
Irene dan Daniyal berjalan mengikuti Aleena dan Abizar yang ingin mengunjungi kamar papinya karena mereka juga ingin berpamitan untuk pulang ke rumah.
“Loh, kakak-kakakku yang sudah sold out di sini juga?” tanya Nancy.
Ternyata Nancy, Ratu dan Queen juga berada di depan kamar papinya untuk menyapanya.
“Kalian kok ada di sini? Mau pulang juga?” tanya Irene.
“Aku mau konsul sama dosen pembimbingku, kalau Ratu dan Queen mereka mau kuliah.” Jawab Nancy.
“Ah begitu, lalu di mana bodyguard kalian? Apa mereka sudah ada di sini?” tanya Irene kembali.
“Sudah kak Iren, kakak tenang saja mereka sudah menunggu di mobil kok.” Sahut Ratu.
Setelah beberapa kali menekan bel pintu, akhirnya Gilang membukakan pintu kamarnya dan terkejut saat melihat anak-anak dan menantunya sedang berdiri di depan pintu kamarnya bersamaan.
“Loh kalian semua lagi apa di sini? Kok keroyokan mainnya?” tanya Gilang kepada anak menantunya.
“Ih papi siapa yang mau keroyokan coba? Kita mau pada pamit nih.” Ucap Queen.
“Pamit? Kemana? Kenapa ga di sini aja dulu beberapa hari? Tamu undangan juga ada yang pulang besok kok.” Ucap Gilang.
“Irene sama mas Daniyal mau pulang pi, mas Daniyal banyak kerjaan di perusahaan.” Ucap Irene.
“Kalo Aleen sama kak Abizar mau bulan madu, kak Abizar kasih hadiah bulan mau kepadaku.” Sambung Aleena.
“Kalo kita bertiga mau ke kampus pi.” Sahut Nancy dan di balas anggukan oleh Ratu dan Queen.
“Irene sama Daniyal pergilah, hati-hati di jalan ya,, kalian berita juga pergilah hati-hati, Aleena dan Abizar kamu masuklah papi masih harus bertanya kepada kalian.” Ucap Gilang.
mendadak.
“Bye kak Aleen…” ucap Nancy, Ratu dan Queen sabil melambaikan tangannya.
“Papi pasti mengijinkan kalian berbulan madu kok, kami pulang dulu ya.” Ucap Irene sambil tersenyum.
Daniyal merangkul pinggang istrinya dan mengajaknya untuk segera pergi dari hotel karena tugasnya sudah menumpuk di perusahaan, dia juga harus membantu istrinya di perusahaannya karena Daniyal tidak ingin kalau Irene kelelahan mengerjakan pekerjaan di perusahaan.
“Aku baik-baik saja mas, kamu tidak perlu ke perusahaanku kamu juga pasti banyak kerjaan.” Ucap Irene saat mereka berdua sudah berada di dalam mobil.
“No! aku bahkan mau menyuruhmu untuk istirahat di rumah saja karena kemarin kamu sudah kelelahan sampai keram perut.” Ucap Daniyal.
“Hah? Kamu kok gitu mas? Aku masih harus menyeleksi model-model baru apa lagi sekarang Aleena sudah menikah dan sebentar lagi dia pasti akan resign.” Ucap Irene.
“Bukannya adik-adikmu sudah setuju dengan permintaanmu untuk menjadi model?” tanya Daniyal.
“Tapi itu hanya sementara mas, jadi aku harus tetap mencari model yang cocok untuk perusahaanku.” Ucap Irene.
“Aku akan tetap memantau kamu Irene.” Ucap Daniyal.
“Mas, ada Elif yang akan membantuku, semenjak kehamilanku membesar dia juga tidak pernah membiarkan aku melakukan pekerjaan yang berat.” Ucap Irene.
“Tetap saja tidak Irene, aku tidak mau kamu kelelahan lagi.” Ucap Daniyal.
“Pokoknya sekali tidak ya tidak!” tegas Daniyal kembali membuat Irene akhirnya mengurungkan niatnya untuk membantah ucapan suaminya.
Irene hanya diam tidak mengatakan apapun, dia memilih diam karena yakin kalau dia tidak akan menang melawan suaminya yang sudah menegaskan suatu hal.