
Daniyal sedang duduk di kursi kejayaannya sambil membaca beberapa berkas kerja yang harus segera di selesaikan.
“Selamat pagi tuan..” sapa Tiko yang sudah masuk ke dalam ruangan Daniyal.
“Pagi Tiko, bagaimana?” tanya Daniyal.
“Semua sudah selesai tuan, anda bisa membawa nona Irene ke rumah anda.” Jawab Tiko.
“Kenapa merapihkan rumah sperti itu membutuhkan waktu seminggu Tiko? Kamu ini mulai bermalas-malasan ya!?” ketus Daniyal.
“Maaf tuan, karena rumah itu tidak pernah di datangin dan tidak pernah ter urus makanya membutuhkan waktu.” Jelas Tiko.
“Kenapa kamu tidak mengurusnya?”
“Bukankah anda yang menyuruhku mengabaikan rumah itu tuan?” tanya Tiko yang membuat Daniyal terdiam.
“Jadi kamu menyalahkan aku?” tanya Daniyal.
“Tidak tuan, saya tidak berani.” Ucap Tiko.
“Bagus! Kamu keluarlah.” Ucap Daniyal.
Akhirnya Tiko berpamitan untuk keluar dari ruangan Daniyal.
“Padahal waktu seminggu waktu yang sangat singkat mengingat kalau rumah itu sudah benar-benar hancur karena tidak ter urus.” Gumam Tiko sambil menghela nafas panjang.
Tiko mendampingi Daniyal sudah sekitar sepuluh tahun, waktu usia mereka masih sama-sama remaja, kebetulan ayah Tiko adalah asisten pribadi Bramantio Ghali dan ayahnya mengabdikan semua hidupnya bahkan mengabdikan Tiko untuk ikut menjadi pelayan setia keluarga Bramantio.
Begitulah hubungan mereka terjalin, tidak jarang Tiko mengeluh kepada ayahnya untuk berhenti bekerja karena tidak kuat menghadapi sikap Daniyal yang temperamental.
Jika pekerjaannya tidak sesuai dengan keinginannya, maka Daniyal akan mengamuk dan menyalahkan Tiko. Namun ayahnya selalu menguatkan Tiko dan mengingatkannya akan kebaikan keluarga Bramantio yang sudah menjadikan mereka menjadi seperti ini.
Dan sampai detik ini Tiko selalu bersabar menghadapi sikap Daniyal yang temperamental seperti itu, walaupun begitu semakin dewasa Daniyal juga semakin bisa mengendalikan emosinya dan tidak memarahi Tiko terus menerus.
“Apa kalau tuan Daniyal menikah, tugasku akan semakin ringan?” gumam Tiko.
“Sepertinya tidak kak Tiko, sabar ya karena setelah kak Daniyal menikah tugasmu akan semakin banyak!” sahut Adyatma yang datang entah dari mana.
“Yaampun tuan Adyatma, kenapa anda di sini? Bukankah seharusnya anda menjadi bodyguard?” tanya Tiko.
“Aku mampir ke sini sebentar, Ratu lagi kuliah kak jadi aku bisa mampir sebentar karena bosan berada di kampus, banyak wanita yang menggodaku dan aku tidak menyukainya.” Jelas Adyatma.
“Kalau begitu silahkan masuk tuan, saya akan kembali bekerja.” Ucap Tiko yang langsung berjalan menuju ruangannya.
“Kak Tiko..” panggil Adyatma yang membuat langkah Tiko terhenti dan menoleh ke arah Adyatma.
“Terimakasih karena sudah sabar menjadi pendamping kakakku, aku harap aku juga memiliki tangan kanan seperti kak Tiko yang sangat bertanggung jawab dan professional menjalani pekerjaannya.” Ucap Adyatma sambil
tersenyum.
Entah kenapa Tiko merasa kalau Adyatma memiliki hati yang lebih lembut di bandingkan kedua kakaknya, seringkali Tiko merasa tersentuh dengan kata-kata putra bungsu keluarga Bramantio itu.
Setelah melihat Adyatma sudah masuk ke dalam ruangan Daniyal, Tiko akhirnya masuk ke dalam ruangannya juga dan kembali melakukan pekerjaannya.
Sedangkan di sisi lain, Adyatma yang baru membuka pintu ruangan kakaknya menyapa kakaknya dengan ceria.
“Hai kak!!” panggil Adyatma yang membuat Daniyal terkejut.
“Yaampun Adyatma kenapa kamu ngagetin begitu sih?” tanya Daniyal.
“Kamu ngapain di sini? Kamu ga jagain Ratu?” tanya Daniyal kembali setelah menyadari kalau Adyatma seharusnya berada di sebelah Ratu.
“Ratu lagi kuliah kak, dia kan baru kuliah jadi pelajarannya masih banyak sekali dan Ratu mengijinkan aku untuk menunggu di luar kelas.” Jelas Adyatma.
“Dia mengijinkan kamu menunggu di luar kelas bukannya di luar kampus Adyatma..” seru Daniyal.
“Kan perusahaan kakak dekat sama kampusnya Ratu, jadi aku ke sini aja deh.” Ucap Adyatma.
“Nanti lah kak, aku mau rebahan dulu… Btw kakak enak ya sekarang bisa kembali bekerja di perusahaan.” Ucap Adyatma.
“Kenapa? Kamu mau juga? Nikah lah!” ucap Daniyal dengan santai.
“Gimana mau nikah, pacar aja ga punya!” ucap Adyatma dengan nada lemas.
“Derita lo!” ucap Daniyal sambil tertawa karena sudah berhasil mengejek adiknya.
“Eh kak, sepertinya kak Abizar juga sudah mendapatkan hati kak Aleena deh.” Ucap Adyatma.
“Kamu baru tau? Bahkan sebelum aku, Abizar sudah mengambil hati Aleena lebih dulu.” Sahut Daniyal dengan santai.
“Tau sih, tapi kak, emangnya kak Daniyal sama kak Abizar ga mau menikah sekali seumur hidup?” tanya Adyatma.
“Kenapa kamu nanya begitu?”
“Kakak menikah bukan karena suka, apa bisa pernikahan kakak bertahan?” tanya Adyatma.
“Come on Adyatma! Jangan mellow seperti ini, kamu harus ingat kalau kita harus membalas semua ketidak adilan mami yang meninggal sia-sia!” ketus Daniyal.
“Lagipula papi tidak mengharuskan kamu menikah kan? Jadi kamu bisa menikah dengan wanita yang kamu sukai nanti setelah semuanya selesai, mungkin setelah Abizar menikah dengan Aleena, tugasmu menjadi bodyguard akan selesai.” Jelas Daniyal.
“Benarkah kak? Baguslah akhirnya aku bisa terbebas dari pekerjaan yang tidak aku sukai ini!” ucap Adyatma sambil menghela nafas lega.
“Sudahlah sebaiknya kamu segera kembali sebelum aku melaporkanmu ke papi dan dia akan menghukummu.” Ucap Daniyal.
Adyatma yang mendnegar kalau Daniyal akan mengadukannya segera berlari keluar ruangan dan kembali ke kampus Ratu.
Daniyal hanya menggelengkan kepala melihat tingkah adiknya yang ada-ada saja, kadang Adyatma sulit sekali di atur dan membuat dirinya pusing.
***
Di sisi lain, Aleena sedang melakukan pemotretan untuk beberapa produk endorse dari perusahaan lain.
“Okey, cukup untuk hari ini Aleena, kerja bagus!” ucap staff pemotretan.
“Terimakasih atas bimbingannya dan terimakasih untuk kerja keras kalian..” ucap Aleena kepada semua staff pemotretan.
“Sama-sama kak Aleena.” Balas semuanya.
Abizar segera menghampiri Aleena dan memberinya jaket oversize untuk menutupi tubuh Aleena yang saat itu memakai pakaian sexy.
“Apa kamu harus memakai pakaian sexy seperti ini?” bisik Abizar.
“Kenapa? Apa kamu cemburu karena ada banyak laki-laki yang melihatnya?” tanya Aleena dengan senyum di wajahnya.
“Tidak.” Ucap Abizar sambil memalingkan wajahnya.
“Aku bisa mengatakan untuk tidak memakaikan aku pakaian yang seperti ini di pemotretan selanjutnya.” Balas Aleena.
“Tidak perlu sampai seperti itu, nanti kamu di bilang tidak professional.” Ucap Abizar.
Di saat mereka sedang berbincang seperti itu, tiba-tiba saja seorang model yang lebih senior di bandingkan dengan Aleena berjalan menghampirinya.
“Aleena.” Sapa model tersebut.
“Ah iya kak Siska, ada apa?” tanya Aleena.
“Besok malam aku akan mengadakan pesta ulang tahun dan aku ingin mengundangmu, kalau kamu tidak sibuk bisakah…” ucapan Siska terpotong begitu saja.
“Bisa kak, aku pasti bisa datang ke pesta ulang tahunmu.” Ucap Aleena dengan semangat dan yakin.
“Bagus! Terimakasih karena sudah mau datang Aleena, kalau begitu aku pergi dulu bye..” ucap Siska yang langsung pergi meninggalkan Aleena.
Siska adalah model yang debut dua tahun sebelum Aleena, menurut Aleena Siska adalah orang yang sangat baik, cantik dan tidak sombong walaupun dia adalah seorang model senior.