MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 129 (RAHASIA)



Irene mulai berjalan semakin mendekat ke arah Rinda, dan hal itu membuat Daniyal sedikit khawatir.


“Sayang…” panggil Daniyal untuk menghentikan istrinya.


Namun percuma saja, karena Irene masih saja berjalan perlahan mendekati tantenya.


“Tante Rinda, ini Irene keponakan tante, Irene sudah besar sekarang lihatlah bahkan Irene sekarang sedang hamil.” Ucap Irene sambil memperlihatkan perutnya yang sudah mulai membesar.


Rinda menoleh ke arah perut Irene, lalu dia mengelus perut Irene yang mulai membesar dengan perlahan, sedangkan Daniyal berjalan mendekati istrinya.


Rinda menoleh ke arah Daniyal dengan sedikit takut hingga membuat Irene ikut menoleh ke arah yang di lihat tantenya.


“Dia suami Iren tante, namanya Daniyal, dia mau berkenalan dengan tante.” Ucap Irene.


Daniyal tersenyum dan mendekat kepada Rinda, lalu dia mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Rinda.


“Suami? Kamu suami Iren?” tanya Rinda.


“Iya tante, saya Daniyal suaminya Irene.” Ucap Daniyal.


“Di mana Rindi? Aku mau adikku mana dia?” tanya Rinda.


“Tante,, mami sudah tenang di atas sana, tante jangan sedih memikirkan mami terus ya..” ucap Irene dengan suara bergetar menahan tangisnya.


“A-apa kamu bilang? Tidak mungkin! Rindi tidak mungkin meninggal!” teriak Rinda yang mulai mengamuk kembali dan mendorong Irene hingga membuat Irene terjatuh.


“Iren!!” teriak Daniyal yang dengan sigap menahan tubuh Irene yang hampir menyentuh lantai.


Irene memegang perutnya terus karena dia merasakan keram yang luar biasa sakit.


“Sayang, kamu baik-baik saja? Aku akan menghubungi dokter Gunawan kita akan segera ke rumah sakit.” Ucap Daniyal yang langsung menggendong Irene ala bridal style dan segera keluar dari ruangan Rinda.


Namun sebelum itu, Daniyal sudah memanggil para perawat untuk menenangkan Rinda karena Daniyal juga khawatir dengan keadaan Rinda.


“T-tante Rinda bagaimana?” ucap Irene dengan tertatih.


“Aku sudah memanggil perawat, mereka pasti bisa menangani tante Rinda, jangan memikirkan hal apapun ayo kita ke rumah sakit aku sudah menghubungi dokter Gunawan.” Ucap Daniyal.


Daniyal segera memasukkan Irene ke dalam mobil dan segera menginjak pedal gas dengan kecepatan tinggi.


“Jangan kenceng-kenceng kak, aku ga apa-apa kok cuma keram aja.” Ucap Irene.


“Aku kan tadi da biang kalo kamu jangan deket-deket tante Rinda, lihat kan apa yang dia lakukan kepadamu!” ketus Daniyal.


“Kenapa kamu jadi marah-marah sama aku? Tante Rinda adalah adik mamiku, dia satu-satunya keluarga mami yang tersisa, emang salah kalo aku mau menenangkan dia? Kak, dia juga termasuk mama yang menggantikan kehadiran mamiku.” Ucap Irene yang membuat Daniyal terdiam.


“Seharusnya aku yang marah, karena kamu masih berhutang penjelasan kepadaku kak!” ketus Irene.


Daniyal tidak menggubris ucapan Irene, dia hanya fokus untuk mengemudikan mobilnya dan sampailah mereka di rumah sakit, di depan sudah ada dokter Gunawan dan beberapa bidan yang sudah menunggu karena mendengar suara Daniyal dari telfon yang begitu panik.


“Dok..” sapa Daniyal saat dia keluar dari mobil.


“Bagaimana keadaan nona Irene?” tanya Gunawan yang segera menghampiri mobil Daniyal.


Dokter Gunawan melihat keadaan Irene sebelum melakukan pemeriksaan, namun ternyata Irene hanya keram karena terkejut.


“Tidak apa-apa tuan Daniyal, nona Irene hanya terkejut tapi perlahan akan menghilang dengan sendirinya.” Jelas Gunawan.


“Dia sudah dua kali hampir terjatuh dok, kemarin dia hampir terjatuh dari tangga karena berlarian seperti anak kecil!” ucap Daniyal.


“Pokoknya aku mau dokter usg aja biar aku bisa tenang.” Ucap Daniyal.


“Baiklah kalau begitu, ayo kita periksa, biar nona Irene memakai kursi roda.” Ucap Gunawan.


“Biar aku saja yang mendorongnya.” Ucap Daniyal saat salah satu bidan mau mendorong kursi roda Irene.


Dokter Gunawan mulai memeriksa Irene dengan hati-hati, bahkan dokter Gunawan sengaja membiarkan Daniyal dan Irene untuk mendengarkan detak jantung anaknya agar merasa lebih tenang.


“Lihat bukan? Bayinya baik-baik saja, detak jantungnya juga normal semuanya normal.” Ucap dokter Gunawan.


“Lihat kan kak? Anak kita baik-baik saja.” Ucap Irene.


“Terimakasih dok, aku lebih tenang setelah melihatnya langsung.” Ucap Daniyal.


Dokter Gunawan hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala, dia juga memberikan vitamin untuk Irene, setelah itu barulah Daniyal mengajak Irene untuk kembali.


“Kita mau kemana kak?” tanya Irene saat melihat arah mobil mereka bukan menuju ke rumah Gilang.


“Aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang bisa menjelaskan semuanya.” Ucap Daniyal.


Sampai akhirnya setelah beberapa menit melakukan perjalanan, Daniyal dan Irene sampai di pemakaman umum yang terlihat sangat megah.


“K-kita ngapain di sini kak?” tanya Irene.


“Jangan khawatir sayang, aku ingin mengenalkanmu dengan seseorang.” Ucap Daniyal.


Daniyal turun dari mobil lebih dulu, lalu dia segera membantu Irene untuk turun dari mobil dan menggenggam tangannya dengan erat.


Hingga sampailah keduanya di sebuah makam yang terhias sangat indah, tertera nama Sella Anastasia di batu nisan tersebut dan juga terpapang bingkai foto berukuran sedang di sebelahnya.


Irene mengerutkan keningnya saat melihat foto yang sangat dia kenal itu, karena foto tersebut adalah foto wanita yang sudah menolongnya dan juga adiknya.


“Kak..” ucap Irene yang saat itu sudah menoleh ke arah Daniyal.


Daniyal tersenyum sendu melihat istrinya, lalu dia berjongkok di sebelah batu nisan dan mengelusnya dengan lembut.


“Dia mamiku Iren, orang yang sudah menolongmu.” Ucap Daniyal.


Mendengar ucapan Daniyal membuat Irene terkejut dan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya, dia tidak percaya kalau wanita yang sudah menolongnya adalah ibu dari orang yang sudah menjadi suaminya sendiri.


“K-kenapa kamu ga bilang dari dulu kak? Kamu pasti sedih saat papi membuat peringatan kematian tante ini saat ulang tahun perusahaan.” Ucap Irene.


“Karena aku harus memastikan sesuatu, dan sekarang karena semuanya sudah jelas aku baru memberitahunya kepadamu.” Jelas Daniyal.


“Hikss,, mami kakak sudah menolongku saat aku di culik, dan kakak sudah menolongku saat aku hampir terluka saat kebakaran waktu itu.” Ucap Irene yang saat ini sudah menangis.


Daniyal mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Irene, dia menarik tangan Irene agar ikut berjongkok di sebelahnya.


“Jangan menangis sayang, semua ini sudah takdir.” Ucap Daniyal.


“Apa kamu mau berbicara dengan mami?” tanya Daniyal kepada Irene.


Irene hanya menganggukkan kepala lalu dia mendekat ke arah batu nisan.


“Tante,,, eh mami Sella, terimakasih karena sudah menolongku dan adikku waktu itu, terimakasih karena sudah melahirkan laki-laki tampan dan baik hati.” Ucap Irene.


“Iren janji kalau Irene akan menjaga pernikahan ini, sekarang adalah waktunya Irene menjaga kak Daniyal mami.” Lanjutnya.


Daniyal tersenyum mendengar ucapan Irene, dia langsung memeluk tubuh Irene dengan erat dan menciumi pucuk kepalanya.


“Terimakasih sayang, setelah ini kita harus bicara dengan serius ya, karena sekarang kamu sudah mengetahui sebagian dari rahasiaku.” Ucap Daniyal.


Irene hanya menganggukkan kepala dan tersenyum mendengar ucapan suaminya, masih banyak pertanyaan di dalam kepalanya, namun saat ini dia akan mempercayai suaminya dan menunggu Daniyal untuk bercerita kepadanya.