
' Kegagalan terbesar adalah ketika kita tidak berani mencoba '
**********
Irene duduk di kursi yang ada di hadapan Tommy setelah berjabat tangan dengannya, terlihat jelas kalau Tommy sangat canggung saat berada di hadapan Irene.
Awalnya Tommy sangat menolak perjodohan ini, namun saat melihat Irene secara langsung dan menyadari kalau Irene tidak seperti yang di bicarakan orang-orang barulah Tommy merasa kalau Irene harus menjadi miliknya.
“Tommy? Kamu kenapa melamun begitu?” tanya Irene membuyarkan lamunan Tommy.
“Eh maaf Iren, aku terlalu terpukau dengan kecantikanmu jadi melamun.” Goda Tommy.
Mendengar ucapan Tommy membuat Irene merinding karena dia tidak menyukai laki-laki yang suka gombal seperti Tommy.
Tidak lama kemudian, beberapa pelayan datang dengan berbagai macam makanan yang mereka bawa, Irene sampai ternganga melihat semua makanan yang ada di hadapannya itu.
“A-apa kamu bisa menghabiskan semua ini Tommy?” tanya Irene.
“Hah? Tentu saja semua ini untukmu, aku sudah sering memakan menu yang ada di sini.” Ucap Tommy.
“Haha, maaf Tommy tapi aku rasa perutku tidak akan cukup kalau harus memakan semua ini.” Ucap Irene.
“Tidak apa, aku akan menyuruh pelayanku untuk membungkus sisanya dan berikanlah kepada adik iparku.” Ucap Tommy tanpa sadar.
“Hah? Apa tadi kamu bilang? Adik ipar?” tanya Irene.
Tommy terkejut mendengar ucapan Irene, dia baru sadar kalau dia salah bicara dan terlalu to the point.
“Eh maaf, m-maksudnya kalau kita jadi menikah bukankah mereka akan menjadi adikku juga?” tanya Tommy dengan canggung.
“Hahaha, jadi kamu sudah memutuskan untuk menikah denganku?” tanya Irene.
“Maaf Tommy, tapi bisakah kita melakukan pendekatan lebih dulu? Jujur saja aku tidak pernah berpacaran dengan siapapun karena pekerjaanku, jadi akan sulit untukku menerima seseorang untuk mendampingiku.” Jelas Irene.
“Tentu saja, aku juga tidak memintamu untuk langsung menikah, kita akan berkencan beberapa kali sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah.” Jawab Tommy yang di balas anggukan oleh Irene.
“Ayo silahkan di makan Iren.” Ucap Tommy mempersilahkan Irene.
Irene mulai mengambil makanan yang menurutnya cocok di mulutnya dan memakannya dengan perlahan, karena jujur saja sejak tadi dia sudah merasa rishi harus makan di meja yang tidak dia bersihkan sendiri.
“Maaf tapi bisakah aku permisi sebentar? Aku mau ke toilet.” Ucap Irene.
“Ah toiletnya ada di ujung sana, apa perlu aku antar?” tanya Tommy.
“Ah tidak perlu, aku bisa ke toilet sendiri kok terimakasih.” Ucap Irene yang langsung berdiri dan berjalan ke toilet.
Sedangkan di luar dua orang laki-laki sedang menunggu di dalam mobil sambil memegang rokok di tangannya.
“Kenapa dia lama sekali menghubungi kita? Apa jangan-jangan dia menyukai wanita itu lagi!” ucap seseorang, yang tidak lain adalah Roy.
“Memangnya wanita yang seperti apa yang mampu membuat buaya itu menyukainya?” tanya orang yang berada di sebelah Roy dan tidak lain adalah Daniyal.
“Putri pengusaha ternama, siapa namanya ah iya Irene Herlambang.” Ucap Roy yang membuat Daniyal terkejut bukan main.
Selama ini dia hanya mengikuti ajakan Roy dan Tom saja, di asama sekali tidak mengetahui siapa wanita yang akan di jodohkan dengan sahabatnya itu.
“Woy! Lo kenapa diem aja si Dan! Ada apa?” tanya Roy sambil memukul pundak sahabatnya yang sedang terpaku.
“Hah! Eh engga apa-apa kok, aneh aja si Tom mau di jodohin sama wanita itu.” Jawab Daniyal berbohong.
“Hm, banyak yang bilang kalo wanita itu arrogant, judes, dan masih banyak lagi, tapi aku rasa dia benar-benar menyukai kecantikannya.” Ucap Roy sambil menggelengkan kepalanya.
“Sial kenapa aku tidak bertanya lebih dulu tentang siapa wanita itu, aku juga baru ingat kalau malam ini Iren memang mau bertemu orang yang akan di jodohkan olehnya.” Batin Daniyal sambil membuka pintu mobil tiba-tiba.
“Toilet bentar, sekalian melihat situasi.” Ucap Daniyal.
“Baiklah, segera kabari aku tentang yang terjadi di sana.” Ucap Roy yang di balas anggukan oleh Daniyal.
Daniyal memutuskan untuk berjalan masuk ke dalam restaurant sahabatnya itu sambil melihat sekeliling karena dia tidak ingin sampai Irene mengetahui keberadaannya.
Namun Daniyal hanya melihat Tommy sedang duduk sambil tersenyum seperti orang yang sedang jatuh cinta.
“Aish, kenapa kamu tersenyum seperti itu Tom! Kalau kamu menyukainya bagaimana bisa aku mengejarnya dan mau memilikinya?” gumam Daniyal sambil mengepalkan kedua tangannya.
Daniyal awalnya mau menghampiri sahabatnya itu, namun niatnya di urungkan saat melihat Irene yang berjalan keluar dari toilet.
Daniyal segera memalingkan wajahnya agar tidak terlihat oleh Irene, namun Irene yang melihat punggung orang asing itu hanya bisa mengerutkan keningnya.
“Maaf anda siapa ya? Kenapa bisa masuk ke sini? Apa kamu salah satu tamu di sini atau teman pemilik restaurant ini?” tanya Irene.
Namun Daniyal sebisa mungkin tidak menoleh dan tidak mengatakan sepatah katapun karena dia tidak ingin kalau Irene mengenali suaranya.
“Permisi.” Ucap Irene kembali.
Namun Daniyal tetap diam dan segera berlari keluar dari restaurant itu.
“Hey!” teriak Irene yang di dengar oleh Tommy.
“Ada apa Irene? Apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya Tommy.
“Ah tidak, aku tadi melihat seseorang mau berjalan ke arahmu tapi ga jadi, aku tanyain malah diem aja terus langsung lari keluar.” Jelas Irene.
Mendengar ucapan Irene membuat Tommy terkejut, dia tau betul kalau laki-laki itu pasti salah satu sahabatnya.
“sudahlah jangan di pikirkan, mungkin dia tamu vvip yang biasa makan di sini, dia tidak tau kalau restaurant ini sedang tutup.” Ucap Tommy berbohong.
“Hmm, baiklah kalau begitu mungkin aku saja yang terlalu khawatir.” Ucap Irene yang di balas anggukan oleh Tommy.
Segera Tommy mengiring Irene untuk kembali duduk di kursinya, dan sekali lagi Irene merasa rishi melihat meja yang ada di hadapannya.
“Maaf Irene, tapi sepertinya kamu kurang nyaman berada di sini.” Ucap Tommy yang menyadari sesuatu.
“Bolehkah aku jujur padamu?” tanya Irene.
“Tentu saja dengan senang hati.” Jawab Tommy.
“Mungkin kamu sudah pernah mendengar rumor tentangku kalau aku adalah orang yang sombong karena tidak pernah makan bersama rekan kerja atau bahkan teman-temanku.” Ucap Irene.
“Hm aku sering sekali mendengar tentang rumor itu, lalu ada apa?” tanya Tommy.
“Sebenarnya aku memiliki OCD, aku harus menata meja makanku sendiri dan orang lain tidak boleh menyentuh meja makan sebelum waktunya makan.” Jelas Irene.
“Apa? Benarkah seperti itu?” tanya Tommy.
“Hmm, mungkin lain kali kalau kamu mau mengajakku makan aku akan sering menolaknya.” Ucap Irene.
“Tidak masalah, aku bisa mengajakmu ke restaurantku yang lain dan kamu bisa membersihkannya dengan tanganmu sendiri.” Ucap Tommy dengan lembut.
“Benarkah? Terimakasih.” Ucap Irene dengan senyum manisnya yang membuat Tommy semakin menyukainya.
Namun, walaupun Tommy tidak masalah dengan OCDnya, entah kenapa Irene sama sekali tidak menyukai Tommy, dia hanya menganggap Tommy sebagai teman yang akan asik jika di ajak berbicara.
FLASHBACK END.