MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 113 (PESTA PENYAMBUTAN)



“Huekk!! Hueekk!!” Irene terus saja mual setelah makan beberapa suap membuat Daniyal khawatir akan kesehatan istrinya.


“Sayang, kamu ga apa-apa?” tanya Daniyal yang sudah berada di kamar mandi dan membantu Irene memijat tengkuknya.


“Yaampun padahal aku masih laper tapi kalo makan malah di keluarin lagi.” Ucap Irene yang mencoba untuk mengatur napasnya.


“Makan bubur ya?” tanya Daniyal.


“Engga, aku ga mau makan bubur.” Jawab Irene.


“Terus kamu mau apa? Kamu juga harus mengisi perutmu agar tidak lemas.” Ucap Daniyal.


Kehamilan Irene sudah masuk ke trisemester dua, hanya saja karena postur tubuh Irene yang kurus malah membuat perutnya tidak teralu kelihatan walaupun kelihatan sekali kalau berat badan Irene bertambah.


Semenjak Irene sudah memasuki trisemester kedua Daniyal menjadi lebih over protective, dia tidak mengijinkan Irene keluar rumah selain bekerja itupun karena Irene memaksa untuk tetap bekerja.


Irene dan Daniyal juga belum memberitahu adik-adik Irene, dan keduanya berencana untuk memberitahu mereka hari minggu besok saat mereka mengunjungi rumah keluarga Herlambang.


“Semenjak trisemester kedua kamu malah makin mual sayang, apa kau tidak apa-apa?” tanya Daniyal.


“Kata dokter ga apa-apa kan sayang, jadi sepertinya ga ada masalah kalau hanya mual dan muntah.” Jawab Irene.


“Kita periksa lagi besok sebelum ke rumah papi ya? Aku ga mau sampe kamu kenapa-kenapa.” Ucap Daniyal.


“Baiklah, aku nanti akan meminta obat untuk mengatasi mualku, kan ga lucu kalo lagi rapat tiba-tiba aku mual dan membuat semua orang risih hahaha..” ucap Irene yang masih bisa tertawa di saat rasa mual melanda.


“Kamu ini masih bisa tertawa di saat seperti ini? Sudah ayo kalo kamu sudah tidak merasa mual kita turun lagi ya.” Ajak Daniyal.


Irene hanya menganggukkan kepala lalu dia segera berjalan mengikuti Daniyal yang sudah menggandeng tangannya dengan erat.


“Bagaimana tuan? Apa nyonya Iren sudah baik-baik saja?” tanya bi Sumi yang dari tadi menunggu di depan kamar mandi.


Saat Irene berlari menaiki tangga karena merasa mual, Daniyal dan bi Sumi juga mengikutinya karena khawatir kalau Irene jatuh.


“Tidak apa-apa bi, bibi lanjut makan aja ya biar Iren istirahat dulu.” Ucap Daniyal.


“Tapi gimana bibi bisa ninggalin kalo nyonya Iren mual begitu tuan?” ucap bi Sumi.


“Tidak apa bi, kalo bibi juga ga makan dan sakit gimana? Siapa yang akan mengurus Iren?” tanya Daniyal.


“Baiklah bibi turun duluan ya kalo gitu tuan.” Ucap bi Sumi yang di balas anggukan kepala oleh Daniyal.


“Nyonya istirahat ya biar ga mual lagi.” Ucap bi Sumi yang di balas senyuman dan anggukan oleh Irene.


Setelah bi Sumi keluar dari kamar mereka, Daniyal segera menyelimuti tubuh Irene dan berniat untuk meninggalkannya agar bisa istirahat dengan tenang.


Namun tiba-tiba saja Irene memegang tangan Daniyal dan menahannya agar dia tidak jadi pergi dari kamar.


“Ada apa sayang?” tanya Daniyal.


“Kamu mau kemana?” tanya Irene.


“Aku takut mengganggu jadi aku ingin turun ke bawah.” Jawab Daniyal.


“Temenin aku aja di sini, anak kita mau di peluk kamu…” rengek Irene.


Daniyal hanya bisa tertawa mendengar ucapan istrinya, akhir-akhir ini Irene memang selalu mengatas namakan anak mereka kalau ingin sesuatu dan itu membuat Daniyal gemas.


“Iya sayang baiklah apapun yang anak kita mau pasti akan aku turuti.” Ucap Daniyal.


Daniyal segera berbaring lalu mendekap tubuh sang istri dengan erat membuat Irene nyaman karena menghirup wangi tubuh Daniyal.


***


Di kediaman Herlambang, Gilang menyuruh semua pelayannya untuk memasak banyak macam makanan dan juga menghias ruang tamu membuat semua anak-anaknya kebingungan dengan tingkah sang papi.


“Papi, ada apa sih kenapa harus sampai melakukan semua ini?” tanya Nancy kebingungan.


“Kakak kalian akan datang nanti malam jadi papi buat pesta kecil-kecilan dan menyiapkan banyak makanan.” Jelas Gilang.


“Ya emangnya ada acara apa sampai menyiapkan pesta? Kak Iren atau kak Daniyal ga lagi ulang tahun kan?” tanya Nancy kembali.


“Itu karena… Ah papi ga akan kasih tau, biar kalian tau sendiri saja nanti.” Ucap Gilang yang langsung pergi melihat pelayannya yang sedang menyiapkan keperluan pesta.


“Ih papi kenapa bikin penasaran begitu sih?!” ketus Nancy.


“Sudahlah Nancy jangan memaksa papi memberitahu kita, mungkin papi emang ingin menyambut kehadiran kak Iren.” Ucap Aleena memberikan pengertian kepada adiknya.


“Iya sih tapi aku penasaran aja kenapa papi sampe segininya sedangkan waktu itu biasa aja.” Ucap Nancy.


“Sudahlah lebih baik kamu mengerjakan hal lain saja sana biar ga kepo.” Ucap Aleena.


“Ih kak Aleena sendiri kenapa ga kerja aja sana dari pada ngurusih hidup aku!” ketus Nancy yang langsung berjalan menaiki tangga.


Aleena hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan adiknya itu, Aleena sudah terbiasa dengan ucapan Nancy yang terkesan berani, bahkan kalau Nancy tidak bersikap seperti itu dia dan keluarganya akan menganggap Nancy sedang sakit.


Para bodyguard datang bersamaan ke kediaman Herlambang, semuanya merasa aneh dengan dekorasi yang ada di rumah itu.


"Ada apa ini kak Aleena? Kenapa rumah ini penuh dengan dekorasi?" tanya Adyatma.


"Entahlah papi mendekor semua ruangan untuk menyambut kak Irene dan kak Daniyal nanti sore." jawab Aleena.


"Kak Iren dan kak Daniyal akan kemari? Lalu kenapa ada dekorasi? Apa mereka berulang tahun?" tanya Aiden.


"Tidak mungkin! Kak Daniyal ulang tahunnya masih lama!" seru Adyatma membuat semua orang terkejut dan menoleh ke arahnya secara bersamaan.


Adyatma yang menyadari kalau dia salah bicara langsung menutup mulutnya dan diam seolah-olah tidak terjadi apapun.


"Kamu sangat mengetahui kak Daniyal ya Adyatma.." ucap Abizar untuk memecah keheningan yang ada di sana.


"Tentu saja kak! Kak Daniyal sering menceritakan banyak hal padaku termasuk ulang tahunnya." jawab Adyatma berbohong.


Aleena dan yang lainnya hanya menganggukkan kepala mengerti dengan jawaban Adyatma.


Karena kalau di pikir lagi memang Adyatma adalah orang yang paling dekat dengan Daniyal selama berada di sana.


"Sudahlah kalian segera bersiap karena adik-adikku juga sedang bersiap untuk pergi, semua mobil sudah di panasi kalian bisa menunggu mereka di mobil masing-masing." jelas Aleena.


Semua menganggukkan kepala serempak lalu segera berjalan menuju parkiran untuk bersiap.


Begitulah setiap hari, para bodyguard akan datang ke rumah pagi-pagi sekali dan akan pulang pada malam hari setelah semua orang berada di rumah.


Kecuali Aiden yang selalu lembur karena menemani Nancy ke club, hanya kemarin saja dia tidak menemani Nancy karena Nancy bilang kalau dia tidak akan pergi.


Dan akhirnya Aleena menjadi tumbalnya untuk pergi ke tempat seperti itu, mungkin Nancy masih memiliki hati agar bodyguardnya bisa beristirahat dan tidak lembur terus.