
Di dalam ruangannya, Aleena sedang mengadahkan dagunya di telapak tangannya di depan laptop yang ada di depannya.
“Aleena? Apa yang kamu lakukan? Apa kamu sedang menatap kekasihmu?” tanya Abizar.
“Bagaimana bisa ini di bilang menatap kekasih? Aku ini lagi pusing tau!” ketus Aleena.
“Pusing apanya? Aku cuma nyuruh kamu membaca dokumen yang ada di laptop.” Ucap Abizar.
“Ya tapi kamu juga menyuruhku untuk memahami isi dokumennya dan aku benar-benar tidak paham apa yang harus di pahami!” ketus Aleena.
Brak!!! Tiba-tiba saja Abizar menggebrak meja Aleena, hal itu benar-benar membuat Aleen terkejut dan ketakutan.
“K-kak Abizar..” ucap Aleena yang sudah gemetaran saat itu.
Aleena benar-benar baru tau kalau Abizar bisa memiliki tatapan tajam seperti itu, dia juga baru tau kalau Abizar bisa marah sampai seperti itu.
“Apa kamu hanya setengah-setengah melakukan pekerjaan ini? Apa kamu juga tidak mau memimpin perusahaan keluargamu?!” tanya Abizar dengan tegas.
“Mau, suatu saat nanti aku juga harus memimpin perusahaan karena kak Iren juga sudah memiliki perusahaan sendiri jadi ga mungkin dia memimpin perusahaan papi juga.” Ucap Aleena yang mencoba untuk menghilangkan
rasa takutnya.
“Lalu kenapa kamu setengah-setengah begini?! Aku tau kamu pintar dan kamu bisa memahami dokumen ini dengan baik, hanya saja kamu terlalu malas!” ketus Abizar.
“A-aku…” Aleena benar-benar tidak bisa menyangkal ucapan Abizar, karena selama ini dia hanya duduk dan menunggu gilirannya untuk berpose, dia tidak pernah membaca buku atau semacamnya.
Dan mungkin itulah yang membuat Aleena malas saat di hadapkan dengan dokumen.
“Aku sudah mengganti kertas menjadi laptop, apa kamu juga tidak bisa membacanya dengan benar?” tanya Abizar.
“Aku hanya ingin mengajarimu, tapi di saat mengajar aku tidak bisa menyamakan persaan pribadi, aku harus lebih tegas padamu agar kamu bisa menjadi lebih baik.” Jelas Abizar.
“Maaf, aku akan bekerja lebih keras lagi.” Ucap Aleena yang langsung mengubah mode menjadi serius.
Sedangkan Abizar tau kalau Aleena tidak bisa belajar saat dirinya tertekan. Abizar hanya bisa menghela nafas panjang lalu mendekati Aleena dan memeluk tubuhAleena dengan erat.
“Hikss,, hikss,, kenapa kak Abizar memelukku setelah membentakku! Aku benci kamu!” ketus Aleena yang akhirnya menangis di pelukan Abizar.
Abizar tau kalau Aleena adalah tipe orang yang mudah menangis jika di bentak oleh orang yang dia sayang, dan menurut Abizar itu adalah hal yang terlalu berlebihan.
“Maaf karena sudah membentakmu Aleena, aku benar-benar hanya ingin yang terbaik untukmu.” Ucap Abizar.
“Baru dua hari rasanya sudah seperti di neraka! Di kehidupan selanjutnya aku akan tetap menjadi model!” ketus Aleena.
“Baru dua hari kamu pasti bisa memahami semuanya, masih ada waktu untuk belajar jangan menyerah begitu saja karena itu sama sekali tidak sepertimu.” Ucap Abizar.
“Kamu masih mau memaksaku untuk mempelajari semua ini?” tanya Aleena.
“Yap! Kalau kamu masih menyayangi keluargamu setidaknya kamu harus bisa mempelajari hal ini secepatnya.” Ucap Abizar.
“Nancy terlalu bebas untuk mempelajari hal ini, sedangkan Ratu dan Queen masih terlalu muda untuk mempelajari ini, hanya kamu lah yang bisa meneruskan semua ini Aleena.” Jelas Abizar.
“Yah aku benar-benar harus berusaha..” ucap Aleena.
Akhirnya Abizar menyuruh Aleena untuk memahami isi dokumen satu per satu secara perlahan agar tidak menguras tenaganya.
Abizar juga tidak lupa meminta Elif untuk memesankan makanan yang bergizi untuk Aleena secara diam-diam.
Tok,,tok,,tok..
“Siapa yang datang?” tanya Aleena.
“Jangan sampai fokusmu terbagi! Kamu harus tetap fokus pada pekerjaanmu! Aku yang akan membuka pintu.” Tegas Abizar.
Abizar membuka pintu ruangan Aleena dan melihat Elif yang sedang tersenyum sambil memberikan bungkusan makanan untuk Aleena.
“Kak, ini salad buah dan sayur yang kamu pesan.” Ucap Elif.
“Kenapa cuma beli satu kak? Emang kak Abizar ga makan?” tanya Elif.
“Tidak, aku sudah kenyang.” Jawab Abizar.
“Kenyang makan apa kak? Makan angin?’ tanya Elif.
“Makan emosi ngajarin Aleena ga ngerti-ngerti!” sahut Abizar.
“Hah? Ahahaha… Aku lupa kalau kak Aleena paling malas kalau di suruh membaca dokumen yang berisi hal-hal yang tidak dia mengerti.” Ucap Elif yang akhirnya tertawa.
“Sudahlah kamu kembali bekerja saja.” Ucap Abizar.
“Baiklah kak, semangat untuk mengajari kak Aleena… Haah,, aku rasa kak Iren sedang menikmati masa-masa indahnya…” gumam Elif mengejek Abizar.
Abizar yang mendengar ejekan dari Elif hanya bisa menahan emosi dan segera menutup pintu ruangan Aleena kembali.
“Ini makanlah dulu.” Ucap Abizar sambil memberikan salad buah dan sayur yang tadi di beli Elif.
“Tadi kak Elif ngasih ini? Wah akhirnya aku bisa makan juga.” Ucap Aleena dengan bersemangat.
Sedangkan Abizar masih dalam pikirannya yang mengingat ucapan Elif, dia mengutuk kakaknya yang saat ini sedang asik bercinta sedangkan dia harus susah payah mengajari seorang anak kecil.
“Awas kalau sampai kamu pulang nanti kak! Aku akan membalas dendam!” gumam Abizar sambil mengepalkan kedua tangannya.
***
Sedangkan di sisi lain, seseorang sedang bercinta dengan panasnya namun tiba-tiba saja…
“Hatchiii!!!”
“Kamu flu?” tanya Irene.
Yap! Orang yang bersin tadi adalah Daniyal yang sedang bercinta dengan panasnya bersama sang istri.
“Sepertinya ada yang membicarakan aku.” Ucap Daniyal.
“Apa kita sudahi saja?” tanya Irene.
“Apa?! Jangan berani kamu menyudahi ini Irene!” ketus Daniyal.
Irene hanya tersenyum mendengar ucapan Daniyal lalu melanjutkan aksinya yang sangat panas memimpin permainan.
Daniyal memutuskan untuk mengajak Irene ke Korea untuk menikmati bulan madu mereka, saat itu di Korea sedang bersalju dan suhunya sangat dingin.
Namun itulah yang di cari Daniyal, semakin dingin suhunya dia semakin gencar mencari kehangatan dengan Irene, hahaha.
Dari awal mereka sampai keduanya tidak pernah kemana-mana, hanya di dalam kamar menikmati olahraga panas mereka, bahkan makan pun mereka akan menyuruh orang mengirimkan makanan ke kamar mereka.
“Aku sudah lelah kak, bisakah kita berhenti dulu dan berjalan-jalan?” tanya Irene setelah melakukan olahraga panjang.
“Baiklah, ayo kita mandi, sarapan, lalu aku akan mengajakmu jalan-jalan.” Ucap Daniyal.
Irene senang mendengar jawaban dari Daniyal, akhirnya dia bisa jalan-jalan juga setelah olahraga yang panjang.
Daniyal mengajak Irene untuk beranjak dari tempat tidur namun Irene yang baru saja berdiri langsung terjatuh dan membuat Daniyal terkejut melihatnya.
“Irene! Kamu tidak apa-apa?” tanya Daniyal yang langsung berlari menghampiri sang istri.
“Aduh aku ga bisa berdiri kak…” ucap Irene dengan lemas.
Lalu tiba-tiba saja Irene pingsan di pelukan Daniyal, Daniyal benar-benar panik melihat Irene pingsan di hadapannya.
Daniyal segera mengangkat tubuh Irene dan menidurkannya di atas tempat tidur, lalu dia segera menghubungi orangnya untuk memanggil dokter priadi mereka yang ada di Korea.
“Segera bawa dokter pribadi kita kemari! Sekarang!” teriak Daniyal yang langsung mematikan telfonnya dan melempar hpnya ke sembarang tempat.