MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 115 (JENIS KELAMIN)



“Apa kamu sudah selesai sayang?” tanya Daniyal kepada sang istri.


“Sudah semua sayang ayo kita segera berangkat.” Ucap Irene.


Irene dan Daniyal berpamitan keapada bi Sumi dan menyuruhnya untuk menjaga diri baik-baik selama mereka tidak ada di rumah.


“Bibi tinggal di sini aja sekalian jagain rumah jangan di pavilion.” Ucap Daniyal.


“Iya tuan..” jawab bi Sumi.


“Bibi bisa ajak pelayan yang lain untuk menemani bibi, aku tau bibi pasti kesepian sendirian tinggal di rumah besar ini.” Sahut Irene.


“Tapi nyonya..” bi Sumi melihat ke arah Daniyal untuk memastikan apakah dia di ijinkan untuk membawa pelayan yang lain atau tidak.


Sedangkan Irene yang melihat ekspresi wajah bi Sumi segera menyadari kalau dia takut tidak di ijinkan oleh Daniyal.


“Tidak apa-apa bi, untuk hari ini saja boleh kan sayang?” ucap Irene sambil merangkul lengan Daniyal dengan erat.


“Hah? Eh, iya bi tidak apa-apa yang penting besok sebelum kami pulang rumah sudah bersih dan para pelayan harus sudah kembali ke pavilion.” Ucap Daniyal.


“Baik tuan, terimakasih banyak.” Ucap bi Sumi dengan senang.


Daniyal hanya mengangguk dan segera berjalan keluar rumah dan bersiap di dalam mobil.


“Bibi tenang saja, besok kita kembali sore hari kok jadi bibi bisa bersantai dan tidak perlu buru-buru.” Ucap Irene yang langsung berjalan menyusul suaminya yang sudah ada di mobil.


Setelah berpamitan dan siap di dalam mobil, Daniyal segera melajukan mobilnya ke rumah sakit lebih dulu karena dia ingin meminta obat mual untuk Irene.


Selama ini Irene mual kalau dia di rumah saja, jika di perusahaannya dia sama sekali tidak mual, makanya Irene sebenarnya lebih betah berada di perusahaan di bandingkan di rumah.


Irene selalu berpikir kalau mungkin saja anaknya ini akan menjadi seperti dirinya yang gila dengan pekerjaan, Irene tidak tau anaknya akan berjenis kelamin laki-laki atau perempuan karena dia dan Daniyal memang tidak ingin mengetahuinya lebih dulu.


“Sayang, apa kamu mau melihat jenis kelamin anak kita?” tanya Irene.


“Hem, apa tidak apa? Kalau aku tidak masalah mau laki-laki atau perempuan.” Ucap Daniyal.


“Semoga saja laki-laki, karena sepertinya anak kita nanti akan gila kerja seperti aku.” Ucap Irene.


“Emang kalo perempuan gila kerja kenapa?” tanya Daniyal.


“Dia tidak akan memiliki waktu bermain dengan teman-temannya seperti aku nanti, aku ingin anak perempuanku menikmat masa-masa mudanya.” Jelas Irene.


“Kalau laki-laki kan memang sudah jadi tanggung jawabnya untuk bekerja, dan dia juga pasti memiliki waktu untuk bersenang-senang.” Lanjut Irene.


“Yah kamu benar, tapi kalau pun anak kita nantinya perempuan, aku tidak akan membuatnya belajar tentang perusahaan secepat itu.” Jawab Daniyal.


“Ah aku jadi deg-degan, apa sebaiknya tidak tau saja ya?” tanya Irene.


“Aku terserah kamu saja sayang.” Jawab Daniyal.


“Tapi aku sangat penasaran dengan jenis kelamin anak kita sayang…” rengek Irene.


Mendengar ucapan Irene membuat Daniyal menggelengkan kepala dan tersenyum karena istrinya itu labil sekali semenjak Hamil.


“Kalo gitu biar aku aja yang denger jenis kelaminnya, kamu bisa menutup telingamu nanti.” Ucap Daniyal.


Irene hanya diam sambil berfikir, dia bingung apakah dia ingin tau atau tidak, sedangkan Daniyal hanya tersenyum dan kembali fokus untuk menyetir.


Sesampainya di rumah sakit, Irene dan Daniyal segera melangkahkan kaki ke dokter kandungan yang biasanya memeriksa Irene.


tersebut.


“Ini semua karena Brams yang menyarankan dokter Gunawan itu! Kalau tidak aku pasti sudah menyuruh Iren periksa ke dokter wanita.” Gumam Daniyal.


“Kamu ini kebiasaan deh sayang, setiap kita ke sini pasti wajahnya begitu dan bergumam sendiri.” Ucap Irene.


“Harusnya aku ga minta pendapat Brams tentang dokter kandungan!” ketus Daniyal.


“Dokter Gunawan itu dokter berpengalaman, dan juga sangat tampan walaupun usianya sama sepertimu, hihihi..” ucap Irene sambil tersipu malu.


“Kamu jangan menyukainya sampai seperti itu! Aku tidak mau kalau sampai anakku mirip dengan dokter itu!” ketus Daniyal.


Irene hanya tersenyum licik sambil menggelengkan kepala melihat tingkah cemburu suaminya kepada dokter kandungannya.


Irene memang lebih melihat kualitas dokternya karena ini adalah anaknya yang pertama dan dia harus memilih dokter terbaik, di sisi lain dokter Gunawan memang sangat tampan dan gagah, banyak sekali ibu-ibu hamil yang ingin di periksa dengan dokter Gunawan karena penampilan fisiknya itu hehe…


Mereka sudah sampai di ruang pemeriksaan dan Irene langsung masuk ke dalam karena mereka sudah membuat janji lebih dulu dengan dokter Gunawan, sedangkan Daniyal mengikuti Irene masuk ke dalam ruang pemeriksaan dari belakang.


“Selamat sore nyonya Irene…” sapa dokter Gunawan dengan ramahnya.


“Sore dokter Gunawan, anda semakin tampan saja ya..” puji Irene dengan santainya.


Medengar ucapan istrinya membuat Daniyal melotot tidak percaya, bagaimana bisa ada orang yang memuji laki-laki lain di depan suaminya sendiri.


“Sayang, kamu tidak boleh bicara seperti itu!” ketus Daniyal.


“Hah? Kenapa sayang? Aku kan hanya mengatakan kebenaran.” Ucap Irene sambil menoleh ke arah suaminya.


“Tidak apa tuan Daniyal, aku dengan senang hati menerima pujian dari nyonya Irene.” Sahut dokter Gunawan.


“Dokter sih terima, tapi aku engga!” ketus Daniyal.


“Sayang, kamu ini jangan ngomong terus ah! Biar dokter Gunawan memeriksa aku!” protes Irene.


Akhirnya Daniyal mengalah dan segera berhenti bicara karena dia ingi pemeriksaan itu cepat selesai dan Irene tidak menatap dokter Gunawan lagi.


Akhirnya dokter Gunawan memberitahu jenis kelamin anak yang sedang di kandung Irene, dokter Gunawan juga memberikan obat mual dan vitamin untuk Irene.


Setelah pemeriksaan selesai, Irene dan Daniyal segera berpamitan dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka ke rumah Gilang.


“Apa lagi ya yang di siapkan papi kali ini?” tanya Irenesambil berfikir.


“Papi sealu menyiapkan banyak hal untuk kita sayang, mungkin hari ini akan lebih megah karena kita akan mengumumkan tentang kehamilanmu.” Jelas Daniyal.


“Benar juga ya, pasti banyak banget yang di siapkan papi, dan sekarang aku mulai deg-degan deh.” Ucap Irene.


“Deg-degan kenapa?”


“Ya deg-degan aja, penasaran reaksi semuanya setelah tau aku hamil.” Ucap Irene.


“Mereka pasti heboh dan berteriak bahagia, tapi mungkin mereka juga akan marah sama kita karena terlambat memberitahu tentang kabar bahagia ini.” Jelas Daniyal.


“Ah kamu benar! Tapi mereka tidak akan memukul ibu hamil bukan?” tanya Irene dengan wajah memelas.


“Tentu saja tidak akan sayang, walaupun mereka memukulmu pasti aku akan melindungimu dengan sekuat tenaga.” Ucap Daniyal.


Mendengar ucapan suaminya membuat Irene meleleh, jantungnya berdegup kencang mendengar kata-kata manis yang di keluarkan suaminya yang memang akhir-akhir ini selalu memujinya dan memberikannya kata-kata manis.