MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 125 (SIKAP BRAMANTIO)



Irene sudah berhasil membujuk ketiga adiknya untuk menjadi model di perusahaannya, semuanya setuju karena mereka ingin membantu Irene dan juga ingin mendapatkan uang jajan lebih.


“Terimakasi karena sudah mau menerima tawaranku, kalian semua memang adik-adik yang paling pengertian deh!” puji Irene saat berada di kamar Queen.


“Lagian mereka itu ga boleh menolak ibu hamil jadi ya mau tidak mau kami harus melakukannya kak.” Ucap Queen jujur.


“Apa?! Jadi kalian mau membantuku karena keponakan kalian yang masih di dalam perut ini?” tanya Irene.


“Tentu saja! Aku juga yakin kalau mereka pasti berpikiran hal yang sama.” seru Queen dengan yakin.


“Haah tidak masalah, yang penting kalian mau dan aku semakin menyayangi anakku ini karena sudah bisa membantuku untuk membuat para auntynya luluh.” Ucap Irene dengan gembira.


Lalu Irene segera keluar dari kamar Queen setelah mendapatkan ijin dari ketiga adiknya.


“Sayang bagaimana?” tanya Daniyal yang masih setia menunggu Irene membujuk adik-adiknya.


“Apa kamu tidak bisa melihat dari ekspresiku kak?” tanya Irene dengan senyum bahagia terpancar di bibir tipisnya.


“Istriku selalu menunjukkan ekspresi bahagia karena aku ada di sampingnya benar bukan?” tanya Daniyal menggoda sang istri.


“Tentu saja, suamiku yang tampan ini selalu siaga berada di sampingku dan itu sangat membuatku senang.” Balas Irene.


Daniyal segera memeluk tubuh istrinya yang sekarang sudah sangat ia cintai itu, lalu Daniyal mencium kening Irene dengan lembut dan hal itu di saksikan oleh Gilang yang baru saja keluar dari kamarnya.


“Akhirnya, mereka sudah saling mencintai satu sama lain dan itu sangat membuatku bahagia, aku harap mereka akan selalu bahagia selamanya.” Gumam Gilang sambil tersenyum melihat kemesraan anak dan menantunya.


Sedangkan Abizar yang masih belum pergi dari sana juga melihat adegan mesra kakaknya dan Irene, Abizar benar-benar tidak menyukainya karena Daniyal seolah-olah sedang memamerkan kemesraannya kepadanya.


“Sial! Awas saja kamu kak Daniyal, aku akan membuatmu semakin takut dengan peringatanku!” gumam Abizar.


“Wah, mesra sekali sih mereka… Jadi pengen cepetan nikah deh…” seru Aleena yang membuat Abizar langsung menoleh ke arah Aleena.


“Kalau begitu ayo kita segera menikah, aku akan mengatakan hal ini kepada papi kamu.” ucap Abizar.


“Hah!? A-aku tadi cuma bercanda aja kok..” ucap Aleena yang kelabakan dengan tantangan Abizar.


“Yah padahal aku sudah serius nih, aku juga lagi buka usaha kuliner kecil-kecilan dan menurutku itu cukup untuk kita hidup berdua.” Ucap Abizar dengan wajah sedihnya.


“Kamu sudah buka usaha? Benarkah?” tanya Aleena.


“Hem, aku sudah buat usaha memang belum besar sih tapi sebelum kita memiliki anak aku yakin kalau usaha itu akan menjadi besar.” Ucap Abizar.


“Bulan depan aja ya, aku juga masih banyak jadwal bulan ini, aku sudah dengan kak Iren sudah mendapat persetujuan dari adik-adik untuk menjadi model sementara, jadi aku yakin kalau bulan depan jadwalku akan sedikit renggang dan kita bisa mengurus pernikahan.” Jelas Aleena.


Abizar hanya tersenyum dan menganggukkan kepala mendengar ucapan Aleena, dia merasa senang karena Aleena sudah jatuh ke dalam pelukannya.


“Aku akan tunjukkan kepadamu kak bagaimana caranya untuk membalas dendam!” gumam Daniyal sambil menatap tajam ke arah Daniyal dan Irene.


***


Hari sudah malam, malam itu Daniyal mengajak Irene untuk tidur di rumah Gilang semalam lagi karena malam itu Daniyal pamit untuk pergi dan Daniyal ga tega kalau meninggalkan Irene sendirian, jadi Daniyal memutuskan untuk menginap semalam lagi agar Irene punya banyak teman di rumah dan dia bisa tenang meninggalkan Irene.


“Kamu beneran ga apa-apa aku tinggal sayang?” tanya Daniyal kepada Irene.


“Ada urusan kerjaan, aku mau bicarain bisnis baru sama Roy.” Jawab Daniyal.


“Baiklah, jangan macam-macam! Jangan kayak waktu itu, aku ga suka kamu deket sama wanita lain!” rengek Irene.


“Siap sayang!” seru Daniyal dengan sikap hormat seperti sedang melakukan upacara.


Setelah mendapatkan persetujuan dari istrinya, Daniyal segera pergi melajukan mobilnya dengan kecepatan tingga menuju rumah papinya.


Ya, sebenarnya Daniyal bukan mau bertemu dengan Roy melainkan pergi ke rumah papinya untuk memberi pelajaran kepada Abizar yang hampir mencelakai istri dan calon anaknya.


Sesampainya di kedaman Bramantio, Daniyal segera masuk ke dalam rumah tanpa menggubris sapaan dari para pelayannya.


“Daniyal? Kamu ada apa kemari?” tanya Bramantio namun tidak di gubris oleh Daniyal yang terus berjalan.


Saat dia melihat Abizar, Daniyal langsung mendekatinya dan…


Bughh!! Bughhh!! Suara pukulan terdengar dengan keras bahkan sampai di telinga Bramantio dan langsung membuatnya beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri kedua anaknya.


“Apa-apaan ini Daniyal!!” teriak Bramantio.


Namun Daniyal bukannya berhenti dia malah semakin membabi buta memukuli wajah tampan adiknya itu, dan Abizar pun sama sekali tidak melawan karena dia ingin melihat sampai di mana kakaknya akan memukulinya hanya karena masalah tadi.


“Aku tidak akan tinggal diam jika kamu mau mencelakai istri dan anakku!” teriak Daniyal sambil mencengkram kerah baju Abizar dengan kasar.


Bramantio yang sudah tidak tahan lagi segera menarik tangan Daniyal dengan kasar hingga tubuh Daniyal berada jauh dari Abizar.


Bram segera membantu putra keduanya itu berdiri dan melihat dengan rasa iba karena wajah tampan putranya itu sekarang sudah lebam dan di penuhi dengan warna biru.


“Gila kamu Daniyal! Apa yang di lakukan adikmu sampai kamu melakukan hal seperti ini?!” ketus Bramantio.


“Papi ga usah ikut campur urusanku! Dia yang sudah keterlaluan sampai aku bisa melakukan hal seperti ini kepadanya!” ketus Daniyal.


“Hentikan Daniyal! Sudah cukup!” teriak Bram yang sudah murka membuat Daniyal diam seketika.


“Jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi hah!?” ketus Bram.


“Tanyakan saja kepadanya! Apa yang sudah dia lakukan sampai membuatku seperti ini!” ketus Daniyal sambil menatap tajam ke arah Abizar.


“Oh papi, aku tidak melakukan apapun, aku hanya membuat Iren hampir terjatuh dan itu juga karena dia berlari-lari dan tidak sengaja tersandung dengan kakiku.” Jelas Abizar.


“Bohong! Dia sengaja melakukan itu pi, aku lihat dengan mata kepalaku sendiri kalau dia memang sengaja ingi membuat Iren jatuh!” sahut Daniyal yang kesal dengan abizar.


Mendengar ucapan Daniyal dan abizar hanya membuat Bram terdiam tanpa ekspresi terkejut sama sekali.


“Yaampun, jadi hanya karena itu kamu sampai seperti ini?” tanya Bram kepada Daniyal.


“Apa pi? Hanya karena itu papi bilang?” ucap Daniyal tidak percaya.


“Sudahlah Daniyal, ini bukan sepenuhnya salah Abizar karena Iren juga salah kenapa dia harus berlari saat itu?” ucap Bramantio.


Daniyal benar-benar tidak habis fikir dengan sikap Bramantio setelah mengetahui semua ceritanya dan tetap membela Abizar yang jelas-jelas sangat salah.