MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 47 (CURIGA)



Setengah jam kemudian, Ratu sudah membantu Irene berdandan dan juga membantu memakaikan pakaiannya.



“Wah kak sumpah kakak cantik banget..” puji Ratu dengan mata yang berbinar.


“Apaan sih modus deh!” ucap Irene sambil tersipu malu.


“Hahaha aku lupa kalo kakakku ini emang udah cantik dari sananya.” Sahut Ratu kembali.


“Udah deh ga usah di lanjutin, ayo kita keluar papi pasti nungguin tuh di kira aku ga akan dateng kencan buta.” Ajak Irene.


Setelah selesai bersiap, Ratu menggandeng tangan kakaknya dan membantunya untuk menuruni tangga.


Di ruang keluarga Gilang dan Queen sedang asik mengobrol sebelum tiba-tiba Queen terdiam sambil menatap ke arah tangga yang membuat Gilang ikut menoleh ke arah yang di lihat Queen.


“Kak Iren…” ucap Queen.


“Irene,, baju ini kan…” ucap Gilang.


Irene hanya tersenyum tipis melihat Gilang dan Queen yang sedang terpaku melihatnya.


“Kak Iren cantik ya?” tanya Ratu yang berjalan mendekati Gilang dan Queen.


Sedangkan Irene hanya diam sambil tersipu malu mendengar pujian dari papi dan adik-adiknya.


“Ini bukannya baju mami? Kamu masih menyimpannya?” tanya Gilang.


“Iya ini baju mami pi, Iren juga lupa kalo ternyata Iren punya baju mami yang ini kalo bukan gara-gara Ratu yang nyari.” Jelas Irene.


“Benarkah? Ini baju mami?” tanya Queen yang langsung berjalan menghampiri Irene dan memeluknya dengan erat.


“Queen, apaan sih?” tanya Ratu.


“Diem deh, aku ini lagi ngebayangin kalo lagi peluk mami.” Ucap Queen yang semakin mengeratkan pelukannya.


Gilang tanpa sadar meneteskan air matanya saat melihat Queen yang sangat merindukan maminya.


“Pi, kayaknya besok kita harus ke tempat itu karena Ratu dan Queen sudah besar sekarang.” Ucap Irene yang membuat si kembar penasaran.


“Apa yang kakak maksud? Tempat apa yang harus aku dan Ratu tau?” tanya Queen.


“Kakak Queen! Kakak!” ketus Ratu dengan wajah kesal.


“Cih! Kita hanya berbeda beberapa menit saja jadi kamu bukan kakakku!” ketus Queen.


“Cih! Menyebalkan!” ketus Ratu.


“Udah jangan bertengkar! Kakakmu sekarang mau kencan buta, doakan agar dia berjodoh.” Tegas Gilang.


“Aku akan mendoakan semoga kak Irene berjodoh kalau laki-laki itu orang baik dan bisa menghargai kak Iren, kalo engga aku doakan semoga mereka di jauhkan bagaimanapun caranya!” tegas Queen.


Ratu menganggukkan kepalanya dengan tegas membuktikan kalau dia setuju dengan ucapan kembarannya.


“Ada apa ini? Kenapa semua orang berkumpul di sini?” tanya Aleena yang baru masuk ke dalam rumah bersama dengan Nancy dan para bodyguard mereka.


“Wah,, kak Iren cantik sekali, kakak mau kemana?” tanya Nancy.


“Kak Iren mau kencan buta, papi sudah menjodohkannya dengan anak rekan bisnisnya.” Ucap Ratu.


“Hah? Kencang buta? Serius kak Iren terima?” tanya Nancy yang di balas anggukan oleh Irene.


“Jangan mengalihkan pembicaraan! Kak Iren tadi bilang sudah waktunya untuk ke tempat apa?” tanya Queen tidak sabar.


“Diam! Jangan membahas hal itu di sini!” tegas Gilang sambil melirik ke arah Abizar dan Aiden.


Aiden sadar kalau mereka mau membicarakan hal yang bersifat rahasia, sedangkan Abizar menatap semuanya dengan tatapan curiga dan penuh tanda tanya.


“Ada apa ini? Kenapa mereka sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu?” batin Abizar di dalam hatinya.


“Abizar, Aiden, kalian berdua bisa pulang dan beristirahat untuk hari ini, besok kalian bisa datang sedikit siang karena paginya kami tidak ada kegiatan.” Jelas Gilang dengan ramah.


Aiden menarik Abizar yang masih ingin mendengarkan dengan segera, namun rasa penasaran Abizar sangat tinggi hingga dirinya berniat untuk mengikuti mereka semua besok pagi-pagi sekali.


“Kak, kak Abizar! Kakak kenapa bengong?” tanya Aiden.


Abizar yang dari tadi tidak mendengar hanya bisa terkejut mendengar pertanyaan Aiden.


“Eh, iya apa Aiden?” tanya Abizar.


“Yaampun kak Abizar dari tadi mikirin pacarnya makanya diem aja.” Goda Aiden.


“Apaan sih Aiden, ada-ada aja deh! Udah ah kamu pulang naik apa? Bareng dong ke pangkalan ojek.” Ucap Abizar.


“Naik motor kak, ayo bareng.” Ajak Aiden yang di balas anggukan oleh Abizar.


Sesampainya di pangkalan ojek, Abizar menyuruh Aiden segera pulang dan dirinya mengatakan kalau dia ingin menunggu taxi onlinenya.


“Lah masnya sama mas ganteng yang dua itu sodaraan ya? Soalnya sama, padahal pake mobil mewah banget tapi diumpetin, kalo boleh tau kenapa sih mas?” tanya salah satu tukang ojek yang penasaran.


“Eh iya pak kami bersaudara tapi jangan bilang ya soalnya ga ada yang tau,, kami lagi marahan sama papi kami jadi kami cuma di tinggalin mobil buat transportasi aja.” Jelas Abizar berbohong.


“Walah begitu ya mas, jangan lama-lama marahannya mas nanti saya yang daftar jadi anaknya papinya mas bahaya loh saya tikung.” Balas tukang ojek tersebut.


“Waduh si bapak ada-ada aja deh haha,, udah deh kalo gitu saya pulang dulu ya pak makasih loh udah di jagain mobilnya.” Ucap Abizar yang di balas anggukan oleh tukang ojek tersebut.


Abizar melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, hingga sampailah dia di halaman rumahnya dan segera turun dari mobil.


CLING!! Abizar mendapatkan notif hp saat dia berjalan memasuki rumah, Abizar segera membuka hpnya dan tersenyum saat membaca isi pesan tersebut.


“Cih! Wanita bodoh! Hanya beberapa kali di buat baper aja langsung klepek-klepek.” Gumam Abizar yang kembali memasukkan hpnya di dalam kantong celananya.


“Abizar, kamu baru pulang?” tanya Daniyal.


“Ciye pulang-pulang senyam senyum sendiri ada apa sih? Pasti lagi kasmaran ya?” goda Adyatma.


“Apaan sih lu! Gue hajar baru tau rasa!” ketus Abizar.


Daniyal dan Adyatma hanya tertawa mendengar saudara mereka mengamuk begitu saja, sedangkan suasana tiba-tiba hening saat Bram menuruni tangga.


“Besok kalian libur bukan? Datanglah ke perusahaan untuk menyapa karyawan dan juga memeriksa keadaan perusahaan.” Ucap Bramantio membuat ketiga anaknya menoleh ke arahnya.


“Seriusan pi? Kami boleh ke perusahaan?” tanya Adyatma.


“Hm, setiap libur kalian bisa ke perusahaan untuk memantaunya, papi tau kalau kalian pasti bosan hanya menjadi bodyguard para wanita yang ribet itu.” Ucap Bramantio.


“Yes! Kak Daniyal, aku akan ikut main ke perusahaan kakak juga ya!” sahut Adyatma.


“Perusahaan itu bukan untuk bermain anak kecil! Kamu harusnya mengatakan kalau kamu mau ke perusahaanku untuk belajar.” Ucap Daniyal.


“Ah iya itu maksudku kak.” ucap Adyatma sambil memamerkan gigi putihnya.


Daniyal hanya menggelengkan kepala melihat tingkah adiknya yang masih asik bermain itu, sedangkan Bram dari tadi melihat Abizar yang dari tadi hanya diam saja.


“Abizar, kamu kenapa diem aja?” tanya Bramantio kepada putra keduanya itu.


“Eh, kenapa pi?” tanya Abizar yang tersadar dari lamunannya.


“Kamu kok diem aja? Kamu ga seneng besok bisa ke perusahaan?” tanya Bramantio.


“Ah besok aku ga bisa ke perusahaan pi.” Ucap Abizar.


“Kenapa? Apa Aleena ada jadwal pemotretan?” tanya Daniyal.


“Engga, mereka semua libur, tapi ada yang membuat aku curiga.” Ucap Abizar.


“Ada apa? Apa yang kamu curigai?” tanya Daniyal.


“Masih belum pasti kak, setelah memastikannya aku akan segera memberitahu kakak.” Ucap Abizar dengan tegas.


“Baiklah kalau begitu, kamu mandi dan istirahat.” Ucap Bramantio yang di balas anggukan oleh Abizar.