
Kita menghabiskan waktu untuk mencari kekasih yang sempurna, di bandingkan menciptakan cinta yang sempurna.
...****************...
“Aku ingin menikahi Irene..”
Duarr!!! Bagaikan bom waktu, kata-kata Daniyal benar-benar bisa membuat Gilang dan Irene tidak bisa berkata-kata karena terkejut.
Bagaimana tidak, selama ini Gilang dan Irene hanya menganggap Daniyal sebagai bodyguard, Irene bahkan tidak pernah sekalipun berfikiran untuk menyukai Daniyal karena statusnya sebagai anak sulung yang harus mewarisi perusahaan sang papi suatu saat nanti.
Irene mengubur perasaannya dalam-dalam sebelum menjadi lebih besar karena dia harus memilih laki-laki yang pantas untuk meneruskan perusahaan dan tentu saja orang itu bukan Daniyal.
“Hahaha apa kamu sedang bercanda Daniyal? Ayolah jangan bercanda seperti itu karena aku dan Irene akan spot jantung rasanya.” Ucap Gilang yang masih tidak percaya dengan ucapan Daniyal.
“Apa om Gilang melihat lelucon di dalam mataku?” tanya Daniyal dengan serius membuat Gilang menjadi serius.
“Apa sebenarnya yang kamu inginkan? Apa yang sedang kamu rencanakan? Apa kamu sedang mempermainkan keluargaku? Kamu sudah berbohong dan sekarang kamu ingin menikahi anakku? Bagaimana bisa kamu bicara dengan mudahnya seperti itu?” tanya Gilang penuh dengan rasa penasaran.
“Om, aku ini sebenarnya ingin memang murni hanya ingin menjadi bodyguard karena setelah orang tuaku meninggal aku tinggal dengan omku dan orang tuaku hanya meninggalkan warisan yang tidak banyak.”
“Sejak itu aku memutuskan untuk merintis bisnisku sendiri dan saat perusahaanku mulai maju, omku mengatakan padaku untuk bekerja menjadi seorang pengawal untuk melatih mental kesiapanku, karena omku bilang akan ada banyak musuh yang ingin menjatuhkanku dan aku belum siap untuk itu.”
“Itulah kenapa aku memilih menjadi bodyguard Irene, agar aku bisa melihat bagaimana dia dan om Gilang mengatasi semuanya musuh yang berniat jahat kepada kalian.”
Daniyal menjelaskan panjang lebar kepada Gilang tentang kehidupannya, ya walaupun jelas kalau semua cerita Daniyal hanyalah bohong semata.
“Bagaimana aku bisa percaya dengan kata-katamu, bahkan kamu saja baru saja mengakui kalau dirimu sedang berbohong.” Ucap Gilang.
“Aku tau om Gilang pasti mengatakan hal itu, itulah kenapa aku berpakaian rapih karena aku ingin mengajak om dan Irene untuk melihat perusahaanku.” Jelas Daniyal.
“Tunggu! Aku ingin bertanya sesuatu kepadamu!” ucap Irene yang masih berdiri.
“Ada apa? Tanyakanlah.” Ucap Daniyal dengan senyum lebar di wajahnya.
“Kenapa kamu memutuskan untuk membongkar identitasmu dan melamarku begitu tiba-tiba?” tanya Irene.
Mendengar pertanyaan Irene membuat Daniyal tersenyum dengan hangat membuat jantung Irene berdetak lebih cepat dari biasanya.
“Awalnya aku juga tidak ingin melakukan ini karena aku memang ingin fokus untuk menjadi bodyguardmu lebih lama, namun saat om Gilang mengatakan kalau dia akan menjodohkanmu dengan laki-laki lain aku tidak bisa diam saja.” Jelas Daniyal.
“Aku tidak ingin sesuatu yang aku ingin miliki di rebut oleh siapapun itu, dan lagi saat orang tersebut adalah sahabatku sendiri.” Lanjut Daniyal.
“Apa maksudnya? Sahabat? Siapa yang sahabat siapa?” tanya Gilang kebingungan.
“Aku adalah sahabat Tommy om, orang yang di jodohkan dengan Irene.” Jawab Daniyal.
“Apa?! Jadi kamu adalah sahabat Tommy? Bagaimana bisa? Kenapa dia tidak mengatakan apapun tentang dirimu, dia pasti tau kan kalau kamu bekerja sebagai bodyguardku?” tanya Irene.
“Tidak, dia sama sekali tidak tau tentang hal itu, dia hanya tau kalau aku menjalankan misi dari omku itu saja.” Ucap Daniyal.
“Dan mungkin saja setelah ini persahabatanku dan dia akan usai begitu saja karena dia terlihat menyukaimu.” Lanjut Daniyal.
“Lalu kamu lebih memilih persahabatanmu hancur demi diriku?” tanya Irene.
“Bagus! Aku lebih menyukai orang yang mampu merelakan apapun demi anakku, terutama demi keselamatannya!” seru Gilang dengan senang.
“Apa?! No papi! Dia bisa melepas persahabatannya yang sudah sangat lama demi seorang wanita yang belum lama dia kenal!” ucap Irene.
“Sudahlah papi ga mau berdebat lagi! Lebih baik kita ikut Dani melihat perusahaannya, papi ingin melihat bagaimana perkembangan perusahaan yang dia jalani selama ini, papi ingin memiliki menantu yang bertanggung jawab atas pekerjaannya.” Ucap Gilang yang segera berdiri dari tempat duduknya.
Melihat Gilang sudah berdiri lebih dulu membuat Daniyal senang dan segera mengikuti Gilang dari belakang, sedangkan Irene masih berdiri di tempatnya sambil menatap punggung Gilang dan Daniyal yang sudah menjauh.
“Iren! Kamu kenapa bengong di sana?! Ayo cepat, kamu juga harus ke perusahaanmu stelah ini!” tegas Gilang.
Ucapan Gilang membuat Irene tersadar dan mau tidak mau akhirnya dia mengikuti papinya menaiki mobil sang papi dan melaju mengikuti mobil Daniyal dari belakang.
“Papi benar-benar tidak menyangka kalau dia adalah pengusaha yang hebat!” seru Gilang memuji Daniyal.
Irene yang berada di sebelah sang papi hanya bisa mengerutkan kening mendengar pujian yang papinya lontarkan untuk Daniyal.
“What!? Papi, papi lupa kalau kemarin baru saja papi memuji Tommy, dan sekarang papi sudah pindah hati?” ucap Irene.
“Kenapa memangnya? Selama janur kuning melengkung kamu masih bisa mendapatkan yang terbaik!” seru Gilang.
“Yaampun papi, emang apa yang sudah dia perbuat sampai papi memujinya seperti itu? Apa yang membuat papi merasa dia adalah orang yang hebat?” tanya Irene.
“Apa kamu tidak mengerti Iren? Kamu sudah turun di dunia bisnis sejak muda dan kamu tidak bisa membedakan pengusaha yang hebat dan tidak?” tanya Gilang.
“Semua pengusaha yang memiliki perusahaan besar adalah pengusaha yang hebat!” seru Irene.
“Salah! Kamu salah besar nak! Pengusaha yang hebat adalah pengusaha yang membuat gudang menjadi sebuah istana megah!” ucap Gilang.
“Dia termasuk ke dalam pengusaha hebat karena dia membangun perusahaannya sendiri mulai dari nol, dia tidak hanya meneruskan tetapi membentuk dan itulah point penting untuk menjadi pengusaha hebat!” seru Gilang.
“Lalu papi? Apa papi pengusaha hebat?” tanya Irene kepada sang papi.
“Tidak! Papi bukanlah pengusaha yang hebat karena papi hanya meneruskan bisnis kakekmu, dulu papi sama sekali tidak berniat untuk menjadi seorang pengusaha karena papi sangat menyukai dunia gelap itu!” ucap Gilang.
“Dan kalau bukan karena kakek kamu meninggal waktu kamu masih kecil, mungkin papi masih berprofesi di bidang itu.” Lanjutnya.
“Sudahlah yang penting sekarang papi sudah sukses dan bisa membangun perusahaan kakek sampai sebesar ini.” Ucap Irene mencoba untuk menghibur papinya.
“Hm papi tau, dan sekarang papi bangga karena kamu sudah berhasil menjadi pengusaha hebat, kamu sudah bisa membuktikan kepada papi kalau kamu memiliki kemampuan untuk membangun perusahaanmu sendiri dari nol sampai sebesar sekarang.” Jelas Gilang.
Irene hanya tersenyum sambil mengelus pundak sang papi karena dia merasa tersanjung di puji oleh papinya.
“Apa salah kalau papi menginginkan yang terbaik untuk putrinya? Dani adalah orang yang tepat menurut papi, dan mungkin setelah papi yakin dengan perusahaannya, papi akan menyetujui lamarannya.” Ucap Gilang.
“Papi… Papi bahkan tidak menanyai pendapatku? Terus bagaimana dengan Tom?” tanya Irene.
“Papi tidak meminta pendapatmu karena cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu, dan untuk masalah Tommy papi akan mengurusnya, papi akan berbicara dengan orang tuanya secara baik-baik dan kalian berdua masih bisa berteman.” Jawab Gilang.
Irene hanya menganggukkan kepalanya sambil menghela nafas panjang mendengar ucapan sang papi, lalu dia memutuskan untuk diam selama perjalanan tanpa bertanya apapun lagi.