MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 141 (ISTIRAHAT TOTAL)



Setelah acara pernikahan, Irene benar-benar merasa kelelahan dan perutnya terasa kram hingga membuat Daniyal khawatir dan menyuruh Irene untuk beristirahat.


“Jangan kemana-mana! Kamu harus tetap berada di sini aku akan menghubungi dokter untuk memeriksa keadaanmu.” Ucap Daniyal yang segera menghubungi dokter Gunawan dan menyuruhnya untuk datang ke hotel.


“Mas, aku tidak apa-apa kok…” ucap Irene dengan lemah.


Sebenarnya Daniyal senang karena ini pertama kalinya Irene memanggilnya dengan sebutan ‘mas’ ada rasa yang aneh di hatinya, hanya saja saat ini kondisi Irene lebih penting daripada panggilan Irene kepadanya.


Tidak lama kemudian, dokter Gunawan masuk ke dalam hotel dan dengan segera staff hotel melarang mereka untuk masuk ke dalam hotel itu karena saat itu hotel sedang di tutup untuk umum.


Dokter Gunawan akhirnya menunjukkan kartu identitasnya dan menjelaskan maksud tujuannya untuk memeriksa salah satu pasiennya yang sedang berada di hotel itu.


“Maaf tuan tapi bisa di sebutkan siapa? Karena kalau ada apa-apa pasti mereka menghubungi pihak hotel lebih dulu baru kami yang menghubungi pihak rumah sakit untuk meminta bantuan.” Jelas dokter Gunawan.


“Kalau begitu panggilkan tuan Daniyal kemari, kalau sampai ada apa-apa kepada istrinya nona Irene maka kalian yang akan bertanggung jawab.” Ucap dokter Gunawan.


Mendengar nama Irene membuat para staff hotel terkejut dan saling menatap satu sama lain, namun mereka tetap tidak percaya dengan apa yang di katakan dokter Gunawan karena mereka baru saja melihat Irene sangat sehat dan tidak terlihat sedang sakit, akhirnya staff hotel tetap menyuruhnya untuk menunggu karena mereka ingin mengkonfirmasi kepada Daniyal sendiri.


Karena menunggu terlalu lama, akhirnya Daniyal memutuskan untuk turun ke lobby dan menunggu dokter Gunawan di sana, namun dia terkejut saat keluar dari lift dia sudah di suguhkan dengan para staff hotel yang sedang berdebat dengan dokter pribadi istrinya itu.


“Apa-apaan ini!?” teriak Daniyal dengan kesal berjalan menghampiri mereka.


“T-tuan Daniyal, maaf ini ada orang yang mengaku kalau nyonya Irene sedang sakit dan membutuhkan dokter.” Adu staff tersebut.


“Aku memang memanggilnya, dia adalah dokter pribadi istriku! Beraninya kalian mencegah dia masuk ke dalam, kalau sampai istriku kenapa-kenapa, kalian semua akan di pecat dari sini!” ketus Daniyal.


“Apa?!” teriak semua staff hotel.


“M-maaf tuan Daniyal, kami benar-benar tidak tau kalau dia adalah dokter pribadi nyonya Irene, jangan pecat kami tuan…” pinta staff tersebut.


“Tenanglah tuan Daniyal, ini hanya salah paham saja, lain kali kalian tidak boleh mengulangi hal seperti ini, harusnya kalian lebih sopan jika ingin mengintrogasi orang, setidaknya persilahkan orang itu untuk duduk selama kalian mengkonfirmasi kebenarannya.” Jelas dokter Gunawan.


“Iya dok, maafkan kami karena sudah berlaku tidak sopan, kami janji tidak akan mengulanginya lagi.”


“Sudahlah, untung saja ada dokter Gunawan, kalau tidak kalian pasti sudah aku pecat!” ketus Daniyal.


Akhirnya Daniyal dan dokter Gunawan segera berjalan menuju lift untuk memeriksa keadaan Irene, sedangkan staff hotel tadi hanya bisa bernafas lega saat melihat menantu bossnya sudah pergi dan memaafkan kesalahan mereka.


Di dalam lift, dokter Gunawan tidak berani bertanya atau mengatakan apapun karena dia tau kalau saat ini Daniyal pasti sangat kesal dengan tingkah staff hotelnya.


“Maaf karena harus melihat sisiku yang seperti ini dok.” Ucap Daniyal memecah keheningan di dalam lift.


“Iya tuan, saya mengerti kalau anda pasti sangat mengkhawatirkan keadaan istri anda.” Ucap dokter Gunawan.


“Walaupun hotel ini milik mertuaku dan yang berhak memecat mereka adalah mertuaku, tapi aku yakin beliau pasti mengerti kalau aku saat itu sedang emosi.” Ucap Daniyal.


“Jadi hotel ini milik mertua anda? Pantas saja anda bisa dengan lantang mengatakan kalau anda akan memecat mereka.” Ucap dokter Gunawan.


Daniyal hanya tersenyum lalu melirik ke arah dokter Gunawan sekilas.


“Dokter lumayan juga ya, sebenarnya sejak awal bertemu dokter aku benar-benar kagum, karena dokter sudah menjadi dokter yang hebat di usia yang terbilang masih muda.” Puji Daniyal.


“Hah? Maksudnya? Saya juga masih normal dok, yaampun di puji sedikit aja udah di kira melenceng!” ucap Daniyal sambil menggelengkan kepalanya.


“Padahal aku ini berniat untuk mengenalkanmu kepada salah satu adik iparku.” Ucap Daniyal.


“Lebih baik jangan lakukan hal itu tuan, kalau jodoh pasti akan bertemu lagi.” Ucap dokter Gunawan.


“Ya kamu benar, lagi pula kamu akan kewalahan untuk menghadapi adik-adik iparku.” Balas Daniyal.


Setelah pembicaraan random itu, akhirnya keduanya kembali diam sampai akhirnya pintu lift terbuka dan keduanya berjalan keluar dari lift menuju kamar yang ada di lantai paling atas itu.


“Ayo silahkan masuk dok, saya sudah menyuruh Irene untuk beristirahat di tempat tidurnya.


Dokter Gunawan melihat Irene sedang berbaring di atas tempat tidurnya sambil tersenyum saat melihat dokter Gunawan berjalan menghampirinya.


“Jadi bagaimana nona Irene? Apa yang anda rasakan saat ini?” tanya dokter Gunawan.


“Baik dok, suami saya aja yang terlalu berlebihan.” Ucap Irene.


“Apa?! Berlebihan kamu bilang? Aku ini khawatir dengan keadaanmu Irene, kamu sudah cukup lama berdiri dan ke sana kemari untuk mengurus acara pernikahan.” Ucap Daniyal.


“Maaf ya dok, suami saya jadinya begitu kalo udah khawatir.” Ucap Irene.


“Saya mengerti nona, saya juga akan melakukan hal yang sama jika istri saya kelelahan.” Ucap dokter Gunawan membela Daniyal.


“Cih! Kenapa dokter jadi membela suamiku?” ketus Irene tidak suka.


Kali ini dokter Gunawan tidak menjawab ucapan Irene, dia segera mulai memeriksa keadaan pasiennya itu dan tersenyum setelahnya.


“Bagaimana dok?” tanya Daniyal.


“Semuanya baik-baik saja tuan, memang nona Irene harus istirahat sampai besok, jangan terlalu memaksakan tubuhnya untuk melakukan pekerjaan karena itu akan membuat perutnya kram kembali.” Jelas dokter Gunawan.


“Dengar kan sayang? Kamu harus full istirahat hari ini, besok kita akan kembali ke rumah dan kamu bisa santai beristirahat di sana.” Ucap Daniyal.


“Iya iya suamiku yang bawel, aku akan istirahat janji!” seru Irene.


Setelah memeriksa keadaan Irene, dokter Gunawan segera berpamitan kepada Irene dan Daniyal, lalu Daniyal mengantar dokter Gunawan keluar kamarnya.


“Beneran ga perlu di anter sampe bawah dok?” tanya Daniyal.


“Bener tuan, saya tidak akan teresat bukan?” ucap dokter Gunawan.


“Tentu saja dokter tidak akan tersesat karena lift ini tujuannya hanya satu, terimakasih banyak dok.” Ucap Daniyal.


Dokter Gunawan hanya tersenyum lalu segera masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka.


“Sekali lagi terimakasih banyak dok.” Ucap Daniyal yang di balas anggukan oleh dokter Gunawan.


Setelah memastikan lift yang di naiki dokter Gunawan sudah berjalan turun, barulah Daniyal berjalan kembali ke kamarnya untuk menemani sang istri yang sedang beristirahat.