MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 127 (RENCANA UNTUK PERGI)



Daniyal sudah berada di depan kamarnya, dengan ragu dia membuka pintu kamar dan melihat istrinya yang sedang tertidur.


Sebenarnya bukan tertidur, tapi hanya pura-pura tertidur karena sejak Daniyal pergi Irene sama sekali tidak bisa tidur karena terus memikirkan suaminya.


“Sayang…” panggil Daniyal dengan pelan.


“Apa kamu sudah tidur sayang?” tanya Daniyal yang saat ini sudah berada di atas tempat tidur.


Daniyal tau kalau istrinya belum tidur, jadi dia segera memeluk tubuh Irene dari belakang dengan erat, dan menenggelamkan wajahnya di tengkuk Irene, menghirup wangi khas yang membuatnya tergila-gila dengan istrinya ini.


“Apa kamu marah padaku karena aku meninggalkanmu begitu saja sayang? Maafkan aku..” ucap Daniyal.


Lalu Daniyal tersadar kalau ternyata Irene masih belum memakai pakaiannya, tentu saja senyuman nakal muncul di wajah Daniyal, tangannya sengaja turun sedikit demi sedikit menyentuh bagian sensitive Irene.


Namun bukannya geli, Irene justru merintih kesakitan karena akhir-akhir ini bagian itu memang membengkak dan sakit jika tersentuh.


“Aw lepaskan kak itu sakit!” ucap Irene.


Mendengar rintihan Irene membuat Daniyal terkejut dan segera membalikkan tubuh Irene agar dia bisa leluasa menatap wajah istrinya.


“Sakit? Kenapa sakit sayang?” tanya Daniyal.


“Lihatlah itu membengkak, dokter bilang memang itu normal tapi tetap saja sakit kalau di sentuh.” Ucap Irene.


“Sini biar aku memijatnya.” Ucap Daniyal.


“Hah?” ucap Irene terkejut lalu dengan segera Daniyal me*emas dua gunung itu dengan perlahan, pijatan itu membuat Irene sedikit relax.


“Apa sudah mendingan?” tanya Daniyal.


Mendengar pertanyaan Daniyal membuat Irene sadar kalau dirinya sedang marah dan kesal, jadi dengan segera Irene menepis tangan Daniyal dengan kasar.


“Sayang? Kenapa kamu menepis tanganku? Bukankah kamu bilang sakit?” tanya Daniyal dengan lembut.


“Aku membencimu!” ketus Irene yang langsung memalingkan wajahnya.


“Aku juga mencintaimu sayang.” Balas Daniyal.


“Apa?! Aku bilang aku membencimu.” Ucap Irene kesal.


“Aku bilang aku mencintaimu sayangku istriku tersayang..” ucap Daniyal.


“Engga! Kamu mencintai Sherly! Kamu langsung pergi meninggalkan aku tanpa bicara apapun!” ketus Irene.


“Sayang, aku buru-buru bukan karena Sherly saja, aku buru-buru juga karena Brams, mereka berdua mengalami kecelakaan, hanya saja terlalu di lebihkan jadi kesannya mereka mengalami kecelakaan yang parah.” Jelas Daniyal.


“Apa? Kak Brams? Tadi dia menghubungiku kayaknya.” Ucap Irene.


“Iya memang itu karena kamu tidak mengangkat telfonku.”


“Tapi mereka baik-baik saja kan?” tanya Irene.


“Iya sayang tidak ada yang teruka parah karena itu hanya kecelakaan kecil.” Jawab Daniyal.


“Terus kenapa kamu tidak mengajakku?”


“Karena di rumah sakit banyak penyakit, kamu juga sering pusing berarti daya tahan tubuhmu sedang lemah makanya aku ga ngajak kamu dan langsung pergi gitu aja.” Jelas Daniyal.


“Maafkan aku ya sayang.” Ucap Daniyal sambil memeluk tubuh Irene.


“Kamu menyebalkan! Bagaimana bisa aku tidak marah.” ucap Irene.


“Iya iya aku menyebalkan maaf ya sayang..” ucap Daniyal.


“Kalau kamu melakukan hal itu lagi aku tidak akan mau tidur satu ranjang denganku!” ketus Irene.


“Apa?! Jangan menyiksaku seperti itu sayang, aku benar-benar tidak bisa tidur tanpa memelukmu.” Ucap Daniyal dengan nada memelas.


“Makanya jangan melakukan hal seperti itu lagi!” ketus Irene.


“Siap sayang, kamu mau menjenguk mereka? Apa kamu sudah baikkan?” tanya Daniyal.


“Baiklah sayang, ngomong-ngomong kenapa kamu tidak memakai bajumu kembali? Apa kamu mau kita berolahraga malam lagi?” bisik Daniyal dengan sexy.


“Jangan melakukan hal yang aneh! Aku sudah lelah tau!” ketus Irene yang dengan sigap duduk dari tidurnya dan segera memakai kembali pakaian yang berserakan di mana-mana karena sudah di lempar ke sembarang tempat oleh Daniyal.


“Kenapa kamu pakai baju sayang, aku lebih suka melihat tubuh polosmu.” Goda Daniyal.


“Diamlah! Kamu membuatku malu jika bicara seperti itu!” ketus Irene yang saat ini wajahnya sudah memerah padam.


Daniyal hanya tertawa mendengar ucapan Irene, terutama saat melihat wajah Irene yang sudah memerah.


“Apa kamu masih marah padaku sayang?” tanya Daniyal.


“Masih! Kamu sangat menyebalkan!” ketus Irene.


Daniya hanya tersenyum, lalu dia segera beranjak dari tempat tidurnya dan memeluk tubuh istrinya dengan erat.


“Sayang, apa kamu mau ikut denganku?” tanya Daniyal.


“Ikut? Ikut ke mana?” tanya Irene.


“Kita ke London, aku akan mengurus perusahaanku di sana dan kamu bisa membangun perusahaan model baru juga di sana.” Ucap Daniyal.


“Hah? Kenapa?” tanya Irene yang sudah membalikkan badan menatap suaminya dengan serius.


“Bisakah kita ke rumah sakit besok? Aku ingin bertemu dengan tantemu.” Ucap Daniyal.


“Besok? Bukankah seharusnya minggu bareng sama yang lain?” tanya Irene.


“Aku mau kita berdua saja.” Ucap Daniyal.


“Baiklah, tapi ada apa sebenarnya sayang?” tanya Irene.


“Besok aku akan memberitahu semuanya kepadamu, sekarang kita tidur ya kamu pasti lelah begitu juga dengan anak kita ini.” Ucap Daniyal sambil mengelus dan mencium perut buncit Irene.


Irene hanya menganggukkan kepala mengiyakan ajakan suaminya untuk beristirahat karena hari sudah semakin malam.


***


Pagi hari pun datang, Daniyal dan Irene sudah bersiap untuk pergi ke rumah sakit jiwa untuk menjenguk Rinda.


“Kamu beneran mau sekarang?” tanya Irene kepada Daniyal.


“Iya sayang, kita ke rumah sakit jenguk Brams dan Sherly dulu baru ke tempat tantemu ya.” Ucap Daniyal.


Irene hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, lalu setelah siap mereka segera keluar dari kamar dan berpamitan kepada semua orang.


“Kakak mau ke rumah sakit ngapain? Mau periksa ya kak? Aku ikut dong…” seru Queen.


“Queen kamu harus kuliah, lagian aku ga periksa kok cuma jengukin temennya kak Daniyal.” Jelas Irene.


“Benarkah? Kalau kakak periksa bilang aku ya aku pengen banget liat keponakanku..” ucap Queen.


“Iya Queen pasti aku akan mengajaku kalau aku periksa.” Ucap Irene.


Mendengar ucapan kakaknya membuat Queen tersenyum senang lalu dia segera berpamitan kepada papinya untuk berangkat kuliah.


Setelah semua adiknya berangkat barulah Irene berjalan mendekati papinya untuk berpamitan.


“Pi Iren pamit dulu ya, Irene juga mau mampir ke tempat tante Rinda karena kak Daniyal ingin mengenal tante Rinda.” Jelas Irene.


“Baiklah kalau begitu hati-hati ya sayang, Daniyal memang harus mengenal semua keluarga kita.” Ucap Gilang.


“Papi jangan ke perusahaan, istirahat saja di sini!” tegas Irene.


“Iya papi akan istirahat, lagi pula sebentar lagi Daniyal yang akan menggantikan papi.” Ucap Gilang.


Daniyal hanya diam mendengar ucapan mertuanya, dia lupa kalau mertuanya sudah menyerahkan tanggung jawab kepadanya dan saat ini dia sudah tidak bisa kemana-mana lagi karena tanggung jawab ini.


“Kalau begitu Daniya dan Irene pergi dulu ya pi.” Ucap Daniyal yang di balas anggukan oleh Gilang.