MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 24 (LUKA BAKAR)



Irene yang mencoba untuk menenangkan Nancy terkejut saat hpnya berbunyi, dia segera mengangkat telfon tersebut saat mengetahui kalau papinya menghubunginya.


“Halo papi, ada apa?” tanya Irene.


“Iren, papi sekarang ada di rumah sakit karena adikmu mengalami luka bakar!” ucap Gilang.


“Apa?! Siapa papi?”


“Ratu!” ucap Gilang yang langsung mematikan telfonnya karena terburu-buru.


Irene yang mendengar ucapan papinya segera menaruh hpnya di sembarang tempat lalu berlari keluar hingga membuat semua yang ada di sana kebingungan.


“Kak, kakak!” teriak Nancy sambil berlari mengikuti Irene.


Daniyal sudah turun dari tempat tidur pasiennya, namun Aiden menghentikannya dan menyuruh Daniyal untuk kembali ke tempat tidurnya.


“Biar aku saja kak, kakak tunggu saja di sini jangan banyak gerak biar cepet sembuh.” Ucap Aiden yang langsung di balas anggukan oleh Daniyal.


Daniyal hanya bisa terdiam sambil melihat semua orang pergi dan tersisa dirinya di dalam ruangannya.


Baru saja Daniyal mau pergi dia melihat hp Irene yang tergeletak di sofa, dengan segera Daniyal berjalan mendekati sofa untuk mengambil hp Irene.


Untungnya hp Irene tidak di kunci dan dengan mudahnya Daniyal membuka hp milik Irene. Daniyal mengirim pesan kepada Gilang seolah-olah pesan itu di kirim oleh Irene.


Bahkan Daniyal mengatur jam pesan tersebut di kirim agar terlihat seperti Irene sendiri yang mengirim pesan tersebut.


“Aku akan lihat masalah apa yang akan terjadi sekarang.” Gumam Daniyal yang tersenyum sinis sambil menaruh kembali hp Irene ke tempatnya.


Sedangkan Irene tetap berlari mencari keberadaan adiknya, sedangkan Nancy dan Aiden masih mengikuti Irene yang sudah berada jauh darinya.


“Duh kakak, ada apa sih sebenernya? Kenapa dia lari-larian begitu?” ucap Nancy.


“Aku juga tidak tau nona, mungkin ada hal yang mendesak.” Balas Aiden.


Sampailah akhirnya mereka di depan sebuah ruangan dan melihat papinya, Aleena dan Queen di depannya.


“Papi, ada apa ini? Kenapa papi bilang kalo Ratu memiliki luka bakar?” tanya Irene setelah sampai di sana.


“Selama ini Ratu menyembunyikannya kak, sebenarnya dia terluka saat kebakaran kemarin.” Jelas Aleena.


“Anak itu! Bagaimana keadaannya sekarang? Apa dia sudah di obati?” tanya Irene.


“Sudah kak, dia sedang di tangani oleh dokter.” Jawab Queen.


Irene menghela nafas panjang lalu duduk di tempat duduk yang ada di depan ruang perawatan, sedangkan Queen melihat Nancy yang ternyata berada di rumah sakit.


“Kak Nancy? Kenapa kakak bisa ada di rumah sakit? Apalagi kakak pake baju kak Iren, baju kakak kemana?” tanya Queen tiba-tiba.


Nancy yang mendapat pertanyaan seperti itu langsung terdiam dan bingung mau menjawab apa.


Sedangkan Aleena yang mendengar pertanyaan Queen langsung menoleh ke arah Nancy dan saling bertatapan dengan Queen lalu menggelengkan kepala kepada Queen untuk memberi isyarat untuk tidak mengungkitnya saat ini.


Queen akhirnya hanya bisa menghela nafas panjang lalu segera melupakan pertanyaannya kepada Nancy dan berusaha untuk melupakan rasa penasarannya.


Melihat adiknya yang sudah tidak membahas tentang keberadaan dirinya membuat Nancy bisa menghela nafas panjang dan sedikit lebih tenang.


Tidak lama kemudian, dokter yang merawat luka Ratu sudah keluar dari ruang perawatan, semua orang segera menghampiri dokter tersebut dan membanjiri dokter tersebut dengan banyak pertanyaan.


“Dok, bagaimana dengan anakku!?” tanya Gilang.


“Bagaimana kondisi adikku?” tanya Irene.


Sedangkan yang lainnya hanya berdiri di belakang Irene dengan wajah yang penasaran.


“Nona Ratu baik-baik saja, kalian tidak perlu khawatir, hanya saja karena lukanya tidak langsung di obati mungkin nantinya akan ada bekas luka di tubuhnya.” Jelas dokter tersebut.


“Apa luka itu bisa di hilangkan?” tanya Irene.


“Bisa kalau mau di operasi nona, karena lukanya terlalu dalam jadi akan sulit jika di sembuhkan oleh salep.” Jelas dokter tersebut.


Semuanya mengangguk mendengar ucapan Gilang, lalu dokter mengijinkan semua orang masuk ke dalam sebelum Ratu di pindahkan ke kamarnya.


Ratu segera menundukkan kepala melihat semua keluarganya masuk ke dalam ruangannya, Ratu malu karena papi dan semua kakaknya harus melihatnya tidak berdaya seperti ini.


“Jangan menundukkan kepalamu! Apa kamu malu karena kami semua melihatmu tidak berdaya seperti ini?” tanya Irene kepada Ratu.


“Apa maksudnya kak? Kenapa dia harus malu sama kita?” tanya Aleena.


“Karena dia memang begitu, selama ini dia tidak pernah mengatakan semua kejadian yang dia alami kepada kita.” Jelas Irene.


“Ingatlah Ratu, menjadi kuat memang bagus tapi ada kalanya kita harus membagi semua keluh kesah kepada orang terdekat, kita semua adalah keluargamu yang akan selalu melindungi dan mendengar semua perasaan yang kamu rasakan.” Jelas Irene kepada Ratu.


Mendengar ucapan kakaknya membuat Ratu menangis tersedu-sedu karena merasa bersalah sudah membuat semua keluarganya khawatir.


“Hikss,, hikss, maafkan aku..” ucap Ratu.


Irene, Aleena, Nancy dan Queen segera menghampiri Ratu dan memeluknya dengan erat mencoba untuk memberikan semangat kepadanya.


“Jangan memelukku terlalu erat, lukaku belum sembuh tau!” ucap Ratu yang membuat semuanya tersadar dan segera melepaskan pelukannya.


“Sorry Ratu..” ucap semuanya setelah melepaskan pelukannya dari Ratu.


“Udah sekarang ayo kita berfoto.” Ucap Gilang tiba-tiba.


“Hah? Berfoto pi? Papi seriusan?” tanya semua anaknya.


“Kenapa? Papi jarang liat kalian akur begini, biasanya ada aja yang ngajak debat, tapi sayang hp papi ketinggalan di mobil kayaknya.” Ucap Gilang.


Semuanya hanya tertawa mendengar ucapan papinya, karena memang benar mereka semua tidak pernah akur selama ini.


Sedangkan Ratu menoleh ke arah Queen yang berada di sebelahnya, lalu dia menggenggam tangan kembarannya itu secara tiba-tiba.


“Ada apa?” tanya Queen.


“Maaf.” Ucap Ratu dengan nada yang kecil.


“Hah? Apaan sih? Ga denger tau!” ucap Queen.


“Maaf! Aish, kamu ngebuat aku teriak tau!” ketus Ratu yang malu karena semua orang mendengar suaranya.


“Dih, kamu mau minta maaf apa mau ngajak ribut lagi sih?!” ketus Queen.


“Nah kan, belum rapet ini mulut papi kalian udah mau bertengkar lagi!” ketus Gilang.


Ratu dan Queen langsung diam mendengar ucapan papinya, Ratu segera berdecak kesal karena Queen tidak mendengar permintaan maafnya.


“Aku minta maaf karena sudah marah dan mengatai kamu tadi.” Ucap Ratu.


“Lagian kenapa sih kamu marah-marah cuma gara-gara air?” tanya Queen.


“Kamu kira badanku ga sakit kalo kena air? Asal kamu tau, aku ini udah ga mandi sejak kemarin, gimana aku ga kesel sama kamu! Aku udah bela-belain ga mandi biar ga kena air kamu malah numpahin air ke tubuhku.” Jelas Ratu.


“Ya sorry aku kan ga tau kalo kamu luka gini, kalo tau juga ga usah ngomong! Lagian aku udah minta maaf tadi tapi kamu masih sewot aja!” ketus Queen.


“Kalian berdua ini sebenernya maaf-maafan apa mau ribut sih? Udahlah ayo semuanya keluar karena Ratu akan segera di pindahkan ke ruangan.” Ajak Irene.


“Pi, aku sudah meminta dokter untuk memindahkan Ratu ke kamar VVIP sebelah Dani, jadi aku bisa memantau keduanya secara bergantian kalau kalian semua sibuk.” Ucap Irene.


“Baguslah kalo gitu, kamu tidak perlu memikirkan perusahaan untuk beberapa hari kedepan, Papi sudah menyuruh Elif untuk mendampingi Aleena mengurus perusahaanmu.” Jelas Gilang.


“Hmm Iren tau pi, tapi tetep aja Iren harus tetap memantau perusahaan sesekali.” Balas Irene.


“Kakak tenang saja, setiap pulang kerja aku akan langsung ke rumah sakit untuk memberikah laporan.” Sahut Aleena.


“Terimakasih Aleen.” Ucap Irene sambil tersenyum ke arah sang adik, sedangkan Aleena hanya membalas senyuman Irene sedang anggukan dan juga senyuman.