MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 30 (HAMPIR SAJA)



“Apa kamu tau siapa orang-orang yang ada di video itu?” tanya Gilang kepada Irene yang saat itu sedang menyiapkan makan papinya.


Irene yang awalnya sibuk seketika menaruh semua yang dia pegang dan berjalan ke arah papinya.


“Nancy tidak mau memberitahuku pi, yang aku tau kalau dalang dari kejadian kemarin adalah kekasih Nancy, tapi aku ga tau siapa namanya, Aiden juga hanya tau wajahnya saja.” Jelas Irene.


“Benarkah itu? Kamu tidak menutupinya dari papi karena tidak ingin papi yang menghukum mereka kan?” tanya Gilang dengan curiga.


“E-engga kok pi apaan sih, aku beneran ga tau kok ngapain aku nyembunyiin dari papi.” Ucap Irene.


“Papi terlalu sakit hati karena anak br*ngs*k itu, papi tidak akan membiarkannya lolos begitu saja!” ucap Gilang dengan penuh dendam.


“Tapi pi, sepertinya anak seperti mereka ga mungkin tiba-tiba memperlakukan Nancy seperti itu hanya karena Nancy ingin pulang.” Ucap Irene.


“Bukankah Nancy bilang kalau pacarnya memang suka memukulinya? Berarti dia bisa melakukan apapun kepada Nancy.” Ucap Gilang.


Mendengar ucapan papinya membuat Irene menganggukkan kepala, namun sebenarnya masih ada sesuatu yang mengganjal di hati Irene.


“Bolehkah Irene bertanya hukuman apa yang mau papi berikan kepada mereka?” tanya Irene.


“Papi akan membuat mereka sadar kalau mereka berurusan dengan orang yang salah, bahkan kalau bisa papi akan membuat mereka semua keluar dari kampus mereka masing-masing.” Ucap Gilang.


Gilang menoleh ke arah Irene yang hanya diam melihat wajahnya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


“Kenapa? Apa papi terlalu menakutkan?” tanya Gilang kepada anak sulungnya itu.


“Ah tidak kok pi, wajar kalau papi melakukan itu karena mereka sudah sangat keterlaluan kepada Nancy.” Jawab Irene.


Irene kembali mengambilkan makan dan juga obat untuk papinya dan segera memberikan kepada sang papi.


“Pi makan dulu ya, habis itu minum obatnya.” Ucap Irene yang mau menyuapi papinya.


“Papi makan sendiri aja deh, apaan sih kayak anak kecil aja di suapin.” Ucap Gilang.


“Lah emangnya kenapa kalo di suapin anaknya sendiri? Malu ya papi?” goda Irene.


“Iya lah malu, gimana bisa papi masih sehat gini di suapin sama anak gadisnya, harusnya kamu menyuapi anak-anakmu tau.” Ucap Gilang yang sudah merebut piring yang di pegang Irene.


“Hah? Apaan sih pi, papi ngigo ya?” tanya Irene.


“Kamu ga mau nikah dan punya anak? Sudah waktunya kamu menikah Irene, dan papi sudah menentukan waktu untuk kencan butamu.” Ucap Gilang.


“Apa? Kenapa papi ga bilang dulu sama Iren masalah ini? Papi kebiasaan deh!”’ ketus Irene.


“Papi capek nyuruh kamu berkencan tapi kamu sama sekali ga denger ucapan papi.. Kenapa sih kamu ga mau punya pacar? Jangan-jangan kamu ga normal ya Iren?” tanya Gilang yang membuat Irene terkejut sampai tersedak.


“Apa? Papi nuduh aku suka sesame cewek?” tanya Irene.


“Mungkin, terus apa alasan kamu ga mau punya pacar dan menikah?” tanya Gilang.


“Yaampun papi, Iren ini masih mau fokus kerja mau bahagiain papi dan adik-adik, kalo Iren udah berhubungan sama laki-laki, apa Iren akan tetap menjadi Iren yang sekarang?” tanya Irene.


“Kami akan semakin bahagia kalau kamu menikah dan memiliki cucu dan keponakan untuk papi dan adik-adikmu.”


“Kenapa ga nyuruh Aleena saja menikah?”


“Kalo sampe Aleena yang menikah lebih dulu, kamu akan sulit untuk menikah Irene, kamu ga boleh di langkahi adikmu.” Ucap Gilang.


“Apa? Haha papi percaya sama yang seperti itu? Haduh udah deh pi sekarang ini udah jaman modern dan banyak yang sudah berubah.” Ucap Irene sambil menggelengkan kepalanya sambil berjalan menuju pintu kamar.


“Kamu mau kemana?” tanya Gilang.


“Mau ke perusahaan dulu bentar terus ke rumah sakit.” Jawab Irene.


“Haah,, papi selalu saja mengancam! Aku akan menemui laki-laki itu tapi setelah 5 menit aku akan meninggalkannya.” Ucap Irene yang langsung keluar dari kamar Gilang dan menutup pintunya.


Gilang hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan anak sulungnya itu lalu kembali menikmati makanannya.


Irene yang sudah keluar dari kamar hanya berjalan keluar rumah sambil menggelengkan kepala karena ucapan papinya yang terus menjodohkan dirinya.


“Non, non Iren mau keluar?” tanya pelayan rumahnya.


“Iya bi mau ke kantor, titip papi ya bi takut bandel mau kemana-mana.” Ucap Irene.


“Siap non.” Ucap pelayan rumahnya.


Irene hanya tersenyum lalu segera masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya ke perusahaannya.


Semua orang di perusahaannya terkejut melihat kehadiran Irene yang katanya tidak akan ke perusahaan selama beberapa hari.


“K-kak Iren, anda ke perusahaan?” tanya salah satu karyawannya.


“Hm kenapa? Kok kamu kayak liat hantu begitu?” tanya Irene.


“Eh, engga kok soalnya kata kak Aleen kak Iren ga masuk kerja selama beberapa hari.”


“Iya aku cuma mau mampir aja kok.” Ucap Irene yang langsung berjalan menaiki lift dan menekan tombol lantai paling atas.


Di dalam ruangan Irene, Aleena sedang melihat laporan milik kakaknya yang kemarin belum sempat dia lihat karena ada pemotretan.


“Haah, bagaimana bisa otak kak Iren masih encer mengerjakan hal seperti ini..” gumam Aleena yang masih bisa di dengar oleh Abizar.


Dengan perlahan Abizar yang mendengar ucapan Aleena segera berjalan mendekatinya dan ikut membaca laporan yang sedang di pegang Aleena dari belakang.


“Apa kamu tidak bisa mengerjalan laporan seperti itu?” tanya Abizar yang membuat Aleena terkejut dan menoleh ke belakang.


Abizar yang berpegangan dengan kursi putar yang di duduki Aleena langsung tersungkur di atas tubuh Aleena saat Aleena memutar kursinya untuk melihat ke belakang.


Deg,, deg,, deg.. Jantung Aleena berdetak dengan kencang hingga Abizar mungkin bisa mendengarnya, Aleena juga menelan salvilanya dan tubuhnya masih mematung tidak bisa di gerakkan.


“Yaampun jantungku, apa jantungku baik-baik saja? Kenapa dia berdetak kencang sekali?” batin Aleena sambil menatap kedua mata Abizar dalam-dalam.


“Dia cantik sekali, tapi aku tidak bisa menyukainya karena dia adalah musuhku! Tapi aku akan memanfaatkan waktu seperti ini untuk membuatnya jatuh cinta kepadaku.” Batin Abizar yang semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Aleena.


Aleena terkejut melihat Abizar yang semakin mendekati wajahnya, namun Aleena tidak bisa melakukan apapun, dia ingin menolak tapi tubuhnya berkata lain, justru sekarang kedua matanya seakan menutup dengan sendirinya.


Cup! Abizar berhasil mencium bibir mungil Aleena dan bahkan memainkannya membuat Aleena yang tidak memiliki pengalaman pasrah mengikuti permainan Abizar.


Ceklek! Tiba-tiba saja Aleena dan Abizar terkejut saat mendengar suara pintu terbuka dan segera menghentikan aktifitasnya. Dengan segera Abizar kembali berdiri dan Aleena membenarkan posisi duduknya.


“Kalian berdua, kenapa kalian seperti orang yang sedang ketangkep basah?” tanya Irene.


“Hah, apaan sih kak! Lagian kak Iren ngagetin aja sih bukannya ketok pintu dulu.” Ucap Aleena.


“Kenapa harus ketuk pintu? Bukannya ini ruanganku, jadi aku bebas kan mau masuk kapan aja, emang ada sesuatu yang ngebuat aku harus ketuk pintu dulu?” tanya Irene yang semakin membuat Aleena mati kutu.


“Kamu lagi ngapain?” tanya Irene kepada Aleena.


“Hah? Ngapain apa maksudnya kak?” tanya Aleena yang seperti sedang ketakutan.


“Kamu kenapa sih kayak ketakutan gitu? Aku tanya kamu lagi baca apa? Bagaimana dengan pekerjaanku?” tanya Irene kembali.


“Ah pekerjaan, ini kak aku lagi liat laporan kemarin soalnya kemarin aku ada jadwal pemotretan, jadi baru sempet sekarang bacanya.” Jawab Aleena.


Irene berjalan mendekati Aleena dan mengambil laporan yang ada di tangannya, dan Aleena bisa bernafas lega karena Irene tidak melihat apa yang sudah mereka lakukan tadi.