” Ucap Queen.


“Hah? Kamu ini apa-apaan sih Queen, papi udah serius khawatir malah ternyata cuma mau bilang kalo Aleena menyuruh papi ke bawah?” tanya Gilang kesal.


“Pokoknya papi ke bawah aja deh sana, papi juga bakalan kaget liat kak Aleena.” Ucap Queen.


Mendengar ucapan Queen membuat Gilang semakin penasaran dan akhirnya dia segera berjalan cepat menuruni tangga dan melihat sendiri apa yang membuat anak bungsunya terkejut seperti itu.


Dan benar saja, awalnya Gilang yang tidak melihat keanehan dari Aleena dan Abizar yang sedang berdiri bersama, namun saat di perhatikan lagi Gilang benar-benar membulatkan kedua matanya saat melihat Aleena dan Abizar sedang bergandengan tangan.


“Ada apa ini?” tanya Gilang saat sudah berada di hadapan Aleena dan Abizar.


Mendengar pertanyaan Gilang membuat Aleena berusaha untuk melepaskan pegangan tangannya namun Abizar tetap menahan Aleena dan semakin mengeratkan genggaman tangannya.


“Om, aku ingin berbicara dengan om secara serius.” ucap Abizar yang saat ini sudah berdiri, begitu juga dengan Aleena yang mau tidak mau mengikuti Abizar karena laki-laki itu tidak mau melepaskan genggaman tangannya.


“Duduklah, hal serius apa yang mau kamu bicarakan sampai membuat anak-anakku terkejut?” tanya Gilang mencoba untuk tidak terlalu menggebu.


Aleena dan Abizar sudah duduk di hadapan Gilang yang sedang menatap tajam ke arah tangan keduanya, namun Abizar tetap kekeh kalau dia tidak akan melepaskan genggaman tangannya dari Aleena.


“Jadi, kalian berdua hanya mau lihat-lihatan begitu?” tanya Gilang sambil melihat ke arah Abizar dan Aleena secara bergantian.


“Eh, engga om, aku ingin mengatakan kalau aku menyukai putri om Aleena..” ucap Abizar.


“Apa yang kamu miliki sampai berani menyukai putriku?” tanya Gilang.


“Papi! Kenapa papi bilang begitu?” tanya Aleena.


“Ada yang salah? Papi di sini sebagai papi kamu, papi yang sudah membesarkanmu dan menjagamu layaknya berlian yang berharga, apa papi salah kalau papi bertanya seperti itu?” tanya Gilang.


“Tapi, papi hanya menyakiti kak Abizar kalau seperti itu!” protes Aleena.


“Apa aku menyakitimu Abizar?” tanya Gilang langsung kepada Abizar.


“E-engga sama sekali kok om, aku baik-baik saja.” Jawab Abizar.


“Lihat bukan? Dia tidak ada masalah dengan pertanyaan papi, papi hanya ingin bertanya seperti itu emang ada yang salah?” tanya Gilang.


“Stop papi! Papi fikir aku barang yang bisa di ganti sama harta kayak kak Iren!?” ketus Aleena yang saat ini sudah sangat kesal dengan sang papi.


Tanpa mereka sadari, sejak tadi Irene dan Daniyal sudah berada di ambang pintu masuk dan mendengar semua yang di bicarakan oleh ketiga orang yang ada di ruang tamu.


Tentu saja Daniyal paham betul kalau istrinya semenjak hamil memang sensitif jika ada yang menyinggungnya walau hanya sedikit saja, dan mendengar Aleena membicarakannya tentu saja Irene tidak terima.


“K-kak Iren…” ucap Aleena yang terkejut saat melihat Irene berada di hadapannya.


“Apa kamu fikir aku ini barang? Aku bisa di ganti dengan perusahaan Daniyal begitu kan maksudnya?” tanya Irene.


“B-bukan begitu maksudnya kak.” Ucap Aleena yang tau kalau kakaknya sedang tersinggung dengan ucapannya.


“Apa kamu tidak tau kalau aku melakukan ini untuk kebaikan kalian? Papi bilang kalau aku mau menikah dengan pengusaha dia akan membebaskan kalian memilih pasangan kalian sendiri!” ketus Irene.


“Ya kamu benar, aku ini menjual diriku hanya untuk sebuah perusahaan padahal aku memiliki perusahaanku sendiri hanya untuk kalian!” ketus Irene yang langsung berbalik arah dan berlari menuju pagar utama.


“Kak Iren!!” teriak Aleena.


“Iren!” teriak Gilang dan Daniyal secara bersamaan.


“Papi di sini aja, biar Daniyal yang menyusul Iren.” Ucap Daniyal saat melihat mertuanya sudah beranjak dari tempat duduknya dan bersiap untuk berlari.


Gilang hanya diam, dia menatap wajah menantunya dan segera menganggukkan kepala membiarkan Daniyal mengejar Irene.


Aleena benar-benar merasa bersalah karena sudah membuat kakaknya tersinggung, padahal selama ini kakaknya sudah banyak melepaskan semua yang dia inginkan.


Aleena jadi ingat saat Irene dan Aleena sudah remaja, keduanya di tanya siapa yang ingin menjadi penerus sang papi di perusahaan.


Keduanya hanya saling menatap satu sama lain karena mereka berdua sama sekali tidak berniat untuk mewarisi perusahaan, keduanya memiliki cita-cita mereka masing-masing, Irene ingin sekali menjadi arsitek dan membuat banyak desain rumah dan gedung bertingkat, sedangkan Aleena ingin menjadi model.


Namun Gilang memaksa dan mengatakan kalau salah satu dari mereka harus ada yang mengalah dan menjadi penerus sang papi, Irene melihat kalau Aleena sangat menginginkan menjadi model, dan akhirnya Irene yang mengalah, dia mengambil kuliah jurusan ekonomi bisnis dan terjun ke dunia sang papi.


“Maafkan aku, aku tadi sudah kelewatan pi.” Ucap Aleena.


“Kamu tau? Papi seperti ini bukan karena papi mau menjual anak-anak papi, toh papi bertanya seperti itu bukan mau mengambil alih perusahaan menantu papi nantinya, papi hanya ingin anak-anak papi mendapatkan pasangan


yang bertanggung jawab.” Jelas Gilang.


“Semua orang ada masanya masing-masing, sebelum papi menikmati kekayaan ini papi pernah berada di bawah, mendapat perintah untuk memb*nuh dan sebagainya hanya untuk menyambung hidup.”


“Dan mungkin saja suatu saat nanti kekayaan yang sekarang papi nikmati tiba-tiba habis, yang papi fikirkan hanya kalian putri-putri papi, itulah kenapa papi ingin kalian memiliki pasangan yang bisa bertanggung jawab atas kalian, setidaknya laki-laki yang pekerja keras sudah cukup untuk papi.” Jelas Gilang.


Aleena hanya menundukkan kepala, dia benar-benar tidak bisa berfikir saat itu, padahal papinya hanya ingin pasangan yang terbaik untuknya.


“Maaf.” Hanya kata-kata itu yang bisa keluar dari bibir Aleena.


“Abizar, kita bisa bicarakan semua ini besok pagi setelah semuanya baik-baik saja ya, saat ini mood om sedang tidak baik-baik.” Ucap Gilang.


“Baik om, aku akan bicara sama om Gilang besok.” Ucap Abizar.


“Kalau begitu pulanglah ini sudah malam, biarkan Aleena merenungkan semua kesalahannya sendirian.” Ucap Gilang sambil melirik ke arah Aleena yang masih menunduk.


“Aku akan pulang setelah memastikan Aleena baik-baik saja om.” Ucap Abizar.


Gilang hanya menganggukkan kepala dan menghela nafas panjang, dia membiarkan Abizar untuk menghibur Aleena lebih dulu sebelum pulang.