MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 135 (BERTENGKAR)



Hari ini adalah hari di mana Abizar kembali ke rumah Gilang Herlambang untuk melamar Aleena, sebenarnya Abizar sama sekali tidak perduli dia di terima atau tidak, tapi entah kenapa hatinya seperti merasakan sesuatu, jantungnya berdebar karena gugup dan itu benar-benar membuatnya kesal.


Abizar sedang bersiap di dalam kamarnya, dia tengah memasang dasi berwarna hitam di kerah kemejanya dan menatap ketampanannya di depan cermin yang berukuran jumbo.


“Shit! Kenapa jantungku berdetak kencang sekali! Aku tidak perduli walaupun nanti aku di tolak karena memang Aleena bukanlah wanita yang aku inginkan!” guma Abizar sambil melihat ke cermin yang ada di hadapannya.


Abizar benar-benar frustasi, dia tidak tau bagaimana caranya agar jantungnya berhenti berdetak sekencang itu, rasanya ingin sekali dia memukul dadanya sendiri agar jantunya mau berdetak secara perlahan, namun Abizar urungkan karena hal itu hanya akan membuatnya kesakitan.


“Oke Abizar, kamu ga perduli walaupun nanti om Gilang menolakmu, dia bukan wanita yang pantas untukmu!” gumam Abizar seperti sedang berbicara dengan dirinya sendiri di dalam cermin.


Sedangkan di ruang tamu keluarga Bramantio, Adyatma sudah selesai bersiap dan dia sedang menunggu Abizar yang dari tadi tidak kunjung turun juga.


Adyatma tidak mengetahui kalau kakaknya itu akan melamar Aleena hari ini karena kemarin dia sudah pulang karena Ratu sudah tidak ada kegiatan saat malam hari dan Adyatma akhirnya memutuskan untuk pulang lebih cepat.


“Kak Abizar lama banget sih udah kayak putri Solo aja deh kalem banget!” gumam Adyatma yang akhirnya memutuskan untuk menyusul Abizar di kamarnya.


Namun belum saja Adyatma berjalan menaiki tangga, tiba-tiba langkahnya terhenti saat Daniyal berjalan cepat menyusulnya begitu saja tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya.


“Lah kak Daniyal dateng dari mana? Ga salam ga apa tiba-tiba nyelonong masuk.” Gumam Adyatma.


Namun Adyatma akhirnya memutuskan untuk ikut menaiki tangga dan mengikuti Daniyal yang saat ini sudah ada di depan pintu kamar Abizar.


“Kak Daniy…” belum sempat Adyatma menyapa kakaknya, Daniyal sudah masuk ke dalam kamar Abizar begitu saja membuat Adyatma heran karena tidak biasanya Daniyal seperti itu.


“Ada apa sama kak Daniyal sih? Dia bukan tipe orang yang akan menghiraukan aku.” guma Adyatma.


Akhirnya dengan segera Adyatma segera menuju kamar Abizar untuk melihat apa yang di lakukan Daniyal sampai dia tidak menyadari keberadaannya.


Adyatma terkejut bukan main saat dirinya sudah berdiri di depan pintu kamar Abizar yang terbuka lebar, dia melihat Daniyal sedang menarik kerah Abizar yang sudah rapih.


“Kak Daniyal!” teriak Adyatma yang langsung berlari menghampiri keduanya.


Dengan segera Adyatma berusaha sekuat tenaga untuk meleaskan cengkraman Daniyal, hanya saja Daniyal tidak mau melepaskannya sama sekali justru cengkramannya semakin kuat hingga membuat Adyatma kewalahan.


“Kak Daniyal lepaskan atau aku akan mengadukan hal ini kepada papi!” teriak Adyatma yang membuat Daniyal tersadar dan segera melepaskan cengkramannya.


“Apa yang ada di pikiran kakak? Kenapa kakak seperti ini?” tanya Adyatma.


“Kamu ga tau apa-apa Adyatma! Laki-laki ini ingin melamar Aleena walaupun dia tidak menyukainya!” ucap Daniyal.


“Benarkah kak Abizar? Kamu mau melamar kak Aleena? Wah gercep (gerak cepat) sekali dirimu kak.” Ucap Adyatma.


“Tapi, kenapa kak Daniyal marah sekali? Bukankah memang begitu rencana kita sejak awal? Kakak hanya pengecualian karena kakak tidak bisa mengendalikan perasaan kakak!” ketus Adyatma.


“Kamu mendukungnya? Bukankah kamu juga tidak menyukai pembalasan dendam ini?” tanya Daniyal.


“Aku memang tidak suka tapi setelah mendengar kalau ibu mereka masih hidup aku benar-benar membenci mereka!” jawab Adyatma.


“Wanita itu bukanlah ibu mereka, wanita itu hanyalah tante mereka saudara kembar ibu mereka!” jelas Daniyal.


“Tidak ka Daniyal bohong! Aku jelas mendengar kalau Ratu dan Queen memanggilnya dengan sebutan mami!” sahut Abizar yang tidak mau kalah.


“Stop!! Berhenti kalian berdua! Mulai saat ini kalian akan memiliki hidup masing-masing, kalian percaya saja pada apa yang mau kalian percaya dan jangan mencampuri urusan masing-masing!” teriak Adyatma yang membuat Daniyal dan Abizar terkejut dan langsung menoleh ke arah Adyatma.


“Adyatma benar, kalau memang kamu tidak mendukungku maka jangan menggangguku melakukan apa yang aku inginkan!” sahut Abizar.


“Kalian akan sama-sama menyesal setelah mengetahui semuanya!” ketus Daniyal yang langsung pergi dari kamar Abizar begitu saja.


Sedangkan Bram yang baru saja keluar dari kamarnya langsung mengerutkan keningnya saat melihat Daniyal yang keluar dari kamar Abizar dengan wajah yang kesal.


“Daniyal? Kenapa Daniyal bisa berada di sini? Ekspresinya juga sepertinya dia sedang kesal.” Gumam Bram yang masih melihat kepergian putra pertamanya itu.


Bram sengaja tidak memanggil putra pertamanya itu karena dia tau kalau ada sesuatu yang terjadi di antara ketiga anaknya setelah melihat ekspresi wajah Daniyal.


Akhirnya Bram memutuskan untuk berjalan ke kamar Abizar untuk melihat apa yang sedang terjadi, dia  melihat Adyatma sedang membantu merapihkan dasi Abizar dan juga kerah kemejanya.


“Kalian belum berangkat?” tanya Bram membuat keduanya terkejut.


“Yaampun papi ngagetin aja deh.” Ucap Adyatma.


“Tadi papi lihat Daniyal, ada apa?” tanya Bram.


“Tadi kak Daniyal…” kata-kata Adyatma terhenti begitu saja karena Abizar menggenggam tangannya seperti memberi kode agar Adyatma tidak berbicara.


“Kenapa? Daniyal sedang apa di sini?” tanya Bram penasaran.


“Tidak ada apa-apa pi, dia hanya mengingatkanku untuk tidak berbuat sesuatu kepada Irene lagi.” Jelas Abizar berbohong.


“Benarkah? Tidak ada hal lain?” tanya Bram kembali.


“Ga ada kok pi, papi mau berangkat kerja kan? Nanti terlambat loh.” Ucap Abizar.


“Baiklah kalau tidak ada yang terjadi lagi, papi berangkat dulu dan kalian harus berangkat juga agar tidak terlambat.” Ucap Bram yang di balas anggukan oleh keduanya.


Bram segera meninggalkan kedua putranya dan segera berangkat ke perusahaannya, sedangkan Abziar dan Adyatma juga bersiap untuk segera berangkat.


“Kamu yakin mau melamar kak Aleena?” tanya Adyatma.


“Yakin, karena aku tidak ingin terlalu lama menunda pembalasan dendam ini! Apa lagi setelah melihat yang terjadi kepada kak Daniyal sekarang.” Ucap Abizar.


“Yah kamu benar kak, tapi kamu yakin kalau kamu tidak akan menyukainya?” tanya Adyatma.


“Yakin! Karena aku sama sekali tidak tertarik dengannya!” jawab Abizar.


“Baguslah kalau begitu, ayo kita berangkat kak, tunjukkan kedisiplinanmu dengan datang tepat waktu!” ucap Adyatma yang sudah berjalan lebih dulu meninggalkan Abizar.


“Sialan kamu ini bocah! Bisa-bisanya dia menasehatiku!” gumam Abizar yang segera berjalan menyusul Adyatma.


Abizar dan Adyatma mengendarai mobil mereka masing-masing, namun saat itu Abizar sengaja menyuruh Adyatma untuk pergi ke rumah Gilang lebih dulu dan barulah dia yang akan datang.