MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 44 (MENANGIS)



Sesampainya di perusahaan, Irene segera keluar dari mobil begitu pula dengan Daniyal, namun sebelum berjalan masuk ke dalam perusahaan, Irene menoleh ke arah Daniyal dengan tatapan tajamnya.


“A-ada apa? Kenapa kamu menatapku seperti itu?” tanya Daniyal dengan perasaan was-was.


“Kau! Jangan memikirkan hal yang tadi! Aku hanya kebetulan melihatmu saat kamu juga melihatku dan mata kita bertatapan! Jangan terlalu percaya diri!” ketus Irene yang langsung berjalan dengan cepat masuk ke dalam


perusahaan.


Daniyal yang melihat tingkah Irene hanya bisa tersenyum tipis karena menganggap Irene yang sangat dingin bisa bertingkah malu-malu seperti tadi.


“Cih! Sedingin apapun sikapnya, dia hanyalah wanita biasa yang mudah di kendalikan!” gumam Daniyal yang berjalan dengan santai mengikuti Irene ke dalam perusahaan.


Irene menaiki lift menuju ke lantainya bersama Daniyal, tepat saat pintu terbuka dia melihat Elif yang sudah menunggu di depan pintu lift dengan wajah yang terlihat tegang.


“Hai Elif, kamu pasti menungguku bukan?” goda Daniyal yang sudah terbiasa bercanda dengan sekretaris pribadi Irene tersebut.


Namun Elif hanya diam saja dengan wajah yang masih menegang, melihat hal itu membuat Irene dan Daniyal saling bertatapan dan merasa kalau ada hal serius yang sudah terjadi.


“Ada apa Elif? Apa ada sesuatu yang terjadi di perusahaan?” tanya Irene.


“Sebaiknya kak Irene lihat sendiri aja kak.” Ucap Elif yang langsung memberikan tab yang ada di tangannya.


Irene menatap wajah Elif lebih dulu sebelum akhirnya dia menatap layar tab yang di tunjukkan oleh Elif.


Dan betapa terkejutnya Irene saat melihat data keuangan mereka yang minus di hampir setiap anggaran.


“Apa-apaan ini Elif?! Bagaimana bisa semua anggaran kita min?” tanya Irene dengan wajah yang tidak bisa di kondisikan.


Mendengar ucapan Irene membuat Daniyal ikut terkejut dan merebut tab yang ada di tangan Irene hingga membuat Irene terkejut.


“Bagaimana bisa keuangan kalian menurun drastis seperti ini? Kamu harus segera mengadakan rapat dengan seluruh ketua divisi, pasti ada seseorang penghianat atau koruptor yang ada di perusahaan ini.” Jelas Daniyal.


“Bagaimana kamu tau tentang hal ini kak? Apa kamu pernah bekerja di perusahaan?” tanya Elif.


“Hm, aku pernah beberapa kali bekerja di perusahaan, aku juga memiliki ijasah di bidang management jadi aku mengeetahui hal seperti ini.” Jelas Daniyal.


“Baguslah! Kalau begitu kak Dani bisa membantu kak Iren untuk mengurus masalah ini, aku akan segera mengumumkan kepada seluruh divisi untuk datang ke rapat dadakan.” Ucap Elif.


Irene hanya mengangguk mengiyakan ucapan Elif lalu dia segera berjalan masuk ke dalam ruangannya, Elif yang melihat Irene sudah masuk ke dalam ruangannya segera masuk ke dalam lift yang sudah terbuka.


“Semangat kak Dani, mohon bantuannya ya kasihan kak Iren kalo ngatasin sendirian.” Ucap Elif sebelum akhirnya pintu lift tertutup rapat.


Daniyal yang endengar ucapan Elif hanya bisa diam lalu berjalan mengikuti Irene yang masuk ke dalam ruangannya.


Daniyal tanpa sengaja melihat Irene yang sedang duduk di kursinya dan menghadap tembok menangis karena mendengar suara sesegukan.


“Iren?” panggil Daniyal.


“J-jangan mendekat! Aku tidak mau kamu melihatku seperti ini!” tegas Irene sambil sesekali sesegukan.


Namun Daniyal tidak menghiraukan ucapan Irene dan terus saja berjalan mendekat ke arah Irene dan berjongkok tepat di hadapan Irene yang sedang menundukkan kepalanya.


“Tidak perlu merasa malu, kamu bisa menjadikanku teman jika kamu membutuhkannya.” Ucap Daniyal.


“Hikss,, hikss…” Irene terus saja menangis.


“Apa sesulit itu? Kalau sulit istirahatlah.” Ucap Daniyal dengan lembut.


Bukannya berhenti menangis, Irene justru menangis semakin kencang dan dengan sigap Daniyal memeluk tubuh Irene dengan erat untuk mencoba menenangkannya.


“Menangislah sampai kamu puas, itu akan membuatmu sedikit lebih lega.” Ucap Daniyal sambil mengelus rambut panjang Irene.


“Iya aku tau kamu pasti capek, setelah ini aku akan meminta ijin kepada om Gilang untuk membawamu refreshing.” Ucap Daniyal.


“Terimakasih, tapi aku harus menyelesaikan semuanya karena ini adalah tanggung jawabku.” Ucap Irene.


“Jangan memberitahu papi tentang hal ini ya kak, aku ga mau sampai papi ikut memikirkan hal ini.” Lanjut Irene.


“Hmm, kamu tenang aja aku ga akan memberitahu om Gilang kok.” Ucap Daniyal.


“Terimakasih..” ucap Irene.


Setelah beberapa menit menangis, akhirnya tangis Irene sudah mereda dan Daniyal melepaskan pelukannya dan mencoba untuk berdiri dengan sedikit susah payah.


“Kenapa kak? Apa kaki kamu sakit?” tanya Irene.


“Engga kok ga apa-apa.” Balas Daniyal berbohong.


Karena sebenarnya kaki Daniyal merasa kram dan kaku karena berjongkok beberapa menit dan membuatnya sulit untuk berdiri.


“Bolehkah aku membantumu mengurus masalah ini?” tanya Daniyal.


“Apa itu tidak akan merepotkanmu kak?” tanya Irene.


“Tentu saja tidak, kamu istirahatlah biar aku membaca berkas-berkasnya lebih dulu.” Ucap Daniyal.


Mendengar ucapan Daniyal membuat Irene menganggukkan kepala, dia segera memberikan berkas keuangan selama setahun ini dan membiarkan Daniyal membaca berkas tersebut.


Akhirnya Irene memutuskan untuk membiarkan Daniyal duduk di kursinya, sedangkan dia berbaring di sofa yang ada di ruangannya.


Daniyal dengan serius membaca semua laporan keuangan perusahaan Irene sambil menganalisis semuanya.


“Sebenarnya lebih mudah kalau aku membuat perusahaannya bangkrut sekalian dari pada aku harus membuatnya jatuh cinta kepadaku.” Batin Daniyal.


“Ah bodoh! Apa-apaan kamu Daniyal, bagaimana kamu mengambil kesempatan saat orang tersebut sedang kesulitan!” batin Daniyal kembali sambil menggelengkan kepala.


Daniyal melihat ke arah Irene yang sudah memejamkan matanya dan tertidur dengan pulas, tanpa di sadari Daniyal menarik kedua sudut bibirnya saat melihat Irene.


“Cantik sekali! Pantas saja semua orang sangat memuji kecantikannya, karena dia memang sangat cantik.” Gumam Daniyal tanpa sadar.


“Arrgghh!! Apa-apaan kamu Daniyal!!” teriak Daniyal yang membuat Irene terbangun karena terkejut.


“Kak? Ada apa? Kenapa kak Dani teriak?” tanya Irene dengan panik.


Daniyal terkejut saat teriakannya membuat Irene terbangun dan bertanya kepadanya, saat itu Daniyal benar-benar terlihat sangat bodoh di hadapan Irene.


“Hah? Eh, engga ada apa-apa kok, maaf aku mengganggu tidurmu ya?” tanya Daniyal.


“Engga kok emang aku harusnya tidak memiliki waktu untuk tidur karena banyak sekali masalah yang harus aku hadapi.” Ucap Irene.


“Aku kaget aja tadi kamu tiba-tiba teriak.” Lanjut Irene.


Setelah itu Irene beranjak dari sofa dan berjalan mendekati Daniyal dan melihat apa saja yang sudah di dapatkan oleh Daniyal.


“Apa yang sudah kamu dapatkan?” tanya Irene.


“Aku sudah menandai anggaran yang terlihat mencurigakan, ada dua divisi yang membuatku merasa aneh, di pihak management dan pihak endorsement, kamu sebaiknya segera meneliti lebih lanjut bagaimana keadaan divisi ini


akhir-akhir ini.” Jelas Daniyal.


Irene hanya menganggukkan kepala mengiyakan ucapan Daniyal, lalu segera menghubungi Elif untuk segera mengadakan rapat dadakan.