MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 154



Saat ini Irene sudah di pindah ke ruangannya, semua orang sangat antusias melihat baby boy mereka, sedangkan para bodyguard setia menunggu di depan ruangan Irene untuk berjaga.


Daniyal memutuskan untuk keluar dari ruangan Irene lebih dulu dan membiarkan Irene mengobrol dengan para adiknya dengan leluasa.


"Kak, siapa nama keponakanku ini?" tanya Nancy dengan semangat.


"Aku dan kak Daniyal masih belum memutuskan, tapi untuk sementara panggil dia baby X aja ya karena namanya berawalan dari X." ucap Irene.


"Begitu, baiklah." jawab Nancy.


"Aku tidak sabar untuk mengetahui namanya, apa kalian sengaja mau memberi kita kejutan?" tanya Queen.


Irene hanya tersenyum menanggapi ucapan adiknya, lalu fokusnya beralih kepada Aleena yang dari tadi hanya melamun bahkan tidak memberinya selamat.


"Aleen, apa ada masalah?" tanya Irene.


Namun Aleena sama sekali tidak menggubris pertanyaan Irene yang membuat ketiga adiknya yang lain menoleh ke arah Aleena.


"Kak! Kak Irene manggil loh." ucap Ratu sambil menggoyangkan tubuh Aleena.


"Eh? Apaan Ratu?" tanya Aleena yang tidak mendengarkan ucapan mereka.


"Kakak melamun aja ada apa sih?" tanya Queen.


"E-engga kok ga ada apa-apa, tadi kenapa?" tanya Aleena yang saat ini berpura-pura untuk tersenyum.


Irene tau betul kalau ada sesuatu yang sedang di sembunyikan oleh adiknya dan langsung menghela nafas panjang.


"Kalian semua bisakah tinggalkan aku dan Aleena berdua?" tanya Irene dengan lembut.


Ketiga adiknya tau maksud dari ucapan kakaknya, jika Irene berbicara dengan penuh kesabaran seperti itu berarti ada hal penting yang akan di bicarakan.


Nancy, Ratu, Queen keluar dari ruangan Irene, mereka bertiga memberikan waktu kepada Irene dan Alena untuk berbicara empat mata.


 Setelah melihat ketiga adiknya keluar dari ruangannya barulah Irene menatap Alena dengan tatapan serius dan penuh tanda tanya.


"K-kenapa kakak melihatku seperti itu?" tanya Alena saat melihat tatapan Irene.


“Memangnya seperti apa tatapanku?” tanya Irene.


“Kak ayolah jangan menatapku seperti itu kak, lebih baik kamu mengumumkan nama yang bagus untuk keponakanku.” Ucap aleena mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.


“Jangan mengalihkan pembicaran karena aku tidak akan terpengaruh! Aku ingin bertanya kepadamu.” Tegas Irene.


“Baiklah apa yang mau di tanyakan padaku kak?” tanya Aleena.


“Duduk dulu di sana, kamu ga capek berdiri terus?” Irene menoleh ke arah kursi yang ada di sebelah tempat tidur Irene.


Aleena menuruti ucapan kakaknya dan segera duduk di kursi tersebut, lalu dia memasang wajah seriusnya untuk menjawab semua pertanyaan yang akan di berikan kakaknya.


“Apa kamu memiliki masalah Leen?” tanya Irene.


“Masalah? Misalnya?” tanya Aleena.


“Kenapa kamu malah balik bertanya?”


Irene kesal kepada sang adik yang menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan baru.


“Leen, saat ini kita hanya memiliki papi, dan aku selaku kakak tertua harus bisa menjadi ibu untukmu dan yang lain, aku ini tau betul kalau kamu sedang banyak pikiran.” Ucap Irene dengan nada yang meninggi.


Aleena yang awalnya tidak ingin bercerita apapun langsung menangis seketika, awalnya dia memang tidak ingin mengatakan apapun kepada sang kakak karena kakaknya harus banyak istirahat saat ini.


“Ceritalah, aku tau kamu seperti ini karena tidak ingin membuatku kepikiran, tapi kalau kamu tidak cerita itu malah semakin membuatku kepikiran.” Ucap Irene.


“Kak, aku... Sepertinya aku akan sulit untuk memiliki anak.” Ucap Aleena sambil berusaha untuk tidak menangis.


“Apa?! Apa maksudnya Aleena? Ini tidak mungkin, kita tidak memiliki keturunan yang sulit hamil.” Ucap Irene.


“Aku serius kak, waktu itu aku sempat telat haid hampir sebulan, aku kira aku hamil jadi aku membeli tespack, ternyata hasilnya negatif, aku coba seminggu lagi dan minggu berikutnya tapi hasilnya tetap sama.” Ucap Aleena.


“Akhirnya aku  memutuskan untuk periksa sendiri ke rumah sakit dan ternyata aku memiliki kista yang lumayan besar, saat ini aku sedang mengkonsumsi obat-obatan kak, dokter mengusahakan agar aku tidak sampai melakukan operasi.” Lanjutnya.


Irene masih tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh sang adik, dia tidak tau kalau sang adik akan mengalami hal seperti itu.


Irene tau walaupun sulit tapi Aleena masih bisa memiliki anak kalau mau bersabar, hanya saja, memiliki sebuah momongan adalah hal yang sangat di impikan oleh para wanita, tentu saja Aleena akan merasa sedih karena hal itu.


“Apa Abizar tau tentang hal ini?” tanya Irene.


Aleena menggeleng pelan, “Belum tau kak, aku takut untuk memberitahu kak Abizar.” Balas Aleena.


“Apa yang kamu takutkan Aleena? Abizar juga harus mengetahui tentang kondisimu.”


“Aku takut kalau kak Abizar akan mencari wanita lain kak, aku tidak ingin sampai kak Abizar mencari wanita lain yang bisa memberinya keturunan.” Ucap Aleena yang berusaha untuk tidak menangis kembali.


“Kemarilah.” Ucap Irene.


 Aleena pun mendekat sesuai dengan yang di perintahkan sang kakak, lalu Irene segera memeluk tubuh adiknya dengan erat, air matanya menetes tapi sebisa mungkin Irene menahan suaranya agar tidak membuat Aleena semakin sedih.


“Sabar Aleena, kamu tidak boleh memikirkan hal yang tidak-tidak, ingat ucapanmu adalah doa, jangan asal bicara karena itu akan membuat masalah kedepannya.” Ucap Irene.


“Tapi aku takut kak, hikss,, hikss..” akhirnya Aleena menangis tersedu-sedu.


“Aku tau kamu takut, aku tau ini sangat berat buat kamu Leen, tapi bagaimanapun juga dia harus tau tentang keadaanmu.” Ucap Irene.


“Aku tidak berniat untuk ikut campur, tapi apa kamu mau aku bantu untuk bicara dengan Abizar?” tanya Irene.


“Tidak perlu kak, lebih baik dia mendengar tentang kondisiku dari mulutku sendiri, dia akan kecewa kalau aku lebih dulu memberitahu kakak.” Ucap Aleena sambil melepas pelukannya.


Irene tersenyum, dia menghapus air mata di pipi adiknya dan menganggukkan kepala.


“Baiklah kalau begitu, secepatnya kamu harus memberitahu suamimu, kalian harus menghadapi ini bersama, sama seperti kamu yang siap hidup dengan hasil kerja kerasnya walaupun tidak seberapa, dia juga harus bisa menerima kekurangan yang kamu miliki.” Ucap Irene.


 “Tapi kamu juga harus bisa terima kemungkinan terburuk yang akan kamu dengar.” Lanjutnya.


 “Iya kak, aku akan berusaha untuk siap menghadapi semua kemungkinan yang ada.” Balas Aleena.


 Irene hanya bisa tersenyum dengan tatapan sendu melihat wajah cantik sang adik, baru kali ini Irene melihat adiknya yang selalu tersenyum itu menangis.


 “Jangan beritahu papi tentang hal ini ya kak, aku tidak ingin sampai papi memikirkan penyakitku.” Ucap Aleena.


“Siap! Aku tidak akan memberitahu papi kecuali saat papi sendiri yang tau dan bertanya kepadaku, aku tidak bisa berbohong kepadanya.” Ucap Irene yang di balas anggukan dari Aleena.