MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 109 (CLUB)



Abizar sedang berbaring di dalam kamarnya, dia masih harus berpikir pekerjaan apa yang harus dia jadikan alasan untuk keluar dari rumah keluarga Herlambang.


Abizar tidak mungkin mengatakan kalau dia punya perusahaan sendiri karena itu akan menimbulkan kecurigaan karena memiliki alasan yang sama dengan Daniyal.


“Kak, ke club malamnya kak Roy yuk!” ajak Adyatma sambil mengetuk pintu kamar Abizar.


“Apaan sih?” tanya Abizar yang baru saja membuka pintu kamarnya.


“Ayo ke clubnya kak Roy, aku bosan di rumah kak.” Rengek Adyatma.


Abizar berpikir sejenak, sebenarnya dia juga butuh refreshing karena terlalu pusing memikirkan tentang masalah Aleena.


“Baiklah tunggu aku bersiap.” Ucap Abizar yang membuat Adyatma kegirangan karena dia benar-benar merasa bosan di rumah.


Adyatma dengan semangat berlari menuruni tangga dan menunggu sang kakak di ruang tamu. Hari ini Bramantio kebetulan sedang berada di luar negeri untuk mengurus cabang perusahaan mereka, jadi hari itu Abizar dan Adyatma bebas melakukan apapun.


Tidak lama kemudian Abizar turun dengan gaya santainya dan tentu saja hal itu yang membuat banyak wanita menyukainya bahkan tergila-gila termasuk Aleena.


“Cih! Awalnya males tapi gayanya selangit!” ketus Adyatma.


“Bilang aja kalo kamu iri denganku bukan?” ucap Abizar dengan percaya diri.


“Engga tuh!” jawab Adyatma.


“Sudahlah jangan banyak ngomong! Pokoknya aku ingin bersenang-senang malam ini, kamu jangan melakukan apapun kepada perempuan malam yang ada di sana!” ketus Abizar.


“Hah? Kenapa? Kakak boleh kenapa aku engga?” tanya Adyatma kecewa.


“Aku tidak mau sampai kamu tergoda oleh mereka dan kamu akan di perdaya oleh mereka.” Jawab Abizar.


“Tapi kak, aku juga ingin bersenang-senang.” Rengek Adyatma.


“Ga bisa! Kamu masih terlalu polos untuk hal itu jadi nikmati saja jangan sampai di perdaya!” ketus Abizar yang langsung berjalan meninggalkan Adyatma sendirian.


Adyatma hanya bisa bergumam kesal sambil berjalan cepat mengikuti Abizar yang sudah masuk ke dalam mobilnya.


Drrtt,, drrtt.. tiba-tiba saja ponsel Abizar berbunyi dan Abizar melihat nama Aleena di sana, Abizar benar-benar malas dengan telfon dari Aleena yang hampir setengah jam sekali menghubunginya.


Dan akhirnya Abizar hanya mengabaikan telfon dari Aleena begitu saja, sedangkan Adyatma hanya bisa menatap layar telfon Abizar yang sejak tadi berbunyi.


“Kak, ga di angkat? Sampe berkali-kali gitu mungkin penting.” Ucap Adyatma.


“Engga! Dia selalu menghubungiku setengah jam sekali, dia hanya diam saat sudah tidur aja, aku sudah lelah.” Jelas Abizar.


“Bagus dong kak, itu tandanya dia sudah mulai bucin! Dan rencana kakak selanjutnya hanya tinggal mematahkan hatinya saja.” Ucap Adyatma.


“Iya kamu benar! Sebentar lagi, sebentar lagi aku akan mendapatkannya dan menjadikannya milikku sebelum aku patahkan!” ucap Abizar.


“Hah? Maksudnya? Jangan bilang, kakak akan menikahinya dan melakukan hubungan ‘itu’?” tanya Adyatma.


“Hem, tentu saja! Aku sudah menjaganya selama ini jadi bukankah itu imbalan setimpal untukku?” ucap Abizar dengan santainya.


“Tapi kan mereka sudah memberikan uang untuk gaji kita kak.” Ucap Adyatma.


“Kamu kira aku butuh uang? Bahkan aku memiliki lebih banyak uang di bandingkan dengan Aleena, jadi untuk apa aku mengambil uang darinya?” tanya Abizar.


“Beda cerita sama kak Daniyal, sejak awal mereka menikah secara tiba-tiba dan di saat itu kak Iren tidak menyukainya sama sekali, jadi akan lebih susah untuk mematahkan hatinya.” Lanjut Adyatma.


Mendengar ucapan Adyatma membuat Abizar terdiam, dia baru sadar kalau ucapan Adyatma memang ada benarnya, Aleena sudah sangat menyukainya atau bahkan sudah mencintainya makanya dia bisa dengan mudah membuatnya sakit hati, tapi berbeda dengan Daniyal yang harus memulai semuanya dari nol setelah menikah.


“Apa aku terlalu menekan kak Daniyal?” gumam Abizar.


“Hah? Apa yang kamu ucapkan kak?” tanya Adyatma.


“Ah engga, ga ada apa-apa.” Ucap Abizar yang kembali fokus menyetir mobilnya.


Sampai akhirnya Abizar dan Adyatma sampai di club milik Roy, Adyatma yang sudah biasa ikut Daniyal dan Abizar ke sana segera berlari dan berniat langsung naik ke lantai atas tanpa menunggu Abizar.


Sedangkan Abizar hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya yang masih kekanak-kanakan itu.


***


“Kak, ayolah ikut aku kumpul sama teman-temanku di club…” rengek Nancy sambil merangkul lengan Aleena dengan erat.


“Yaampun Nancy, kamu ngapain minta anter sih? Biasanya juga kan sendirian.” Ucap Aleena.


“Tapi kan kak, aku tidak ingin di marahi papi, kalau ada kak Aleen pasti papi ga akan marah sama aku..” ucap Nancy.


“Jadi kamu menjadikan aku tameng kamu keluar malam ya?” tanya Aleena.


“Hehehe maaf nih kak, tapi dulu sebelum kak Iren menikah dia sering jadi tamengku kok, dia emang bilang kalo ada apa-apa bilang kak Iren aja jangan membebani kak Aleena.” Jelas Nancy.


Mendengar ucapan Nancy membuat Aleena terkejut, dia tidak menyangka kalau kakaknya sangat menjaganya dengan baik, padahal Aleena tau betul kalau Irene sangat membenci club malam, tapi dia tetap kesana demi Nancy dan juga dirinya.


“Kak Iren memang selalu seperti itu, dia bisa merelakan apapun untuk kita semua.” Ucap Aleena.


“Iya kak, aku juga ga bisa ngajak Ratu dan Queen karena mereka masih kecil yang ada papi memarahi aku habis-habisan kalau mengajak mereka!” jelas Nancy.


“Huh kamu ini emang maunya sendiri ya!” ketus Aleena.


“Ayolah kak, kan aku udah ga sesering dulu ke clubnya jadi bantu aku sekali saja ya..” ucap Nancy.


Akhirnya setelah di rayu oleh adiknya Aleena mulai luluh dan akhirnya dia mengalah dan terpaksa mengiyakan permintaan adiknya itu.


Setidaknya bukan karena menjadi tamengnya dari amukan papi, tapi dia ingin menjadi tamengnya dari orang-orang yang berniat melukainya.


“Bentar aku siap-siap dulu.” Ucap Aleena yang di balas anggukan oleh Nancy.


Jangan di tanya, saat itu Nancy sudah memakai pakaiannya untuk ke club malam, karena dia tau betul kalau kakaknya tidak akan menolaknya untuk menemaninya ke club itu.


“Kakak-kakakku itu memang sangat baik dan tidak akan menolak permintaan adiknya hihihi, paling cuma ceramah aja yang panjang.” Gumam Nancy sambil tersenyum penuh kemenangan.


Sedangkan di kamarnya, Aleena berusaha untuk menghubungi Abizar dan mengatakan kalau dia akan menemani Nancy ke club malam dan akhirnya akan timbul kesalahpahaman di antara mereka.


Namun percuma saja karena Abizar sama sekali tidak mengangkatnya walaupun sudah di hubungi berkali-kali dan akhirnya Aleena memutuskan untuk mengirim pesan sebelum akhirnya mereka berangkat.


Di bawah Nancy yang sudah menunggu Aleena berganti pakaian hanya bisa bergumam kesal karena Aleena sangat lama sekali.


“Bilangnya gamau ke club tapi dia yang paling lama menghias wajahnya dan memilih pakaian.” Gumam Nancy di dalam hati.